Saturday, March 02, 2013

Bandung: Kopi, Komik, dan Belanja

Senin lalu saya libur. Gak usah iri, wong Sabtu-Minggu saya gak libur ^_^. Bosen dengan kesumpekan Jakarta, akhirnya saya kabur ke Bandung bareng dua teman kantor. 

Yay! Ini bener-bener hari khusus perempuan. Malam sebelumnya saya nginep bareng-bareng di rumah teman. Rencananya, pagi-pagi kami bisa langsung jalan ke Bandung. Tapi yah, namanya nginep bareng sama teman, meski dah berniat tidur cepet karena rencana mau jalan pagi, teteb ajah yang ada ngobrol meluluk. :D
The Three Musketeers :)
Sewaktu berencana kabur ke Bandung, kami mengajukan destinasi pilihan masing-masing. Kalau dua teman saya tujuannya ke FO dan tempat makan, saya milih tempat lain. Pilihan saya adalah Pabrik Kopi Aroma dan Toko Buku Maranatha. Ish... keliatan banget kayak gimana saya sebenernya yak? :D Jadi ya, sekitar jam tujuh pagi, kami bertiga mulai berhadapan dengan kemacetan Jakarta. Karena hari Senin, kami memutuskan lewat JORR, daripada harus menghadapi keruwetan di Tol Dalam Kota.

Kami sempat mampir sebentar ke Rest Area untuk sarapan. Karena ada KFC 24 jam, akhirnya kami melipir ke situ. Tapi sekarang KFC kebangetan banget. Gak boleh pesan apa pun kecuali yang sudah paket. Baeklah, laen kali, hindari sajah itu KFC daripada bete.

Pabrik Kopi Aroma
Sempat menemui kemacetan, akhirnya kami sampai di Bandung sekitar pukul 10.00. Kepikir juga, ini orang-orang emangnya pada gak kerja ya? Kok macet2an di Bandung? *Padahal sendirinya juga begituuuuu.*
 
Hari menjelang siang, maka kami langsung menuju tujuan pertama: Pabrik Kopi Aroma di Jalan Banceuy No 51, Bandung. Iya, kami nyarinya sambil ngurutin nomer bangunan di sepanjang jalan. Dan setelah sempat salah jalan, tanya ke tukang parkir, akhirnya kami sampai juga di pabrik kopi itu. Kami langsung ikut antre bersama orang-orang yang sudah berderet di depan pintu toko (di bagian depan pabrik ada tokonya).

Paberik Kopi AROMA
Toples berisi biji kopi
Saya pencinta kopi. Dan sudah lama saya pengen ke Pabrik Kopi Aroma yang sudah berdiri sejak tahun 1930 itu. Sebenernya pengen banget keliling pabrik ini, bisa masuk ke dalam. Tapi yah, karena saya ke Bandung dengan berbagai macam tujuan, jadilah saya cukup berlega hati dengan ikut antre dan melihat seperti apa pabrik kopi itu.

Kalau mau membeli kopi di Pabrik Kopi Aroma, kita langsung antre saja di depan pintu toko. Dari luar sudah kelihatan para pegawai yang sedang menimbang dan mengemas kopi. Nanti kita akan ditanya mau pesan kopi apa: Robusta atau Arabika? Karena saya memilih aman, saya memesan campuran Robusta dan Arabika. Ini standar banget, seperti kopi-kopi kemasan laen. Satu kemasan isi 250 gram seharga Rp 15.000. :) Harganya tergantung jenis kopi ya. Dan maksimum pembelian 10 kilogram. Katanya sih, biar semua orang kebagian. Bisa dimengerti karena setiap saat orang-orang selalu mengantre.
Satu Sudut Pabrik Kopi Aroma
Mau menggiling kopi sendiri?
Pengemasan
Antrean pembeli
Toko sekaligus Pabrik Kopi Aroma itu semuanya bernuansa "tua". Dari bangunan, tentu saja, juga peralatan giling kopi yang dipajang di toko. Kemasannya pun memakai kertas, baru luarnya dilapis plastik tipis. Sambil nunggu antrean, kita bisa foto-foto lah di situ. Yang sabar aja antrenya, nanti juga kebagian. ^_^ 

Warung Kopi Purnama
Menyadari bahwa temannya ini suka kopi, dan saat mencari Pabrik Kopi Aroma kami sempat melihat satu warung kopi, teman saya mengajak menyambangi warung tersebut. Akhirnya kami jalan kaki menuju Warung Kopi Purnama di Jalan Alkateri 22. Serunya lagi, warung kopi ini terletak di bangunan yang sudah ada sejak tahun 1920-an! Jadi, warung kopi ini bisa dibilang adalah warung kopi tertua di Bandung.
Warung Kopi Purnama
Kopi panas
Es kopi
Sebenarnya, saat pertama kali berdiri, Warung Kopi Purnama ini bernama Ching Sang Shu, yang berarti "Silakan Mencoba". Pada tahun 1960-an, nama warung ini diganti karena saat itu pemerintah melarang penggunaan nama asing. Lokasi awal warung ini bukan di Bandung, tetapi di Medan, Sumatera Utara. 

Sewaktu kami memasuki warung, saat itu sudah ada beberapa pengunjung. Selain menikmati kopi, mereka juga memesan berbagai macam makanan. Sebenarnya saya pengen mencoba roti bakar, tapi karena sebelumnya sudah sarapan, akhirnya saya memesan kopi panas. Sementara teman saya memesan es kopi dan lemon tea.


Ternyata kopi yang saya dapat itu mirip kopi espresso. Pekat, agak pahit, bahkan saya suka bilang agak asin kalau saya minum espresso. Iya, saya jauh lebih doyan kopi model begini daripada kopi-kopi yang banyak dijual di gerai-gerai atau di mal. Dan es kopi yang teman saya pesan itu juga "kopi banget". Katanya sih, kopi yang dipakai juga kopi lokal yang diproduksi Pabrik Kopi Aroma.

Ehm, saya agak bingung dengan pajangan di dinding warung ini. Hampir semuanya tentang The Beatles dan John Lennon. Saya kan cuma kenal beberapa lagu mereka (eh, apa hubungannya?). Tapi mungkin karena banyak pengunjung yang juga bernostalgia kali ya. Sebenarnya nongkrong di sini enak. Suasananya pas banget buat nongkrong. Tapi sayangnya, saya harus pindah ke tempat laen sebelum hari makin siang.

Toko Buku Maranatha
Ini juga destinasi pilihan saya. Terletak di Jalan Ciateul/Inggit Garnasih, toko buku ini agak susah dicari. Meski mata sudah jereng, saya gak menyadari toko buku itu sudah di depan mata kalau enggak teman saya tereak bahwa kami sudah sampai.

Alasan saya pengen ke sini adalah: toko buku ini bukan sembarang toko buku. Di sini dijual berbagai macam komik wayang, sebagian besar karya RA Kosasih. Jujurly, dulu saya suka sekali baca karya RA Kosasih yang biasa dijadikan sisipan Majalah Anak-anak Ananda. Yeah, yang suka baca majalah Ananda pasti tahu kalau sisipan di majalah ini sebagian besar adalah komik wayang. Biasanya dari situ saya kenal berbagai macam legenda di Tanah Air.
Toko Buku Maranatha
Surga! :)
Kemarin, waktu ke toko buku ini, saya cukup takjub melihat jejeran komik di depan saya: Gatotkaca, Sunan Kalijaga, Mahabarata, Lutung Kasarung, dan seterusnya. Tapi yah, saya tidak menemukan komik Jan Mintaraga, salah satu yang karyanya selalu saya tunggu di majalah Ananda. :D

Saat memilih komik, saya cukup jiper juga dengan dua orang yang sedang ngobrol seru dengan Bu Erlina, pemilik Toko Maranatha. Mendengar obrolan mereka sih, kayaknya mereka kolektor komik wayang. Mereka hafal cerita-cerita wayang dan buku yang sudah mereka dibeli, juga cerita perburuan mereka mendapatkan buku. Waks...!

Makan dan Belanja
Setelah puas memilih dan membeli komik, kami cabut, nyari tempat makan siang karena sudah kelaparan. Akhirnya kami memutuskan makan di Nasi Bancakan di Jalan Trunojoyo. Ini pilihan teman-teman saya, dan saya juga suka! Semuanya keliatan jadul. Dari piringnya, gelasnya, juga makanannya. Euuuuuuh..... Dipikir-pikir, kenapa kami ini melipirnya ke tempat-tempat jadul seh?

Di Nasi Bancakan, konsepnya unik. Kalau tempat laen mengusung konsep dapur terbuka, di Nasi Bancakan juga. Bedanya, dapurnya bener-bener dapur jaman dulu yang masih pake tungku berjejer-jejer dengan bahan bakar kayu. Kita bisa ambil makanan sendiri, prasmanan gitu, tapi menunya juga Indonesia banget. Saya? tentu saja ngambil yang jarang-jarang saya makan, seperti: buntil, sayur daun genjer campur oncom, dan seterusnya.
Rumah Mode
Satu sudut Rumah Mode
Tempat Makan di Rumah Mode
Kita bisa ambil teh hangat sepuasnya di pojokan di mana cangkir-cangkir dari seng berjejer. Ini benar-benar teh hangat yang menyegarkan, bukan yang malu-malu antara hangat dan dingin seperti di beberapa restoran. Tempatnya juga enak deh, buat keluarga. Dan toiletnya pun bersih, kering, dan ada tisu toiletnya! Jarang-jarang tempat makan menyediakan toilet begini.

Selesai makan kami belanja, beli oleh-oleh di Kartika Sari, dan terakhir terdampar di Rumah Mode. Ini pun destinasi pilihan teman saya. Pokoknya, kami di sini sampe lama. Nyampe pas adzan ashar dan pulang sehabis magrib. :p Kami makan malam, sholat, dan belanja di sini.

Sudah keliling-keliling di Rumah Mode, sampe lama, saya belon dapat apa pun. Hadoooh, kayaknya selera fashion saya perlu diperbarui. Yang laen sudah mondar-mandir dengan banyak tentengan, tas belanja saya masih kosong. Ugh!
Masih di Rumah Mode....
Yay! Akhirnya dapat belanjaan juga
Yang sudah selesai belanja
Setelah penuh perjuangan (belanja kok perjuangan), akhirnya saya dapat tentengan, termasuk buat anak-anak dan suami. Horeeee. Setelah itu kami makan malam. Sudah males milih-milih makanan, akhirnya kami semua pesan mi yamin.  Ehm, agak aneh juga makan di sini karena harga makanan lebih murah dibandingkan harga minuman. Baeklah, laen kali saya bawa minuman sendiri deh. ;)

Dan akhirnya kami pulang saat hari sudah gelap. Satu hari yang menyenangkan di Bandung bersama teman-teman. Sharing, chatting, giggling, shopping. Jadi, kapan kita jalan-jalan lagi? #eh. 

 Makasih Nan, buat foto2nya...  ;)

11 comments:

keluarga Qudsy said...

wuihhh...serunya ladies day nya.
bener bener me time ya Ret :)

fitri anita said...

wah asik bgt..seru ya...asli, iri deh...

Lidya - Mama Cal-Vin said...

aku tuh suka banget wangi kopi bubuk gitu mbak, tapi gak suka kalau minum kopinya

ei said...

hwehehehe ... runaway emang menyenangkan dan perlu ya :D

nanik said...

seruuuu....kapan yuks bagian keduanya mbak?

Della said...

Kedai kopi dan buku, emang klop banget deh, Ma :)

masrafa.com said...

yak sudah terbayarkan runaway moms versi elo yaaa

kita bikin lagi bareng ei ma tw nyook.

ehhh mo crita apa ke gw jadinya?

udah standby depan YM nih

retma-haripahargio said...

@Lidya: Begini, Lid. Mendingan kamu beli kopi, ambil dikit buat cium2, habis itu lemparin ke aku deh. Hahahaa. :D

@Ei: Yoiiiih. Gw belon pernah ama elo. Hayok kapan. Naik kereta yuk? :p

@Nanik: Ayoooo. Siap aku. ;)

retma-haripahargio said...

@Della: Bener banget, Del. :D

@De: Itu yang mom gw doang. Laennya bukan. Kqkqkq. Hayok, naek kereta ke mana yuk. Dah lama banget gw gak pernah naek kereta. #eh

keke naima said...

kopi aroma itu emang enak. sy kalo ke sana kayaknya beta deh ngantri juga, wanginya arum :D

Ninda said...

wooowww kayaknya banyak yang saya lewatkan pas main di bandung bertahun2 lalu...
-___-
pengiin kesana lagii