Friday, January 14, 2011

Nikahan Althea-Jared (1)

Seperti waktu itu saya bilang, di keluarga besar, tahun 2010 banyak pernikahan antarbangsa. Haha. Setelah diawali nikahan Trias-Tomomi, Febi-Vic, akhir tahun ini nikahan Althea-Jared. Karena acara nikahannya berlangsung dua hari, jadilah saya ambil cuti 3 hari (yg akhirnya dapat 4 hari). Acara pernikahan Althea-Jared ini menggunakan tradisi Jawa.

Lokasi untuk siraman
Hari ke-1. Ciawi, Siraman & Midodareni (21 Des 2010)
Nah! Saya sebetulnya Jawa tulen. Namun entah m
engapa, krn pernikahan ini saya baru "ngeh" semua simbol2 yang ada di pernikahan. Hehehe.

Siraman
Siraman ini dari kata dasar siram (mandi). Jadi, siraman bermakna mandi untuk membersihkan jiwa dan raga. Juga untuk membuang segala kejelekan calon pengantin. Sehingga nantinya mereka memulai hidup baru dengan hati bersih dan suci.
Siraman ini dilakukan oleh para "sesepuh". Jadi kita2
yang masih (dianggap) muda, nonton saja. Hehehe.

Potong rikmo

Potong rikmo ini artinya memotong rambut. Ayah pengantin perempuan memotong sedikit rambutnya.
Kemudian, rambut ini akan dikubur. Hal itu bermakna bahwa segala sesuatu yang telah lewat dikubur, dan dimulailah kehidupan
baru.

Dodol Dawet
Setelah acara siraman selesai, orangtua calon
pengantin "dodol dawet" (jualan dawet/cendol). Dawet/cendol yang berbentuk bulat melambangkan kebulatan tekad orangtua untuk menjodohkan anaknya.

Perlengkapan untuk "dodol dawet". Yg di piring itu bukan biskuit, tapi "uang".
Oh, ya. Semua orang yang mau dawet ini harus "beli". Bukan dengan uang, tapi dengan krewang (pecahan genting bentuk bulat, dibikin kayak duit gitu). Hal ini juga bermakna bahwa kehidupan manusia itu berasal dari bumi.


Yang menerima uangnya si ayah pengantin, dan yang menyerahkan dawet ke "pembeli" adalah ibu pengantin. Ini juga mencontohkan bagaimana hidup berumah tangga harus saling membantu.

Nah, kata perias pengantinnya, dawet yang kecil2 dan banyak itu juga ada artinya. Itu bermakna, semoga besok hari tamu2 yang dat
ang juga banyak, seperti dawet itu. ^_^

Potong Tumpeng Kamulyan

Memotong tumpeng

Ada satu tumpeng kecil di dekat tempat "jual dawet". Isinya tumpeng nasi putih dan lauk pauk lengkap. Tumpeng ini dipotong oleh ayah pengantin dan diberikan kepada ibu pengantin. Potongan ini akan digunakan pas acara Dulangan Kapungkasan.

Jajan Pasar
Oh, ya. Ada jajan pasar juga. Jajan pasar sebagian besar bahannya berasal dari ketan. Kenapa ketan? Karena ketan mengandung banyak gluten, lengket. Hal ini juga bermakna supaya nanti pengantin selalu lengket, tak terpisahkan, begitu. ;-)

Midodareni
Midodareni itu berasal dari kata widodari (bidadari). Jadi, diharapkan besok pagi pengantin perempuan cantik seperti bidadari. Nah, biasanya calon pengantin perempuan pakaiannya sederhana saja. Cuma pakai baju putih, tanpa perhiasan apa pun.


Dulangan Kapungkas
an
Ini rangkaian upacara adat terakhir hari itu. Calon pengantin duduk diapit kedua orangtua dan disuapi untuk terakhir kali.

Makanannya diambil dari tumpeng kamulyan.

Setelah acara kelar, diadakan Kembul Bujono Ondrowino. Artinya, makan malam bersama. Karena dari Timur dan Barat, jadi makanan juga dua macem, campuran Timur & Barat. Makan sampe kenyang! Mari... ;-)

Oh, ya. Sejak acara ini, di rumah keluarga di Ciawi muncul janur kuning. Eh, ini ternyata ada maknanya juga. Janur itu juga bisa dpanjangkan menjadi sakjane neng nur. Sementara kuning bermakna jiwa/hati yang bersih. Jadi, janur kuning bermakna = cita-cita mulia untuk mencapai nur (cahaya), diiringi dengan hati yang bersih.

Dua batang pohon pisang raja yang matang. Hal ini bermakna, sebelum melangkah ke perkawinan, pengantin sudah berpikir matang & dewasa. Sedangkan raja dimaksudkan agar memiliki kemakmuran dan kemulyaan seperti seorang raja.

Sumber:
- dengerin perias yang selalu menerangkan setiap step dalam upacara
- dr hasil googling

Thank you buat Thomas untuk fotonya.

No comments: