Friday, July 01, 2005

4 My Friend: Budi Santi

Beberapa hari ini mau ngisi blog rasanya males... banget! Meskipun banyak cerita, meskipun banyak kejadian.

Tapi yang jadi masalah hatiku sedang "kosong". Rabu kemarin seorang temanku pergi. Pergi? Yach... pergi dan tak akan pernah kembali lagi! :(

Kamis sore seorang kawan sms aku: "Dia sudah dikubur... Semua mendoakan dia. Teman2 banyak yang datang."

Aku jawab sms-nya: "Maaf, aku masih sulit percaya untuk hal itu. Terlalu banyak kenangan, terlalu banyak mimpi, terlalu banyak harapan di antara kami." Sms yang panjang dari temanku langsung berhenti!

Aku menghela napas. Dari Rabu kemarin aku masih menangis. Tadi malam masih menangis, saat menulis ini pun aku masih menangis. Duhai temanku... bukannya aku tidak ikhlas. Tapi aku masih sulit percaya kamu tidak akan pernah menyapaku lagi. Atau berbagi cerita bersamaku.

Minggu pagi kemarin, waktu aku telepon kamu di rumah sakit, aku masih bisa mendengar suaramu menjerit menyebut namaku. Iya, saat teleponmu diambil kakakmu, aku dengar kamu menjerit memanggil-manggil aku. Duuuh, rasanya aku pengen segera terbang ke sampingmu! Menungguimu...

Bulan kemarin kamu masih berjanji kepadaku: "Besok kalau Nikki ultah, aku dateng dech!" Tapi kayaknya Allah punya rencana lain untukmu.

Uhm... hatiku masih pedih. Airmataku masih mengalir jika mengingat kamu.
"Aku bingung nih, mau telepon siapa. Aku tidak punya tempat untuk mengadu. Yang kepikiran cuman kamu." Itu kalimat kamu beberapa tahun lalu.
"Aku ada.... aku akan selalu ada. Kita akan berbagi," jawabku. Dan sejak itu, kita selalu berbagi semua cerita. Tertawa, bahagia, menangis, kesedihan.

"Aku tidak bisa menerima dia," ucapmu suatu saat sambil menangis. Waktu itu kamu merencanakan pertunangan. Aku bilang, "Tenanglah. Welcome to the club." Aku malah tertawa. Yach... aku tertawa. Saat itu kamu baru menyadari bahwa ada satu hal yang dilupakan orang saat jatuh cinta: air mata.

Dua bulan kemarin kamu bilang kepadaku, "Aku mau menikah. Aku akan jadi ibu rumah tangga. Tiap pagi aku akan menyiapkan baju untuk suamiku, dan aku akan mengantarnya sampe ke pintu." Woala... itu suatu kejutan buatku. Itu saat hari di mana kamu minta pertimbanganku untuk keluar dari perusahaan.

Berat! Itu satu kata yang kayaknya tepat buatku saat ini. Dua malam ini aku selalu menangis. Kawan, kalau kamu masih ada, mungkin aku bisa langsung angkat telepon, dan berkata sambil menangis, "Saat ini aku pengen bicara dengan kamu."

~Teriring doa, Satu kenangan untuk teman yang selalu "mengikutiku".~

3 comments:

Sofie said...

halo mbak retma,
saya tau dari blog kulit jeruk, saya temannya almarhumah...teman kantor..dan kita juga sangat terkejut dan kehilangan..salam buat nikki

retma-haripahargio said...

hai sofie, salam kenal. Senang kmu udah berkunjung. Iya, aku mrasa sangat kehilangan. Tp sekarang udh agak "lumayan" lah.

Joko said...

Halo Mbak Retma Saya teman dekat almarhumah. Ya mbak kita memang sangat kehinlangan sekali dan seperti Mbak retma bukanya saya nggak iklas tetapi saya masih selalu kangen sama dia. Kita baru berencana bulan ini mau ke sana tetapi Tuhan berkehendak lain. Aku akan selalu mengenangnya mbak karena memang kita sudah deket sekali. Dia temen joging aku, temen makan aku............ Tapi aku iklas kok Tuhan memanggil dia.....