Thursday, December 27, 2012

Bali (4): The Sacred Monkey Forest Sanctuary

Hari baru di hotel baru. Hari keempat kami di Bali, bertepatan dengan hari Jumat. Jadi, kami tidak bisa langsung bertualang karena kami tidak tahu mau sholat Jumat di mana. Akhirnya diputuskan berenang dulu di hotel, baru berangkat sekalian mencari masjid untuk sholat Jumat.
Nikki dan Akira di pintu masuk Hutan Kera
Setelah selesai sarapan dan berenang, kami berangkat. Hari ini ada 3 tempat yang kami tuju, tapi kami tidak yakin bisa mencapai semuanya karena baru benar-benar efektif sehabis dzuhur. Tujuan kami hari itu adalah: Monkey Forest, Tegalalang, dan Tirta Empul. Alhamdulillah, tidak jauh dari hotel tempat kami menginap di Nusa Dua ada Masjid Agung Ibnu Batutah. Masjid ini salah satu simbol kerukunan umat beragama di Bali karena letaknya berjejeran dengan pura, gereja, dan wihara.

Sehabis sholat Jumat, kami langsung meluncur menuju Padangtegal, Ubud, di mana ada Mandala Wisata Wenara Wana aka The Sacred Monkey Forest Sanctuary. Perjalanan yang lumayan lama dan enggak gampang karena kami harus melewati Simpang Siur yang macetnya gak ketulungan, dah mirip-mirip Tol Cikampek dan tol dalam kota pas hari Jumat. :D
Lewatlah jalan setapak, jangan keluar dari jalur
Jalan yang lumayan licin sehabis hujan
Saya tidak tahu sedang ada perayaan apa, tapi sepanjang jalan, sepanjang hari itu, kami menemui banyak kegiatan di pura, penjor di sana-sini, sehingga arus lalu lintas terkadang dialihkan. Untunglah, kami bisa mengandalkan Mbak Jipi. Kami pun sudah mirip petualang beneran, hanya berbekal makanan yang dibeli di minimarket. Kami tidak sempat berhenti untuk makan karena mengejar waktu, apalagi sore hari sering hujan.

Setelah perjalanan yang bagi saya terasa lumayan lama, akhirnya kami tiba di Monkey Forest, Ubud. Dalam kebudayaan Bali, kera merupakan hewan yang penting dan sering muncul pada tarian, sejarah kecak dan Ramayana, patung-patung, ukiran, serta cerita rakyat. 
Kera yang di depan kami itu mengincar Kira!
Nikki dan pohon "Avatar" :D
Begitu masuk ke kawasan hutan, wow... meski agak takut dan khawatir dengan para kera, tumbuhan dan pohon-pohon yang ada di situ membuat kagum. Kata Nikki, pohon-pohonnya seperti di film Avatar. ^_^  Saat itu ada beberapa upacara yang diadakan di pura-pura di dalam hutan. Di Monkey Forest ada tiga pura. Berdasarkan Pura Purana (buku suci yang terbuat dari lontar), Pura Kera suci ini dibangun sekitar pertengahan abad ke-14, saat kerajaan dikuasai Dinasti Pejeng.

Di barat daya hutan ada Pura Dalem Agung, tempat utama dan tempat yang sangat penting dalam kawasan hutan kera. Di barat laut terdapat Pura Beji dengan struktur dari konsep tiga mandala. Mandala utama, di posisi paling utara, adalah area yang dianggap paling suci. Madya Mandala berlokasi di tengah dan mempunyai kolam suci. Sementara Nista Mandala di sebelah tenggara adalah tempat mandi suci untuk makhluk hidup. Pura terakhir adalah Pura Prajapati di sebelah timur yang merupakan tempat penyimpanan dan kremasi.
Salah satu pura di Monkey Forest
Patung kera di depan pura
Satu di antara tiga pura
Sayangnya, pura-pura ini tidak boleh dimasuki, kecuali untuk sembahyang. Dan kami hanya bisa melihat pedanda memimpin upacara dari pintu pura. Kami berjalan-jalan menyusuri jalan setapak yang ada di hutan. Ehm, sebenarnya kami melakukan satu kebodohan, yaitu membiarkan Kira memakai topi. Akibatnya, tiba-tiba seekor kera menyeberang jalan dan langsung menuju Kira, merebut topinya. Huaaaaaa... untunglah Kira bisa langsung digendong. Masukin topi ke tas. Tapi setelah itu Kira maunya digendong terus. Hikz.

Kera-kera yang ada di hutan ini adalah kera Bali, yang juga dikenal sebagai kera ekor panjang (Macaca fascicularis). Ada sekitar 605 kera di hutan ini, terdiri dari 77 kera jantan, 194 kera betina, dan 334 anak kera. Anak-anak kera ini lucu banget. Bahkan masih ada beberapa yang benar-benar bayi sehingga digendong ke sana-sini oleh induknya. Kera bali ini ada beberapa kelompok yang sebagian besar terdiri dari kera betina (matrilines).
Salah satu kelompok kera
Gerombolan kera
Kera yang "nakal"
Sebenarnya kita boleh memberi makan kera-kera di hutan ini, tapi sungguh... saya tidak berani! Kami hanya menyusuri jalan setapak yang ada di hutan dan memilih tidak melalui jalan di samping sungai yang kelihatannya licin sehabis hujan. Setelah merasa cukup, kami keluar. Saat menuju parkiran, Kira yang heboh karena sepanjang parkiran berjejer toko-toko yang menjual berbagai macam suvenir. Para turis, terutama wisatawan mancanegara, banyak yang sedang berbelanja. Tapi kami sih lempeng saja, menuju parkiran. **sok cool**
Para perempuan menuju pura
Membawa sesaji
Upacara di salah satu pura di Monkey Forest
Mandala Wisata Wenara Wana (The Sacred Monkey Forest Sanctuary):
  • Terletak di Jalan Monkey Forest, Padangtegal, Ubud
  • Jam buka: Pukul 08.30-18.00 (setiap hari)
  • Tiket masuk:
    • Dewasa: Rp 20.000
    • Anak-anak: Rp 10.000
     
  • Tips dan Trik:
    • Pakailah pakaian dan alas kaki yang nyaman. Hindari memakai topi, kacamata, jam tangan, dan sejenisnya.
    • Berjalanlah mengikuti jalan setapak yang telah disediakan, jangan keluar dari jalan setapak tersebut.
    • Jangan membawa botol, tas plastik, dan kaleng
    • Tidak diperbolehkan memberi kacang kepada kera
    • Tidak diperbolehkan menyentuh/menggoda kera karena reaksi mereka yang tidak terduga
    • Jika ingin memberi makan kera, lakukan dengan hati-hati atau mintalah bantuan ke pawang (berseragam hijau)
    • Jangan menyembunyikan makanan dalam saku atau tas karena bisa jadi kera akan mencari dan menemukannya

3 comments:

Lidya - Mama Cal-Vin said...

aku takut mbak deket2 kera, bisa-bisa gak jadi jalan2 deh :)

myra anastasia said...

kyknya sy bakal deg2drgan kl kesana ya.. takut sm kera.. :D

Elsa said...

suka banget tuh memperhatikan kebayanya orang bali
warna warninya asyik banget

apalagi kalo mereka berbaris akan menuju tempat upacara
wanita wanita bali kelihatan cantik cantik pake kebaya