Friday, September 21, 2012

Anak dan Pornografi

Tulisan terakhir dari seminar sesi I, Tantangan Mendidik Anak di Era Digital. Gile, satu sesi aja saya bikin jadi 3 tulisan saking banyaknya. :) Kali ini, mari ngomongin soal pornografi.

Pornografi dapat diakses anak melalui:
1. Situs Internet (21%)
Ada yang pasang wi-fi di rumah? Sebagai orangtua, apa yang sudah dilakukan? Pernah membolehkan anak buka Youtube? Didampingikah? Tahukah bahwa sekitar 78% anak melihat pornografi tanpa sengaja?
Di seminar kemarin Bu Elly sempat cerita bagaimana anak-anak usia SD suka main di warnet. Dan dalam satu video, mereka mengaku membuka video porno! Tentu tanpa sepengetahuan pengelola warnet.
Yayasan Kita dan Buah Hati pernah mengadakan survei dengan responden siswa kelas 4, 5, dan 6 SD. Data Januari-Juni 2012 menunjukkan, 1 dari 3 anak melihat pornografi di rumah! **sumpah saya pengen kejang2 melihat data itu**

Fakta lain yang mengejutkan, sekitar 4% responden (nilai N-nya lupa bok, saking shocked-nya sama fakta2 yang terbeber) mengakses pornografi dari handphone yang dibelikan oleh orangtua mereka! Hp model bagaimana yang kita kasih ke anak-anak kita? Bisa akses internet-kah?
Apa yang harus kita lakukan sebagai orangtua?
- kuasai cara berinternet
- cek riwayat koneksinya
- "berteman" dengan anak
- ikut perkembangannya
- ajak anak bijak berinternet
- diskusi dengan mereka
- arahkan dan kontrol

2. Games (14%)
Gadget apa yang telah diberikan ke anak? Hp, tablet PC, i-Pad? Atau lainnya? Diisi dengan games-kah? Gak usah maluuuuu... saya pun tersandung2 dan tertampol2 dengan pertanyaan Bu Ely. Iyah, kami ngasih tablet PC buat anak2. Tapi saya pribadi, buat Nikki (kelas III SD), tablet baru dikasih saat dia libur sekolah aka hari Minggu. Hari2 laennya dia lebih sering maen bola sama teman-temannya.

Eh, kembali lagi ke seminar. Kemarin di seminar, Bu Elly sempat memaparkan 5 besar games yang big no no buat anak-anak. Games tersebut adalah: GTA, Point Blank, Mengintip dan Mencuri (di FB), Sims, serta God of War. Bahkan ditengarai, tawuran anak sekolah yang sering terjadi itu, senjata yang mereka gunakan, banyak yang "mengadaptasi" dari God of War. **garuk-garuk aspal saking nyerinya hati**
Ada pula satu game yang dikategorikan UN sebagai cyber crime (perlu disebutkah game-nya?) **saking gak tega mau cerita dan ngomong**

Yang harus kita lakukan sebagai orangtua:
Belajar kenal dengan games; Tanyakan pada anak games apa yang dimainkannya; Periksa RATING/PERINGKATNYA; Dari mana dia mendapatkan; Tahu tidak dampaknya; Diskusikan

Terus, kalo mau beli games, lihat di sampul depan dan belakang yak (meski ini tidak begitu menjamin karena ada yang diganti oleh para pembajak). Ini rating video games yang dikeluarkan oleh The Entertainment Software Rating Board (ESRB): 
- EC (Early Childhood) untuk anak 3-10 tahun
- E (Everyone) untuk semua umur 
- E10+ (10 tahun ke atas) 
- T (teen= 13 tahun ke atas) 
- M (mature=17 tahun ke atas) 
- AO (adults only=dewasa) 
- RP (rating pending) 
Faktanya, banyak video game ber-rating AO atau M yang dibajak dan diubah ratingnya menjadi T.

3. VCD, DVD, Film Bioskop (14%)
Waktu pemaparan soal ini rasanya ya, tersandung-sandung. Soalnya saya sering ngajak Nikki nonton film superhero di bioskop. **pengakuan dosa** :(
Nah, kalo anak sudah ABG dan mau nonton bareng sama teman-temannya ini nih yang wajib kita ketahui:
- perlukah ke bioskop?
- dengan siapa?
- mau nonton apa?
- sadar tidak iklan film sebelum, di tangah, dan di akhir film yang ditonton
- bicarakan dengan anak dampaknya melihat adegan syur dalam keadaan gelap dengan teman?
Film yang tidak layak tonton di antaranya: Buruan Cium Gue, Virgin, Akibat Pergaulan Bebas

4. Komik (13%)
Kemarin Bu Elly sempat bilang: jangan sampai kita salah membelikan komik anak-anak. Yup, karena katanya, bisa jadi komik yang dipajang di dekat kasir atau rak toko buku itu bagian anak-anak itu adalah komik porno. Jadi, sebagai orangtua, meski itu bentuknya komik, kita tetep harus hati-hati.
Apa yang harus dilakukan?
- jangan beli komik sembarangan -liat isinya
- periksa tas, rak buku, bawah tempat tidur, dan di antara pakaian dalam lemari
- Ajarkan anak berbagai jenis bacaan: science, aksi, petualangan, dongeng, kisah/riwayat rasul dan sahabat
- membaca! - karena anak akan meniru

5. Iklan (8%)
Pernah memperhatikan iklan-iklan di TV? Atau di media luar ruang yang "mengundang?" Apakah anak kita ikut menontonnya? Atau iklan di bioskop sebelum film dimulai?

6. Sinetron & TV (5%)
Saking gak pernahnya nonton TV lokal krn males liat programnya, kemarin waktu ditayangin potongan sinetron remaja, saya sampe terlongo2. Gila! Di situ jelas banget, sinetron itu benar-benar ngajari penontonnya setiap step buat ML atau ciri-ciri kecanduan pornografi! Dan itu adalah sinetron remaja! (pake seragam SMA bok). :(
Apa yang harus dilakukan?
- atur jam TV hidup
- pilih program
- Bahas sebelum dan sesudahnya: apa yang anak suka dan tidak suka, mengapa?
- ada tidak program lain yang dinilai lebih baik
- pantau
- beri program pengganti yang lebih baik

Menurut Mark B Kastleman, pendiri CANDEO dan penulis buku The Drug of the New Millenium, yang diinginkan oleh para predator sex dari anak-anak kita adalah agar:
1. Anak dan remaja kita memiliki perpustakaan porno (= mental model porno, yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja)
Maksud perpustakaan di sini bukan saja secara riil. Yang mereka inginkan adalah perpustakaan di otak. Ingat bagaimana kita atau anak kita belajar perkalian dan pembagian? Yak, dengan menghafal. Dan sampai tua pun kita masih ingat soal perkalian itu karena sudah hafal dan lama-lama terbiasa.
Seperti itulah yang mereka inginkan. Bahwa otak anak akan terus merekamnya, mengingatnya. Kapan pun, di mana pun. 

2. Kerusakan otak permanen
Pre Frontal Cortex
Kecanduan pornografi membuat rusak bagian otak yang bernama Pre Frontal Cortex. Bagian inilah yang mempunyai peran sebagai direktur di otak. Dari foto kelihatan bahwa fungsi PFC adalah tempat moral dan etika. Yang bertanggung jawab untuk perencanaan masa depan, organisasi, pengaturan emosi tunda kepuasan, pengontrolan diri, dan menuntun kita untuk mengambil keputusan.

Rangsangan pornografi di otak seperti ini: 
Anak awalnya akan shock --> mengeluarkan hormon dopamin di otaknya (membuat merasakan kenikmatan) --> senang --> BLAST --> keinginan buat melihat lagi --> merasa lebih baik 

3. Menjadi Pelanggan Seumur Hidup

Ya, mereka menjadikan anak-anak kita their future market. Serem kan? :(
Target utama mereka adalah:
1. Anak laki-laki
2. Belum baligh
3. BLAST (boring, lonely, angry/afraid, stress, tired)
Kenapa anak laki-laki? Karena hormon testosteron anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan anak perempuan sehingga mereka gampang terangsang. 

Ciri anak yang kecanduan Pornografi:
- mudah haus dan tenggorokan kering
- sering minum
- sering buang air kecil
- sering berkhayal
- sulit konsentrasi
- jika bicara, menghindari kontak mata
- sering bermain PS & internet dalam waktu yang lama
- prestasi akademis menurun
- main dengan teman/kelompok yang "itu-itu" saja
- berperilaku aneh, seperti: kancing baju sampai ke atas, rambut gondrong, dll

Jangan salah, jangan kaget. Ada sinetron remaja yang mengangkat itu semua, lengkap dengan keterangan ciri-cirinya! **Ya Alloh... saya merinding ngliatnya**

Terus, bagaimana kalau anak sudah memiliki ciri-ciri itu? Kita harus bagaimana?
1. Tenang
2. Hindari marah dan panik
3. Terima: maafkan, minta ampunkan, dan bermusyawarah
4. perbaiki pola pengasuhan
- rumuskan ulang tujuan pengasuhan
- orangtua mengenali kelebihan dan kekurangan diri masing2
- sepakat dual parenting (waktu, cara, konsekuensi)

Perlukah ke terapis? Jawabannya adalah: You are the best terapist! Kita, orangtua, adalah terapis terbaik di dunia bagi anak-anak kita. Jangan lupa, gunakanlah kekuatan sentuhan.
Langkah berikutnya adalah:
- cari tahu penyebab anak mulai kecanduan (games atau pornografi)
- selesaikan hal-hal yang menyangkut emosi dan harga diri (karena kecanduan, biasanya harga diri mereka menurun)
- jelaskan target penyedia pornografi
- tanyakan bagaimana pendapatnya
- susun langkah yang akan dilakukan

8 Hal yang Membantu Anak:
1. Jangan fokus pada aspek akademis semata
2. Aktif menggunakan teknologi media
3. Komunikasi dan Disiplin
4. Perkuat Allah dalam diri anak. Bicarakan tentang memelihara kesucian sampai menikah.
5. Kemampuan berpikir kritis
6. Konsep dan harga diri yang baik
7. Mandiri dan bertanggung jawab
8. Dan tak ketinggalan: doa!

Fiuh... kelar sudah saya menulis semua materi seminar sesi I. Besok pagi saya ikut seminar sesi 2, Hindari Anak dari Kekerasan Seksual. Semoga nanti bisa sharing2 lagi. :)

Engkaukah itu anakku, engkaukah buah hatiku?
Mari kita jaga anak-anak kita. 

4 comments:

Ahmad Saadillah said...

bahaya anak anak dengan pornografi

salam kenal admin blog



komentarkan artikel blog ini ya..

http://www.timkomte.com/2012/09/traffic-pengunjung-rumahku-turun.html

Lidya - Mama Cal-Vin said...

serem banget mbak, aku harus dampingi terus ya kalau mau noton youtube

khusnul adib said...
This comment has been removed by the author.
retma-haripahargio said...

Untuk konsultasi/pertanyaan mengenai anak terkait kecanduan games, kekerasan seksual, bullying, pornografi, dan seks, silakan menghubungi:

Yayasan Kita dan Buah Hati
JL Gudang Peluru Barat Blok V No 526
Kebon Baru, Jakarta Selatan
Telp: 021-83705335/83790765
Fax: 021-83790765
Email: kitadanbuahhati@yahoo.com
Facebook: Kita dan Buah Hati
Web: http://kitadanbuahhati.or.id