Monday, October 19, 2009

Masa-masa Itu...

Membaca buku Negeri 5 Menara, aku merasa seperti terlempar ke.. hm, hampir 20 tahun lalu? Ya, pokoknya waktu aku masih remaja lah (keliatan tuwirnya kagak sih gw? Hehehe). Tapi dengan itu aku juga sadar, banyak... sekali yang dah berubah ama diri aku.

Lulus SD. Tadinya, kami berempat, sepakat nerusin skul di SMP elit di kabupaten. Apa daya, cuman 2 temanku yang ke sana. Bukan karena NEM gak cukup. Bukaaaan... tp akhirnya orangtua lah yang berbicara. Aku akhirnya "terdampar" di SMP lokal di tingkat kecamatan. Dan satu temanku masuk Pondok Pesantren Modern Assalaam, Surakarta. Tadinya ibu temenku itu juga mengajak ibuku untuk memasukkan aku ke ponpes. Tapi ibuku kekeuh, aku masuk SMP lokal. Jujurly, di keluarga besar, terutama dari bapak, istilah Ponpes Modern Gontor atau Assalaam dah bukan sesuatu yang asing karena beberapa sodara skul di sana.

Jadilah, meski aku gak masuk Ponpes, aku dimasukin ke madrasah. Bukan sebangsa madrasah ibtidaiyah yang setingkat SD itu. Tapi, sehabis pulang sekolah, istirahat bentar. Menjelang ashar, aku "sekolah" lagi di madrasah. Pelajaran favoritku adalah Taarikh (Sejarah), lebih seringnya sejarah Islam. Untuk yang satu ini, aku selalu dapat nilai cukup memuaskan. Dan pelajaran yang paling gak aku suka adalah Lughah Arabiah (Bahasa Arab). Sudahlah susah, gurunya killer pulak. Sama persis kayak di buku Negeri 5 Menara, pelajaran pertama adalah: Maa Hazaa?. Hahaha... Btw, saking killer-nya itu guru, kami pernah mogok gak mau masuk kalo hari Sabtu, pas pelajaran Bahasa Arab. Akhirnya, setelah kejadian itu, si guru yang killer itu berubah jadi baek.

Kehidupan di pesantren, meski gak aku alami, aku juga tahu dari temanku yg masuk sana. Kami sering surat-suratan. Kata temenku, sering kali suratku gak jelas karena banyaknya sensor di suratku. Ya, karena temanku itu agak terisolir dari dunia luar, dengan setianya aku selalu mengirim surat dengan banyak informasi. Ya, informasi yang diperlukan remaja saat ituw lah. Misalnya: Tangga lagu Indonesia, tangga lagu barat, lengkap dari nomer 1 sampe nomer kesekian. Belon gosip2 artis. Wakakaka. Jelas ajah disensor.

Radio, waktu itu gak diperbolehkan. Tapi di asrama temenku, ada yg berhasil menyelundupkan. Entah bagaimana caranya. Hahahahaa.

11 comments:

r 4 said...

serasa udah tua ya mba,,,qeqeqeqeqeq *tertawa terguling-guling*

mo baca dulu degh kelanjutannya...

retma-haripahargio said...

**timpuk-timpuk r4** :D
Waaaah, kalo aku sih gak merasa tua. :p Yah, setidaknya belon ada yg manggil gue nenek2. kqkqkqkq.

tuteh said...

Banyak bacaan yang bikin kita merasa terdampar di masa lalu :D aaahh... pengen ngulang kembali maen2 ma anak tetangga (phuh t :p)

retma-haripahargio said...

Benar sekali Tuteh. Palagi di Ende kayaknya pemandangannya indah nian yak. (belon pernah ke sana siiiiy..). :)
Lah, lagian emang sekarang dirimu gak pernah maen ama anak tetangga? Kebanyakan cuap-cuap di depan mik kali.

isma said...

pernah mesantren ya buk? pesantren mana?

retma-haripahargio said...

Gak... secara formal sih enggak. Cuman musiman doang, di "pesantren" di kampung, gak jauh dari rumah. :D

r 4 said...

@ ismi : ya mana mungkin lha masuk pesantren secara pormal bisa teriak "panas-panas" trs mba ini....qeqeqeqeqeq piss mba sesama warga bekasi...

retma-haripahargio said...

Wahahaha... no prob. Eh, memangnya kalo masuk pesantren gak boleh tereak2 yak? :D

Badruz said...

ha..ha..,
salam kenal dari Kebumen.

Wong Jalur said...

Cerita kehidupannya mernarik, trus temennya yg dipondok skrang dmn? cerita selanjutnya?

henny said...

saya pernah berkunjung ke teman yang tinggal di asrama pondok psantren, hahaha, ya gitu deh ... seru-rame, banyak banget teman jadinya ya :) Salam kenal juga bun :D