Monday, July 29, 2013

Cookies

Bahan buat postingan? Ada, tapi masih males nulis. Yang punya blog lagi seneng bergaul sama mikser, oven, tepung, dan seterusnya. Iya, kalau Lebaran saya memang selalu bikin kue sendiri. Dan ini salah satu dan salah dua hasilnya:

Cookies itu dikemas karena buat anak teman kantor yang minta cookies hias buatan saya entah dari kapan dan baru kali ini saya bisa bikin lagi. ^_^

Well, masih ada beberapa list kue yang mau dibikin lagi. Semangat!!! Maaf tidak terima pesanan. Kalau pengen, dateng ke rumah saya saja yaaaaa.... ;)

Tuesday, July 16, 2013

Kereta Commuter Line

Sejak lama saya ingin menggunakan kereta rel listrik karena sering bosen dengan kemacetan Jakarta. Catet, saya bukan bilang Bekasi, tapi Jakarta. Itu artinya, kemacetan yang setiap hari mendera dan harus saya lalui itu dimulai dari gerbang tol dalam kota di Halim ataupun keluaran tol di Halim.

Setelah pemberlakuan tarif progresif untuk kereta Commuter Line awal Juli lalu, saya berpikir bahwa ini saatnya mencoba naik kereta ke kantor. Dan kemudian, dimulailah petualangan saya naik kereta commuter line, menyusuri setiap stasiun, dan melalui banyak pemandangan baru sepanjang perjalanan.
Stasiun Manggarai
Beberapa perjalanan pertama, saya masih mengira-ngira jam berapa yang cocok dengan jam kerja saya. Itu artinya, saya harus mencari kereta yang sampe di Palmerah sebelum jam 4 sore. Dimulailah uji coba, mencocokkan jadwal perjalanan kereta. Asal tahu, jadwal kereta yang bolak-balik saya lihat di website KRL tidak mengakomodasi apa yang saya perlukan. Karena setelah dari Manggarai, saya tidak menemukan lagi jadwal kereta yang cocok. :)

Hari-hari ini saya familiar dengan tiket elektronik, gerbong wanita, hilir-mudik orang di stasiun, berlari mengejar kereta di jalur sebelah, atau menunggu kereta berikutnya karena kereta sebelumnya sudah penuh ataupun ketinggalan kereta.
Kereta khusus wanita
Pertama kali naik kereta Commuter Line, sebelah saya adalah ibu-ibu yang sedang hamil. Jujur, kalau melihat penampilan, dia seperti pemulung atau pengemis di jalanan. Bukan saya mendeskreditkan, tapi kenyataannya memang begitu. Saya tidak mempermasalahkan penampilan, tapi saya mempermasalahkan minyak angin yang terus-terusan ibu itu pake. :(

Well, hari pertama saya naik CL itu, saya ngerasa nyaman-nyaman saja karena banyak "temennya". Maksudnya, banyak orang yang hari itu baru pertama kali naek CL. Dan kebetulan ada mbak-mbak yang bisa saya ikutin karena tujuannya mirip, hanya beda satu stasiun doang. ;)  
Kartu single trip

Kartu multitrip
Hari kedua naik kereta CL, saya takjub dengan serombongan mas-mas yang duduk lesehan di dekat pintu. Ada yang jongkok, ngobrol, mainan handphone, dengan ringtone yang tak terduga: lagu India! ^_^


Hari berikutnya, saat jam sepi, saya naik kereta dan terbengong-bengong karena gerbong saat itu dalam kondisi "banjir". Ternyata mas-mas petugasnya masih ngepel dan bersih-bersih. 

CL ternyata tidak seperti bayangan saya sebelumnya. Pada jam saya berangkat, karena kondisi kereta masih manusiawi, saya bener-bener bisa menikmati naik kereta. AC yang dingin, tempat duduk yang seringnya kosong, petugas yang hilir mudik dan setiap saat bisa ditanya, plus tukang bersih-bersih yang sigap membersihkan sampah. Yang belum bisa diterima adalah dari sisi penumpang: kadang masih ada yang makan dan berceceran, atau yang noraknya minta ampun karena pas mau turun berasa kayak pejabat pake acara tereak-tereak ke penumpang lain.

Dan hari-hari berikutnya lebih banyak cerita, sama seperti yang sering saya temui di jalanan kalau naik bus. Tapi yang bikin saya bengong adalah saat di depan loket. Begitu menyebutkan tujuan, Bekasi-Palmerah, petugasnya bilang: Rp 3.000. Woaaaaaah, sesuatu! Kata teman saya yang syirik karena gak bisa naek kereta : "Elo bisa cepet kaya dong, Ret." Jiahahaha. Gak segitunya kali, mas.... ;) 

Tentang Commuter Line
  1. Sejak 1 Juli 2013 berlaku tarif progresif. Untuk 5 stasiun pertama Rp 2.000 dan per 3 stasiun berikutnya Rp 500. Murah? Emang... ;) 
  2. Cara naik kereta Commuter Line:
  • Datanglah ke loket khusus commuter line (ada logonya) 
  • Sebutkan stasiun tujuan, biar nanti dihitung berapa biayanya. 
  • Setelah itu ambil kartu single trip yang keluar dari alat. Tidak ada salahnya minta struk pembelian. Seorang teman pernah membeli tiket, menyebutkan stasiun tujuan, tapi begitu sampai stasiun tujuan tidak bisa keluar karena ternyata data yang di-input di kartu kurang satu stasiun.
  • Saat sampai di gerbang masuk, tapping kartu di gerbang masuk. Tunggu sampai lampu hijau menyala. Lalu dorong tripod gate.
  • Saat sampai di tujuan: tapping out, tunggu sampai lampu hijau menyala, lalu dorong tripod gate (untuk kartu multitrip). Untuk kartu single trip, masukkan kartu di gerbang.
    Tips:
  • Untuk yang masih bingung mau ganti kereta di stasiun mana, di setiap pintu kereta biasanya ada petanya. Bisa dilihat di situ loh, kita harus pindah dan ganti kereta di stasiun mana.
  • Kalau tiba-tiba ada pengumuman yang aneh, semacam: "Ginza station. Shimaru door ni go-chui kudasai", setelah Stasiun Jatinegara, misalnya, gak usah bingung. Itu bukan berarti kita tiba-tiba sampe di Jepang, tapi sepertinya petugasnya lupa mematikan pengumuman. :p *pengalaman pribadi*
  • Gak usah malu-malu tanya ke petugas yang wira-wiri.
  • Update: Untuk single trip sudah tidak ada, diganti Tiket Harian Berjaminan (THB). Tiket ini sama dengan single trip, hanya saja kita memberikan uang sejumlah Rp 5.000 sebagai jaminan. Kalau kita mau keluar di stasiun tujuan, uang jaminan bisa diambil di loket. Kalau kita masih mau balik atau masih mau wira-wiri, uang jaminan bisa diambil maksimal 7 hari.
  • PENTING: Kalau terjadi sesuatu pada kereta, lihat tanda-tanda di sekitar. Apakah ada palu untuk memecahkan kaca atau harus menurunkan jendela (tarik jendela ke bawah). Jangan sekali-kali menganggap sirene itu mainan sehingga membunyikan seenaknya cuma karena penasaran.
  • Untuk aplikasi yang membantu pengguna KRL sila lihat di sini

Ikut Ngantor...

Saya lagi kena virus males ngeblog. Ish... boro-boro blogwalking. Postingan di blog ini ajah minim dalam bulan-bulan ini. Awalnya karena kerjaan yang lagi banyak. Terus berlanjut ke si mbak pulang kampung. Dan kemudian berendeng ini dan itu. Efeknya? Cuti gak habis pun sudah bagus. Hahaha.

Beberapa waktu lalu saya sempat tereak-tereak di twitter, minta tolong para tetangga kompleks kali-kali ada yang tahu tempat penitipan anak yang aman, nyaman, dan friendly. Setelah googling, setelah telpon sana-sini, ternyata tetep gak nemu yang sesuai harapan. *dilema ibu pekerja*
Yang lagi nunggu bus...
Akhirnya hari itu, saya membawa anak-anak ke kantor. Beruntung, saya ngantor sore. Jadi anak-anak tidak perlu dari pagi ngikut ke kantor. Skenarionya adalah: Mas berangkat pagi bawa mobil, siang anak-anak berangkat bareng saya naik bus, dan sore pulang bareng Mas.

Begitulah. Sehabis zuhur saya mulai menyiapkan anak-anak untuk bertualang, ikut emaknya ngantor, menembus jalanan Bekasi-Jakarta. Sepanjang jalan mereka seneng banget. Bahkan mereka bilang: "Mama, besok ikut ke kantor lagi?" Ealah.... :)

Di angkot mereka bercanda. Saat naik bus, mulai terjadi kehebohan. Saat ada orang jualan kacang dan permen yang dibagi-bagi ke penumpang, mereka tanya: "Mama, itu dikasih atau harus beli?" Saat ada pengamen mereka bengong ngeliatin. Dan saat harus ganti bus di Semanggi, ikut bus jurusan Depok-Grogol, komentar mereka adalah: "Busnya sudah jelek banget. Mama setiap hari naik bus ini, beneran?" Dan komentar mereka saat harus melintas dan nyebrang di lampu merah Slipi: "Bauuuu...." ^_^

Yeah, itulah kehidupan, Nak. *sok wise*
Bagi mereka, saat itu adalah petualangan baru. Baru kali itu mereka ikut ke kantor naik kendaraan umum. Dan saat sampe di kantor, alhamdulillah, satu "petualangan" terlewati. :)

Karena saya sampai di kantor jam 4 sore, jadi mereka di kantor gak lama. Jam 5 sore mereka sudah pulang ikut papanya. Fiuh.