Thursday, September 27, 2012

Dan Kata Ajaib Itu adalah "Kenapa"...

Sabtu kemarin saya ikut seminar sesi 2 dari Tetralogy Parenting Seminar yang diadakan Supermoms. Kali ini temanya: Hindari Anak dari Kekerasan Seksual. Tapi yah, saya belum bisa menulis materi yang saya dapat segambreng itu karena ada hal-hal lain yang justru menyedot perhatian saya. :)
Bullying. Kata itu rasanya sekarang dah gak asing lagi bagi kita. Buanyaaaaak... banget terjadi di sekitar kita, pun sudah masuk dalam lingkup keluarga kami. Bukan cuman sekali Nikki (8 yo) mengalami bullying. Dulu sih, emaknya ini tergagap-gagap, gak tahu harus bagaimana menghadapinya. Tapi di seminar kemarin, emaknya Nikki ini jadi tahu gimana harus menghadapi. Dan pas banget, di kelas III SD sekarang ini, Nikki menghadapi bullying lagi. Jadi emaknya dengan sabar, dengan kepala dingin, dengan terbuka, mencoba menghadapi itu bersama Nikki.

Dalam buku Bullying: Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan Sekitar Anak disebutkan, bullying adalah situasi di mana terjadi penyalahgunaan kekuatan/kekuasaan yang dilakukan seseorang/sekelompok. Ini bisa berarti fisik dan mental. Bentuk bullying bisa kekerasan fisik (menampar, menendang), verbal (menghina, memaki), ataupun mental (mengancam, mempermalukan). Kompas, 27 Sept 2012

Yang tidak diajarkan adalah, orangtua harus bagaimana? Ada sih, yang ngasih tahu step-stepnya, tapi maksud saya, riilnya... bagaimana mengajari anak menghadapi bullying. Itu yang selama ini saya cari-cari. Dan di seminar kemarin Bu Elly mengatakan, ajari anak bertanya kenapa? Kenapa kamu memukul aku, kenapa kamu mengancam aku, dst. Dan ya, itu yang saya lakukan.

Teman sebangku Nikki, taruhlah namanya X, akhir-akhir ini melakukan hal-hal yang "tidak sehat", yang bisa dikategorikan sebagai bullying. Dari menukar nama di kertas ulangan, menyalahkan hasil pekerjaan Nikki (misal harusnya salah 3 jadi salah 6), sampai kalau tidak dipinjami sesuatu mengancam: "Kalau gak boleh, kamu keluar dari regu merah (regu pramuka, kebetulan X jadi ketua)."

Oh, Nak. Setiap kali mengantar kamu ke sekolah, begitu sampai gerbang sekolah, tahukah kamu bahwa emakmu ini selalu khawatir. Bahwa emakmu ini selalu bertanya-tanya: bisakah kamu survive? Bisakah kamu menghadapi segala sesuatu di sekolah saat mama dan papa gak ada di sekitarmu? :(

Dan hari itu, saya ngobrol sama Nikki. Saya tanya ke Nikki apa yang terjadi antara dia dengan X. Tentu dengan bahasa anak-anak. Dan akhirnya terjadi percakapan seperti ini:
Mama: "Jadi kak, besok di sekolah, ajak X ngobrol ya. Tanya kenapa X ngancam Nikki? Tanya kenapa sih X, kamu nyalah-nyalahin kerjaanku?"
Nikki: "Iya..."
Mama: "Nikki bisa? Atau perlu bantuan Mama? Perlukah Mama ngobrol sama X, cuma tanya kenapa aja sih?"
Nikki: "Gak usah deh, Ma. Aku aja."
Mama: "Oke. Tapi ingat ya, tanya kenapa. Selalu tanya kenapa kalau kakak diapa-apain sama orang. Kalau dipukul, tanya kenapa memukul aku? Kalau diancam, tanya kenapa mengancam aku, apa salahku?

Sebenernya ya, saya gak tega. Sungguh. Tapi sebagai orangtua, kita harus percaya ke anak kan ya? Harus percaya dia bisa menghadapi itu, harus percaya dia mampu, harus yakin dia bisa melakukan itu.
Dan hari berikutnya...
Mama: "Gimana kak, sudah ngobrol dengan X? Sudah tanya kenapa X melakukan itu ke kakak?"
Nikki: "Sudah..."
Mama: "Terus, apa jawaban X?"
Nikki: "Aku tanya dia diem terus, Ma. Lamaaaaa... banget gak ngomong. Aku tanya terus, aku tungguin. Eh, begitu jawab, dia bohong. Dia bilang aku nakal. Aku kan gak nakal."
Mama: "Oh, ya? Terus habis itu X marah tidak? Atau minta maaf?"
Nikki: "Ya, kayaknya marah gitu sih, Ma. Ngomong-ngomong gak jelas."
Mama: "Oke, kalau begitu, tanya lagi ke X, pakai kata apa kak?"
Nikki: "Kenapa...?"
Mama: "Yup. Tanya ke X, kenapa kamu marah ke aku? Bukannya seharusnya aku yang marah, bukan kamu, karena kamu ngancam aku?"
Nikki: "Tapi Mama... aku gak bisa marah."
Mama: "Mama bukan nyuruh Nikki marah, tapi tanya kenapa, sekali lagi apa kak?"
Nikki: "Kenapa...?" **dengan senyum lebar"
Mama: "Sudah ngertikah?"
Nikki: "ya...." 

Dan ya, kata ajaib itu adalah kenapa. Sampai di situkah? Tidak, tentu saja. X adalah tipe anak yang hampir tidak pernah diantar orangtua, hanya ikut mobil antar-jemput. Jadi, dari cerita Nikki emaknya tahu bahwa X perlengkapan sekolahnya tidak lengkap. Jadi, emaknya Nikki ini telpon lah ke orangtua si X.

Dapat sambutan baik? Ah, semua niat baik belum tentu ditanggapi dengan baik kan? Tapi dari percakapan itu setidaknya emaknya Nikki ini jadi tahu bahwa apa yang Bu Elly bilang, bahwa apa yang teori-teori itu bilang, benar. Anak yang melakukan bullying, bisa jadi dia hanya "korban". Dan benar... X sering mengalami itu di mobil antar-jemput. Sebenernya emaknya Nikki ini pengen membantu X bagaimana menghadapi bullying, sama seperti bagaimana saya mengajari Nikki. Tapi yah, saya tidak dapat izin dari orangtua X. Dan mirisnya, orangtua X mengatakan: "Saya cuma bilang, sudah diemin. Yang penting kamu sekolah" saat X menghadapi bullying. :(

Dan kejutan! Hari ini X minta maaf ke Nikki. Dan menurut Nikki, sekarang X sudah bawa perlengkapannya, yang selama ini tidak punya! :D Dan tips yang Bu Elly katakan saat anak menghadapi bullying adalah:
- Tanyakan "kenapa" ke pelaku bullying
- Kalau bullying dilakukan berkelompok, dekati si pemimpin saat dia sendiri. Dan sekali lagi, tanyakan kenapa? (Karena sesungguhnya, mereka tidak seberani keliatannya).
- Dan ingat, bahwa bisa jadi si pelaku adalah juga korban.

Nikki, bukan maksud mama membeberkan masalah Nikki di sini. Tapi buat kenangan, bahwa pada suatu hari, kita menghadapi bersama-sama soal bullying, dan menang! Dan kakak, tahukah bahwa memaafkan itu jauh lebih mulia daripada membalas?
Meski setiap hari mama selalu waswas saat melepas di pintu gerbang sekolah, selalu khawatir apa yang akan kamu hadapi hari ini, doa mama dan papa selalu menyertai.


gambar dr: thinkprogress.org

10 comments:

Della said...

Alhamdulillah, pas banget, Nadya udah 3 hari ini selalu cerita ada temen sekelasnya sering tau-tau pukul dia (cowok). Cuma berhubung kemaren blom baca blog ini, aku dengan gagah berani nanya langsung ke temennya itu, "Kenapa kamu pukul-pukul Nadya?" yang ada dia ngibrit dong :D
Emang sih abis itu nggak gitu lagi, tapi mulai besok aku ajarin dia nanya deh. TFS, Ma ;)

ke2nai said...

si X itu juga sebenernya korban ya mbak.. Dia hanya melakukan pembalasan tp pembalasannya ke yg lain.. Kasian juga liatnya ya..

TFS mbak.. sy coba inget2 "magic word"nya siapa tau suatu saat berguna buat sy..

ei said...

noted! ... will do the same to 3K ... tfs ya retma ... emak2 rempong ini lagi ribet bagi2 waktu buat nambah ilmu parenting :(

retma-haripahargio said...

@Della: kayaknya, kalo dah mulai masuk sekolah, kita orangtua harus siap2 menghadapi itu. Nikki pertama kali kena bullying juga masih TK. :) Paraaaah, sampe memar2 dan luka.

@Chie: Yup. Menurut teori begitu. Dan pelaku pelecehan seksual juga kadang2 begitu, dia sebelumnya merupakan "korban".

retma-haripahargio said...

@Ei: Haha. Jadi inget masa2 kita "menggali" ilmu bersama waktu dulu. Kqkqkq. Iyah, ei, anak2 makin besar, emaknya butuh upgrade pengetahuan sesuai perkembangan anak. Sekarang bukan masalah makanan, susu, diare, dst kayak waktu anak2 msh kecil. ;)

Lidya - Mama Cal-Vin said...

kemarin aku lihat sendiri pascal dipukul pakai tas waktu pulang sekolah sama temannya. kalau begini kita harus kasih tindakan pencegahan buat anak ya

sewa mobil said...

hahha.. nice post deh..

iklan baris tanpa daftar said...

ditunggu postingan menarik berikutnya yah..

retma-haripahargio said...

Untuk konsultasi/pertanyaan mengenai anak terkait kecanduan games, kekerasan seksual, bullying, pornografi, dan seks, silakan menghubungi:

Yayasan Kita dan Buah Hati
JL Gudang Peluru Barat Blok V No 526
Kebon Baru, Jakarta Selatan
Telp: 021-83705335/83790765
Fax: 021-83790765
Email: kitadanbuahhati@yahoo.com
Facebook: Kita dan Buah Hati
Web: http://kitadanbuahhati.or.id

mysha said...

ketika SD, saya sering di-bully oleh beberapa teman saya. bahkan saya beberapa kali mencuri uang bapak untuk diberikan pada anak laki2 yang nge-bully saya supaya dia ga ganggu saya lagi :(

sedihnya, jaman dulu, yang nge-bully bukan hanya sesama murid. guru pun kadang2 ikut nge-bully muridnya yang 'kurang pintar' dalam kegiatan belajar di sekolah.

sudah saatnya kita memutus mata rantai bullying. karena dampaknya sangat vital bagi perkembangan psikologi anak. jadi orangtua itu memang susah & harus banyak2 belajar^^

tfs, mom