Wednesday, September 12, 2012

Peran Ayah

Bismillah... sebenarnya banyak banget yang mau diposting. Tapi nyicil-nyicil dulu. Semoga akhir bulan ini kelar. Harus pasang target, sebelum tambah numpuk. :p

Awal bulan lalu saya ikut tetralogi seminar yang diadakan oleh Supermoms. Banyak banget ilmu yang saya dapat. Tapi berhubung saya ini susah fokus kalau nulis panjang-panjang, mending saya bagi dalam beberapa tulisan.
Papa, Nikki, Kira sedang "berkemah"
Mengambil tema besar Teknologi dan Pendidikan Seks untuk Anak, seminar dengan pembicara Ibu Elly Risman kemarin benar-benar membuka mata saya. Hati saya. Apalagi saat Bu Elly bilang: Berayah ada, berayah tiada. Beribu ada, beribu tiada. Rasanya ya, kalau saat itu ada panah Orc, saya rasa satu pasukan Orc sudah memanah hati saya. Ya, generasi Z (lahir tahun 1994-2009), mungkin banyak yang merasakan begitu. Berayah, tapi seberapa sering sosok Ayah hadir? Beribu, tapi seberapa sering sosok ibu hadir?

Saya sadar bahwa saya (dan suami) telah mengambil satu pekerjaan besar yang tidak ada sekolahnya, yaitu menjadi orangtua. Di Sesi I kemarin, ada hal yang menjadi perhatian saya, yaitu tujuan pengasuhan. Seberapa banyak orangtua yang punya tujuan untuk apa membesarkan anak-anak mereka? Agar menjadi seperti apa anak-anak mereka? Seberapa penting prestasi akademik anak?

Menurut Bu Elly, tujuan pengasuhan adalah membentuk:
  1. Anak yang bertuhan
  2. Calon suami/istri yang baik; calon ayah dan ibu yang baik
  3. Profesional yang baik
  4. Pendidik bagi anak dan istri (khusus anak laki-laki) 
Kenapa anak laki-laki lebih banyak? Sebab dialah yang kelak menjadi imam dalam keluarga, dan tentu bertanggung jawab atas anak dan istri. :) 
Kemarin juga dibahas soal pentingnya Peran Ayah.
Dikatakan bahwa kebanyakan anak Indonesia itu fatherless. Untuk itu, peran dan fungsi Ayah saat ini perlu mendapat perhatian. Dengan catatan, bedakan pengasuhan anak laki-laki dan perempuan. Begitu anak laki-laki berumur 7 tahun ke atas, dia harus lebih banyak "bergaul" dengan ayahnya. Buat apa? Karena mereka anak laki-laki. Biarkan dia belajar menjadi "laki-laki" dengan ayahnya.

Memangnya beda? banget. Saya pernah merasakan, kok waktu ngajari Nikki naik sepeda. Dan akhirnya dikritik Mas habis-habisan karena tentu saja, cara naik sepeda antara laki-laki dan perempuan itu lain! :p

Seberapa penting peran ayah? Hasil tesis Ibu Diah Karim (Psikologi UI) menyebutkan, kurangnya peran ayah membawa dampak buruk kepada anak, baik laki-laki maupun perempuan.

Kurangnya peran ayah pada anak laki-laki bisa menimbulkan:
  1. Kenakalan
  2. Anak yang Agresif
  3. Narkoba
  4. Seks Bebas
Sementara ke anak perempuan menimbulkan:
  1. Depresi
  2. Seks Bebas
Kalau mendengar penjelasan dari Bu Elly, rasanya memang serem. Apalagi di seminar itu diungkapkan banyak sekali kasus yang melibatkan anak-anak. Mari kita jaga anak-anak kita. Jaga anak kita jangan sampe menderita Blast (boring, lonely, angry/afraid, stress, tired). Selalu ingat bahwa anak perlu validasi 3P: penerimaan, penghargaan, dan pujian. Dan jangan lupa, dual parenting. Bukan hanya peran ibu, tapi peran ayah pun sangat besar untuk perkembangan anak-anak.
Jadi.... anak-anak kita, akan ke manakah masa depan mereka?

5 comments:

Lidya - Mama Cal-Vin said...

serem juga ya mbak, mudah2an suami2 kita berperan baik untuk anak2nya. jangan lupa sharing materi yg lainnya ya :)

retma-haripahargio said...

Amiiin. Materi lain? Ouch, insya Alloh yak.

retma-haripahargio said...

Untuk konsultasi/pertanyaan mengenai anak terkait kecanduan games, kekerasan seksual, bullying, pornografi, dan seks, silakan menghubungi:

Yayasan Kita dan Buah Hati
JL Gudang Peluru Barat Blok V No 526
Kebon Baru, Jakarta Selatan
Telp: 021-83705335/83790765
Fax: 021-83790765
Email: kitadanbuahhati@yahoo.com
Facebook: Kita dan Buah Hati
Web: http://kitadanbuahhati.or.id

Fanny Rofalina said...

Seorang pria kini perannya ga hanya melulu tentang sebar benih ya. Keterlibatan orang tua pria dalam mengurus anak ternyata berpengaruh signifikan terhadap tumbuh kembang anak. Dengan membesarkan anak sebaik mungkin dengan bantuan peran ayah, si pria pun hidupnya dapat mendapat makna yang lebih signifikan lagi :)

retma-haripahargio said...

@Fanny: Agree.... Sayangnya, banyak laki-laki yang belum sadar akan hal itu. :D