Thursday, December 27, 2012

Bali (4): The Sacred Monkey Forest Sanctuary

Hari baru di hotel baru. Hari keempat kami di Bali, bertepatan dengan hari Jumat. Jadi, kami tidak bisa langsung bertualang karena kami tidak tahu mau sholat Jumat di mana. Akhirnya diputuskan berenang dulu di hotel, baru berangkat sekalian mencari masjid untuk sholat Jumat.
Nikki dan Akira di pintu masuk Hutan Kera
Setelah selesai sarapan dan berenang, kami berangkat. Hari ini ada 3 tempat yang kami tuju, tapi kami tidak yakin bisa mencapai semuanya karena baru benar-benar efektif sehabis dzuhur. Tujuan kami hari itu adalah: Monkey Forest, Tegalalang, dan Tirta Empul. Alhamdulillah, tidak jauh dari hotel tempat kami menginap di Nusa Dua ada Masjid Agung Ibnu Batutah. Masjid ini salah satu simbol kerukunan umat beragama di Bali karena letaknya berjejeran dengan pura, gereja, dan wihara.

Sehabis sholat Jumat, kami langsung meluncur menuju Padangtegal, Ubud, di mana ada Mandala Wisata Wenara Wana aka The Sacred Monkey Forest Sanctuary. Perjalanan yang lumayan lama dan enggak gampang karena kami harus melewati Simpang Siur yang macetnya gak ketulungan, dah mirip-mirip Tol Cikampek dan tol dalam kota pas hari Jumat. :D
Lewatlah jalan setapak, jangan keluar dari jalur
Jalan yang lumayan licin sehabis hujan
Saya tidak tahu sedang ada perayaan apa, tapi sepanjang jalan, sepanjang hari itu, kami menemui banyak kegiatan di pura, penjor di sana-sini, sehingga arus lalu lintas terkadang dialihkan. Untunglah, kami bisa mengandalkan Mbak Jipi. Kami pun sudah mirip petualang beneran, hanya berbekal makanan yang dibeli di minimarket. Kami tidak sempat berhenti untuk makan karena mengejar waktu, apalagi sore hari sering hujan.

Setelah perjalanan yang bagi saya terasa lumayan lama, akhirnya kami tiba di Monkey Forest, Ubud. Dalam kebudayaan Bali, kera merupakan hewan yang penting dan sering muncul pada tarian, sejarah kecak dan Ramayana, patung-patung, ukiran, serta cerita rakyat. 
Kera yang di depan kami itu mengincar Kira!
Nikki dan pohon "Avatar" :D
Begitu masuk ke kawasan hutan, wow... meski agak takut dan khawatir dengan para kera, tumbuhan dan pohon-pohon yang ada di situ membuat kagum. Kata Nikki, pohon-pohonnya seperti di film Avatar. ^_^  Saat itu ada beberapa upacara yang diadakan di pura-pura di dalam hutan. Di Monkey Forest ada tiga pura. Berdasarkan Pura Purana (buku suci yang terbuat dari lontar), Pura Kera suci ini dibangun sekitar pertengahan abad ke-14, saat kerajaan dikuasai Dinasti Pejeng.

Di barat daya hutan ada Pura Dalem Agung, tempat utama dan tempat yang sangat penting dalam kawasan hutan kera. Di barat laut terdapat Pura Beji dengan struktur dari konsep tiga mandala. Mandala utama, di posisi paling utara, adalah area yang dianggap paling suci. Madya Mandala berlokasi di tengah dan mempunyai kolam suci. Sementara Nista Mandala di sebelah tenggara adalah tempat mandi suci untuk makhluk hidup. Pura terakhir adalah Pura Prajapati di sebelah timur yang merupakan tempat penyimpanan dan kremasi.
Salah satu pura di Monkey Forest
Patung kera di depan pura
Satu di antara tiga pura
Sayangnya, pura-pura ini tidak boleh dimasuki, kecuali untuk sembahyang. Dan kami hanya bisa melihat pedanda memimpin upacara dari pintu pura. Kami berjalan-jalan menyusuri jalan setapak yang ada di hutan. Ehm, sebenarnya kami melakukan satu kebodohan, yaitu membiarkan Kira memakai topi. Akibatnya, tiba-tiba seekor kera menyeberang jalan dan langsung menuju Kira, merebut topinya. Huaaaaaa... untunglah Kira bisa langsung digendong. Masukin topi ke tas. Tapi setelah itu Kira maunya digendong terus. Hikz.

Kera-kera yang ada di hutan ini adalah kera Bali, yang juga dikenal sebagai kera ekor panjang (Macaca fascicularis). Ada sekitar 605 kera di hutan ini, terdiri dari 77 kera jantan, 194 kera betina, dan 334 anak kera. Anak-anak kera ini lucu banget. Bahkan masih ada beberapa yang benar-benar bayi sehingga digendong ke sana-sini oleh induknya. Kera bali ini ada beberapa kelompok yang sebagian besar terdiri dari kera betina (matrilines).
Salah satu kelompok kera
Gerombolan kera
Kera yang "nakal"
Sebenarnya kita boleh memberi makan kera-kera di hutan ini, tapi sungguh... saya tidak berani! Kami hanya menyusuri jalan setapak yang ada di hutan dan memilih tidak melalui jalan di samping sungai yang kelihatannya licin sehabis hujan. Setelah merasa cukup, kami keluar. Saat menuju parkiran, Kira yang heboh karena sepanjang parkiran berjejer toko-toko yang menjual berbagai macam suvenir. Para turis, terutama wisatawan mancanegara, banyak yang sedang berbelanja. Tapi kami sih lempeng saja, menuju parkiran. **sok cool**
Para perempuan menuju pura
Membawa sesaji
Upacara di salah satu pura di Monkey Forest
Mandala Wisata Wenara Wana (The Sacred Monkey Forest Sanctuary):
  • Terletak di Jalan Monkey Forest, Padangtegal, Ubud
  • Jam buka: Pukul 08.30-18.00 (setiap hari)
  • Tiket masuk:
    • Dewasa: Rp 20.000
    • Anak-anak: Rp 10.000
     
  • Tips dan Trik:
    • Pakailah pakaian dan alas kaki yang nyaman. Hindari memakai topi, kacamata, jam tangan, dan sejenisnya.
    • Berjalanlah mengikuti jalan setapak yang telah disediakan, jangan keluar dari jalan setapak tersebut.
    • Jangan membawa botol, tas plastik, dan kaleng
    • Tidak diperbolehkan memberi kacang kepada kera
    • Tidak diperbolehkan menyentuh/menggoda kera karena reaksi mereka yang tidak terduga
    • Jika ingin memberi makan kera, lakukan dengan hati-hati atau mintalah bantuan ke pawang (berseragam hijau)
    • Jangan menyembunyikan makanan dalam saku atau tas karena bisa jadi kera akan mencari dan menemukannya

Wednesday, December 26, 2012

Bali (3): Tanah Lot dan Pasar Sukawati

Hari ketiga kami bertualang di Bali. Pagi-pagi kami sudah bersiap. Karena tujuan kali ini lumayan jauh, dan males bolak-balik ke hotel, maka kami sekalian check out. Agenda hari ini adalah: Tanah Lot, Pasar Sukawati, dan pindah hotel. ^_^
Pemandangan di Tanah Lot
Keluar dari kawasan Pecatu kami tidak langsung menuju Tanah Lot. Awalnya kami masih muter-muter nyari laundry kiloan. Maklum, sudah 3 hari, cucian dah mulai menumpuk. Tapi akhirnya nyerah, kami langsung tancap gas ke Tanah Lot, di daerah Tabanan.

Cuaca lumayan bersahabat meski cenderung panas terik. Dan juga, Mbak Jipi kali ini bisa diandalkan. Jadi kami sampai di Tanah Lot tanpa hambatan. Sampai di tempat parkir, obyek wisata ini terlihat berbeda dari beberapa obyek wisata yang kami kunjungi sebelumnya. Mungkin karena cukup tenar dibandingkan yang lain, maka tempat parkir penuh bus dan mobil pribadi.
Di kanan-kiri jalan penuh penjual... **drooling**
Gapura di Tanah Lot
Setelah membeli tiket, kami masuk gapura dan menyusuri jalanan yang di kanan-kiri penuh warung. Liat harga-harga yang terpampang di sepanjang jalan, beneran deh... gatel pengen banget belanja. Tapi karena inget tujuan berikutnya adalah Pasar Sukawati, maka kami tahan-tahan untuk tidak belanja.

Akhirnya, di depan kami terhampar laut. Berbeda dengan laut-laut sebelumnya yang kami kunjungi, laut kali ini penuh dengan karang. Karena saya bawa anak-anak yang di kepalanya masih lebih dominan kata "main", maka obyek wisata ini tidak begitu menyita perhatian mereka karena mereka menganggap tidak bisa main dan cuma ngliat-ngliat doang. :p
Laut lagi

Jalan menuju pura
Saat itu beberapa keluarga berencana berdoa di pura yang terletak di atas karang. Ya, Tanah Lot mirip banget dengan Pura Uluwatu. Tanah Lot adalah pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Menurut legenda, pura ini dibangun oleh brahmana yang berasal dari Jawa. Sebelum meninggalkan Tanah Lot, brahmana tersebut memindahkan bongkahan karang ke tengah pantai dan membangun pura di atasnya. Brahmana tersebut juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura.
Emak dan anak-anak
Kerumunan orang yang hendak melihat ular penjaga pura
Ular penjaga pura yang dianggap suci ini sampai sekarang masih ada. Tapi saya enggak mau majang fotonya di sini karena geli. :D Ular ini termasuk jenis ular laut yang berwarna belang hitam kuning dan katanya bisa ular itu 3 kali lebih kuat daripada ular kobra.

Makin siang di tempat ini makin rame, disesaki oleh para pelajar yang study tour. Akhirnya setelah foto sana-sini, kami melanjutkan perjalanan ke Pasar Sukawati. Pasar ini adalah pasar seni yang cukup terkenal di Bali, terletak di daerah Gianyar. Kalau berencana membeli oleh-oleh kerajinan buat saudara, tetangga, teman, dan sebagainya, datang saja ke pasar ini.

Setelah perjalanan yang bagi saya terasa lama, kami tiba di Pasar Sukawati. Sudah menjelang sore dan hujan. Kami sempat bingung mana pasar yang kami tuju. Asal tahu, Pasar Sukawati ini ada dua: pasar khusus kerajinan dan pasar umum. Tujuan kami adalah pasar kerajinan. Kedua pasar tersebut berhadap-hadapan, jadi jangan salah masuk yak. :p

Begitu masuk area pasar, haduuuuuh... malah bingung mau beli apa. Akhirnya liat ada tas-tas kain yang bertuliskan "I love Bali", kami berhenti di kios itu. Sebelumnya kami sempat mempelajari bagaimana cara bertransaksi di pasar ini. Dan tadaaaaa.... ternyata, kalau berani, tawarlah separuh dari harga yang ditawarkan. ;) Tas-tas kain itu, harga awal dari penjual adalah: Rp 25.000 per tas. Dan kemudian saya bisa mendapatkan Rp 10.000 per tas.  Menyenangkan! Setelah puas berbelanja, kami menyusuri jalan yang menuju hotel di Nusa Dua. Setelah menaruh cucian di laundry kiloan, membeli makan, akhirnya sampai juga di hotel, tepar. :D 

Tanah Lot
  • Terletak di Kabupaten Tabanan
  • Tiket masuk WNI:
    • Dewasa: Rp 10.000/orang
    • Anak-anak: Rp 7.500/anak
Tips dan Trik:
  • Gunakan alas kaki yang nyaman dan sesuai karena sebagian besar adalah karang
  • Jangan lupa sunblock atau payung atau topi
  • Siapkan air minum yang cukup jika cuaca panas karena benar-benar menyengat
  • Kalau berniat membeli barang-barang yang ada di sekitar tempat itu, jangan lupa menawar. Kecuali kalau ada tulisan-tulisan dengan harga pas. Kalung dan gelang yang bagus2 biasanya dijual seharga Rp 10.000/buah. Tapi jangan salah, ini di tempat wisata, jadi ada tempat lain yang menjual dengan harga lebih murah. ;)

Pasar Sukawati
  • Terletak di daerah Gianyar
  • Menjual berbagai macam kerajinan khas Bali: sandal bali, baju barong, kain bali, hiasan dinding, tas, berbagai hiasan dari kayu dan bambu, dan lain-lain.
 Tips dan Trik:
  • Tawarlah harga barang, paling tidak dua pertiga dari harga yang ditawarkan penjual. Kalau berani, bisa setengah dari harga barang.
  • Kalau susah ditawar, tinggal saja. Selain masih banyak pedagang yang menjual barang setipe, kadang-kadang barang yang kita mau malah dikasih dengan harga murah.
  • Contoh barang-barang yang saya beli:
    • Tas kain bertuliskan "I love Bali" dan bercorak Bali. Harga awal dari pedagang Rp 25.000/tas. Harga akhir: Rp 10.000/tas
    • Tempat tisu dengan berbagai bentuk dari kayu. Harga awal: Rp 20.000/buah. Harga akhir: Rp 7.500/buah.
    • Mainan dari kayu (mobil-mobilan, pesawat). Harga awal: Rp 35.000/buah. Harga akhir: Rp 15.000/buah
    • Hiasan dinding berbentuk kupu2 (terdiri dari 3 kupu: besar, sedang, kecil). Harga awal: Rp 35.000/buah. Harga akhir: Rp 15.000/buah
    • Yang lain-lain, semacam baju dan kaos, sama saja. ;)
     
Sumber sejarah: Wikipedia

Friday, December 21, 2012

Review: New Kuta Condotel, Bali

Selama tiga hari pertama di Bali, kami menginap di New Kuta Condotel. Hotel ini terletak di kawasan Pecatu, tepatnya di Pecatu Indah Resort. Tadinya enggak tahu apa-apa soal hotel ini dan kawasan sekitarnya. Tapi ternyata, hotel ini terletak tidak jauh dari beberapa obyek wisata tujuan kami.
Pintu gerbang Pecatu Indah Resort
Saat mencari "New Kuta Condotel" setelah dari GWK, kami sempat enggak sadar bahwa kami sudah melewati hotel. Lah, pintu masuknya itu selalu dipalang pakai rantai, jadi seolah-olah gak boleh masuk. Jadi kami dan satu mobil di belakang kami yang bertujuan sama, harus puter balik sebelum masuk ke kawasan hotel.
Suasana saat hujan
Foto dulu sebelum jalan ke Dreamland
Kami memesan kamar di hotel dengan kriteria Super Deluxe. Kami mendapat kamar layaknya apartemen: 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 ruang tamu dengan sofa dan TV, juga dapur yang dilengkapi kompor dan microwave. Kamar tidur utama juga dilengkapi dengan TV. Setiap hari kami dapat jatah 2 botol air mineral dan perlengkapan lain standar hotel untuk 2 orang dewasa dan 2 anak.

Kalau cuaca cerah, kita bisa langsung melihat laut!
Kamar utama
Kamar kedua
Dapurnya...
Ini jadi "ruang belajar" Nikki *naseb emak2 ngajak liburan pas UAS*
Utk mandi pake shower dengan penutup kaca
Hotel ini menyediakan shuttle untuk mengantar para tamu ke Dreamland, pantai terdekat yang masih ada di kawasan Pecatu Indah Resort. Mobilnya enak, jenis mobil Korea. Dan layaknya mobil-mobil di Bali (termasuk mobil sewaan kami), di dalamnya selalu dilengkapi dengan sesaji. :) Untuk minta diantar ke Dreamland, kita tinggal minta ke petugas dan nanti ada yang mengantar. Tidak ada waktu khusus, kapan pun kita mau, kita diantar. Hanya saja, kalau shuttle mau ke bandara, kita tidak dijemput. Tapi gak usah khawatir, wong Dreamland cuma sekitar 10 menit jalan kaki dari hotel. Di sini juga disediakan sepeda untuk para tamu yang pengen menjelajah kawasan itu dengan sepeda.
Shuttle yang mengantar ke pantai
Para petugas di "New Kuta Condotel" cukup ramah dan responsif. Beberapa hal yang masih kurang, makanan saat sarapan kurang variatif. Selama saya sarapan kayaknya menunya yang ganti satu-dua doang. Selebihnya tetep sama. Selain itu kolam renang. Entah karena hujan terus atau kenapa, saat menginap di sana kemarin air kolamnya tidak jernih benar. Tapi sebenarnya buat kami tidak begitu bermasalah karena kami keluyuran terus. Dan saat anak-anak minta berenang, kami menjanjikan "nanti, kalau kita sudah pindah hotel lain". Hahaha.
Suasana restoran waktu sarapan
"Tamu" yang sering berkunjung ke kamar kami
Kalau dilihat di peta, hotel ini tidak begitu jauh dari  GWK dan Dreamland, Padang-padang dan Suluban Beach, juga Pura Uluwatu, yang semuanya ada di Pecatu. Kalau orang yang suka jalan-jalan ke pantai, menurut saya tempat ini cocok buat menginap. Sementara buat orang yang ke Bali dengan tujuan banyak hang out atau belanja di kawasan pusat kota, sebaiknya jangan menginap di sini. Selain itu, di kawasan Pecatu Indah Resort termasuk susah mencari makan. Kalau kita mau mencari makan, kita harus keluar dari kawasan ini.

Bagi kami sekeluarga, kami sih menikmati menginap di sini karena kami keluyuran ke pantai-pantai di Pecatu. Yang lebih asyik lagi, di kawasan ini ada Bird Sanctuary. Jadi kalau kita jalan-jalan di sekitar hotel, kita akan sering melihat burung. Belum lagi, yang jadi kejutan: sering ada burung yang nongkrong di balkon kamar kami, terutama sewaktu hujan, karena burung-burung mencari tempat berteduh. Anak-anak senang sekali dengan kedatangan burung-burung itu.

Nikki di depan lobi
Kekurangan lain sih: tempat tidurnya lumayan kecil. Jadi berasa sempit. Hm, hotel ini, menurut saya, kental "suasana Bali"-nya. Di pelataran ada pura yang sering kali terlihat ada orang bersembahyang di situ. Para petugas di lobi juga sering menyelipkan bunga kamboja di telinga. Sayangnya, minim menu Bali saat sarapan. :p
Oh, ya... kawasan ini bebas macet. Menyenangkan! Setelah sehari-hari harus berduel dengan kemacetan Jakarta-Bekasi, kami bebas keluyuran di kawasan Pecatu tanpa macet. :p

Tips dan Trik:
  • Kalau menginap di hotel ini, sebelum masuk kawasan Pecatu Indah Resort, belanjalah dulu makanan dan minum karena untuk keluar lagi lumayan jauh.
  • Kami dua kali makan di Warung Rakyat, yang terhitung tidak jauh (menurut kami yang setiap hari menyusuri Bekasi-Jakarta). Harganya masuk akal, dan sudah ada daftar harganya.
  • Tidak disediakan sandal hotel, jadi bawalah sandal
  • Hotel ini sering menyediakan diskon di beberapa situs online. Jadi, mending berburulah dan booking via online
  • Alhamdulillah ada keterangan "arah kiblat", jadi sewaktu mau sholat gampang (penting, karena di hotel satunya tidak ada, jadi mau sholat bingung arahnya).

Thursday, December 20, 2012

Bali (2): Pura Uluwatu & Berburu Sunset

Mengejar waktu, setelah dari Padang-padang Beach dan Suluban Beach, kami langsung menuju Uluwatu. Ketiga obyek wisata itu kalau dilihat di peta, sebenernya tidak begitu jauh. Tapi apa mau dikata, meski mengandalkan GPS, kami masih bingung juga. Akibatnya, kami melewati jalanan yang sepi, hanya bertemu satu-dua orang saja. Biarpun "nyasar", kami masih disuguhi pemandangan yang wow.
Nyasar pun masih dapat pemandangan kayak gini
Sampai di Uluwatu juga masih sepi, meski sudah siang. Kebanyakan wisatawan yang datang ke Uluwatu biasanya datang menjelang sore untuk menunggu dan berburu sunset. Pura yang terletak di atas karang menjadikan suasana sunset yang keren.

Kami parkir tidak jauh dari pintu masuk. Di seberangnya ada deretan warung. Sungguh, kalo anak-anak gak lapar, saya gak bakalan mau ke warung-warung ini. Harganya "ajaib" banget. Dah di mark up berkali-kali lipat. Hikz.

Salah satu bagian Pura Uluwatu
Setelah minum dan makan, kami membeli tiket. Ada beberapa larangan di pintu masuk. Di antaranya, untuk yang sedang haid dilarang masuk ke pura karena itu merupakan salah satu tempat suci. Saat akan masuk, kita akan "dicek" oleh petugas yang ada di situ. Karena kita harus berpakaian sopan, jika kita memakai celana pendek, maka akan dikasih kain untuk dililitkan ke badan. Jika kita sudah "tertutup", memakai celana/rok panjang, kita cukup memakai selendang yang harus kita lilitkan di pinggang.

Di area Pura Uluwatu juga banyak monyet. Karena itu, pengunjung diharapkan tidak memakai kacamata, topi, atau barang-barang yang bisa membuat para monyet tertarik. Beberapa monyet bahkan langsung datang menyeberang jalan begitu melihat ada turis yang membawa sesuatu yang menarik. Seekor monyet bahkan berusaha merebut jam tangan pengunjung.

Pura di atas karang
Pintu masuk
Mengutip Nikki: "Mama, di Bali itu kayaknya tangga-nya banyak banget yak?"

Haha. Setelah dari Padang-padang dan Suluban, yang naik-turun tangga, di Uluwatu kami pun harus naik turun tangga. Bedanya, di Uluwatu kami juga harus berusaha menghindar dari monyet-monyet. Siang itu kebanyakan wisatawan yang datang ke Uluwatu berasal dari mancanegara. Ish... berasa turis lokal sendiri, kami ini.

Para wisatawan
Pemandangan di sekitar pura
Siang itu panas sekali. Kami sempat menyusuri jalan-jalan kecil di kompleks pura. Pura Uluwatu ini diperkirakan dibangun oleh Mpu Kuturan pada masa pemerintahan Raja Sri Hajimarakata (944-948 saka). Menurut beberapa purana, Pura Luhur Uluwatu ini merupakan salah satu pura Sad Kahyangan dan Dang Kahyangan yang ada di Pulau Bali sehingga harus dihormati oleh semua umat, terutama umat Hindu di Bali.

Di Pura Uluwatu, kami hanya jalan-jalan menyusuri jalan setapak dan melihat-lihat pura dari luar. Hal itu karena bagi yang tidak hendak beribadah dilarang masuk, sehingga kami hanya bisa melihat dari pagar.

Nikki..!
Monyet-monyet di sekitar parkiran
Di sini juga ada amphitheater, seperti halnya di Garuda Wisnu Kencana. Sayangnya, pertunjukan hanya ada menjelang sunset, yaitu tari kecak. Karena untuk menunggu sampai sore masih lama, dan mendung sudah mulai menggantung, akhirnya kami kembali ke hotel. 

Istirahat, sholat, dan menunggu hujan berhenti. Tadinya sudah berpikir hendak di kamar saja, baru nanti habis magrib keluar untuk nyari makan. Tapi tiba-tiba cuaca berubah, matahari mulai bersinar lagi meski malu-malu. Akhirnya kami memutuskan untuk berburu sunset.

 
Berburu Sunset
Tadinya kami bingung ke mana harus berburu sunset. Apakah berburu ke Uluwatu atau ke kawasan pantai. Akhirnya diputuskan kita kembali ke: Suluban. Alasannya simpel: ini daerah yang benar-benar membuat saya jatuh cinta, pemandangannya bagus, dan tidak jauh dari hotel.

Akhirnya kami langsung siap-siap, menuju parkiran, dan melaju ke Suluban lagi. Tidak seperti tadi siang, kali ini agak susah nyari parkir (tempat parkir di Suluban sempit). Setelah berhasil parkir, kami menuju "pos" yang sudah kami incar untuk berburu sunset.


Ada satu bagian di Suluban yang (mungkin) dikhususkan untuk berburu sunset. Jadi di tempat itu kami bisa nongkrong-nongkrong dengan santai. Beberapa turis juga mampir ke tempat nongkrong kami, foto-foto sebentar. Gak lama, datang pemburu sunset lain yang peralatannya bikin kami minder. Haha. Siap banget mereka dengan kamera, tripod, dan berbagai lensa, juga filter. :D

Sunset di Suluban
Suluban Beach... ada banyak alasan untuk mencintainya
Para penikmat sunset
Kami harap-harap cemas karena menjelang magrib justru awan makin menggelap di horizon. Beberapa perahu nelayan melintas. Saya lagi-lagi susah melukiskan dengan kata-kata. Perahu melintas di antara warna biru, oranye, merah, dan kelabu. Beberapa surfer sudah tenang berpegangan di papan selancar. Beberapa turis mulai nongkrong-nongkrong di bar terdekat dengan bir di tangan. Semua mata tertuju pada satu titik: garis horizon. Mula-mula warna keemasan, kemerahan, dan kemudian... sedikit demi sedikit berbaur dengan kegelapan. Subhanallah.

Sunset di Suluban. Saya mengaguminya. Saya mencintainya. Dan akhirnya mengerti kenapa orang berduyun-duyun datang ke Pulau Dewata. Setelah gelap sempurna, akhirnya kami kembali ke parkiran dan mencari makan. Setelah itu kami pulang ke hotel, istirahat, menyiapkan petualangan esok hari... dan tentu saja, pindah ke hotel lain. :)

Pura Uluwatu:
  • Terletak di kawasan Pecatu
  • Tiket masuk domestik:
    • Dewasa: Rp 15.000
    • Anak-anak: Rp 5.000
  • Tiket masuk mancanegara:
    • Dewasa: Rp 20.000
    • Anak-anak: Rp 10.000
  • Parkir: Rp 2.000
  • Pertunjukan: tari kecak pukul 18.00-19.00, tiket Rp 70.000/orang.
Catatan:
  • Untuk wanita yang sedang haid hanya diperbolehkan sampai di depan tangga pura.
  • Jangan lupa bawa payung, topi, dan sunblock
  • Lebih baik bawa makan dan minum sendiri. Asal tahu saja, harga di kawasan ini sudah di mark-up habis-habisan. Susu UHT kotak  (200 ml) harganya mencapai Rp 10.000! Semua minuman yang mempunyai rasa per botol juga Rp 10.000. :(
  • Saat memakai topi/payung berhati-hatilah kalau ada monyet.

Wednesday, December 19, 2012

Bali (2): Padang-padang dan Suluban Beach

Pagi yang cerah, hari kedua kami di Bali. Setelah kemarin mengunjungi GWK dan Dreamland, hari ini rencananya kami akan mengunjungi tiga tempat. Karena itu, pagi-pagi kami dah bersiap. Sarapan banyak untuk stok tenaga agar bisa jalan-jalan dan bermain di pantai.

Mengandalkan GPS, kami mulai keluyuran di tempat-tempat wisata yang terhitung dekat dengan hotel. Tujuan pertama adalah: Padang-padang Beach atau juga disebut Labuan Sait. Well, ternyata Mbak Jipi gak bisa diandalkan sepenuhnya. Kami nyasar, tepatnya salah masuk ke suatu jalan yang entah ke mana. :) Biarpun nyasar, namanya di Bali, kami masih bisa menikmati pemandangan.

Padang-padang Beach
Akhirnya kami mengandalkan GPS versi jadul, yaitu bertanya ke penduduk, ehm... lebih tepatnya abang2 tukang yang sedang membangun rumah. Awalnya, berdasarkan info yang kami dapat setelah ngubek-ngubek internet, kami mencari Padang-padang Beach. Tapi ternyata di papan nama tertera Labuan Sait. Yah, pantesin bolak-balik lewat tetep gak "ngeh".

Setelah parkir, kami menyeberang jalan untuk menuju pantai. Yang menyenangkan di daerah Pecatu adalah: pantai-pantainya indah dan kita gak perlu bayar untuk masuk, cukup bayar parkir doang. Wow!

Yak, kita harus lewat celah ini utk menemukan pantai yang indah
Saat memasuki pintu gerbang menuju pantai, kami disambut monyet-monyet yang bergelantungan di pohon. Mereka berkeliaran ke sana-sini di bawah pohon atau mengambil sesuatu dari sesaji yang ada di sekitar tempat itu.

Setelah menuruni tangga, sempat ternganga ngeliat jalan masuk menuju pantai. Kami harus menuruni tangga yang sempit, agak gelap, dan celah di antara batuan yang besar. Tangga ini di beberapa bagian hanya bisa dilewati satu orang. Jadi kalo berpapasan dengan orang lain dari arah yang berlawanan, kita harus bergantian. Dan bayangkan, kami juga harus berpapasan dengan para surfer yang menenteng-nenteng papan untuk berselancar.

Pasir, matahari, laut!
Yang sedang belajar surfing
Emak dan anak-anaknya... :p
Biarpun lumayan ngos-ngosan, begitu kaki menginjak pasir laut, yang ada cuma kagum, takjub. Subhanallah... Padang-padang Beach pantas dikunjungi kalo ke Bali. Karena masih terhitung pagi, pantai ini masih sepi. Sekelompok bule sedang belajar surfing, di satu pojokan sedang ada pemotretan pre wedding dengan segala tetek bengeknya, dan beberapa keluarga mulai menggelar handuk di atas pasir.
Karang-karang ini yang membuat anak-anak aman bermain....
Begitu masuk gapura, kita disambut monyet-monyet
Nikki dan Kira gak pake lama, langsung ganti baju renang dan nyebur ke pantai. Mereka senang sekali bermain ombak dan pasir. Makin siang, ombak di bagian tengah makin besar. Bule-bule yang belajar surfing mulai ke tengah, menunggu ombak yang pas. Anak-anak tetap anteng bermain pasir. Tenang... karena ada karang gede, ombak yang menuju ke pantai agak tertahan, jadi anak-anak masih bisa bermain dengan santai.
Suluban Beach dilihat dari jalan
Kami cukup lama bermain di Padang-padang Beach, sebelum akhirnya pindah ke pantai berikutnya yang masih berada di sekitaran tempat itu: Suluban Beach. Kalau sebelumnya di Padang-padang saya sudah terkagum-kagum, di Suluban, saya langsung jatuh hati pada pandangan pertama. **tsah**

Suluban, menurut saya, adalah surga tersembunyi! Pantai ini di kalangan wisatawan asing biasanya disebut Blue Point. Surganya para surfer. Kalau di Padang-padang kebanyakan masih belajar surfing, di Suluban, para surfer yang sudah "ahli" wira-wiri di sekitar pantai. Ombaknya tinggi, cocok banget buat berselancar.


Setelah parkir, kami harus berjalan melewati jalan-jalan sempit naik-turun. Di kanan-kiri banyak sekali kios yang menjual cendera mata ataupun perlengkapan berselancar. Dan gak usah heran, ada pula yang menyewakan jasa mandi (berbilas) di jalan. Jadi beberapa kali kami sempat ngeliat bule sedang mengguyur tubuhnya dengan air dari ember di tengah jalan!

Suluban Beach, Pecatu
Saya jatuh cinta pada laut ini!
Karena Suluban termasuk salah satu pantai yang indah (menurut saya malah paling indah) di kawasan Pecatu, jadi teteb... kami bertemu dengan pasangan-pasangan yang sedang melakukan sesi foto pre wedding.

Jalan menuju Suluban Beach lebih curam dibandingkan Padang-padang. Kita harus hati-hati banget karena jalanan sempit, dan kalau sampai jatuh dari tangga, lumayan lah... bisa jatuh dari tebing. Tapi gilak! Ini pantai kerennnnnn.... banget. Perjalanan yang cukup melelahkan, naik turun tangga, terbayar begitu lihat pemandangan di depan mata.


"Suluban" berasal dari bahasa Bali yang berarti 'berjalan atau lewat di bawah sesuatu'. Saat kaki sudah mulai menginjak pasir laut, kita akan melewati semacam goa. Saya bilang semacam karena ini hanya batu-batu karang yang memang berdekatan sehingga seolah-olah kita masuk ke goa. Dan tebak... dari karang-karang itu menetes air. Wiiiiih. Belum selesai terkagum-kagum dengan karang, kaki tiba-tiba disentuh ombak.

Tidak jauh dari parkiran, kita sudah disuguhi pemandangan ini
Meski jalan menuju pantai begini, akan terbayar kok dengan keindahannya
The sea, sand, and blue sky....
Dan berbelok sedikit... tadaaaaaa!!!! Saya bingung mau melukiskan bagaimana mengatakannya. Hijau, biru, coklat, putih, warna-warni, semua menyerbu masuk ke mata saya. Kalau saya ditanya bagian mana di Bali yang akan selalu kamu ingin datangi? Saya akan menjawab: Suluban!

Semakin siang, ombak semakin besar, dan jangkauannya makin luas. Jadi, alas kaki harus segera diamankan. Sandal, sepatu, taruh saja di atas karang-karang, aman deh. Sementara kita bisa main ombak. Saya dan anak-anak seru-seruan di sini. Di hamparan pasir putih, kami berburu beraneka macam kerang. Warnanya bagus-bagus. Biru, ungu, tosca, coklat, keemasan. Anak-anak seneng banget berburu kerang di sini.


Sebenarnya belum begitu puas di sini, tapi kami harus berkejaran dengan waktu. Karena sore biasanya hujan, maka kami buru-buru pindah tempat ke obyek wisata yang lain: Pura Uluwatu. Sunset di Suluban bisa dilihat di sini.

Padang-padang Beach 

  • Terletak di kawasan Pecatu
  • Tiket masuk: free
  • Parkir: Rp 3.000
  • Mandi (bilas): Rp 5.000
  • Sebelum masuk ke kawasan pantainya, usahakan kita sudah ke toilet lebih dulu (berada di tempat parkir). Kecuali kalau mau naik turun tangga yang "ya ampun", silakan. :)
  • Jangan lupa sunblock. Untuk ganti baju, di sekitar pantai tidak ada. Kalo turis2 bule sih biasanya ganti gitu aja di tempat.
Suluban Beach (Blue Point)
  • Terletak di kawasan Pecatu, tidak jauh dari Padang-padang. Tinggal lurus, melewati jembatan dan mengikuti jalan.
  • Tiket masuk: free
  • Parkir: Rp 5.000