Monday, February 15, 2016

Ternate: Menyambut Gerhana Matahari Total

Gerhana matahari total (GMT) diperkirakan akan melintasi Indonesia pada 9 Maret 2016, bertepatan dengan hari raya Nyepi. Mari merayakannya! :D

Gerhana ini merupakan salah satu fenomena langka dan menjadi istimewa karena pada gerhana kali ini, Indonesia adalah satu-satunya daratan yang dilintasi GMT. Tidak heran pemerintah daerah berlomba-lomba mempromosikan daerahnya. Beberapa kapal pesiar dengan turis asing bersiap ke Indonesia. Juga para peneliti dari belahan bumi lainnya. 
Ternate!
Kota besar yang akan dilintasi GMT adalah: Palembang, Tanjung Pandan, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Ternate, dan Sofifi. Ada yang berencana berburu gerhana ke salah satu daerah itu?  

Menyambut GMT, saya akan bercerita tentang TERNATE di Maluku Utara. Untuk yang berencana berburu gerhana matahari ke "Bumi Rempah", selain melihat fenomena alam yang langka, tidak ada salahnya juga mampir ke banyak tempat wisata yang ada di Ternate. Kabarnya, Putri Raja Thailand juga akan datang ke Ternate untuk menyaksikan gerhana matahari total. Kenapa Ternate? Karena ini salah satu daerah yang mengalami gerhana matahari total cukup lama, lebih dari 2 menit.   
Pemandangan dari jendela pesawat pada suatu pagi
Dua kali memegang tiket ke Ternate, saya selalu memakai penerbangan langsung Bandara Soekarno Hatta-Sultan Babullah. Saya berangkat tengah malam atau dini hari. Begitu masuk pesawat biasanya saya tidur dan bangun ketika sudah mulai masuk wilayah Indonesia tengah atau timur saat matahari mulai terbit. Lovely!!! 

Saya pastikan, satu hari di Ternate tidak cukup karena terlalu banyak tempat indah yang sayang untuk dilewatkan. Berwisata ke Ternate itu minimal 3 hari! :D Berikut 10 tempat wajib kunjung jika berwisata ke Ternate:

1. Danau Tolire
DANAU TOLIRE sebenarnya terdiri atas dua danau, Tolire Besar dan Tolire Kecil. Yang terkenal adalah Danau Tolire Besar.
Danau Tolire dilihat dari udara
Berlatar Gunung Gamalama, danau berair hijau ini keren banget. Selain cantik, banyak kisah misteri yang melingkupi danau ini. Kedalaman danau sampai saat ini tidak diketahui. Selain legenda buaya putih dan kisah terbentuknya Danau Tolire, kisah lain terkait danau ini adalah adanya harta karun di dasar danau.
Danau Tolire
Terlepas dari kisah-kisah tersebut, danau ini cantik sekali. Kalau di sekitar danau ada pedagang batu, cobalah beli, dan kemudian lemparkan batu tersebut ke danau. Apa yang terjadi? Cobalah... ;)

2. Pantai Sulamadaha
PANTAI SULAMADAHA berada di Desa Sulamadaha, Ternate. Pantai ini terletak tidak begitu jauh dari Danau Tolire. Yang menjadi andalan di tempat ini adalah Teluk Saomadaha. Jadi, begitu kita memarkir kendaraan, ikutilah jalan setapak yang mendaki di pinggiran pantai.
Sulamadaha
Sekitaran pantai mungkin akan terlihat terlalu biasa, dengan batu karang, ombak yang besar, dan pasir yang gelap. Tetaplah susuri jalan setapak sambil menikmati burung-burung yang biasanya beterbangan melintas di depan kita.
Di beberapa tempat agak curam dan licin karena semua hanya terdiri atas batuan. Saran saya, pakailah alas kaki yang tepat karena tujuan utama agak tersembunyi, harus naik turun tangga batu. Tapi begitu sampai, tempatnya keren banget! Pasir putih yang bercampur dengan banyak kerang dan karang. Air bening dan biru. Cocok untuk snorkeling. Ada juga boat yang siap membawa kita ke pulau di seberang: Pulau Hiri. 

3. Kesultanan Ternate
KESULTANAN TERNATE juga dikenal sebagai Kerajaan Gapi. Kesultanan ini adalah salah satu dari empat kerajaan Islam di Maluku dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Kesultanan Ternate didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada tahun 1257.  
Kesultanan Ternate
Lambang Kesultanan Ternate
Puncak kejayaan Kesultanan Ternate adalah pada paruh abad ke-16 lewat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militer. Masa keemasan dialami saat kesultanan dalam pemerintahan Sultan Babullah. Lambang kesultanan ini adalah Burung Garuda berkepala dua yang disebut Goheba. Hal menarik di kesultanan ini adalah: mahkota berambut. Seperti layaknya raja, di Ternate juga terdapat mahkota kerajaan. Yang unik adalah di mahkota ini terdapat rambut yang selalu tumbuh! Setiap tahun, saat malam Idul Adha, akan diadakan upacara potong rambut mahkota.

4. Batu Angus
BATU ANGUS adalah kawasan wisata di Ternate yang terdiri dari kumpulan batu berwarna hitam. Kenapa berwarna hitam? Karena batu-batu ini adalah hasil muntahan (sisa lahar) Gunung Gamalama pada 1673. Karena seperti hangus terbakar inilah maka disebut "batu angus". Batuan ini membentang dari kaki Gunung Gamalama hingga pantai.


Siang saat saya ke sana, suasananya sepi, hening, hanya ada beberapa wisatawan di tempat ini. Tapi berkeliling di area Batu Angus asyik juga. Di depan, puncak Gunung Gamalama langsung terlihat, sementara di belakang membentang laut luas. 

5. Masjid Tua Sultan Ternate
Hingga saat ini, kapan tepatnya MASJID SULTAN TERNATE ini dibangun belum diketahui secara pasti. Diperkirakan telah dirintis sejak masa Sultan Zainal Abidin, tetapi ada juga yang beranggapan dilakukan pada masa Sultan Saidi Barakati (1606).
Masjid Kesultanan Ternate
Segala sesuatu di dalam masjid: menarik....
Masjid Sultan Ternate dibangun dari susunan batu dengan bahan perekat dari campuran kulit kayu pohon kalumpang. Kalau kita masuk ke dalam, masjid ini mempunyai atap yang tinggi, dengan kisi-kisi di mana-mana. Tanpa kipas atau AC pun masjid sudah sangat sejuk. Sebagai catatan: kalau mau sholat di masjid ini pakailah sarung. Demikian "peraturan" tidak tertulis yang berlaku, menurut kenalan saya.

6. Benteng Oranye (Fort Oranje)
BENTENG ORANYE atau FORT ORANJE terletak di Ternate Tengah, Kota Ternate. Benteng peninggalan Belanda ini dibangun 26 Mei 1607 oleh Cornelis Matclief de Jonge.
Fort Oranje
Saat ini, beberapa bagian benteng agak kurang terawat. Tapi kalau sore hari kita berada di atasnya, kita akan melihat pemandangan yang mengasyikkan: anak-anak ramai berlarian, bermain layangan, jalan-jalan, dan beragam aktivitas warga kota kecil itu. Sebenarnya di salah satu bagian benteng terdapat Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Ternate. Di depannya tertulis "Museum Rempah", tapi sayangnya saat saya datang ke sana masih kosong. 

7. Benteng Kalamata
BENTENG KALAMATA adalah benteng yang dibangun Portugis pada tahun 1540. Terletak di Kelurahan Kayu Merah, Ternate Selatan, benteng ini juga biasa disebut sebagai Benteng Santa Lucia. Fungsi awal benteng ini adalah untuk mengantisipasi serangan Spanyol dari Rum, Tidore.
Benteng Kalamata
Laut dan pulau
Dari tepi jalan, benteng ini tidak begitu menarik. Tapi begitu masuk ke dalam, benteng ini keren banget karena langsung berhadapan dengan laut. Dan ini laut di Ternate yang selalu biru dan indah.

8. Pohon Afo, Cengkeh Tertua di Dunia
Ada yang suka hiking? Maka wajib mengunjungi pohon ini. Saya tahu tentang POHON AFO lewat tayangan BBC Knowledge.
Pohon Afo
Ini adalah pohon cengkeh tertua di dunia dengan tinggi sekitar 40 meter. Orang Ternate menyebutnya, Afo. Tidak ada yang tahu kapan pohon ini ditanam, tapi diperkirakan usianya 300-400 tahun. Menuju pohon ini di puncak bukit, selama perjalanan udara akan terasa segar dengan aroma dari pohon-pohon cengkeh di sepanjang jalan, juga pala.

Tahun 1770, seorang berkebangsaan Perancis mencuri beberapa benih pohon Afo. Kemudian membawanya ke Perancis, Seychelles, dan akhirnya Zanzibar yang saat ini merupakan penghasil cengkeh terbesar di dunia. Dulu, Ternate adalah satu-satunya pulau di dunia yang memproduksi cengkeh. Itulah yang membuat banyak bangsa tertarik menguasai pulau  ini. 

9. Gang Gloria
Teman kami menyebut gang kecil itu "Gang Gloria" karena terletak di samping minimarket Gloria. Gang kecil ini dari luar terlihat sangat biasa, nyaris seperti warung PKL. Satu-satunya penanda adalah papan yang bertuliskan: Pusat Penjualan dan Kerajinan Besi Putih dengan logo Antam (yak, benar... Antam!).
Gang Gloria
Kamu, pilih yang mana?

Inilah pusat kerajinan/suvenir khas Ternate. Apa istimewanya besi putih ini? Besi putih ini bukan hasil menambang, tetapi berasal dari sisa-sisa Perang Dunia II, seperti jangkar kapal, tank baja, dan dinding pesawat, yang didatangkan dari Morotai. Kelebihan besi putih ini: anti karat, mempunyai kadar emas 0,8%, dan tidak membuat alergi di kulit. Tips membeli perhiasan di sini: tawarlah.... ;)

10. Restoran Floridas
Kenapa tempat ini saya masukkan dalam daftar tempat wisata? Karena kalau menginginkan spot yang bagus untuk berfoto, di sini tempatnya.

Pengen foto dengan latar belakang seperti gambar di lembaran uang seribu rupiah? Datanglah ke restoran ini, kemudian langsung menuju ke bagian belakang restoran. Satu kata yang bisa menggambarkan pemandangan dari restoran ini: AMAZING!

Bagaimana dengan kuliner Ternate? Saya akan tulis di postingan berikutnya. Masih punya waktu lebih dan ingin bertualang lebih jauh? Menyeberanglah ke Tidore. Ada apa di sana? Tunggu juga postingan berikutnya.... :p

PS: keterangan komplet tentang tempat-tempat wisata di atas akan saya tulis di kemudian hari. Semoga!


Friday, February 12, 2016

Pulau Ayer: Cantik dan Sendu di Tengah Laut

Bulan lalu saya mengajukan proposal "me time" ke suami. Rencananya, saya pengen backpacker-an bersama teman. Tapi, ketika tahu tujuan saya, akhirnya proposal saya ditolak! :D

Saya suka laut. Dan selalu suka laut. Entah mengapa saya selalu gembira melihat ombak. Saya tidak bisa menyelam, snorkeling, dan seterusnya.... Tapi saya selalu memuja ombak, angin, dan pasir. Buat saya, setiap pasir di pantai punya cerita. Setiap pantai punya karakteristik pasir sendiri. Meski begitu, saya tidak "segila" teman saya yang mengoleksi hampir semua pasir pantai yang pernah dia datangi. :p
Cottage di Pulau Ayer
Proposal saya kemarin clue-nya adalah: kepulauan vulkanik di tengah laut, tidak berpenghuni, dan agak berbahaya. Terletak di... hm, suatu selat terkenal. Bisa menebak?

Suami saya, sebaliknya, lebih suka daerah pegunungan. Kalau kemudian di blog saya bercerita soal naik gunung, camping, hiking di pegunungan, itu biasanya ide dari dia. Menurut suami, dia tidak suka laut karena panas dan lengket. 

Memang sih, cuaca saat ini tidak karuan. Ombak besar sehingga untuk mengarungi laut pun harus benar-benar diperhitungkan. Tapi sepertinya... saya kangen laut! Dan saat melihat album foto di laptop, saya baru sadar saya belum pernah bercerita soal Pulau Ayer yang terletak di Kepulauan Seribu, Jakarta.
Perjalanan Dimulai dari Sini!
Dermaga Marina
Jakarta, selain mempunyai beberapa kota pemerintahan, juga punya satu kabupaten, yaitu: Kepulauan Seribu. Banyak pulau di Kepulauan Seribu ini yang sudah saya incar untuk suatu saat saya datangi. Tinggal nunggu kapan waktu yang tepat. Beberapa kali, ibu teman Kira bahkan menawari keluarga kami untuk singgah ke rumahnya yang memang berada di salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Sayangnya, sampai saat ini saya belum bisa memenuhi permintaannya untuk berkunjung ke sana. :(

Pulau Ayer adalah salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Berbeda dengan pulau-pulau kecil lainnya yang sekarang lagi ngehits, Pulau Ayer masuk dalam kategori resor sehingga memang harus berangkat dari Dermaga Marina, Ancol, dengan speedboat, dan harga yang juga tidak murah.
Laut, laut, dan laut...
Pulau Ayer, finally...
Saya datang ke pulau dalam rangka liburan? Nope! Salah banget. Saya ke sana dalam rangka rapat! Bayangkan... sudah jauh-jauh (eh, enggak begitu jauh sih), ke pulau resor, tapi hanya untuk rapat dan tidak menginap pulak. Ck-ck-ck... Meski begitu, ya, saya bersyukur juga sih, sudah menginjakkan kaki di pulau itu. :p

Hari itu saya berangkat pagi-pagi. Sayang, seharian mendung menggantung sehingga foto-foto saya akan terasa sendu. Meski demikian, karena ini pantai, pulau di tengah laut, tetap saja (seperti suami saya selalu bilang), gerah! :p
Cantik ya...
Dermaga Pulau Ayer
Perjalanan dari Marina menuju Pulau Ayer tidak terlalu lama. Mungkin sekitar 30-40 menit. Yang membuat lama adalah: sampah!!! Kok bisa sampah membuat lama perjalanan? Jadi ya, saat kami enak-enak naik speedboat sambil menikmati pemandangan laut lepas, burung laut yang hinggap di papan atau kayu kemudian seperti berselancar di atas ombak, beberapa kali kapal tiba-tiba berhenti. Kami diam di tengah laut. Penyebabnya tak lain adalah tumpukan sampah. Sampah yang berkumpul dan mengapung seperti pulau-pulau kecil ini menghadang di depan speedboat kami. Dan ini, tentu saja, berbahaya karena bisa masuk ke dalam baling-baling atau mesin kapal.

Begitulah. Ternyata sampah memang berefek sangat buruk untuk pelayaran. Bayangkan, lagi santai dan enak-enak menikmati pemandangan, ternyata rusak hanya gara-gara sampah. Huhuhuhu. Tolong lah, jangan buang sampah sembarangan lagi. Sungguh. Kalau mengalami seperti yang saya alami pagi itu pasti akan kesel deh.
Membayangkan bisa menikmati sunset di sini
Sendu, bukan? Cocok untuk menyepi...
Saya tidak akan banyak bercerita soal Pulau Ayer karena saya di sana, sekali lagi, dalam rangka rapat! Jadilah cuma bisa foto-foto kala datang, di sela istirahat siang, atau pulang. Tapi menurut saya sih, pulau ini oke banget buat berlibur.Kita bisa menginap di cottage-cottage yang berada di atas laut. Atau lebih memilih yang berada di darat? Ada kolam renangnya juga. Saat saya beristirahat untuk makan siang, kolam renang hiruk pikuk dengan teriakan anak-anak yang sedang berlibur di sini. Ah... enaknya. Tempat yang tenang dan cocok untuk menyepi sejenak dari hiruk-pikuk Metropolitan.
Sore Menuju Marina
Sore, saya kembali lagi ke Marina. Dengan harapan tentunya, suatu saat saya bisa berlibur ke pulau ini lagi. Kata berlibur sepertinya harus saya tekankan. Karena ya, datang ke pulau resor untuk rapat itu enggak enak. ;)

Thursday, February 11, 2016

Mencecap Malam di Parijs van Java

Malam yang baru turun di Parijs van Java. Hampir sesorean Kota Bandung diguyur hujan. Dan saat hari menggelap, gerimis masih juga awet dengan diselingi sesekali angin kencang.
Bandros! Salah satu unggulan terbaru Kota Bandung... 
Kami berdua, saya dan suami, meninggalkan penginapan dan menyusuri jalanan dengan berjalan kaki. Meski gerimis, ini satu-satunya hal yang memungkinkan untuk menuju salah satu kawasan terkenal di kota itu: Braga. Kami memilih berjalan kaki karena kalau menggunakan mobil sudah bisa dipastikan waktu akan lebih banyak terbuang di jalan.

Anak-anak kami tinggal di kamar bersama ibu yang kebetulan ikut kami ke Bandung. Jadilah malam itu saya berduaan dengan suami menyusuri trotoar, menyeberangi rel, melewati taman, dan keluar-masuk beberapa tempat di kawasan Jalan Braga.
Jalan Braga
Braga: vintage!
Well, meski cuma berdua, nyatanya saya dan suami merasa enggak tega kalau harus masuk tempat makan yang kelihatannya menyenangkan tanpa membawa krucils. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati malam, berhenti untuk makan Bakso Ceker dengan porsi satu mangkok berdua (cieeeeee....), dan berakhir di Wiki Koffie.

Beberapa bulan belakangan kami memang sering ke Bandung, baik ke kota maupun kabupaten. Tidak, tidak... kami tidak belanja. Atau menagih uang kos karena kami bukan juragan kos, apalagi menemui pendukung karena kami pun tidak mencalonkan diri menjadi wali kota (siapa eluuu...?!). Kegiatan kami masih tetap terfokus ke alam: camping atau hiking. Mungkin sesekali ke kota untuk mencari makan, tapi tidak jarang saya dan anak-anak "cuma" menyemangati Pak Suami ikut event lari. :p
Wiki Koffie
Kursi yang penuh, menyisihkan kami berdua di pojokan! ihikz.
Kopi Gayo!
Braga di waktu malam. Ramai anak-anak muda nongkrong, bangunan tua peninggalan Hindia Belanda yang kelihatan lebih anggun saat malam, tempat makan yang penuh sesak dengan mobil pelat B! :D

Saya dan suami berjalan menyusuri trotoar. Mengagumi trotoar yang jauh lebih rapi ketimbang trotoar Jakarta, dengan penanda bagi tunanetra yang juga rapi dan jelas. Sesekali kami berhenti dan duduk di kursi taman yang berada di pojokan jalan. Ngobrol tentang kota, tentang anak-anak.
Morning!
a gloomy day
Saat memutuskan ke Wiki Koffie, sebenarnya kami pengen nongkrong lama. Sayangnya, semua kursi penuh dan tidak ada tanda-tanda bakal ada yang beranjak. Akhirnya kami memesan kopi untuk dibawa pulang. Sambil menunggu pesanan siap, kami duduk sambil menikmati popcorn yang memang selalu diberikan kepada pengunjung saat menunggu pesanan. Saya suka interior Wiki Koffie. Untuk suasana, mungkin kalau agak sepi bakal lebih enak karena malam itu bagi saya amat sangat ramai.

Menenteng kopi, merunut kembali jalan ke penginapan. Saya dan suami akhirnya menikmati kopi di bangku taman depan kafe hotel. Meski gerimis sudah menghilang, ternyata angin tetap kencang. Akhirnya kami memutuskan masuk kembali. What a day! Jujurly... ehm, pergi berdua saja bareng suami ketika sudah punya anak-anak bisa dihitung dengan jari. :D Jadi bagi saya, menikmati malam di Bandung berdua saja itu termasuk dalam daftar peristiwa yang jarang terjadi.
Suka kolamnya!
Yang habis berenang
Pagi hari, mendung masih menggantung. Dari jendela kamar saya melihat Bandung Tour on Bus aka Bandros melintas. Rombongan yang berada di atasnya sepertinya cukup gembira. Dan saya iri... karena saya belum pernah naik Bandros. :( 

Meski emaknya males bangun, ternyata anak-anak tetap bersemangat nyemplung ke kolam renang. Salah satu hal yang menjadi pertimbangan kami saat memutuskan untuk menginap di satu hotel biasanya adalah: kolam renang! Untungnya kolam renang Grand Royal Panghegar, tempat kami menginap, ada air hangatnya. Jadi emak yang satu ini hanya nyemplung dan berendam di kolam air hangat sementara anak-anak dan bapaknya main ke sana-sini. :p

Saya akan jarang sekali me-review hotel, kecuali mungkin kolam renangnya. ;) Kenapa? Pertama, setiap kali ke luar kota, di mana ada jaringan hotel kantor, pasti saya akan lebih sering menginap di hotel itu (mari manfaatkan diskon karyawan). Apalagi kalau ke luar kota dalam rangka dinas luar kota. Sudah hampir bisa dipastikan saya bakal ditempatkan di jaringan hotel kantor.

Kedua, kalau saya datang ke daerah yang agak terpencil, rasanya tidak adil me-review sebuah hotel. Hahaha. Setiap kali ditugaskan ke daerah di luar Jawa, teman saya yang mengurus akomodasi selalu bilang: "Mbak, ini hotel terbaik di daerah itu ya. Pokoknya itu hotel yang terbaik." Dan kadang kala, apa yang saya temui? Jreng-jreng... hotel tersebut lebih mirip losmen, hotel melati, atau mirip kontrakan meski bersih, rapi, dan ber-AC.

Dua alasan itu akan membuat saya susah untuk jujur melakukan review. Makanya, kalau soal hotel, paling-paling saya akan menyebut sesekali karena saya menghargai setiap penginapan tempat saya menginap. ;)

My definition of a Good Hotel is a Place I'd stay at ~ Robert de Niro

Monday, February 08, 2016

Bekal ke Kantor (Februari-1)

Sering kali saya bilang ke teman-teman saya yang ngantor dengan "jam normal": berbahagialah ketika makan siang! :D Ya, ya... buat yang ngantor siang hari, saat jam makan siang, beli makan di luar pun banyak sekali pilihan. Di kantin kantor, warung sekitaran kantor, belum lagi resto ini-itu. 

Berbahagialah! Karena untuk pekerja malam seperti saya, itu semua hampir mustahil ditemui. Sehari-hari yang kami temui setiap kali mau pesan lewat office boy adalah makanan yang umumnya juga muncul di malam hari, seperti: nasi goreng, mi goreng, sate, soto, bakso, dan pecel lele. Kalau saya kebetulan tidak sempat membawa bekal, saya sering kali termenung lama memandangi daftar makanan yang itu lagi itu lagi. :p 

Bekal yang saya/suami bawa ke kantor di awal Februari:
Steamed tofu dan cabbage roll
Ini sih sebenarnya cuma modif dari makanan yang pernah saya bawa.
Steamed tofu: Tahu, wortel, daun kemangi, cabe rawit, ditambah bawang merah iris, lada, garam, dan telur. Aduk, masukkan ke cetakan muffin, kukus (pepes tahu versi minim dan praktis).
Cabbage roll: Isi orak-arik minus telur. Jadi cuma sayuran yang saya tumis dengan bawang putih, garam, lada, dan sedikit saus tiram.
Burger Tempe
Burger Tempe saya buat dengan bahan sisa yang ada di kulkas (belum belanja). Tempe saya rendam bumbu, kemudian panggang. Isi dengan selada, tomat iris, dan ayam (sisa tadi malam. Hahaha). Sayurannya kurang? Sebenarnya ini saya bawa dengan sayuran sisa isian cabbage roll, tapi saya bungkus pakai nori.
Spinach Burger
Spinach Burger. Saya suka daun bayam karena sering saya jadikan campuran untuk berbagai makanan. Untuk spinach burger saya memakai: bayam (rebus sebentar dan cincang), bawang putih cincang, lada, garam, telur, dan tepung panko. Aduk jadi satu, bentuk bundar. Siapkan teflon, kasih minyak/olive oil, taruh adonan burger dan masak hingga kecoklatan.
Ayam Kukus Lemon
Ayam Kukus Lemon (di samping kukus jahe) sering muncul untuk bekal saya karena gampang bikinnya. Jadi jangan bosen yak. ;) 

Itadakimasu... 

Food is Essential to Life, Therefore Make It Good... 

Tuesday, February 02, 2016

Museum Surabaya: Saat Kota Bercerita tentang Dirinya...

Ketika berkunjung ke "Kota Pahlawan", salah satu museum yang saya kunjungi adalah MUSEUM SURABAYA. Museum ini terbilang baru, diresmikan oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada Mei 2015. Saya dan seorang teman datang ke tempat ini tidak dengan harapan muluk-muluk karena untuk sekelas museum yang baru saja diresmikan pasti koleksinya belum lengkap.
Museum Surabaya
Baju daerah
Sopir taksi yang membawa kami pun awalnya bingung ketika kami menyebutkan tujuan: Museum Surabaya. Dia berpikir bahwa sebenarnya yang kami maksud adalah Monumen Tugu Pahlawan. Setelah kami yakinkan bahwa benar ada Museum Surabaya yang baru saja dibuka, akhirnya dia membawa kami ke daerah Tunjungan.

Sampai di tempat tujuan dan keluar dari taksi, saya berdiri kebingungan. Di gedung yang berdiri di depan saya tidak ada satu pun papan petunjuk yang menyebutkan bahwa tempat itu sebuah museum. Teman saya meyakinkan bahwa gedung di depan kami, Gedung Siola, adalah benar lokasi Museum Surabaya.

Dengan ragu-ragu saya mengikuti langkah teman saya masuk ke dalam gedung tersebut. Di dalam, saya tambah melongo: "Hah? Ini kantor kecamatan? Atau kantor apa?"
Buku Register Pencatatan Perkawinan (tahun 1881, 1883, 1887)
Buku register pencatatan kelahiran (1851)
Beberapa warga antre di depan loket. Sebagian lainnya duduk menunggu. Beberapa petugas sibuk dengan pekerjaan mereka dan beberapa membawa map. Tunggu duluuuu.... Apakah saya harus bikin KTP di sini? :D Ternyata, setelah celingak-celinguk, saya baru tahu bahwa tempat itu juga merupakan salah satu tempat pelayanan satu atap.  Lah, pantesan saja banyak warga yang mengurus administrasi. Jadi, kami ke mana dong? *kebingungan*

Akhirnya kami bertanya kepada petugas yang ada di situ. Teman saya akhirnya nyerah juga berkeyakinan bahwa itu museum setelah melihat warga bawa map dan antre di loket. :p

Eh, tapi ternyata benar! Museum Surabaya ternyata memang terletak di Gedung Siola. Hanya saja lokasinya berada agak di dalam, melewati tempat pelayanan satu atap itu. Berdua kami melenggang ke dalam gedung, dan akhirnya mendapati semacam etalase dengan tulisan besar di dinding kaca: MUSEUM SURABAYA.
Cerita tentang Pemadam Kebakaran Zaman Dulu
Salah satu alat milik Dinas Kebakaran :D
Sampailah kami ke museum sebuah kota. Museum yang bercerita tentang sejarah kotanya. Banyak peninggalan bersejarah di sini. Tapi saat kami datang, seperti dugaan kami, koleksinya belum terlalu banyak.

Saya mendapati koleksi uang zaman Belanda. Yang menarik adalah catatan kependudukan berupa kelahiran dan pernikahan (tahun 1850-an). Tulisan dalam bahasa Belanda di atas kertas yang sudah menguning itu agak kabur, tapi beberapa masih bisa dibaca. Lucu juga membaca nama-nama yang di zaman modern sekarang terasa asing. 

Hal yang menarik lainnya adalah "cerita" soal pemadam kebakaran. Dari sejak zaman perlengkapannya menggunakan gentong sampai baju tahan api. :D Ada pula deretan foto Wali Kota Surabaya dari yang pertama (A Meyroos yang menjabat tahun 1916) hingga wali kota sekarang, Tri Rismaharini. 
Moda Kendaraan yang Pernah Beroperasi di Surabaya
Mata Uang RI Kuno
Mungkin karena masih baru dan ruangan terlalu luas, saya merasa koleksi di museum ini terlalu sedikit. Saya berharap, suatu saat ketika saya datang lagi, museum ini sudah makin lengkap. 

Saat meninggalkan museum, di luar gedung saya mendapati beberapa petugas sedang sibuk memasang lokomotif kereta kuno. Jadi, apa yang menarik di Museum Surabaya? Sejauh itu saya belum menemukan hal yang seru karena barang-barang yang ingin saya "gali" berada di kotak kaca. Karena itu saya berharap, suatu saat dokumen-dokumen yang ada ditransfer ke bentuk digital sehingga pengunjung bisa membaca atau setidaknya melihat sisi lain di luar halaman yang dibuka untuk dipajang. :p Begitu juga dengan uang kuno dan perlengkapan lainnya.


MUSEUM SURABAYA
  • Terletak di eks Gedung Siola, Jalan Tunjungan,Surabaya, Jawa Timur
  • Tiket: FREE
  • Jam buka: Pukul 09.00-21.00

Tulisan terkait:
- Wisata di Surabaya
- Wisata di Jawa Timur
- Museum