Wednesday, January 02, 2013

Bali (4): Tegalalang dan Tirta Empul

Selamat Tahun Baru! Ternyata saya masih punya utang tulisan liburan kemarin. Meski males-malesan, tapi tahun 2012 ternyata saya memecahkan rekor ngeblog, dengan 57 tulisan sepanjang tahun kemarin. Alhamdulillah ya, ternyata semangat ngeblog masih ada. :D Bagaimana tahun 2013 nanti? Wah, seharusnya lebih baik dong.

Kembali ke cerita liburan. Jadi, setelah dari Monkey Forest, akhirnya kami buru-buru menuju Tegalalang. Bukan, kami bukan mau belanja berbagai macam kerajinan. Tujuan utama kami adalah Ceking Tarrace. Sudah lama kami tahu bahwa Bali terkenal dengan sistem terasering untuk persawahannya. Saat mudik Lebaran kami juga beberapa kali menemui sistem terasering di persawahan yang kami lewati, tapi tidak sebesar di Bali.
Ceking Tarrace, Tegalalang
Kalau ada padinya bakal lebih bagus... :)
Sepanjang perjalanan menuju Ceking, di kanan-kiri jalan isinya toko-toko yang memajang kerajinan tradisional. Yup! Tegalalang terkenal sebagai pusat kerajinan tradisional di Bali. Jadi kalau mau nyari genta angin, beragam pernak-pernik dari kaca atau kayu, gak ada salahnya ke sini. Bagus-bagus loh.

Akhirnya kami sampai di Ceking Tarrace setelah bertanya beberapa kali ke penduduk. Sayangnya, kami datang bukan di saat yang tepat. Persawahan itu baru siap tanam sehabis panen, jadi tidak ada padi di persawahan. Meski begitu, sore itu banyak wisatawan berfoto dengan latar belakang sawah. Seperti di banyak tempat wisata di Bali, di sini pun kita cukup bayar parkir mobil doang. Karena persawahan ini bisa terlihat dari jalan, kita bisa langsung foto-foto di trotoar (trotoarnya sedang dibangun menjadi lebih lebar dan lebih bagus) atau bisa juga turun dan berjalan-jalan di pematang.

Hari makin sore, jadi kami langsung cabut, melanjutkan ke tujuan terakhir hari itu: Tirta Empul.

Tirta Empul
Tirta Empul terletak di Desa Tampaksiring, Gianyar, Bali. Kalau dari Tegalalang sih tidak begitu jauh sehingga tempat ini menjadi incaran kami, selain Istana Tampaksiring, salah satu istana Presiden RI. :) Di Tirta Empul, selain terdapat pura, juga ada pemandian. Air di pemandian ini diyakini sebagai air yang suci yang mempunyai beragam khasiat.
Pintu masuk ke Tirta Empul
Memanjatkan doa
Well, sebenarnya di sini tidak ada guide. Tapi para tukang foto di sekitar pura berbaik hati menemani kami dan menerangkan berbagai macam hal. Mereka sih hanya minta kita berfoto menggunakan jasa mereka (1 foto = Rp 20.000). Menurut saya sih layak lah karena masuk kawasan ini kami tidak membayar apa pun kecuali parkir doang.

Pura Tirta Empul ini dibangun selama Dinasti Warmadewa (abad ke-10 sampai ke-14). Sementara mata air di kawasan ini, menurut cerita, diciptakan oleh Batara Indra sebagai penawar racun yang dibuat Raja Mayadenawa. Karena raja ini bertabiat buruk, Batara Indra yang marah mengirimkan bala tentara untuk menghukumnya. Sayangnya, Raja Mayadenawa bisa meloloskan diri dan bersembunyi di hutan. Dalam pelariannya sebelum ditangkap, dia menciptakan mata air yang beracun sehingga bala tentara Batara Indra banyak yang tewas akibat minum dan mandi di tempat tersebut. Dan akhirnya, Batara Indra turun tangan menciptakan Tirta Empul (air suci) sebagai penawar.
Pancuran suci
Melebur diri
Sore itu, banyak orang sedang berdoa dan bersuci dengan mandi di Tirta Empul. Wuaaaah, saya terkagum-kagum dengan suasana yang ada di tempat itu. Hening, penuh doa, dan bau dupa. Beberapa orang yang sedang mandi meletakkan sesajian di setiap pancuran yang berderet di tempat pemandian itu. Geraknya pelan, penuh pemujaan. Semakin sore bukannya semakin sedikit orang, malah semakin banyak orang yang datang untuk berdoa di pura. Tua-muda, pria-wanita.

Di kolam pemandian ini memang ada 30 pancuran yang berderet dari timur ke barat, menghadap selatan. Setiap pancuran ini mempunyai nama, di antaranya: Pengelukatan, Pebersihan, Sudamala, dan Pancuran Cetik (racun). Herannya, saya kok tidak bingung arah di sini ya? Malah di Jakarta saya suka bingung mana timur, barat, dan seterusnya. :D "Guide" kami menawari saya untuk mandi di pemandian ini. Menurut dia sih, bisa menyucikan diri.  :p

Setelah foto-foto di area kolam, kami masuk ke area pura. Sebelum masuk ke area pura, sama seperti di pura lainnya, kami diwajibkan memakai kain yang dililitkan di pinggang atau biasanya orang-orang Bali memakai pakaian adat. Dan sama seperti pura-pura yang lain, orang yang sedang menstruasi dilarang masuk. Dan saat itu kebetulan saya sedang menstruasi. Huhuhuh. Jadi saya tidak masuk untuk melihat pura. Akhirnya duduk-duduk di tangga menunggu yang lain selesai melihat-lihat pura.
Berdoa di Pura Tirta Empul
Saat hendak keluar, kami dikasih tahu bahwa di sebelah kanan kami adalah Istana Tampaksiring. Istana ini hanya terlihat dari bagian belakangnya, jadi kami tidak bisa melihat dari depan. Menurut keterangan "guide" kami sih, sejak ada peristiwa peledakan bom, Istana Tampaksiring diperketat, jadi tidak semua wisatawan diperbolehkan masuk. Atau kalau mau, jauh-jauh hari minta izin ke Jakarta. **eh, susah amat yak** 

Saat keluar dari kawasan pura dan pemandian, kami melewati para penjual yang sedang menutup kios mereka. Saat itu mereka menawari kami berbagai macam barang dengan harga diskon karena sudah gelap. Misalnya: sepasang patung kayu Rama Shinta dijual Rp 20.000. Tapi ya, karena sudah magrib, dan di sekitar kawasan itu tidak ada tempat buat sholat, kami ngacir saja. :D Hari itu kami puas. Meski memulai petualangan setelah dzuhur, kami masih bisa ke tiga tempat. Tapi malamnya kami tepar....

Tentang Tirta Empul:
  • Saat mandi (melebur) tidak diperbolehkan memakai sabun, sampo, pasta gigi
  • Memakai pakaian adat
  • Untuk para wanita, saat melebur harus memakai baju
  • Tidak boleh mencuci segala jenis pakaian
  • Peraturan di Pura:
    • Berpakaian adat atau memakai selendang
    • Tidak diperbolehkan memakai celana pendek
    • Bagi wanita yang sedang haid  dilarang masuk
    • Tidak diperbolehkan menaiki bangunan suci

Sumber: Parisada Hindu, babadbali

8 comments:

Lidya - Mama Cal-Vin said...

kalau tidak bawa pakaian adat berarti harus sewa ya mbak

retma-haripahargio said...

Enggak. Kalau orang luar sih biasanya dipinjemin. Sama kayak di Pura Uluwatu, kalo yang pakaiannya tidak tertutup dipinjemin kain, kalo yang sudah tertutup cukup pakai selendang.

Della said...

Ngliat Bali jadi inget Keenan di Perahu Kertas, hehehe..

myra anastasia said...

kl ke Bali itu keliatannya asik ya.. budayanya masih kental.. tp cari masjidnya suka susah :D

Elsa said...

terasiring nya Bali emang keren yaa
tapi aku kok ada kekhawatiran... kalo sebentar lagi terasiringnya akan berkurang drastis

kan bali dimana mana dibangun hotel, vila bla bla bla....

D I J A said...

Waaah, asyiknya jalan jalan ke Bali
Dija belom pernah nih

Pakde Cholik said...

Wah asyik benera acaranya. Segala keadaaan dan pemandangan dijelajah.
Komplit reportse perjalannya dan didukung image yang bagus.

Saya beberapa kali ke Bali tapi tak blusukan he he he.

Yuk ikuti GA saya jeng

Salam hangat dari Surabaya

Anggie...mamAthar said...

Ceking Tarrace itu unik juga ya... menawarkan wisata yg notabene emg banyak di Indonesia... Untung di Jawa masih banyak model sawah yg macam begini...