Wednesday, January 30, 2013

Festival Makanan Enak-enak

Kami pencinta makanan enak. Lagian, siapa sih yang enggak? :D Karena itu, saat masuk Pasaraya Blok M dan mendapat selebaran tentang Festival Makanan Enak-enak yang berlangsung sampai 31 Januari, bawaan pengen mampir aja. 
Festival Makanan Enak-enak
Satu sudut yang saya suka! Dan kurungan burung yang jadi lampu...
Setelah acara di Pinisi Edutainment Park kelar, sebenarnya sih pengen langsung menuju ke kantor. Tapi, Nikki dan Kira sudah lapar. Dan hari itu hari Sabtu, yang berarti OB di kantor agak susah nyariin makanan karena banyak warung yang tutup. Pun perjalanan Jakarta-Bekasi lumayan jauh buat anak-anak. Akhirnya, melipirlah kami ke Dapuraya, foodcourt di Pasaraya Blok M, lantai LG, tempat Festival Makanan Enak-enak berlangsung.

Saat masuk ke area Dapuraya, saya terkesan dengan suasananya yang "Indonesia banget"! Nuansa batik di mana-mana, dijadikan kap lampu. Suasana warung zaman dulu juga muncul. Pun kurungan burung yang sedang diincer Mas buat dijadiin lampu, nongol juga di sini. Wiiiih, seneng liatnya.

Di satu pojokan sedang ada demo memasak. Ups, kalau saya enggak buru-buru ke kantor, pasti saya sudah nongkrong dengan manis di situ. Setelah dapat tempat duduk yang asyik karena dekat "warung", saya dan Nikki berkeliling melihat makanan apa saja yang ada di situ. Hah! ternyata banyak banget sampai bingung mau makan yang mana. Perasaan semua makanan Nusantara tumplek blek di sini: nasi goreng kambing, asinan bogor, nasi bakar, sate padang, ketoprak, gudeg, makanan khas manado, lontong balap, dan masih banyak lagi.  *ngeces*
Nikki di depan "warung"
Saya naksir lampu-lampunya
Tapi akhirnya kami pesan nasi goreng (buat Nikki; ini favorit dia, makanan paling sering dipesan), nasi bakar ayam (buat Mas), dan nasi goreng plus bakso bakar (buat saya dan Kira). Enak sih, dan porsinya besar. Tapi harganya bikin nyengir. Saya tadinya membayangkan kalau dengan embel-embel "festival" agak murah, tapi ternyata enggak. Jadi, kayaknya kita juga membeli suasana. ;)

Selesai makan enggak bisa nyantai-nyantai dulu karena harus cabut ke kantor. Tapi saya bener-bener seneng sama suasana Festival Makanan Enak-enak ini. Coba kalau harga makanannya agak dimurahi atau diskon gitu, pasti lebih enak. *ngarep*

Tuesday, January 29, 2013

Pinisi: Play, Learn, and Explore

Saat pertama kali ada kunjungan dan komentar dari Pinisi Edutainment Park di blog ini, saya sungguh penasaran. "Pinisi?" Saat itu di kepala muncul gambaran kapal asal Bugis dengan layar-layar lebarnya. Maklum, akhir-akhir ini saya banyak baca tentang I La Galigo dan pementasan La Galigo yang ramai diperbincangkan (selain Matah Ati). Meski saya tidak bisa nonton La Galigo dan menatap Sawerigading, pembuat Pinisi pertama, setidaknya saya, Mas, dan anak-anak bisa main ke Pinisi Edutainment Park. :)
Kapal Pinisi itu...
Jadi, Sabtu kemarin, dengan mengantongi undangan gratis dari Pinisi Edutainment Park, kami menuju Pasaraya Blok M. Sudah lama sekali kami tidak "beredar" di daerah sini. Ternyata di Pasaraya sudah banyak perubahan. Salah satunya ya, Pinisi Edutainment Park yang terletak di lantai 9 dan 10 Pasaraya Blok M, dan baru dibuka pada November tahun lalu. Sebelumnya saya bilang ke anak-anak bahwa kita akan main ke Pinisi Edutainment Park dan saya terangkan seperti apa Pinisi itu. Nikki, yang sudah pernah ikut Wisata Kapal Perang TNI, langsung bertanya macam-macam soal kapalnya. Dipikirnya kita akan naik kapal. :D


Asyik main Kiss Car
Sampai di Pasaraya sudah jam 10.30 dan mikirnya: telat nih, telat nih. Saat masuk ke area pertokoan, sempat bingung juga, lewat mana yak. Untung ada banner Pinisi, jadi kami langsung tahu harus ke mana. Masuk lift kaca, yang membuat anak-anak seneng karena bisa melihat setiap lantai di area pertokoan, akhirnya kami tiba di lantai 9. Begitu lift terbuka, anak-anak lari keluar lift dan saat menengok ke kanan langsung heboh dengan teriakan-teriakan: Aku mau naik itu, aku mau nyobain itu. Oh, oke... tunggu dulu yak. Kita daftar dulu ke petugasnya.

Setelah daftar ke petugas, masing-masing diberi cap di tangan. Dan tidak lupa, karena kami ke Pinisi Edutainment Park dengan undangan, kami dapat goodie bag dong. Ternyata acara utama, workshop penulisan untuk para blogger, belum dimulai. Alhamdulillah ya, sesuatu! Kirain sudah telat. Akhirnya kami melihat-lihat dulu. Ke area utama, kami langsung disuguhi tampilan kapal Pinisi yang ceritanya sedang bersandar di pelabuhan. Saya bilang sedang bersandar di pelabuhan karena kan enggak ada layarnya. Hahaha. Tapi konsepnya bagus sih. Di sekeliling kapal ada Kiss Car, permainan semacam boom boom car, yang membuat seolah-olah kapal-kapal kecil sedang wira-wiri di sekitar Pinisi dan berada di pelabuhan yang sibuk. Dan tali-tali yang biasa terlihat saat kapal sandar dimanfaatkan untuk flying fox. Berasa Kapten Jack Sparrow gak sih? :p
Berasa putri naik kuda... :)
Ada yang mau jadi nakhoda?
Nikki di salah satu sudut kapal
Mau ke mana kita?
Selesai main Kiss Car, anak-anak ke komidi putar. Belum lama melihat anak-anak main, sudah ada pemberitahuan bahwa kami, para blogger, diharap masuk istana ke teater karena acara segera dimulai. Saat berjalan masuk ke tempat acara itulah saya melihat banyak blogger yang sudah beberapa kali ketemu, yang belum pernah ketemu tapi tahu nama dan wajah, juga blogger lain yang enggak kenal sama sekali. Woah... ini bener-bener kayak reunian para blogger yak.

Saya duduk bareng Indah dan Vera. Sebenarnya sih bukan karena kami anggota klub Bekasi, tapi Indah, yang akhir-akhir ini kondang sebagai detektif Conan, ingin bertanya-tanya soal sekolah. Maklum ya, nama pun emak-emak. Acara apa pun, tetap manfaatkan untuk ngobrol segala hal terkait anak dan keluarga. Dan acara pun dibuka dengan pembicara Direktur Pinisi Ari Kartika dan Editor In Chief majalah Good Housekeeping Asteria Elanda.
Pasang pengaman dulu yak
Dan Kira pun "panjat tebing"
Yang kesenangan nyoba wall climbing
Dari penuturan Mbak Ari Kartika, saya bisa menyimpulkan beberapa hal yang membedakan Pinisi dengan taman bermain lain:
  • Mengusung tema Play, Learn, and Explore, Pinisi bukan hanya sekedar taman pintar atau taman bermain. Selain wahana permainan, di Pinisi Edutainment Park juga ada kelas-kelas yang mengenalkan berbagai macam kesenian dan kebudayaan Indonesia. Kelas itu di antaranya: kelas tari, gamelan, pedalangan, dan batik. Tadinya saya pikir karena "play", maka ada permainan tradisional semacam egrang, tapi ternyata enggak ada. :))
  • Pinisi bekerja sama dengan Kak Seto Centre. Jadi, kalau datang ke Pinisi, kita nantinya bisa juga dapat keterangan misalnya anak ini kayak gimana. Apakah dia tipe visual, audio, atau kinestetik.
  • Di Pinisi ada pementasan drama dengan cerita yang diambil dari hikayat atau cerita Nusantara. Love it! Sungguh, saya suka banget dengan yang satu ini. Karena setiap saya libur anak-anak selalu minta didongengi, jadi begitu lihat drama (kemarin berjudul Lutung Kasarung), mereka langsung maju dan nongkrong di depan panggung.
  • Ke depan, Pinisi akan memperluas satu lantai, yaitu di lantai 8, untuk Science Centre sehingga luas total menjadi 6.000 meter persegi. Jadi, enggak usah jauh-jauh ke Singapura, begitu semangatnya. :D
Mbak Ari Kartika (kiri) dan Mbak Asteria Elanda
Sementara dari Mbak Asteria Elanda, saya juga mendapat banyak hal baru soal menulis. Yeah, saya ini susah untuk menulis berpanjang-panjang. Saya jauh lebih familiar dengan yang namanya hardnews. Soal ini pun saya pernah curcol ke Mbak Indah Juli. :D Jadi, begitu ada lomba penulisan dengan waktu 15 menit, DOENG....! Yang lain sudah asyik nulis, saya masih bingung mau nulis apa. Hahaha. Mending saya disuruh nulis berita deh. *ketok kepala pake palu*

Tapi yang paling membekas dari pemaparan Mbak Asteria Elanda adalah soal haters. Saat itu saya langsung ingat beberapa postingan saya di blog ini dan blog satunya. Mungkin, saat posting, semangat kita adalah berbagi. Tapi nyatanya, memang tidak semua orang bisa menerima hal-hal yang kita paparkan. Saya ingat saya pernah dicaci orang karena saya dianggap copas tulisan orang. Padahal tulisan yang dimaksud adalah tulisan saya sendiri yang saya posting jauh sebelum orang itu posting. *geli sendiri*
Toddler area
Cyber games
Akira dan Nikki seru-seruan main Cyber Games
"Lutung Kasarung"
Setelah wokshop untuk para blogger selesai, dilanjutkan makan siang di area tempat makan yang ada di lantai 10. Tapi ternyata Mas dan anak-anak sedang turun ke bawah, ke area pertokoan. Mereka beli baju ganti Kira dan kaos kaki karena anak-anak minta main di playground. Sementara nungguin Mas dan anak-anak naik ke atas, saya ngobrol dengan cowok ganteng: Keke! :D Ditunggu lama, Mas belum balik juga. Akhirnya saya ngider ngeliat anak-anak dari satu TK yang sedang bermain di Pinisi. Dan tiba-tiba seorang anak yang lewat teriak sambil nunjuk-nunjuk ke satu kelas: "Ariiiiiiif, lihat, lihat. Mamamu sedang belajar nari." Dan bareng anak-anak TK itu, saya melongok ke dalam kelas tari. Heh? Ternyata para ibu enggak mau ketinggalan. Mereka sedang belajar nari jaipong di kelas tari! *ngikik*
Para ibu gak mau kalah, ikut kelas tari...
Kelas batik
Begitu Mas dan anak-anak kembali, kami naik ke lantai 10, dan saya mulai antre. Menurut petugasnya sih, kalau pesanan sudah selesai bakal dipanggil. Tapi sudah ngobrol sana-sini bareng teman ini-itu, kok tetap gak dipanggil ya? Setelah dengan perjuangan yang cukup lumayan, akhirnya bisa makan juga. Sambil makan Nikki dan Kira cerita wahana dan kelas apa saja yang sudah mereka coba. Selain nyoba Kiss Car dan komidi putar, ternyata mereka juga menghias layang-layang, mencoba wall climbing, naik Choo Choo Train, dan banyak lagi.
Menghias layang-layang
Serius menghias layang-layang
Kelar makan kami menuju ke teater untuk melihat pementasan drama Lutung Kasarung. Tapi sebelumnya diumumkan dulu pemenang lomba penulisan 15 menit.
Saat drama dimulai, Nikki dan Kira langsung nongkrong di depan panggung. Untuk pementasan drama, selain para pegawai Pinisi, anak-anak yang berkunjung dan mencoba kelas drama juga diikutsertakan. Lucu-lucu jadinya. Ada yang kaget, ada juga yang ketakutan karena tentu saja mereka tidak latihan dan tidak tahu plotnya. Tapi saya dan Mas ketawa-ketawa karena ngeliat Azka yang ketawanya heboh. :)

Begitu drama selesai, Nikki dan Kira langsung keluar melanjutkan permainan. Saya dan Mas pun mau tidak mau langsung ngikutin mereka. Jadinya saya ketinggalan, enggak ikut foto-foto dengan para blogger karena berbagi tugas dengan Mas. Saya nungguin Nikki, sementara Mas sama Kira yang langsung main di playground. Sebelumnya Kira pengen main di sini, tapi enggak bawa kaos kaki.

Mandi bola, salah satu permainan favorit Kira
Sambil nunggu Kira dan Nikki, saya ngobrol dengan De, Mbak Indah Juli, Meyrinda, Santi Maulizal, dan juga ketemu banyak teman lain, meski enggak bisa nggosip, setidaknya soal Nam Goong Min, ya kan Erry? What a lovely day! Ketemu banyak teman, yang biasanya cuma bersapa ria di dunia maya. Sayangnya, saya harus terdampar di kantor, jadi langsung cabut. Padahal saya belum nonton simulator 4D, padahal anak-anak belum mau pulang. :(
Tapi hari itu, saya sungguh berterima kasih ke Pinisi Edutainment Park yang sudah mengundang saya dan keluarga, juga mempertemukan dengan teman-teman. :D Jalesveva Jayamahe.

Tentang Pinisi Edutainment Park:
  • Terletak di Pasaraya Blok M lantai 9 dan 10 (rencananya ditambah lantai 8 untuk Science Centre), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
  • Tiket masuk:
    • Toddler (1-3 tahun) : Rp 50.000 (6 jam/8 jam)
    • Anak-anak (4-16 tahun) : Rp 100.000 (6 jam), Rp 115.000 (8 jam)
    • Dewasa (di atas 16 tahun) : Rp 50.000
    • 0-1 tahun dan 65 tahun ke atas: GRATIS!
  • Tiket masuk Wiken dan Hari Libur Nasional (5 jam):
    • Toddler: Rp 50.000
    • Anak-anak: Rp 100.000
    • Dewasa: Rp 50.000
  • Waktu operasional:
    • Hari biasa: pukul 09.00-15.00 (6 jam); pukul 11.00-17.00 (6 jam); pukul 09.00-17.00 (9 jam)
    • Wiken dan hari libur: Pukul 09.00-14.00 dan pukul 15.00-20.00 (5 jam)
Choo-choo Train
Nikki di atas Choo-choo Train

Tips ke Pinisi Edutainment Park:
  • Bawa kaos kaki kalau mau main di playground
  • Bawa minum yang cukup. Kemarin di area tempat makan (lt 10), agak berantakan koordinasinya. Entah karena kami rombongan dalam jumlah besar atau kenapa. Tapi  karena undangan, seharusnya sudah disiapkan ya. Jadi lebih baik siapkan minuman yang cukup untuk anak-anak. Terlepas dari keruwetan di area makan, petugasnya ramah kok.
  • Toiletnya bersih, tapi sayang airnya minim. Saat tanya ke petugas, ternyata airnya tidak "jalan". Bahkan si petugas meminta saya agar tidak memakai toilet karena khawatir tidak ada airnya. Sebenarnya ada, tapi alirannya keciiiiiiil banget. Jadi siapkan tisu basah dan air mineral saja. Enggak tahu kalau nanti-nanti ya.
  • Di lantai 10 tidak ada toilet untuk umum, hanya untuk petugas. 
  • Tidak ada mushola. Tapi bisa memanfaatkan area di sekitar teater. Meski kecil, lumayan lah.
  • Saat ini Pinisi Edutainment Park masih dalam tahap pengembangan dan baru 3 bulan dibuka. Mungkin nanti-nanti bakal lebih baik dalam fasilitas. 

Tuesday, January 22, 2013

Angkringan

Saya dan suami itu termasuk orang yang suka nongkrong di angkringan (ngangkring). Kalo saya mah dah familiar sejak kuliah. Maklum, anak kos. Angkringan adalah penyambung nyawa, apalagi kalo duit dah minim. Dan Mas pun ketularan doyan makan di angkringan. Akhirnya, kalau ke Jogja, sudah dipastikan kami bakal makan di angkringan. 

Buat kami, standar angkringan enak tergantung dari variasi menu dan wedang jahe. Kalau menu sih masih bisa diakalin lah karena kebanyakan secara umum mirip-mirip. Tapi yang bikin angkringan itu beda jelas satu hal: wedang jahe! Ada yang wedang jahenya mantep banget, ada yang encer, ada pula yang nyebutnya wedang jahe, tapi ntah dari apa. Perasaan sih dari rempah-rempah gitu.
Angkringan "Sesuatu" di Cikunir
Nikki yang dah mulai doyan ngangkring... :)
Sejak tahun lalu, angkringan mulai bertebaran di Bekasi. Seneng dong... gak perlu ke Jogja atau Solo buat nyari angkringan. :D Kalo pas wiken dan saya males masak, kami suka makan di angkringan. Anak-anak pun diajak. Awalnya sih, mereka gak doyan! Saat tahu bahwa mereka akan makan "nasi kucing", mereka bilang: "Mama... masak sih aku disuruh makan bareng kucing." LOL.

Pertama kali ngenalin anak-anak ke angkringan itu, salah! Menunya langsung yang bener-bener angkringan. Alhasil mereka gak mau makan. Akhirnya nyoba lagi, nyari lagi. Ketemu angkringan yang cocok buat anak-anak karena menunya campuran: ada sate sosis, sate bakso, dan makanannya variatif banget. Baru kali itu juga saya menemukan angkringan "modern". Makin lama, anak-anak mulai oke nyoba angkringan di beberapa tempat, dengan banyak variasi. Di Bekasi, ada tiga angkringan yang sering kami datengi:

Angkringan Jatiasih
Tidak jauh dari Pasar Jatiasih, ada satu angkringan yang selalu rame. Menunya banyak. Andalannya sih: wedang jahe yang mantap banget dan uli bakar. Tempat ini lumayan sering kami datengi karena anak-anak pun mau makan. Tapi kalau pas yang beli banyak, harus sabar-sabar buat antri bakar-bakar gorengan, uli, dan seterusnya. :)

Angkringan Cikunir
Angkringan ini menurut saya angkringan modern. Karena itu, anak-anak pertama kali mau makan nasi kucing di sini. Menunya variatif dan sudah ditulisin di masing-masing nampan yang kadang bikin senyum. Misal: nasi temi (maksudnya teri dan mi), nasi ote (orek tempe). Dan di sini juga ada sate sosis dan sate bakso. :)

Kalau menurut saya, wedang jahenya biasa saja. Tapi sambalnya oke banget. Dan kalau mau ngangetin makanan pilihannya ada dua: goreng atau bakar. Kan kebanyakaan angkringan cuma bisa bakar yah.
Nasi Liwet Solo Komplet
Wedang Jahe dan Susu Jahe
Garang Asem
Angkringan Kalimalang
Ini sih sebenarnya nama resminya "wedangan". Tempatnya tidak jauh dari Pasar Sumber Arta dan selalu rame dengan berbagai macam komunitas yang nongkrong di sini. Dan menunya: menurut saya, untuk angkringan, lumayan "high class". Hahaha. Belum pernah saya menjumpai angkringan dengan menu sekomplet ini.

Garang asem dan nasi liwet solo komplet. Itu andalannya dan yang membedakan dengan angkringan lain. Selain itu, wedang jahenya oke banget. Disajikan dengan cangkir zaman dulu, ditambah rempah-rempah cengkeh. Dan untuk mengaduk bukan dengan sendok, melainkan dengan sereh. Yang lainnya sih standar. Nasi dengan harga Rp 2.000-an dan gorengan. Kalau mau ngangetin segala macam makanan harap sabar karena ngangetin dengan anglo. Yang bikin beda juga adalah: piring yang digunakan adalah piring seng, yang biasa dipake di kampung-kampung dulu itu, bukan plastik.

Mari makan....! Dan bernostalgia. ^_^

Monday, January 14, 2013

Hindarkan Anak dari Kekerasan Seksual

Beberapa hari terakhir membaca berita soal kekerasan seksual yang menimpa anak-anak membuat saya merinding dan kelu. Bahkan, tahun 2013 ini ditetapkan sebagai Tahun Darurat Kekerasan Seksual pada Anak oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Ah, kita sebenarnya hidup di negeri seperti apa? :(
Buku panduan
Dan saya pun ingat saya belum posting beberapa hal yang saya dapat dari seminar-seminar bulan lalu. Karena itu, saya mau sharing (bukan menggurui loh yak) beberapa hal untuk melindungi anak-anak kita. Saya tidak bisa sharing semuanya karena terlalu panjang, jadi saya tulis beberapa saja yang menurut saya penting dan harus diketahui semua orangtua.

1. Kenalkan kepada anak macam-macam sentuhan
Menjelaskan hal ini ke anak-anak enggak mudah, tapi mau tidak mau, dengan kondisi seperti sekarang, kita harus melakukannya. Dan ya, saya sudah melakukan itu ke anak-anak.
  • Sentuhan yang boleh, yaitu sentuhan yang dilakukan seseorang karena kasih sayang. Misalnya: mengusap, membelai kepala, dan membedaki badan
  • Sentuhan yang membingungkan, yaitu sentuhan yang dilakukan antara menunjukkan kasih sayang dan nafsu. Misalnya mula-mula mengelus kepala, memeluk-meluk, lalu tangannya meraba bagian tubuh anak dari bawah bahu sampai atas dengkul. Sebelumnya ajarkan kepada anak-anak bahwa bagian tubuh yang boleh disentuh orang lain adalah bahu ke atas dan dengkul ke bawah.
  • Sentuhan yang jelek, yaitu kalau seseorang meraba paha, dada, atau bagian yang dekat dengan kemaluan
 2. Yakinkan anak untuk bisa berbagi rahasia dengan kita
Karena kekerasan seksual dan perkosaan selalu dilakukan dengan bujukan dan ancaman, hal ini harus dijelaskan juga kepada anak. Kita juga meyakinkan bahwa kita sebagai orangtua adalah tempat dengan siapa anak bisa berbagi.

Di salah satu seminar, Bu Elly sempat bercerita sesuatu yang menarik terkait pengalaman anaknya sewaktu masih TK dan mereka tinggal di luar negeri. 

Suatu hari di TK, tinggal Mimi dan Jessica (anggap saja namanya begitu yak) di dalam kelas. Jes biasa dijemput oleh mama atau papanya. Namun siang itu, Jes lama sekali belum dijemput. Akhirnya Miss Brown mendekati Jes dan bilang: "Jes, ada seseorang di depan yang mau menjemput kamu. Menurut dia, dia disuruh oleh papa kamu. Apakah kamu melihat orangnya dulu?"

"Ya, aku mau lihat,"  kata Jes.

Dan mereka bertiga, Mimi, Jes, dan Miss Brown mendatangi orang itu di gerbang sekolah. 

Miss Brown: "Apakah kamu kenal orang ini Jes?" Dan Jes pun menggeleng. Saat itu tangannya yang menggandeng Mimi semakin menggenggam tangan Mimi dengan erat.

Orang tersebut bilang, "Hai Jes. Aku disuruh papa kamu untuk menjemput kamu. Papa tidak bisa menjemput karena sedang sibuk dan ada keperluan di kantor, jadi dia menyuruhku untuk menjemput."

(Dan, apa kata Jes? Yaaaaaak... ibu-ibu coba bayangkan kalau anaknya ketemu kejadian kayak gini, seharusnya mereka gimana? *devilish*)

Jes pun bilang, "Oke. Kamu disuruh papa menjemputku. Apa password-nya?"

Orang itu pun bingung. Password, password apa? Dia memandang anak itu dan Miss Brown dengan bingung. Dan Jes pun menarik tangan Mimi sambil bilang: "Ayo Mimi, aku mau pipis dulu. Kita ke toilet." Dan mereka pun lari ke dalam sekolah.

Sampai di dalam Mimi bertanya kepada Jes kenapa dia panik. Dan Jes pun menjawab: "Mimi... dia tidak punya password. Dia tidak punya password." Mimi pun bingung dan bertanya ke Jes, apa maksudnya.

Dan Jes pun cerita: "Mama dan Papa bilang, siapa pun yang menjemput aku harus punya password. Kita sepakat bahwa hari ini passwordnya rocking chair. Dan orang itu tidak punya password, Mimi."


Jadi, apakah anak-anak kita telah dibekali password? ;) Atau apakah ada trik lain agar anak tidak langsung begitu saja ikut orang dan termakan bujukan?

Catatan: dalam kejadian itu, apakah Jessica benar-benar pengen pipis? Tidak. Apakah anak boleh berbohong? Hanya jika dia terdesak dalam situasi yang membahayakan dirinya, ya. Dia boleh bohong.


3. Kenalkan pada anak bedanya: orang asing, kenalan, teman, sahabat, dan kerabat
Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar. Pasti sudah pada tahu kan ya... jadi jelaskan itu ke anak-anak.

4. Nyatakan kepada anak bahwa orangtua dan keluarga selalu melindungi dan menjaga mereka
Pernyataan seperti ini akan sangat diperlukan untuk memberikan rasa aman dan kekuatan dalam diri anak.

5. Genapkan ikhtiar dengan doa
Biar bagaimana pun, selalu ada saat di mana kita lengah atau tidak mampu, bukan? Saya pun selalu mengalaminya saat mengantar anak-anak sekolah, misalnya. Begitu masuk gerbang sekolah, mereka sendiri dan harus bertahan sendiri.
Jadi, setelah semua ikhtiar, selanjutnya adalah berdoa dan pasrah, semoga Alloh selalu melindungi anak dan keturunan kita dari bencana. 

Yang lain-lain masih banyak. Tapi saya tidak bisa menjembrengkan semua di sini. Kalau mau, silakan pesan buku panduan seperti di atas itu ke Yayasan Kita dan Buah Hati. Satu paket isi buku-buku itu Rp 100.000 dan 15% dari harga buku itu disumbangkan untuk pelatihan parenting para guru. *sungguh, ini bukan promosi, hanya ngasih tahu saja kalo minat :p*

Untuk anak kelas 4 SD ke atas, sila cek: Pendidikan Seks untuk Anak-anak.

 

Review: Swiss-Belhotel Segara, Bali

Hari keenam aka hari terakhir di Bali, kami enggak ke mana-mana karena anak-anak sudah capek. Akhirnya kami hanya tinggal di hotel sampai siap ke bandara untuk pulang. Selama tiga hari terakhir di Bali, kami menginap di Swiss-Belhotel Segara. Setelah berusaha ngubek-ngubek daerah Pecatu dan menginap di New Kuta Condotel, kami pindah ke daerah Nusa Dua.

Saat menuju Swiss-Belhotel Segara, Nusa Dua, kami cukup percaya diri mengandalkan GPS. Alhasil, kami sempat bengong ngeliat jalan yang "aneh". Kami ragu-ragu, sementara Mbak Jipi tetep saja menyuruh kami berbelok ke kiri. Untung saja di situ ada satpam yang bisa ditanya. Akhirnya satpam bilang: "Sebenarnya gak boleh sih, lewat sini karena ini jalan khusus kendaraan proyek. Tapi karena belum tahu jalan, boleh lah lewat." Wahaha. Ternyata sebenarnya itu jalan tertutup buat umum sodara-sodara. *salahkan Mbak Jipi*
gambar dari sini
Dan hm, ternyata... selama menuju hotel kami lewat beberapa proyek, termasuk proyek pembangunan Hotel The Mulia yang gedenya segambreng ituh. Ya, bisa dibayangkan kan, jalannya kayak gimana kalo kita lewat area proyek. Isinya debu dan pemandangan yang gak asyik. Untung saja begitu sampai hotel dan masuk kamar cukup melegakan. :)

Kami memesan kamar tipe Superior Loft Pool View, model duplex dengan satu tempat tidur di atas dan satu sofa bed di ruang bawah. Saya suka dengan kamarnya! Karena setiap masuk kamar langsung gabrak-gabruk naruh barang dan anak-anak wira-wiri, baru hari terakhir saya sempat ngambil fotonya. Jadi ya, maafkan kalo foto di atas itu ngambil dari website hotel. 

Kamar yang kami tempati
Saya suka tempat tidurnya karena lapang, berukuran King Size semua baik yang di atas maupun sofa bed yang di bawah. Anak-anak bisa guling-guling di atas kasur dengan leluasa. Sayangnya saya tidak bisa duduk-duduk nongkrong di balkon itu kecuali hari pertama pas baru dateng. Setelah itu selalu hujan. Tapi yang paling menyenangkan buat anak-anak sih: kolam renangnya yang berbentuk laguna!

Kolam renangnya...
Selama di hotel ini, hampir tiada hari tanpa berenang. Memang kami sudah niat sih, tiga hari terakhir kami memesan hotel yang kolam renangnya bagus buat anak-anak, mengantisipasi anak-anak sudah enggak mau jalan-jalan lagi. Hari pertama kami tidur di hotel, tengah malam bangun semua. Eh, kirain siapa yang jalan-jalan di tangga karena berisik banget. Ternyata tetangga samping kamar. :D Jadi ya, itu tetangga setiap kali naik-turun tangga selalu kedengeran.

Hotel ini sebenarnya enak buat menginap. Kamarnya, terutama. Tapi ya, menurut saya, petugas-petugasnya kurang ramah. Saat pertama baru datang, petugasnya yang gak sigap gitu mbantuin kami nurunin koper dan barang bawaan. Terus petugas cleaning service-nya juga. Gak yang otomatis menyapa para tamu. Dunno apakah mereka sedang capek atau kenapa.
Nungguin shuttle ke Geger Beach
Akira top to toe hasil berburu di Pasar Sukawati :)
Yang lain, hm... kayaknya resepsionis sering tidak berada di tempat (atau sedang sibuk?). Saya beberapa kali menghubungi resepsionis, tapi sampai deringan kesekian, belum diangkat tuh. Dan saluran TV kabelnya tidak ada Disney! Padahal sudah jauh-jauh hari anak-anak ngetekin mau nonton Cinderella II hari itu. Tapi ternyata di hotel enggak ada Disney! Untungnya sih... anak-anak akhirnya enggak ribut karena mereka bisa berenang dengan puas. Dan anak-anak pun senang naik-turun lift karena ini lift kaca, jadi bisa liat kolam renang selama naik-turun.
Sunset... dari balkon kamar
Di luar itu sih, saya senang dengan hotel ini. Makanannya cukup bervariasi. Bahkan selalu ada makanan khas Bali. Setiap hari menunya beda. Hurray... Ini menyenangkan. Dulu kalau dinas keluar kota, biasanya hari ketiga saya sudah enggak mau sarapan di hotel karena bosen. Tapi kayaknya kalau di sini saya gak bakalan bosen deh. Hahaha. Makanannya enak dan variasinya banyak. Yum!

Tentang Swiss-BelHotel Segara:
  • Terletak di daerah Nusa Dua, Bali
  • Sebelum masuk ke kawasan hotel, ada baiknya belanja makanan dahulu karena hotel ini pun lumayan jauh dengan tempat makan
  • Hotel ini menyediakan shuttle untuk menuju Geger Beach, pantai terdekat dari hotel. Shuttle ini berbentuk mobil bak terbuka yang dihias (sedikit). Anggaplah sedang naik limosin. Hehehe. Tapi enaknya, kita gak perlu merasa bersalah mengotori mobil karena badan penuh pasir saat pulang. Untuk jadwal shuttle bisa dilihat di lobi.
  • Hotel ini lumayan dekat dengan masjid, gereja, dan wihara. Jadi kalau ada yang mau beribadah enggak bingung.

Monday, January 07, 2013

Bali (5): Geger Beach dan Krisna

Perasaan nulis soal jalan-jalan ke Bali kemarin kok gak kelar-kelar yak. :) Ehm, karena kemarin-kemarin kami banyak mengandalkan Google, maka dengan ini saya pun berterima kasih kepada Google dengan ngasih banyak-banyak info. Mana tahu ada yang butuh seperti kami kemarin. ;) *sok rajin*
---------------------------------------
Pagi ini kami benar-benar merasa capek. Keinginan untuk mengeksplor Bali sudah agak berkurang. Apalagi Kira, yang notabene anggota terkecil "tim" kami, sudah benar-benar kecapekan. Jadi, setiap kali ditanya apakah mau keluar jalan-jalan, dia selalu menjawab: "Tidak. Maunya di hotel saja." :( Padahal kalau malam kami pengennya bisa jalan-jalan di Sunset Road atau ke Ground Zero.
Geger Beach, Nusa Dua
Akhirnya, selesai sarapan, anak-anak cuma main di kolam renang. Saya dan Mas pergi untuk satu keperluan sambil ngambil cucian di laundry kiloan. Hurray! Akhirnya stok pakaian ada lagi. Maklum, karena kami keseringan main basah-basahan, rasanya itu pakaian cepat habis. Hari kelima di BSD (Banyuwangi Sonoan Dikit), kami bisa tidur siang, dong. Tapi cuma sebentar sih, karena cuaca lagi enak, sayang banget kalau dilewatkan.

Setelah makan siang, kami bersiap-siap ke pantai lagi. Kali ini sih memanfaatkan shuttle yang ada di hotel. Seperti saya bilang sebelumnya, di dua hotel yang kami tempati selalu disediakan shuttle untuk ke pantai terdekat. Karena masih agak lama, kami akhirnya menunggu shuttle siap sambil duduk-duduk di lobi. Tak lama, shuttle sudah oke dan kami bersiap menuju Geger Beach.
Suasana yang "sendu" karena mendung
"Ladang" rumput laut
Sampai di Geger Beach, anak-anak langsung berebutan nyebur ke laut. Di sini airnya tenangggggg... banget, nyaris tidak ada ombak. Jadi emaknya ini bisa leyeh-leyeh di kursi pantai tanpa khawatir. *devilish*. Dan makin kebangetan saat emak-emak ini tertidur pulas untuk beberapa saat kena semilir angin pantai dan cuaca yang agak mendung.

Pantai Geger ini pantai dengan pasir putih dan terletak tepat di belakang Hotel The Mulia yang sedang dibangun. Banyak kursi pantai yang disewakan, jadi kita bisa duduk-duduk bahkan tiduran di sini. Sore itu ombaknya nyaris tidak ada karena di bagian tengah ada semacam karang yang menghalangi. Tapi saya tetep bingung kenapa ada beberapa surfer di sini. Apa yang dicari? Kalo menurut saya sih, untuk yang mau berselancar mending ke Padang-padang atau Suluban

"Anak-anak Pantai"
Ada yang mau naik kano?
Sore itu di Geger, sebagian besar pengunjungnya adalah wisatawan mancanegara. Arghhhh... saya sebenarnya agak-agak gimana gitu ngajak anak-anak ke sini karena banyak pasangan turis yang, ya... gitu deh. 

Ada kafe kecil di sekitar pantai, tapi kami masih kenyang, jadi kami puas-puasin main dan santai saja. Tapi, pas saya sedang leyeh-leyeh dengan asyiknya, salah seorang ibu tukang pijat yang banyak di pantai itu mendekati saya menawarkan jasa. Herannya, dia tanya pake bahasa Inggris! Dan terakhir-terakhir dia tanya: Are you from India? Haaaaaaah.... ibu, apakah butuh bantuan ke rumah sakit untuk memeriksakan mata? :D


Akhirnya saya ngikut anak-anak nyemplung ke laut. Tadinya rencana mau nyari kerang, tapi ternyata jarang banget, jadi gak seru. Yang ada cuma rumput laut! Yup, di Geger Beach ini banyak petani rumput laut wira-wiri memakai rakit. Mereka membudidayakan rumput laut di sini. Sambil leyeh-leyeh, saya suka ngliatin kesibukan para petani rumput laut itu.
"Memanen" rumput laut...
Hasil panen hari ini
Ini loh hasilnya
Gak terasa, kami sudah 2 jam di Geger Beach! Whaaaaat? Kok rasanya baru bentar yak. Padahal tadinya saya bilang ke petugas hotel minta dijemput satu jam dari waktu berangkat. Untung Mas bilang 2 jam. :D Lah, 2 jam aja ternyata gak kerasa. Jalan ke sana-sini, lari ke sana-sini, ngeliatin para petani, ngeliatin para surfer, ngeliatin para turis, tidur... ternyata 2 jam terlewat begitu saja.
Pulang...
Pura (lagi)
Gak lama nunggu, shuttle dari hotel datang. Mobilnya jenis mobil bak yang sudah dimodif, jadi kita gak merasa bersalah buat naik meski badan penuh pasir laut. Cuman ya... hm, brasa kena "garuk" Satpol PP gituh. :p Sampai hotel langsung mandi, makan, dan sholat magrib. Dan karena besok sudah pulang, akhirnya kami keluar juga untuk nyari oleh-oleh.

Tentang Geger Beach
  • Terletak di kawasan Nusa Dua, tepatnya di belakang Hotel The Mulia
  • Tiket masuk: gratis
  • Untuk parkir saya tidak tahu karena kami menggunakan shuttle dari hotel
  • Disediakan kursi-kursi pantai, dengan tarif Rp 50.000 (dua kursi dan payung besar). Harga ini masih bisa ditawar loh ya.

Krisna, Pusat Oleh-oleh
Setelah bingung mau nyari oleh-oleh ke mana, kami akhirnya memutuskan ke Krisna. Yah, namanya orang Indonesia. Tiba-tiba keinget tetangga yang dititipin rumah, satpam yang juga dititipin rumah, tetangga yang dititipin hewan peliharaan, teman, dan seterusnya.... :D

Tujuan kami adalah Krisna di Sunset Road. Ugh... sebenarnya males karena harus lewat Simpang Siur yang muacet. Tapi setelah sampe, acara bermacet-macet terbayar dan tiba-tiba gak berasa tuh. Kami masuk dan masing-masing nyari di lorong yang disenangi. Mas di bagian makanan, sementara saya di pernak-pernik dan berbagai lulur Bali. :p
Salah satu outlet Krisna
Ish... pengunjungnya banyak yak
Sayangnya, kami kemaleman, jadi toko sudah mau tutup. *nangis di pojokan* Tapi tunggu dulu, dengan sisa-sisa tenaga, kami akhirnya menuju toko Krisna yang lain, yang buka 24 jam, tidak jauh dari bandara. Sampai sana, walah... rame bener. Mobil dan bus pariwisata berderet-deret. Menurut saya sih, masih enakan yang di Sunset Road. Yang di sekitar bandara terlalu rame. Setelah belanja-belanji, kami pun balik ke hotel, tepar beneran. Rasanya, besok gak akan ke mana-mana sampai nunggu waktu check out. 

Tentang Krisna, Pusat Oleh-oleh
  • Terdapat 4 outlet, yaitu 2 di Denpasar, 1 di Sunset Road, dan 1 di sekitar bandara (buka 24 jam)
  • Menjual berbagai macam makanan khas: pia bali, brem, pia susu, kacang bali, berbagai macam lulur Bali, body butter, tas, tempelan kulkas, pernak-pernik, sampai kaus. Tapi tetep, jangan berharap menemukan pia Legong di sini yak. :)
  • Harga: Menurut saya oke buat oleh-oleh. Tapi menurut saya yang di sekitar bandara lebih mahal dikit, mungkin karena buka 24 jam. Yang saya ingat cuma harga kalung, Rp 6.000-Rp 7.000-an. Pernak-pernik yang lain sekitar segitu juga. Kalau gak sempat ke Pasar Sukawati, boleh lah buat alternatif.