Friday, February 08, 2013

Masjid Al Alam & Rumah Si Pitung

Setelah nggowes sebegitu jauh, yang tadinya pengen ngomel atau berkeluh kesah, tiba-tiba perasaan yang ada cuma: puas. Bangga sama diri sendiri! Apalagi begitu melihat pantai dan kapal-kapal. Terus, begitu meliat sekeliling, di tempat itu, pagi itu, saya cewek sendiri dong.... *kibas jilbab*. Enggak termasuk ibu-ibu penjual kopi loh yak. :))
Mau ke mana dulu kita???
Saat rombongan memutuskan untuk ke rumah dan masjid Si Pitung, saya sempat mengernyit... heh? Si Pitung yang itu? Yeaaaaah, karena saya lahir dan besar di kampung di Jawa Tengah sono, yang saya tahu soal Si Pitung cuma dari komik dan gambar berseri buat mainan itu. "Robin Hood dari Betawi", begitu istilahnya. Zaman dulu sih, saya tergagap-gagap sama apa yang diomongin karena pake bahasa Betawi. Penggambaran Si Pitung di gambar dan komik-komik pun jauh dari keren. Orang Betawi, pake baju item, bawa sarung, pake kopiah, dan bercambang!!! Di saat superhero lain bersih klimis dan ganteng, dia digambarin pake cambang (dan kadang plus kumis). Gimana saya gak langsung melipir, males baca lagi??!!!! *salahkan yang nggambar komik* :p

Masjid Al Alam

Jadi ya, setelah melewati jalanan sempit di perkampungan nelayan, dengan sebentar-sebentar dag-dig-dug takut nyemplung ke rawa, kami sampai ke Masjid Al Alam. Di situ sudah ada satu rombongan pesepeda yang sedang istirahat. Bentuk masjid ini, mengingat terletak di pesisir dan di daerah Betawi, menurut saya agak janggal karena mengingatkan saya ke masjid-masjid di daerah Jawa Tengah. Pun pendopo yang ada di situ.

Masjid Al Alam, Marunda
Tentang masjid ini gak ada catatan pasti. Kalo datang ke masjid ini dan bertanya ke penjaganya, yang dikatakan cuma: "Wah, wallahualam. Pokoknya sejak zaman wali, masjid ini sudah ada. Gak ada yang tahu pasti kapan dibangun." 

Berdasarkan dongeng sih, masjid ini dibangun dalam waktu semalam!!! Jadi mirip-mirip kayak Candi Prambanan atau Istana Aladdin ya? :D Tapi zaman dulu, zaman wali, mungkin saja kan? Sama seperti cerita-cerita di mana seorang wali setiap hari bisa sholat di Baitullah. Karena itu, masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Al Aulia, "masjid yang dibangun oleh para wali Allah" (ehm... kalo ini bisa menjelaskan sih kenapa bentuknya mirip masjid-masjid di daerah Jawa Tengah).

Sumber lain menyebutkan bahwa masjid ini dibangun oleh Fatahillah, pendiri Jayakarta, yang sekarang dikenal sebagai Jakarta. Setelah berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa sekitar tahun 1527, Fatahillah dan pasukannya membangun masjid ini dalam tempo semalam. Dan seratus tahun kemudian, sekitar tahun 1628, pasukan Mataram menggunakan masjid ini sebagai pangkalan dan untuk mengatur strategi sebelum menyerang VOC. Emak-emak satu ini cukup ter "wow", "wah", dan melongo begitu tahu fakta-fakta itu. Niatnya: kalo ke sini lagi saya mau sholat di masjid ini. ^_^

Sumur 3 rasa
Masjid ini juga terkenal dengan nama Masjid Si Pitung. Cerita yang beredar, selama masa perjuangan dan masa Si Pitung menjadi buronan Belanda, dia cukup sering singgah di Masjid Al Alam.

Di samping masjid ini juga terdapat sumur yang banyak dikunjungi orang. Sumur Tiga Rasa, begitu namanya karena rasa air di sumur ada tiga macam: asin, payau, dan tawar. Konon sih, bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat enteng jodoh. Wallahualam ya....

Meski sudah ratusan tahun, masjid ini masih terlihat bagus. Ukurannya kecil, mirip mushala, tapi nilai sejarah masjid ini euuuuh... tak ternilai. Sayangnya, di sekitar masjid keterangan dan penjelasan soal masjid enggak ada.

Rumah Si Pitung

Setelah foto-foto dan melihat-lihat (sayangnya gak ke dalam masjid), kami memutuskan meneruskan perjalanan ke Rumah Si Pitung yang terletak sekitar 300 meter dari Masjid Al Alam. Masih melewati gang-gang sempit di perkampungan penduduk, melewati pinggiran muara, sempat nyasar sebentar, akhirnya terlihat rumah berwarna coklat di kejauhan yang berdiri megah: Rumah Si Pitung.
Mari ke Rumah Si Pitung
Rumah Si Pitung
Rumah Si Pitung ini berbentuk rumah panggung, khas rumah-rumah di pesisir/rawa. Mungkin pada zaman dulu semua rumah di seputaran Marunda berbentuk panggung. Namanya memang Rumah Si Pitung, tapi berdasarkan catatan yang ada di dinding rumah ini, rumah ini bukan milik Pitung, si Jagoan Betawi, tapi milik seorang saudagar kaya, Haji Syaifudin. Cerita versi pertama menyebutkan bahwa Pitung merampok Haji Syaifudin. Sementara cerita versi kedua, Haji Syaifudin adalah teman dekat Si Pitung dan sering menyembunyikan Si Pitung di rumahnya.

Rumah ini terdiri dari beranda depan dan belakang, dan seperti layaknya rumah, ada ruang tamu sampai dapur. Semua perlengkapan yang menyertai setiap ruang merupakan benda-benda yang biasa digunakan zaman dulu. Toples-toples tebal di meja tamu, atau lampu-lampu teplok, juga perlengkapan memasak yang zaman waktu saya kecil masih bisa ditemui di kampung-kampung. :) Semua bagian rumah terbuat dari kayu. Untuk lantai, beberapa kayunya berbeda warna, tanda sudah diganti di sana-sini.
Pintu masuk. Maapken kakak saya yang pada nampang di situ... :p
Pelataran
Meski ada yang menyebut Si Pitung adalah "Robin Hood dari Betawi", sebenarnya julukan itu gak tepat banget sih. Catatan di dinding rumah itu menyebutkan bahwa benar Si Pitung merampok orang-orang kaya yang bekerja sama dengan Belanda. Tapi hasil merampok tidak langsung dia bagi-bagikan ke para penduduk miskin seperti Robin Hood. Si Pitung menyerahkan hasil rampokan untuk perjuangan. Karena itu juga dia menjadi buruan Belanda.

Si Pitung, yang berasal dari Rawa Belong, diketahui sering datang ke rumah ini dari daerah Pondok Kopi. Karena itulah, akhirnya Si Pitung tertangkap Belanda saat melalui rute yang biasa dia lewati saat menuju rumah ini.
Ruang tamu
Di sepanjang lorong ini kita bisa membaca kisah Si Pitung di dinding
Rumah Si Pitung ini baru saja selesai direnovasi dengan biaya Rp 2,1 miliar selama dua bulan. Dan baru Januari 2013 obyek wisata ini dibuka kembali. Makanya kemaren masih kinclong. Dan yang penting... dilengkapi wi-fi oi! Ada beberapa bangunan di sekitar rumah utama yang rencananya untuk perpustakaan dan lain-lain. Wah, saya membayangkan nantinya dijual suvenir dan buku/komik Si Pitung di sini! *emak-emak banget*
Lukisan di ruang makan, "Pengantin Musiman"
Tempat bermain
Kamar
Tentang Masjid Al Alam dan Rumah Si Pitung:
  • Kedua tempat itu merupakan dua dari 12 obyek wisata pesisir di Jakarta Utara. Terletak di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara
  • Tiket masuk: Free. Sesuatu banget untuk ukuran Jakarta. Bahkan saya cuma modal dengkul (buat nggowes) dan sebotol minuman. :p
  • Di Masjid Al Alam, selain terdapat sumur 3 rasa, juga terdapat pemakaman tua. (enggak sempat nengok)
  • Rumah Si Pitung: keterangan tentang siapa Si Pitung dan sejarahnya dari kecil hingga tewas di tangan Belanda bisa dibaca di sepanjang dinding rumah. Mulailah dari bagian depan dan berturut-turut hingga bagian belakang rumah (area meja makan).

10 comments:

deva (sabri familie) said...

hwaahh hebat mbak retma gowesnya ampe ke rumah pitung...*penasyaran, abis sepedaan besoknya kaki brasa ditarik2 / kram tak?*

keluarga Qudsy said...

aku juga lahir dan besar di Jawa *inpoh gak penting ya* hihihi

bagus ya rumah si pitung, ada sisi kebudayaan dan pembelajarannya,

Della said...

Gratis tapi jauh ah.. *emak pemalas*
Kayaknya versi cerita kedua yang lebih masuk akal, ya. Kalo pernah dirampok kok malah dijadiin rumah Pitung?
Btw itu pulangnya nggak tepar kan, Ma? :D

Lidya - Mama Cal-Vin said...

sumurnya pendek banget ya mbak, ngeri kalau ada anak-anak

ei said...

hahaha sepedahan? kemaren minggu nyobain, baru kuat 10 km gw :D

siti nurjanah said...

Tempatnya asik ya,,,
bisa buat acara anak2 sekolahan, agar mereka tahu lebih banyak kebudayaan betawi.

Ide bagus, jualan komik di rumah si Pitung
^_^

Elsa said...

rumah si pitung bagus sekali yaa...
terawat dengan indahnya

kalo ke jakarta lagi, pingin deh mampir ke rumah si pitung

keke naima said...

sepedaan sekalian jalan2 ya mbak

Ely Meyer said...

Wow .. foto fotonya keren mbak

hobi gowes juga ya mbak, aku dan suami bisa dikatakan sepedaan tiap hari keliling desa :)

Rahmi Sukma said...

Masiiiih cakep aja ya blog ini.... Bahkan makin cakeeeep. Aku nulis blog kayak orang dikejar kejar aja ret. Kadang cuma bisa upload fotonya supaya tak tercecer.... Nikki kelas berapa?