Tuesday, November 27, 2012

Nonton Lagi...

Mungkin sudah agak-agak terlambat kalau saya nonton film ini, Breaking Dawn Part 2. Yeah... film itu dah nongkrong di bioskop dari kapan, tapi baru Sabtu kemarin kesampaian nonton. Waktu film ini mulai rilis, seorang teman sudah tanya: "Mau nonton gak nih? Kayaknya males yak." Yang saya jawab: "Nanggung. Dari awal sudah nonton, mosok terakhirnya gak nonton." :)
Imdb.com
Dan seperti tahun-tahun lalu, saya "menyeret" Mas buat nemenin nonton film ini, dengan catatan: gak usah komen. Jadi baru Sabtu kemarin kami "kabur" dan kencan, nonton berdua. Karena hari itu saya masih ngantor jugak, jadi pilihannya cuma: dekat rumah atau dekat kantor. Akhirnya nonton di Bekasi Square sajalah. Saya dan suami pun berbaur dengan banyak anak ABG nonton ini film. Oke... filmnya sih, so-so lah. Ada beberapa bagian dari cerita di buku yang dipotong. Ada beberapa hal yang bikin bingung penonton, terutama yang gak baca bukunya kayak suami saya.

Setelah kelar nonton, Mas komen: "Jadi, kalau di buku, pertempuran tadi gak ada? Mbosenin banget berarti bukunya!" Wadezzzzzingggg... Begini ini efeknya kalo nonton sama laki-laki. Sukanya membuyarkan angan-angan, gambaran romantis, dan bla-bla-bla laennya. Hah!

Hari Minggunya, giliran anak-anak yang ribut pengen nonton. Ini akibat iklan bertubi-tubi di Disney. Yak, apalagi kalo bukan Hotel Transylvania. Sudah dibilangin minggu depan saja, tapi anak-anak kekeuh maunya sekarang. Ya sudlah. Setelah merasa remuk redam dan kesel setengah mati dengan penampilan tim Indonesia di AFF, akhirnya diputuskan: nonton sajalah. :D Penampilan Indonesia buruk bangettttt yak. Dah dibela-belain nonton bareng-bareng di rumah. Dah dibela-belain bikin popcorn. Tapi yah... tnyata hasil akhir 2-2 doang.

Liat jadwal, ternyata adanya malem doang. Mau ke Blitzmegaplex BCP, jamnya gak cocok. Akhirnya diputuskan kita nonton di 21 Mal Metropolitan. Dan... ajaibnya, begitu masuk, langsung dapat tempat parkir. Sesuatu banget lah! Soalnya kalau ke MM pasti paling enggak harus muter sekali dulu baru bisa parkir di luar.

Karena film baru mulai pukul 21.15, Kira dah tidur duluan. Jadi aja digotong2 sama Mas. Niat yak. Habis kalau ditinggal, kasihan jugak. Tapi setelah film mulai, Kira malah gak bisa tidur lagi karena dia ketawa-ketawa. Filmnya gokil. Meski ini film soal hotel monster dan segala makhluk horor itu bertebaran, gak ada serem-seremnya. Yang ada malah ketawa melulu. Dan lucunyaaa... itu Dracula sempat menyaksikan salah satu scene Twilight versi kartun. Hahaha. Film ini kalau di poster dan iklannya untuk semua umur. Tapi waktu mulai, Badan Sensor Film mengkategorikan film ini buat Remaja. Nah, lo. Bingung kan? Tapi menurut saya memang buat remaja karena intinya soal CINTA. **salahkan yg bikin kategori umur di poster jadi SU**

Alam Fantasia

Sewaktu jalan-jalan ke Air Terjun Bidadari, kendaraan kami parkir di depan Alam Fantasia, Sentul City. Itu karena bapak-bapak mo sepedaan, jadilah cuman satu mobil saja yang dibawa ke atas, ke air terjun. 
Renesmee? No... ini Kira. Haha. :)
Nah, karena begitu nyampe kita langsung parkir di depan Alam Fantasia, jadilah Kira yang heboh pengen banget maen ke tempat itu. Karena kami datang pagi-pagi, tentu saja itu wahana bermain belum buka. Akhirnya bujuk-bujuk Kira, kita naik dulu, baru pulangnya ke Alam Fantasia. Fiuh... akhirnya berhasil juga mbujuk Kira.

Jadi, setelah puas main di air terjun, kami balik ke tempat awal. Dan ternyata, beda banget sama paginya yang sepi. Karena sampai di area parkir sudah siang, jadilah itu banyak banget keluarga yang maen di area tersebut. Itu karena ada Taman Budaya, dan seberangnya adalah Alam Fantasia. Ada beberapa kuda poni juga yang bisa dipake anak-anak berkeliling. Tapi Kira & Nikki gak mau naik kuda. Tujuan mereka ya... mau maen.

Sebenernya sih gede, sayang gak ada petugasnya.
Oke. Akhirnya Kira, Nikki, Michael, masuk wahana permainan. Setelah beli tiket, Rp 8.000 per orang, tangan dicap, mereka berlarian masuk. Tapi yaaaaa... tnyata, gak seasyik keliatannya. Beneran deh. Meski banyak wahana permainan, hampir semuanya gak ada penunggunya aka petugas yang nungguin. Lah, kalo begini caranya, gimana mau maen coba? **bingung** Akhirnya Nikki & Michael main bumper car karena itu satu-satunya wahana yang ada petugasnya. Yang laen? nol.
Sepi ya? :p


Kira pun akhirnya cuma main di playground. Tapi ya, playground-nya pun gak asyik. Karena musim hujan, jadi perosotannya ada bagian yang gak bisa dipakai karena bawahnya ada genangan air. :( Ya sudahlah... akhirnya cuma muteri itu area bermain, capek, keluar. Saya bilang sih, kalau mau masuk sini, saat beli tiket, tanya dulu... wahana apa saja yang bisa dimainkan dan adakah petugasnya. Sampai di luar, akhirnya duduk-duduk dan main di luar, nungguin bapak-bapak selesai ngobrol. Setelah itu, pulang deh.

Monday, November 19, 2012

Air Terjun Bidadari

Meski orang laen bilangnya minggu kemaren itu ada looooong wiken, buat saya sih gak berlaku. Tapi efeknya lumayan juga, setidaknya saya bisa libur dua hari, Sabtu-Minggu. Hurray! Jarang-jarang begini. Akhirnya kami memutuskan harus jalan. Tapi kemudian berpikir: ke mana? Kalau ke luar kota, liat info-info kayaknya macet di mana-mana. Akhirnya diputuskan kita ke Air Terjun Bidadari, yang hitungannya "cuman di situ doang". :)
Saya suka pemandangan di sekitar air terjun!
Kalau dikelola dengan baik, kayaknya bakal bagus! :)
Air Terjun Bidadari aka Curug Bojongkoneng ini terletak di Bojongkoneng, daerah Sentul. Bagi kami sih termasuk "di situ doang" karena terakhir kali ke curug itu di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak yang brasa lumayan jauh. Berangkat dari rumah, rencananya jam 6 pagi. Tapi kayaknya itu agak-agak "gak masuk akal" buat saya yang baru sampe rumah jam 1.30. Belon nyiapin ini-itu. Akhirnya jalan juga hampir jam 7 pagi. Rencananya memang pagi-pagi bener karena bapak-bapak mau sepedaan menuju air terjun.
Luv it!
Nikki: merasakan angin pegunungan! ;)
Sampe Sentul City tanpa hambatan. Jalanan cukup bersahabat. Akhirnya kami parkir di depan Alam Fantasia, seberang Taman Budaya, Sentul. Para sodara (bapak-bapak, ibu2nya saya doang) sudah siap2 setel sepeda dll. Yah, mohon dimaklumi, saya itu bawa dua krucils, jadi maapkan kalo telat-telat dikit. :p Oke, semua siap. Barang-barang dijadiin satu di mobil Mas Pujo (kakak Mas). Saya dan anak-anak pun di mobil itu. Tenangggg... bukan saya yang nyetir. Ada Mas Nano yang nyetir, karena kami hm... jadi "staf logistik dan tim SAR" buat para pesepeda. Wahahaha.

Dan, perjalanan pun dimulai. Saya suka kalau jalan di daerah pegunungan begini. Buka jendela lebar-lebar. Angin dan udara segar berebutan masuk ke dalam mobil. Nikki mulai merentangkan tangan di luar jendela, menyongsong angin. Jalanan? Wih... naik-turun. Ada beberapa tikungan dan tanjakan yang kebangetan. Kami berhenti dua kali buat nungguin yang pada naik sepeda. Jalanan sih sebenernya dah lumayan bagus, dah diaspal. Tapi hanya cukup untuk dua mobil berpapasan. Di beberapa tempat harus berusaha agar bisa berpapasan dengan mulus. :)Untuk yang suka bersepeda, nah... keluarkan segala daya upaya untuk nanjak. Tapi tenang, nanti pas pulangnya cuman turun doang kok. ;) Siapkan rem saja kalo pas turun.

Pemberhentian kedua
Akhirnya Sampai juga!
Setelah pemberhentian pertama, di suatu warung, kami melanjutkan perjalanan, mengikuti spanduk dan petunjuk jalan. Di pemberhentian kedua, setelah melalui tanjakan yang cukup ajaib (sungguh! kalo saya yang naek sepeda saya nyerah), kami bingung ke mana arahnya. Tanya ke bapak-bapak penduduk setempat yang sedang mencari rumput. Saya bertanya: "Pak, maaf, kalo Curug Bojongkoneng itu di mana ya?" Dan jawab si bapak: "Anu, Bojongkoneng nu di handap... brtzzzzzzzzzz" **roaming**

Setelah berlagak sok ngerti omongan bapak tadi dan mengucapkan terima kasih, kami menyusuri jalan. Dan ternyata, ya. Gak usah bingung. Wong air terjun ini cuman ngikutin jalan aja. Lurus teruuuuus... ngikutin jalan. Nanti tahu-tahu ada spanduk yang nyuruh kita ke kiri. Nah, gampang kan? Pokoknya setelah kita melewati tempat foto-foto para pesepeda (titik nol), nah, itu berarti sudah dekat. Dari jalan pun, itu curug sudah kelihatan.

Dari parkiran, harus jalan kaki...
Jadi, air terjun ini masuk dalam kawasan Sentul Paradise Park. Sepertinya, nanti-nanti kalo sudah jadi sih bakal bagus. Kalau kemarin waktu kami ke sana belum kelar deh pembangunannya. Di gerbang masuk kami sudah diperingatkan petugas bahwa: parkir mobil agak jauh, harus jalan menuju air terjun, karena jalanan rusak. :( Wah, saya pikir, okelah, gak papa, sekalian olahraga.

Setelah parkir, ternyata kami masih harus jalan sekitar, hm... stengah kilo dengan kondisi jalan berbatu, becek, dan longsor di sisi-sisinya. Mungkin karena sedang musim hujan kali ya. Kalau gak kuat jalan atau bawa barang? tenang. Di situ banyak ojek dan jasa bawa barang kok. Anak-anak kecil pulak. :D Dan ternyata ya, kalau jalanan gak rusak, sebenarnya parkiran itu gak jauh dari air terjun.
Warung-warung di sekitar curug
Pinggiran kolam, masih dibenahi
Sampai di area air terjun, anak-anak ganti baju renang, dan nyemplung. Ini air terjun alami yang sudah dikelola sehingga jadi tempat wisata menarik. Jadi di sekeliling air terjun dibangun semacam kolam buat anak-anak. Airnya kemarin berwarna coklat karena bercampur lumpur. Tapi kalau di air terjun sih bersih. Di pinggiran kolam ada tempat duduk-duduk dengan payung. Tapi karena penuh, kami gelaran tikar di pasir pantai (yup! di pinggir kolam itu dikasih pasir pantai). Di atas sih ada semacam rumah-rumahan, tapi kemarin belon siap, atapnya masih dibenerin.
Ish... berasa kayak di kali yak.
Anak-anak, begini ajah dah bahagia!
Anak-anak (Nikki, Michael, Kira), langsung maen di kolam. Beberapa kali ke area air terjun. Hm, untuk menuju air terjun ini pun masih ala kadarnya. Hanya jembatan dengan karung pasir yang memanjang dari tepi kolam sampai area air terjun. Waktu datang kemarin kami lumayan pagi, jadi masih agak sepi. Makin siang sih makin rame. Sambil nungguin anak-anak maen, kami nungguin bapak-bapak yang sepedaan sampe air terjun. :p Gelaran makanan ala kadarnya.

Akhirnya bapak-bapak itu sampai di air terjun dengan selamat. Hahaha. Ngobrol sana-sini, makan-makan, minum-minum, sempat ngeliatin ada yang maen flying fox (yup, ada flying fox yang melintasi atas kolam dan lumayan tinggi). Kira sudah gak sabar pengen maen ke Alam Fantasia. Ya sud, setelah pada bilas-bilas kami pulang. Tunggu dulu! Kalau pas menuju air terjun jalanan lumayan "bersahabat" karena menurun, pulangnya... siapkan tenaga karena jalanan menanjak. Gak kuat? Manfaatkan aja para tukang ojek yang ada di situ. :p
Dan, yang berhasil naek sepeda! :p
Nikki, klow foto jangan makan dulu dong...
Beberapa hal tentang Air Terjun Bidadari aka Curug Bojongkoneng:
1. Tiket masuk
- Rp 15.000 per orang
- Rp 10.000 untuk mobil
- Rp 5.000 untuk motor/sepeda

2. Lebih baik siapkan makanan dan minuman yang cukup dari rumah. Sebagai gambaran, satu cup mi instan dipatok Rp 7.000. Air minum dingin (Coca cola, green tea) Rp 6.000 per botol.

3. Gak ada salahnya bawa tikar karena tempat untuk duduk-duduk terbatas.

4. Kamar mandi kemarin minim air bersih.

5. Kalau mau foto-foto di sekitar air terjun, siapkan peralatannya. Minimal plastik lah, biar handphone atau kamera tidak kena air. Lumayan kenceng airnya. Tapi kalau gak mau ambil resiko, minta foto aja ke tukang foto langsung jadi yang ada di situ. :p


6. Pakai sunblock. Kemarin meski gak begitu panas karena sempat mendung, tapi rasanya tetap menyengat di kulit. Apalagi minim pohon (sudah ditanami, tapi belum tumbuh dengan baik).

7. Gunakan pakaian dan alas kaki yang tepat. Sungguh! Kemarin sempat melihat beberapa orang yang salah memilih alas kaki. Sebagai gambaran: jalan menuju air terjun itu berbatu dan berlumpur. :) Jadi jangan pakai sepatu hak tinggi, apalagi berbahan kain. Oh, ya jangan lupa bawa baju ganti. Kalau ke area air terjun, gak mungkin banget gak bawa baju ganti karena airnya ke mana2.


8. Kalau saya pribadi, saya lebih suka air terjun di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Tapi kalau bawa anak-anak, Air Terjun Bidadari lebih cocok deh.

9. Perlu diingat, saat ini kawasan tersebut masih dalam pembenahan. Gak tahu deh nanti-nanti. Mungkin bisa lebih baik. ;) Kemarin ke sana sedang musim hujan, jadi air di kolam keruh. Kayaknya kalau bukan musim hujan sih enggak. Kalau di area air terjun tetap bersih kok.


10. Di sekitar kolam dan air terjun tidak ada sinyal telepon. Jadi kalo mau menelepon, silakan naik ke atas dikit. :p    

Tuesday, November 13, 2012

Jatuh!

Siang itu saya dah siap-siap mau berangkat ke kantor. Saatnya mulai berganti kostum dari "emak-emak" menjadi "perempuan pekerja". Sudah nidurin Kira, sudah nganterin Nikki ke skul, dst. Mulai tenteng-tenteng tas buat cek-cek perlengkapan.

Tiba-tiba ada suara orang di depan gerbang. Yup, bel di pintu gerbang mati sudah lama. :D Dan dari suara-suara di luar saya menangkap kata: Nikki, musibah, sakit. Saya bergegas membuka pintu dan terkaget-kaget melihat wali kelas Nikki dan salah satu guru lainnya ada di depan pintu gerbang.

Dan saat pintu dibuka, saya melihat Nikki dengan perban di dahinya. Astagfirullah, apa pula ini? Oke, jangan panik. Jangan pingsan, jangan marah. Tarik napas panjang. Berusaha menenangkan diri di saat jantung rasanya mau copot itu, susaaaaah... banget. Tapi melihat Nikki yang takut, gak mau masuk rumah, rasanya ya, saya harus mengerahkan segenap tenaga untuk fokus, untuk sabar, untuk tidak marah.
Dan begitulah. Menurut cerita Guru wali kelas dan Nikki: saat itu anak-anak lagi dalam kondisi "rusuh" karena hasil ulangan sedang dibagikan. Jadi biasalah, anak SD kelas III, yang ada pada gak bisa diem. Dan, beberapa teman Nikki maen lempar-lemparan topi. Salah satu topi teman terjatuh. Nikki, yang baru saja mengambil hasil ulangan di depan, membungkuk, berusaha mengambilkan topi temannya itu. Nah... karena suasana yang rame itu, tiba-tiba dari belakang salah satu teman Nikki lari, gak bisa ngerem, dan menabrak Nikki. Akibatnya, kepala Nikki kebentur meja. :(

Oleh guru2, Nikki dibawa ke klinik terdekat dan lukanya dijahit. Jadi sampai di rumah lukanya sudah dijahit, diplester, dan diberi obat untuk diminum. Saat itu yang saya tanyakan: apakah Nikki pusing? apakah kerasa mual? yang dijawab: enggak, cuma sakit doang. Oke kalau begitu. Guru-guru pun minta maaf.

Setelah guru-guru pulang, terjadi obrolan begini:
Nikki: Mama, tadi masak aku mau disuruh minum tablet. Aku gak mau lah.
Mama: Oooh, kenapa gak mau? Kan itu obat, biar cepat sembuh.
Nikki: Mama... masak sih aku disuruh minum tablet? Itu kan dari besi! Gimana gigitnya coba?
Mama: @#!$!% **mulai mikir** Oalah... Nikki. Tablet itu maksudnya bukan tablet PC, nak. Itu salah satu bentuk obat. >,<
 

Saturday, November 10, 2012

Cita-cita... tinggallah cita-cita

Dulu, awal-awal saya menapakkan kaki di Jakarta, saya punya sebuah cita-cita yang mungkin, buat sebagian orang, tidak realistis. Karena saya masih "sok idealis" pula, jadilah cita-cita itu tak jauh-jauh dari tokoh yang benar-benar mencuri hati saya. :)

Cita-cita saya waktu itu gak muluk. Bukan pengen punya gedung bertingkat sekian puluh lantai. Bukan pengen punya ini-itu yang mereknya susah dilafalkan. Bukan.
Saat itu saya bercita-cita suatu hari saya akan berjalan kaki menapak tilas perjalanan Minke, sama persis seperti yang dijabarkan di salah satu buku tetralogi Pulau Buru. Keterlaluan? Ah, menilik kayak apa saya dulu, sih enggak. Kalo saya merasa gak sanggup, saya gak akan bercita-cita seperti itu to?
Sebagian "harta karun" saya. :)
Tapi kemudian tahun berganti. Dan sampai sekarang pun saya belon sampai ke cita-cita saya itu. :( Berharapnya sih, suatu hari... saya akan teteb melakukannya. Ntah seperti apa Jakarta saat itu. Bermimpinya sih, "meracuni" anak-anak dengan karya Pak Pram, sehingga satu hari nanti bisa sekeluarga menapak tilas bareng. Haha.

"Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai". ~ Pramoedya Ananta Toer


Selamat Hari Pahlawan!
(siapa pun bisa menjadi pahlawan)

Thursday, November 08, 2012

Jalanan Itu...

Sudah lama sekali saya gak cerita soal jalanan. Padahal hampir tiap hari masih ada ajah cerita seru di angkutan umum dan jalanan. Hari ini Mas ke kantor bawa mobil, masukin bengkel, terus naek transjakarta (biasanya naek sepeda dia). Jah! Baru naek transjakarta begitu doang, whatsapp-an berendeng, laporan soal hal-hal aneh di jalanan. Gimana kalok tiap hari seperti saya? :)

Here we go...

Patas 54
Patas ini sempat beberapa tahun familiar sama saya. Terasa aneh buat orang Bekasi? Yeah, karena P54 itu jurusan Grogol-Depok. Tapi, kalo saya buru2 mau ke kantor, saya selalu memanfaatkan Patas 05 dari Bekasi Barat. Ini jauh lebih cepat, kecuali hari Jumat.
Dan, setelah turun di komdak, saya naek itu P54 buat menuju Slipi.

Kalo dibayangin, inilah salah satu "krik-krik moment" dalam hidup saya. Gimana enggak? Karena tempat duduk yang masih tersisa di paling belakang, jadilah saya duduk di situ, diapit dua pasangan! Argh! Dunia jadi milik mereka berempat. Kalo sebelah kanan masih okelah... paling bisik-bisik, cekikikan, dst. Nah, sebelah kiri itu lebih horor. Kenapa lama-lama peluk-peluk dan malah mencium pasangannya berkali-kali. Hadeuuuuh. Saya bingung mau ngapain. Pilihannya sih: (a) lempar sepatu ke cowoknya. (b) Jorokin mereka keluar dari bus. atau (c) tendang mereka berdua!

Tapi ya, apa mau dikata. Ternyata Alloh Maha Adil. Kayaknya cepet sekali bus ini sampe Slipi. Jadi saya gak bisa berlama-lama nonton pasangan itu bisa langsung turun.

02
Yay! Ini angkot yang menyusuri jalanan Pondok Gede-Bekasi selama 24 jam. Jadi bisa dibilang angkot ini sahabat karib saya. :D

Suatu hari, jam sudah pukul 12.30. Dan saya masih keleleran di deket Petronas nungguin angkot. Tenang, malam itu semua oke. Gak ada yang mabok, jadi saya cukup duduk-duduk manis sama bapak2 penjual asongan. Akhirnya angkot 02 muncul juga. Masalahnya, sebenernya nih angkot sudah disewa pedagang sayuran dari Pasar Bekasi. Tapi, berhubung mungkin tampang saya sudah sangat memelas, jadilah saya diperbolehkan naek. Rasanya? Ehm, saya bingung mendeskripsikan apakah saya jadi Alice in Wonderland atau berenang di sop? Mau ngajak ngobrol, kanan saya adanya bertumpuk-tumpuk daun bawang. Seberang saya: bergerombol kerupuk-kerupuk yang sedang bercanda. Dan sebelah kiri saya, ada gerombolan brokoli yang sedang rebonding. Tapi yah, malam itu saya berasa paling cantek di seantero angkot 02 itu. ;)

Ini kisah hari kemaren. Saya masih biasa, setia dengan angkot 02. Sebelum saya, sudah ada dua perempuan cantek yang naek, plus satu mas-mas. Oke, saya duduk di dekat dua mbak itu. Lama-lama saya tertarik dengan obrolan dua mbak-mbak yang wangi itu karena obrolan melibatkan kata-kata: klien. Om anu. Ngrebut pelanggan. Om itu.
Intinya, ada perebutan klien aka om anu, antara salah satu mbak, dengan temannya, dst-dst-dst. Waktu si om dateng, temennya bilang si mbak gak ada, dan akhirnya si om pergi dengan temannya. #eh

Masih soal angkot 02 yang ajaib cerita2nya.Baru masuk angkot, ada dua bapak-bapak lagi cerita seru. Masalahnya, cerita bapak-bapak ini lama-lama gak masuk akal. Lama-lama bikin kesel. Kenapa? Karena mereka cerita soal uang, kekayaan, dan Gunung Ceremai. Haishhhh... hubungannya apa? Ya, gitu deh. **tutup kuping**

Omprengan
Hore... Dendi, salah satu sopir omprengan, sudah beroperasi lagi. Karena rumahnya satu arah sama saya, jadi dia suka anterin saya sampe depan pintu rumah! hahaha. :) Menyenangkan. Omprengan ke Bekasi itu biasanya ada di dua tempat: Semanggi dan Cawang. Kalau di Semanggi, hampir semua mobilnya adalah jenis APV, sementara di Cawang, semua jenis mobil ada, bahkan... istilah para penumpang, "mobil jaman perang" pun ada. :D

Kalo di Semanggi itu, biasanya pengguna jasa omprengan adalah: pekerja hotel, pekerja media, pekerja rumah sakit, pekerja production house, dan semacamnya. Gara-gara satu pekerja PH, saya pernah harus ikutan nungguin dia. Masalahnya dia dah pesen tempat sama sopir omprengan, dan tnyata sinetron ntah apalah namanya shooting-nya agak telat. Grrr banget deh. Brasa semua orang nonton sinetron ajah.

Kalo di Cawang, penumpangnya beragam: pekerja malem/kemaleman; pengemis; pedagang asongan; buruh; pekerja bangunan yg suka bawa alat2 semacam cangkul, kapak, dll; orang yang minggat dari rumah (haha. Serius, ini beberapa kali), pengamen, penyanyi kafe, dst-dst. 

Hidup itu... warna-warni! :)  Hidup itu... harus disyukuri. 

Sunday, November 04, 2012

Kangen Jogja

Kapan hari seorang teman ngetag sebuah foto. Meski burem karena yakin pake BB motonya, tapi rasanya yak, tiba-tiba semua terlintas begitu sajah. Perjuangan saat-saat mulai kuliah, saat ganti-ganti kos, saat ke kampus naek sepeda, dst.
Dulu, di situ (foto) ada sebuah bangunan yang berdiri dengan pemancar gede khas stasiun radio. Di situ dulu saya, di sela-sela kuliah, bekerja paruh waktu. Di situ dulu, pagi atau sore biasanya saya "ngepos". Sambil menenteng tas sehabis kuliah atau menenteng buku-buku karena mau kuliah.

Beberapa kali saya telat masuk kelas karena kerja. Haha. Beberapa kali saya sampe di depan pintu dan dosen bersama teman-teman sudah keluar karena kuliah dah kelar. Doh, saya kangen Jogja. Saya kangen tempat itu. Saya kangen Gedung Graha Sabha yang sering saya lintasi dengan sepeda. Saya kangen Bulaksumur tempat saya menghabiskan sebagian besar waktu saya sewaktu di Jogja.

Jogja cuma 2 jam perjalanan dari rumah saya. Semacam Bekasi-Jakarta kalo macet. :D Jadi saya, meski berstatus sebagai orang Jawa Tengah, jauh lebih mengenal Jogja daripada Semarang sebagai ibu kota provinsi. Saya jatuh cinta pada Jogja. Lebih-lebih saat membaca Takhta untuk Rakyat, yang bercerita bagaimana rakyat dan Sultan Hamengku Buwono IX sewaktu masa perjuangan. Saya jatuh cinta pada Jogja yang sekarang punya "mars" Jogja Istimewa. :)

Dan saat ini saya kangen Jogja... Thx untuk Erwin atas fotonya.

Thursday, November 01, 2012

Bertahan....

Sudah bikin draf buat postingan ini ntah sejak kapan. :)
------
Akhirnya saya bisa bertahan jugak. Ditinggal si mbak pulang kampung, jadi single fighter. Huhuhuhu. Repot? Yes. Capek? Banget. Semua-semua diurus sendiri. Manalah Mas gak bisa cuti lagi karena barusan pulang dari Pulau Komodo. Argh! Bener-bener sesuatu lah. Setiap hari sebelum subuh sudah bangun.

Dan di tengah gedabrak-gedabruk itu, Kira suka rikwes bekal. Iyah, emaknya sih cuti. Tapi kerjaan rumah ternyata segambreng. Belon antar-jemput sekolah dua anak, belon antar-jemput TPA, belon kalo ada guru ngaji dateng ke rumah. **nyungsep** Tapi-tapi, saya jadi bisa posting bekal dengan waktu minim dan terburu-buru untuk anak TK. Ini beberapa contoh bekal saat gabrak-gabruk antara bikin bekal, nyuci baju, dan ngapain lagi yak. Biasanya saya itu 3 in 1 lah. Sekali kerja 3 macem sekalian. Bekalnya minim banget yak. Dan maapkanlah poto yg cuman pake hp ini.
Sarang telur
Pancake Cinta!
Bekal ceria! :)
Oh, ya. Karena saya cuti, akhirnya ya, saya bisa memenuhi permintaan Kira, yaitu: antar-jemput TPA. Senengnya... :) Apa gak enaknya? Karena tenaga emak-emak ini sudah terkuras, meski cuti, saya gak pernah mendongeng. Jadi meski anak-anak rikwes, seringnya emak ini langsung tidur.

Jangan salah yak. Jadi meski emak-emak ini cuti sibuk urus rumah, tapi karena lagi pegang events di kantor, alhasil setiap kali ada kesempatan pantengin email, whatsapp, dst. Di kantor ada rapat? Saya lagi cuci piring. Dan teman saya kirim video rapat beserta keterangan rapat sedang bahas bla-bala-bla. Kemudian dia tanya pulak, bla-bla-bla. Doh, saya dah mirip Pak Beye kan ya? berasa live streaming. Bedanya saya sambil nyuci piring!

Lagi khusyuk nyetrika baju sambil nemenin Kira nggambar... lagu RHCP bergema. Itu ringtone hp saya maksudnya. :D Dan sambil nyetrika baju, dengerin temen yang minta tolong bla-bla-bla. Cabut colokan, tenteng tablet, ketak-ketik, whatsapp-an sambil nyiapin anak-anak mau mandi. What a life! 
Saat nunggu Kira kelar TPA, emaknya ini bisa online sambil poto2. Eh, bernapas sejenak. Sebelum menuju pemberhentian berikutnya: sekolah Nikki. Dan suatu hari, di tengah kecapekan, di tengah-tengah wira-wiri, dah njemput anak2, baru sampe tengah jalan, hujan deres benerrrrr. Cucian, cucian...!!! Dan dengan satu komando ke anak-anak: pegangan! pegangan! Emak-emak ini ngebut, bablas ke rumah.