Tuesday, December 30, 2014

Lost In Manado

Kamis sore
H-1 saya pergi ke Ternate. Bukan untuk jalan-jalan atau liburan. Tapi karena tugas kantor. Rencananya, saya dan dua teman kantor yang semuanya perempuan, akan memberikan pelatihan untuk guru-guru anggota PGRI di Ternate. Satu teman saya dari segi jurnalistik dan saya untuk bahasa. Sementara satu yang lain dari bagian marketing.

Sore itu sebenarnya saya masih cuti. Tapi karena untuk pengurusan tiket pesawat dan barang-barang keperluan pelatihan, terpaksa saya ke kantor. Bawaan kami mirip orang mau pindah rumah. Maklum, belum ada kantor perwakilan di Ternate sehingga barang-barang harus dibawa dari Jakarta.
Pesawat yang akhirnya tidak pernah sampai sesuai tujuan
Bayangkan kami, 3 perempuan, harus membawa barang-barang untuk 120 peserta pelatihan (guru SMP dan SMA) serta perlengkapan lain. :D Demi efisiensi akhirnya barang-barang dibagi tiga untuk kami bawa masing-masing. Beratnya? Lumayan! Kelebihan bagasi? Hm, sekian juta. :p

Pesawat yang kami tumpangi rencananya berangkat pukul 4 pagi. Jadi kami janjian sekitar pukul 2 pagi sudah berada di bandara karena masih harus mengurus barang-barang sebelum check in.

Pukul 00 sekian. Pesan WA dari seorang teman masuk. Gunung Gamalama di Ternate mengalami erupsi. Oke, berusaha tenang. Saya kemudian memantau semua berita yang ada. Keputusan setelah berunding dengan teman-teman, kami tetap berangkat ke bandara.

Akhirnya kami bertemu di bandara. Saat check in kami bertanya kepada petugas apakah pesawat yang kami tumpangi akan tetap terbang dengan kondisi Gunung Gamalama seperti sekarang? Dan jawaban yang kami terima: tetap terbang. Kondisi masih memungkinkan.
Pagi itu, saat yang sama Gamalama erupsi
Di ruang tunggu, kami bertanya lagi. Dan jawaban tetap sama, pesawat tetap terbang dengan rute dan jam yang sudah ditentukan. Kami masuk bus yang mengangkut kami ke pesawat. Beberapa penumpang mulai ngobrol soal Gunung Gamalama. Masuk pesawat, kami bertanya lagi kepada petugas di pintu masuk. Dan jawaban yang kami terima pun sama. Akhirnya, subuh itu, saya terbang dengan rute Jakarta-Ternate.

Jumat pagi, 19 Desember
Di dalam pesawat, saya langsung tertidur. Sekitar 1 jam berlalu. Setelah makan pagi, saya tidur lagi. Namun sinar matahari yang mulai masuk lewat jendela pesawat membangunkan saya. Menikmati pagi yang mulai menyapa sambil ngobrol dengan penumpang lain, seorang penumpang asal Ternate. Saya mengobrol tentang tempat-tempat yang mungkin bisa dikunjungi.
Manado!

Para penumpang yang menunggu kepastian di counter Garuda
Tidak berapa lama, menurut perasaan saya, pesawat tidak lagi bergerak maju. Dan kemudian terdengar pengumuman bahwa kami tidak bisa meneruskan perjalanan karena Gunung Gamalama kembali erupsi. Pengumuman di pesawat: "Bagi Anda yang duduk di sebelah kanan, Anda bisa menyaksikan Gunung Gamalama sedang erupsi." Ya, saat itu sekitar pukul 7 pagi. Dan saat Gunung Gamalama meletus, saya berada di ketinggian, dan waktu itu berencana mendarat di dekatnya karena Bandara Sultan Babullah berada tidak jauh dari puncak gunung.
Petugas Garuda: Semua penerbangan ke Ternate... ditutup!
Menunggu beberapa menit di ketinggian. Dan akhirnya kami terpaksa mendarat di Bandara Sam Ratulangi, Manado. Saya dan para penumpang pesawat lain menunggu di ruang tunggu. Pengumuman awal, pemberitahuan lebih lanjut akan kami terima sekitar pukul 12 siang. Hah? Jadi selama sekitar 4 jam saya harus berada di bandara? :(

Saya keluar dari ruang tunggu Garuda dan keluyuran ke toko-toko di bandara. Teman saya masih sibuk mewawancarai para penumpang. Tidak lama, kami diminta ke restoran untuk makan dulu. Dan setelah itu, pengumuman berikutnya sungguh tidak enak: Semua penerbangan ke Ternate ditutup sampai waktu yang belum ditentukan.
Oke, kami mulai bingung. Kami punya janji besok pagi kami harus berada di Ternate. Tapi kami tertahan di bandara. Kemudian, pihak Garuda memberikan dua pilihan: kembali ke Jakarta atau menunggu. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu dengan harapan Gunung Gamalama akan makin kalem, hujan abu menipis, dan kami bisa mendarat di Bandara Sultan Babullah.
Novotel Manado. Di sini kami menanti kepastian...
Kami diangkut ke hotel yang disediakan oleh pihak Garuda. Karena hotel terdekat dengan bandara adalah Novotel, akhirnya kami menginap di situ. Tanpa kepastian, tanpa kejelasan, setelah wawancara sana-sini, mengirim berita, menghubungi teman yang ada di Manado, akhirnya kami jalan-jalan di kota ini.

Jalan-jalan yang tidak sepenuhnya bisa kami nikmati. Jalan-jalan di antara telepon sana-sini menunggu kejelasan: apakah kami pulang ke Jakarta? Apakah pesawat besok pagi bisa terbang lagi ke Ternate? Ataukah kami harus meneruskan perjalanan dengan kapal? Untuk sementara, kami terdampar di Manado!

Wednesday, September 24, 2014

Melawan Arus...

Tahun ajaran baru sudah berlangsung hampir tiga bulan. Dalam masa itu, saya "berjuang" sebagai orangtua. Well, hari ini kondisinya adalah seperti ini:
Akira: Best Student of The Week
Akira: dengan bintang sebagai penghargaan untuk Math
Tidak usah langsung merasa minder atau merasa kenapa-kenapa. Saya melalui fase panjang untuk menampilkan senyum itu. Senyum agar dia nyaman bersekolah. Saya tidak mengharapkan atau menargetkan Kira mendapatkan penghargaan ini-itu. Saya hanya mengharapkan senyum itu setiap kali dia bersekolah. Sesimpel itu.

Saat Playgroup, Kira punya kepercayaan diri yang besar. Dia mau tampil di mini concert sekolah dan selalu merasa senang berangkat sekolah dan menemui teman-temannya. Kemudian TK dia menempati sekolah baru. Alhamdulillah TK A berlangsung mulus selama setahun. Dan, kemudian... saat masa TK B akhir, dimulailah perjuangan kami sebagai orangtua.

Saya tidak pernah menargetkan anak-anak untuk selalu berprestasi. Yang saya inginkan adalah mereka menikmati sekolah, menikmati masa kanak-kanak, belajar sesuai umur, dan mengerti serta memahami ilmu yang diberikan. Dengan pemikiran seperti itu, saat hampir semua teman-teman Kira di TK B menjalani les hampir setiap pulang sekolah, saya menjemputnya tepat waktu. Hanya Kira dan satu temannya yang tidak les.

Ternyata saya kecolongan. Sungguh! Di TK itu anak-anak diharuskan bisa membaca, bahkan pernah sekali Kira dibawain PR. Saat itu saya meradang dan sedih. Dan yang lebih membuat saya terluka dimulailah fase-fase di mana Kira mulai susah sekolah. Dia mulai sering menangis, takut menghadapi angka-angka dari soal Matematika yang disodorkan gurunya di TK. Saya mencoba ngobrol dengan sang guru. Tapi tetap saja soal-soal les juga diberikan ke semua murid pada waktu jam belajar.

Saya menjalani minggu-minggu penuh perjuangan. Tetap pada pendirian, melawan arus besar, atau mengikuti arus. Bukan keputusan yang mudah. Mengikuti arus, itu artinya Kira harus ikut les, mengubah segala pendirian saya bahwa dia masih duduk di taman kanak-kanak. Taman... yang artinya porsi main seharusnya lebih besar. Atau tetap pada pendirian dengan segala konsekuensinya. Akhirnya keputusan dibuat: kami, sebagai orangtua, menentang arus!

Fase pertama terlewati. Kira lulus dari TK dan masuk SD. Yang membuat saya sedih adalah dia seperti mengalami trauma. Setiap kali bel sekolah berbunyi, dia akan panik dan menangis, atau terkadang memegang erat tangan saya dan berbisik: "Mama... 8 + 1 itu jadinya berapa?" Oh, Nak... tahukah kamu bahwa saat itu Mama sedih sekali? hancur rasanya mendengar dan melihatmu begitu.

Tiga bulan ini berat bagi saya (dan Kira tentunya) untuk menjalaninya. Akhirnya saya memulai "program" untuk menenangkan dia, mengembalikan segala kepercayaan diri dia yang mendadak luntur dan hilang. Berbagai upaya kami usahakan. Dari mulai berbicara dengan wali kelasnya (yang alhamdulillah banget mau membantu upaya kami memulihkan kepercayaan diri Kira) hingga mengikutkannya ke kelas bela diri.

Kenapa bela diri? Bagi kami: dia bisa "melampiaskan" ke aktivitas fisik, selain agar dia percaya ke dirinya bahwa dia "kuat". Step demi step kami lalui. Dan hampir tiga bulan berlangsung sejak saya bilang: "Enggak apa-apa, dek. Mengerjakan soal salah itu enggak apa-apa. Nanti kita benerin di rumah. Belum tahu itu enggak apa-apa, karena itu makanya adek sekolah, dan itu gunanya sekolah."

Saya terharu dan bangga dengan hasil perjuangan Kira. Foto-foto di atas adalah hasil perjuangan dia mengembalikan semua kepercayaan dirinya. Lebih dari itu, senyum itu kembali muncul. Setiap kali bel sekolah berbunyi, tidak ada lagi kepanikan atau ketakutan atau air mata.

Bagi saya tiga bulan ini berat. Dan masih panjang perjalanan kami, menghadapi Kurikulum baru yang juga berat. Semoga selalu bisa menampilkan senyum itu ya, Nak! Kami akan selalu mendukungmu. Dan bangga karena hingga detik ini, kamu adalah pemenang yang mau berjuang! *peluks*

Saturday, August 09, 2014

Mudik Terparah: 36 Jam demi Kampung Halaman!

Lebaran tahun ini, kami menjalani perjalanan mudik paling parah sepanjang sejarah! *lebay, biarin* 
Bayangkan, 36 jam harus kami habiskan hanya untuk perjalanan Bekasi-Kebumen. Padahal, dalam kondisi normal, perjalanan itu bisa kami tempuh hanya dalam waktu 12 jam, bahkan kurang. Kalau diandaikan, perjalanan mudik kami sudah setara dengan perjalanan Jakarta-AS. Kebangetan? Sangat!
Suatu masjid di suatu tempat...
Kalau ada yang tanya, buat apa macet-macetan hanya untuk berlebaran di kampung? Saya akan menjawab, yang paling saya kangeni adalah: sholat Id bersama-sama, antri sungkem ke orangtua dan orang yang lebih tua, serta makan bersama-sama setelah shalat Id. Selain itu bisa bercerita berbagai hal dengan sanak famili dan kenalan. Menapak tilas segala hal pada masa kecil. Wisata kuliner. Ziarah. Dan tentunya sederet daftar kegiatan yang hanya bisa dilakukan di kampung halaman saat Idul Fitri tiba. Bagi saya, mudik bukan hanya sekadar pulang ke kampung halaman, tapi sudah semacam "perjalanan batin dan kenangan".

Sabtu, H-2
Perjalanan mudik kami tahun ini dimulai pada Sabtu, dua hari menjelang Lebaran. Beberapa jam sebelum kami memulai perjalanan, kegiatan kami hanya memantau Twitter, mantengin semua akun yang terkait dengan lalu lintas dan info mudik. Kami akhirnya sampai pada kesimpulan: semua jalan macet. Bahkan Jalan Tol Cikampek sejak KM 50-an sudah stuck, berhenti. 

Dengan memantapkan hati *tsah* akhirnya kami memulai perjalanan mudik setelah sholat zuhur. Sempat senang karena perjalanan sore itu lalu lintasnya tidak berarti. Kami bisa melaju dan sempat berharap akan mengalami perjalanan mudik seperti tahun lalu yang hanya menempuh perjalanan sekitar 12 jam! Kilometer 50-an yang dilaporkan macet di Twitter sudah lengang dan kami tetap bisa melaju tanpa hambatan.

Namun, ketika kami sampai di KM 68, kami sempat terbengong-bengong dan bingung dengan banyaknya mobil yang berbalik arah! Ini beneran mobil-mobil berbalik arah, melawan arus di tengah jalan tol! Tadinya saya berpikir ada Decepticon yang datang menyerang bumi kecelakaan. Dan dengan sok kalem kami tetap maju beberapa meter dan ternyata... haish! Kemacetan membentang di depan kami. Saya ingat kami belum begitu lama melintasi area untuk keluar menuju Dawuan dan bus-bus mengambil jalur itu. Akhirnya, dengan keberanian yang bisa disetarakan dengan Optimus Prime dipaksakan, kami memutar balik di tengah jalan tol, melawan arus, dan mengikuti mobil-mobil lain keluar menuju Pintu Tol Dawuan.

Jangan tanya ada polisi atau tidak. Layaknya film superhero, polisi mungkin akan datang kalau pertarungan kemacetan sudah kelar. :D Saya tidak akan menggambarkan letak Dawuan di mana. Pokoknya, kami melipir menghindari Jalan Tol Cikampek. Yang artinya, kami berada di sepanjang pinggir jalan tol itu.

Magrib tiba. Kami terpaksa berbuka puasa di mobil, di tengah kemacetan yang menggila. Untuk bisa berputar balik ke arah Cikampek karena jalan ternyata dialihkan, kami harus menempuh perjalanan sekitar 2-3 jam. Itu hanya untuk memutar balik. Perjalanan berikutnya makin membuat kami, para pemudik, mengelus dada.

Saya tahu bahwa Jembatan Comal di Pemalang belum berfungsi seperti sedia kala. Pun Jembatan Cibaruyan di Ciamis. Tapi saya tidak pernah menyangka dampaknya akan sedahsyat ini ke lalu lintas di jalur tengah dan selatan. Menggerutu ke pemerintah di tengah kemacetan yang mengular tidak berguna karena makin membuat kita emosi. Akhirnya kami hanya bisa pasrah, ikut berderet bersama ribuan orang lainnya menuju kampung halaman.

Tengah malam. Kami berhenti di sebuah masjid entahlah di daerah mana. Yang pasti belum jauh dari area Cikampek dan sekitarnya. Lelah lahir batin sudah mendera. Perjalanan panjang masih membentang tanpa kepastian kapan kami akan sampai. Setelah istirahat, Mas tidur sekitar 2 jam, dan makan Pop Mi (yang akhirnya kami hitung sebagai makan sahur karena kemacetan parah dan susah berhenti), kami pun melanjutkan perjalanan kembali.

Minggu, H-1
Subuh menjelang. Kami berhenti lagi di sebuah masjid. Meski dibilang sebuah masjid, tempat ini serupa dengan mushola, dengan kondisi yang memprihatinkan. Lantai retak di sana-sini, atap yang sudah tidak lagi rata, dan beberapa bagian plafon bolong. Kondisi sekitarnya, yang rencananya mau dibangun pesantren, bahkan terkesan kumuh.

Tapi alhamdulillah kami masih bisa sholat subuh dan beristirahat di sini. Mas (mencoba) tidur lagi, sementara saya memandikan anak-anak. Untungnya anak-anak tidak rewel. Karena dalam perjalanan ini kami menyiapkan banyak buku cerita buat mereka, pagi itu mereka bisa duduk-duduk tenang menyongsong hari baru sambil baca di mobil, menunggu papanya siap melanjutkan perjalanan lagi.

Siang yang menyengat. Sudah hampir 24 jam kami berada di jalan, tapi jarak yang kami tempuh hanya sepertiga menuju tempat tujuan. Macet, ruwet. Kami hanya bisa bernapas lega ketika memasuki Tol Palimanan-Kanci dan Kanci-Pejagan, lepas dari kemacetan yang menggila. Saya sempat menggantikan Mas nyetir di tol ini agar dia bisa beristirahat. Namun kalau ingat bahwa kami baru melintasi Cirebon-Brebes, rasa kesal langsung menyergap.

Keluar tol, kami disambut dengan kemacetan yang menggila. Ini lintasan yang paling tidak saya suka selama mudik: Pejagan dan Bumiayu. Di lintasan ini, kami lebih sering berhenti. Akhirnya saya gantian nyetir lagi supaya Mas bisa istirahat. Dan di tengah macet yang menggila, yang tidak kami tahu di mana ujungnya, saya dan Nikki berandai-andai: Andai ada baling-baling bambu atau pintu ke mana saja punya Doraemon. Atau ada rental Buckbeak-nya Harry Potter (atau punya Hagrid?). :D Sementara Kira mulai bertanya: "Kampung di mana sih? Jauh banget ya? Kok kita enggak sampai-sampai?"

Magrib tiba. Kami masih terjebak macet di Brebes. Buka puasa hari itu hanya: teh manis yang suam-suam kuku karena air panas di termos yang kami bawa sudah berumur lebih dari 24 jam. Tidak ada makan besar, hanya biskuit-biskuit yang kami bawa. Di kanan kami hanya ada sungai. Sementara di kiri kami hanya semak-semak. Kalaupun ada rest area Mie Sedap yang kami temui kemudian, penuh sesak dengan para pemudik yang juga berbuka puasa.

Malam pun menghampiri kami. Di udara, suara petasan berkali-kali menggema, mengiringi gema takbir yang sudah mulai terdengar di mana-mana. Dan kami masih terjebak di "antah berantah", bahkan semua mobil di belakang dan depan kami mematikan mesin karena kondisi lalu lintas yang sama sekali tidak bergerak.

Para pengemudi, termasuk Mas, keluar dari mobil dan saling bercakap-cakap. Penumpang bus di sebelah kami banyak yang turun dan berjalan-jalan menghilangkan penat. Gelap karena tidak ada penerangan dan semua mobil mematikan mesin dan lampu. Di tengah kondisi demikian, anak-anak masih menikmati suasana karena mereka bisa melihat: bintang! Bintang yang sangat banyak bertaburan di langit malam itu. Sangaaaaatttt... banyak, menemani kami para pemudik yang sudah lelah lahir batin. 

Akhirnya, setelah entah berapa lama, kami bisa bergerak kembali. Dan ujung dari kemacetan itu adalah: pengaturan lalu lintas yang menurut kami tidak seimbang. Kami dibiarkan berlarut-larut dalam kemacetan, sementara dari dua arah lain hanya diisi sedikit kendaraan. Kami sempat beristirahat di sebuah SPBU untuk mengisi bensin dan makan mi instan (lagi). Kondisi toilet di SPBU ini sangat parah. Tidak ada air, dan sampah menumpuk di toilet. Yaiks.... :(

Kami melanjutkan perjalanan kembali. Awalnya, kami ingin beristirahat di suatu penginapan atau hotel karena sudah terlalu lelah. Tapi kalau mengingat kami  berkejaran dengan waktu, agar bisa sholat Id di kampung, rasanya sayang banget "membuang" waktu di tempat tidur. 

Tengah malam. Kalau mendengar suara takbir yang menggema di masjid-masjid yang kami lintasi, rasanya sedih. Seharusnya kami sudah ada di rumah atau di masjid mengagungkan nama Allah SWT. Namun nyatanya, kami masih harus melintasi jalanan tanpa tahu kapan kami sampai.

Senin, Hari-H
Dini hari. Akhirnya kami terlepas dari kemacetan dan masuk kota Banyumas. Kami sempatkan membeli oleh-oleh getuk goreng untuk keluarga. Setelah itu kami memasuki kota Purwokerto yang lengang dan terus menemui jalanan yang lancar. Tentu saja sepi. Ini adalah dini hari dan hari raya! Beberapa jam lagi orang-orang akan berduyun-duyun memasuki masjid dan lapangan.

Dan akhirnyaaaa... Alhamdulillah. *sujud syukur* Kami tiba di kampung halaman, setelah 36 jam perjalanan yang sungguh menguras waktu, tenaga, dan emosi. Alhamdulillah kami masih bisa sholat Idul Fitri bersama-sama keluarga. Alhamdulillah kami masih bisa menikmati Lebaran hari pertama di rumah.

Tahun ini adalah perjalanan mudik terparah yang kami alami. Kalau sampai pemerintah mengatakan mudik tahun ini aman, lancar, dan sebagainya... saya yakin pemerintah sudah mulai delusional dan denial sama kenyataan. Semoga pemerintahan baru nanti mendengar jeritan hati kami, para pemudik, yang setiap tahun memadati jalur utara, tengah, dan selatan.

Selamat HARI RAYA IDUL FITRI. Minal Aidzin Wal Faidzin.
Semoga semua amal ibadah kita di bulan Ramadhan diterima Allah SWT.
Dan Maaf Lahir Batin apabila ada salah kata, tulisan, dan tindakan.
**Wiko-Retma-Nikki-Kira*

Tuesday, August 05, 2014

Pantai Suwuk

Hari ketiga Lebaran. Rencananya pagi-pagi kami akan ke pantai (lagi). Seperti sudah kami tulis berkali-kali, kami adalah pencinta pantai dan gunung. Kalau tahun ini kami tidak bisa camping atau hiking di gunung karena cuaca yang tidak bersahabat, paling tidak kami bisa mengunjungi beberapa pantai.

Kali ini tujuan kami adalah Pantai Suwuk. Pantai ini juga terletak di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, tepatnya di Kecamatan Puring. Kalau kita melintasi jalur selatan-selatan atau biasa disebut sebagai Jalan Daendels, kita akan menemukan papan petunjuk menuju pantai ini di beberapa tempat. Dari rumah saya, pantai ini bisa dicapai dengan perjalanan selama 1 jam.
Papan petunjuk menuju Desa Wisata Suwuk
Gerbang masuk ke kawasan Pantai Suwuk
Berbekal GPS, akhirnya kami sampai juga di kawasan pantai ini. Berbeda dengan Pantai Ambal, Pantai Suwuk digarap secara profesional sehingga saat akan masuk area pantai ada gerbang masuk semacam di Ancol. Tarifnya cukup murah. Dengan dua orang dewasa, dua anak, dan mobil, kemarin kami hanya membayar Rp 15.000.

Saran saya untuk berkunjung ke kawasan ini saat Lebaran, datanglah pagi-pagi. Sebenarnya kami kemarin sudah cukup pagi berangkat dari rumah. Namun, karena perjalanan yang lumayan memakan waktu, saat sampai di pantai ini sudah agak siang sehingga sangat ramai dan susah mencari tempat parkir.
Pantai Suwuk dengan perbukitan di kejauhan
Lari...!!! Ombaknya terlalu besar!
Pemandangan di pantai ini, menurut saya, cukup bagus! Berbeda dengan Pantai Ambal yang hanya ada pasir sejauh mata memandang, di Pantai Suwuk juga bisa ditemui perbukitan kapur yang memanjang dari utara hingga selatan. Dipadu dengan gelombang laut yang tinggi khas pantai selatan, pemandangan pagi itu menyenangkan.

Banyak kuda tunggang yang disewakan di pantai ini. Anak-anak sempat naik kuda menyusuri pinggir pantai. Dengan tarif Rp 10.000 per satu anak atau Rp 15.000 untuk dua anak, mereka sudah bisa menyusuri pinggir pantai dengan kuda tunggang bolak-balik.
Hai, kuda! Namaku Kira... :)
Kami bermain cukup lama di pantai ini. Saya yang bertugas menjaga barang-barang terpaksa harus memutar otak bagaimana menaruh barang-barang di tempat yang aman dari ombak. Pagi itu, beberapa kali ombak yang cukup besar menghantam bibir pantai sehingga barang-barang beberapa orang yang tadinya diletakkan di tempat yang dirasa aman akhirnya terbawa ombak.

Ombak pantai selatan yang bergulung-gulung dan tinggi, makin siang makin sering menghantam pantai. Anak-anak berlarian maju mundur menghindari ombak yang besar. Penjaga pantai berkali-kali meniup peluit mengusir orang-orang yang nekat mandi di laut hingga agak jauh dari bibir pantai. Di luar itu, saya suka ombaknya!! Mungkin karena akhir-akhir ini saya lebih sering mengunjungi pantai yang ombaknya tenang atau hampir tidak ada ombak, pemandangan ombak pantai selatan pagi hingga siang itu benar-benar membuat saya ter "wow" dan "wah".

Puas bermain dengan ombak dan pasir, anak-anak "berenang". Di Pantai Suwuk ada dua pilihan untuk berenang: di kolam nonpermanen yang terbuat dari terpal atau di kolam permanen di bawah pesawat yang mirip dengan wahana-wahana permainan air seperti pada umumnya.
Kolam nonpermanen dari terpal
Pesawat Boeing 737-200 eks Merpati Nusantara
Kami memilih kolam nonpermanen yang terbuat dari terpal. Meski demikian, kolam ini buat anak-anak cukup menyenangkan karena dibuat dengan "sepenuh hati" pemiliknya, bukan asal dan ala kadarnya. Di kolam, anak-anak bisa meluncur atau bermain "air mancur". Sementara kami orangtuanya bisa duduk-duduk di bawah pohon kelapa yang berada di seputaran kolam atau nongkrong di warung yang berada di pinggiran kolam.

Saya dan suami, tentu saja, nongkrong di warung. Saya memesan lotek dan tempe mendoan yang menurut suami saya tempe mendoan "asli". Maksudnya benar-benar dari tempe mendoan, bukan tempe biasa yang diiris tipis. Enaknya, tempe baru digoreng saat ada yang memesan sehingga selalu panas. Saya suka suasana siang itu: "bau" asin air laut yang menguar di udara berpadu dengan bau kopi dan jahe pesanan kami. Sederhana, tapi buat kami yang sehari-hari bergelut dengan ruwetnya lalu lintas Ibu Kota, hal itu benar-benar sesuatu yang menyenangkan!
Bye...!!! Tahun depan insya Allah ketemu lagi
Di bagian lain, kolam permanen dengan pesawat terbang di atasnya hiruk pikuk dengan teriakan anak-anak yang bermain air. Pesawat terbang yang ada di sini adalah pesawat jenis Boeing 737-200. Pesawat bekas Merpati Nusantara buatan tahun 1986 ini jadi daya tarik tersendiri di Pantai Suwuk. Pesawat yang didatangkan dari Landasan Udara Juanda, Surabaya, itu nantinya jadi pelengkap Wahana Dirgantara yang akan dibangun di pantai ini.

Puas bermain dan berbilas, kami berjalan-jalan di seputaran pantai yang saat itu ramainya sudah mirip pasar. Penjual berjubel di sana-sini dengan beraneka macam dagangan. Satu hal yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah dagangan yang digelar seorang ibu-ibu tua. Di depannya berjejer rempeyek undur-undur! Baru kali ini saya lihat ada rempeyek undur-undur. Ada yang pernah makan? Saya belum! :D Dan karena saking bengongnya, saya sampai lupa memfoto makanan itu. Bentuknya adalah rempeyek dengan undur-undur yang bulat berwarna orange di atasnya.
Panas yang semakin menyengat memaksa kami untuk segera angkat kaki dari kawasan itu. Untuk sementara, kami puas bermain di Pantai Suwuk, yang baru sekali ini kami kunjungi! Janji kami, tahun depan insya Allah kami akan ke sini lagi dan... tentu saja: saya akan membeli rempeyek undur-undur. ;)

Monday, August 04, 2014

Pantai Ambal: Laut, Sate, dan Pacuan Kuda

Apabila disuruh menggambarkan Ambal dalam tiga hal, saya akan memilih: pantai, pacuan kuda, dan sate Ambal.

Ambal merupakan satu kecamatan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Apabila kita dalam perjalanan mudik Jakarta-Yogyakarta atau sebaliknya dan dialihkan ke selatan menyusuri Jalan Daendels, bisa dipastikan kita akan melintasi kawasan ini.
Pantai Ambal, satu dari banyak pantai di Kabupaten Kebumen
Saat musim mudik, kawasan ini cukup ramai karena Jalan Daendels merupakan jalur alternatif selatan-selatan atau dikenal juga sebagai jalur pantai selatan. Di sepanjang jalan ini, kita juga akan menemui banyak papan petunjuk menuju sejumlah pantai.

Pantai Ambal
Dari banyak pantai di sepanjang jalur selatan, yang paling saya kenal adalah Pantai Ambal. Tentu saja karena saya lahir dan besar di kecamatan tetangga yang tidak jauh dari kawasan ini. Saat kecil, saya beberapa kali diajak ibu ke kawasan ini untuk mengunjungi beberapa pengusaha emping. Selain tiga hal yang saya sebutkan di awal tulisan, kawasan ini sebenarnya juga terkenal sebagai penghasil emping melinjo. 
Anak Pantai
Saat Lebaran tiba, Pantai Ambal menjadi salah satu tujuan wisata warga sekitar. Sebenarnya tidak banyak yang istimewa dari pantai ini. Seperti umumnya pantai selatan, Pantai Ambal juga mempunyai ombak yang tinggi dan hamparan pasir hitam. 
We Love It! Blue sky, blue sea, beautiful sunshine
Sejak dua tahun terakhir, setiap mudik, pantai ini selalu menjadi tujuan kami untuk berwisata. Biasanya kami berangkat pagi-pagi sehingga sampai pantai belum banyak orang dan aktivitas yang ramai. Anak-anak suka main di pasir, membuat menara, bermain ombak. Dan setelah itu, biasanya mereka berenang di kolam-kolam nonpermanen yang mendadak muncul selama musim libur Lebaran.
Menunggu Ombak
Kolam-kolam yang terbuat dari terpal ini lumayan menghibur untuk anak-anak. Setelah bermain di pantai, penuh pasir, anak-anak biasanya main di kolam-kolam ini sebelum kemudian berbilas di tempat pembilasan yang juga nonpermanen. Tarifnya lumayan murah, dua anak cukup membayar Rp 5.000 untuk bermain sepuasnya.

Di sekitar kolam-kolam ini biasanya berjejer para penjual makanan dan mainan. Dari nasi pecel, gorengan, sate, aneka minuman, sampai nasi uduk.

Pacuan Kuda
Menjelang Lebaran, biasanya kuda-kuda terbaik mulai berdatangan ke kawasan ini. Beberapa kuda itu didatangkan berhari-hari menyeberangi lautan untuk mengikuti kejuaraan berkuda yang biasanya diadakan beberapa hari setelah Lebaran.

Pacuan kuda se-Jawa-Bali biasanya digelar tidak jauh dari kawasan pantai. Tahun-tahun lalu kami selalu mampir melihat kuda-kuda berlatih di tempat pacuan yang kesannya "tingkat kampung". Penutup dari seng yang seadanya, tempat loket yang cuma dari bedeng, sama sekali tidak mencerminkan bahwa pacuan kuda di tempat ini untuk sekelas Jawa-Bali.

Waktu kecil, beberapa kali saya sempat melihat kuda-kuda berpacu di arena. Tapi sepertinya saya tidak betah. Panas, persiapan yang lebih lama daripada pacuannya, membuat saya tidak lagi mengunjungi tempat ini.

Kalau pagi-pagi kita menyusuri kawasan Ambal selama musim Lebaran, jangan heran kalau di sana-sini melihat orang, dewasa maupun anak-anak, menuntun kuda. Bahkan kuda-kuda yang digunakan untuk menghibur para wisatawan di pantai sebagai kuda tunggang, beberapa di antaranya adalah kuda pacu atau mantan kuda pacuan. Bedanya dengan kuda biasa: kuda-kuda yang biasanya berlari di lintasan pacu ini punya bodi yang besar dan cukup tinggi.

Pada musim itu, banyak penduduk yang menyewakan lahannya untuk digunakan sebagai "istal" kuda dan tempat menginap para joki. Jangan bayangkan pacuan kuda di sini seperti di arena pacu kuda di Inggris sana. Jauuuuh... Namun sebagai hiburan, sebagai sarana wisata, boleh lah.

Sate Ambal
Sate Ambal adalah kuliner paling terkenal di kawasan ini, bahkan menjadi salah satu makanan khas Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Sate Ambal Pak Solikin, satu dari banyak warung sate Ambal
Sate Ambal
Kalau Anda menyusuri Jalan Daendels dan masuk di kawasan Ambal, di kanan-kiri jalan akan banyak ditemui warung sate Ambal

Sate Ambal berbeda dengan sate ayam kebanyakan yang berbumbu kecap. Sate ini biasanya dari daging ayam yang diiris tipis (Iya, diiris tipis, bukan bulet-bulet seperti kebanyakan sate ayam). Dan yang paling beda dan menjadikannya khas adalah bumbunya! Bumbu sate Ambal berasal dari tempe. Tempe yang sudah dikukus, kemudian dihaluskan dengan cabe dan bumbu lainnya. Jangan bayangkan rasa tempe goreng atau tempe bacem atau olahan tempe lainnya. Meski berasal dari tempe, rasa tempe hampir tidak ada bekasnya. Yang ada adalah rasa bumbu yang kental, manis, pedas, dan gurih.
Tumpukan sate yang belum dibakar. Dagingnya diiris tipis...
Sate Ambal dengan bumbu yang khas: tempe
Banyak warung sate Ambal yang terkenal di kawasan ini. Misalnya: Pak Kasman, Pak Solikin, atau Pak Mio. Yang terakhir adalah langganan keluarga kami sejak saya kecil dan biasanya mangkal di sekitar Pasar Kutowinangun. Ya, kalaupun tidak melintasi Jalan Daendels, kita masih bisa menikmati lezatnya sate ini di sekitar Pasar Kutowinangun. Di sekitar pasar itulah biasanya banyak penjual sate Ambal mangkal. Dagangan mereka biasanya digelar dan dibawa dengan pikulan.

Sate Ambal biasanya dimakan dengan ketupat atau nasi. Benar, ketupat! Bukan lontong seperti kebanyakan sate lainnya. Jadi, kalau mau menyantap sate Ambal secara komplet dengan kekhasannya, makanlah dengan ketupat! :)
Sate yang baru matang
Satu harga!
Jadi... kalau tiba-tiba dalam perjalanan mudik kemudian lalu lintas dialihkan lewat jalur selatan-selatan menyusuri Jalan Daendels, tidak usah galau. Banyak hal bisa dinikmati di kawasan ini. Saran saya: isilah bensin secukupnya sebelum melintasi jalur ini dan usahakan kendaraan dalam kondisi prima.

Minggu Pertama di SD

Seminggu pertama di SD dijalani Kira dalam suasana Ramadhan. Karena itu, di sekolah Kira banyak kegiatan yang berkaitan dengan suasana Ramadhan. Emaknya ini selama minggu pertama menunggui Kira di sekolah sambil "gaul" dengan sesama ibu-ibu. Bertukar informasi atau pengalaman dengan ibu-ibu yang anaknya sudah terlebih dulu bersekolah di lingkungan itu.
Ready to go to school... 
Untuk menghindari macet yang biasanya mengular menuju sekolah Kira, terpaksa selama ini saya menggunakan motor untuk antar-jemput. Sebenarnya Mas tidak begitu setuju, hanya saja... kalau berhitung soal waktu sebelum saya ke kantor, motor adalah sarana paling efektif, kecuali musim hujan.

Selama masuk sekolah di bulan Ramadhan, anak-anak boleh memakai baju muslim bebas. Kegiatan belajar-mengajar juga belum dilaksanakan secara penuh. Hari-hari pertama diisi dengan pengenalan lingkungan sekolah.
Semoga betah di sekolah baru, ya Nak!
Yay! Aku kelas 1 SD!
Setiap kelas diajak berkeliling oleh guru wali kelas masing-masing ke setiap ruangan dan bagian sekolah. Ruang musik, ruang tempat beribadah, kantor guru, perpustakaan, dan seterusnya.

Hari-hari berikutnya diisi dengan pengenalan soal zakat fitrah dan praktik membayar zakat. Satu hal yang menyenangkan adalah: setiap pagi di bawah tangga, selalu ada guru yang menyambut anak-anak. Dengan riang mereka menyapa anak-anak: Assalamualaikum... dan menyalami setiap anak.
Praktik membayar zakat fitrah
Kira, setelah membayar zakat...
Minggu ini adalah masa adaptasi Kira di sekolah. Meski kadang masih sedih, atau kadang nangis kalau pagi di depan kelas, setiap pulang sekolah dia selalu menuruni tangga dengan senyum lebar. Saya tidak berharap muluk-muluk kepada Kira. Saya hanya berharap dia bisa belajar dan menjalani sekolah dengan senang.... Masih sangat jauh perjalanan sekolah dia sebelum nantinya berkutat dengan buku-buku kuliah.
Kegiatan untuk anak SD "kelas tinggi"
Semoga hari-harimu di sekolah menyenangkan ya, Nak! Dan semoga kamu betah di sekolah baru.

Tahun Ajaran Baru, Sekolah Baru

Tahun ini Akira duduk di kelas 1 SD. Ya, tidak terasa 6 tahun lebih sudah terlewati. Dan, tahun ini Kira memasuki babak baru sebagai seorang murid sekolah dasar.
Upacara hari pertama dan penyambutan murid baru
Sebagai orangtua, seperti biasa, kami menginginkan sekolah terbaik (versi kami) untuk anak-anak. Baik menurut kami, belum tentu baik menurut orang lain karena bisa jadi latar belakang, pengalaman, tujuan pengajaran, dan seterusnya setiap orangtua berbeda satu sama lain.

Tahun ini, untuk Kira, kami membidik sekolah swasta berbasis agama Islam. Kenapa tidak sekolah negeri seperti Nikki? Alasannya simpel: sekolah negeri jam belajarnya Senin-Sabtu. Sebagai orangtua pekerja, anak-anak masuk sekolah pada hari Sabtu menjadi sesuatu yang berat bagi kami. Apalagi saya yang liburnya tidak pasti dan cuma satu hari. Kalau saya libur hari Sabtu, misalnya, bisa dipastikan hari libur saya tidak banyak bermanfaat karena Nikki masih sekolah. Pun kalau ada acara keluarga yang jatuh pada hari Sabtu, dengan terpaksa kami harus meninggalkan Nikk karena dia masih sekolah. 

Kelas baru!
Dengan pertimbangan itulah akhirnya kami mengincar sekolah-sekolah yang libur pada hari Sabtu. Akhirnya kami survei ke sana-sini. Beberapa sekolah yang sempat kami survei: Sekolah Alam Bambu Item (Sabit), Sekolah Alam Natur Islam, SDIT Darussalam (Pondok Pekayon Indah), SDIT Darussalam (unggulan, Cikunir), Al Azhar Syifa Budi Jatibening, dan Al Azhar 9 Kemang Pratama.

Sekolah alam berada dalam daftar pertama karena kami sangat berharap bisa memasukkan Kira ke sekolah alam. Tentu juga dengan pertimbangan: Kira sangat menyukai aktivitas outdoor dan segala yang berhubungan dengan alam. Saat survei ke Sabit kami membawa Kira dan dia sangat antusias berada di sekolah itu. Lari ke sana-sini, menengok saung di sana-sini, dan seterusnya. Kendala terbesar adalah: jarak. Kami mencoba rasional. Dengan jarak yang cukup jauh dari rumah, bisa dipastikan banyak waktu dan tenaga yang terbuang. Akhirnya dengan berat hati kami mencoret sekolah ini.
Anak-anak kelas 1 mulai "istirahat"
Setiap anak baru disambut dan disalami satu per satu
Perjalanan survei ke sana-sini tidak gampang. Kami sampai harus membuat tabel untuk membandingkan plus minus masing-masing sekolah. Padahal kalau mengingat dulu, saya sekolah ya tujuannya biasanya cuma 1 sekolah. Tapi seperti dibilang anak-anak zaman sekarang: jangan banding-bandingkan dulu dan sekarang karena kondisinya lain.

Akhirnya, setelah tanya sana-sini, membuat tabel perbandingan, survei, dan seterusnya... kami mendaftarkan Kira ke SDI Al Azhar 9 Kemang Pratama. Karena tadinya bukan pilihan pertama, saya mendaftarkan Kira sudah di hari-hari terakhir gelombang II. Setelah menjalani tes, akhirnya Kira dinyatakan diterima sebagai murid baru di sekolah itu.

Alhamdulillah tesnya tidak seseram yang saya bayangkan. Saat keluar dari ruangan tes, saya tanya ke Kira tesnya apa saja dan dia jawab: Kira disuruh nyoba naliin sepatu, lompat-lompat, olahraga dan seterusnya. Good! Masih seperti dalam bayangan saya bahwa transisi anak TK-SD tidak dibebani dengan calistung. Selesai tes pun anak-anak dikasih semacam goodie bag yang terdiri dari snack dan alat tulis.

Hari pertama masuk sekolah, saya memaksa Mas cuti. Seperti tradisi selama ini dalam keluarga, setiap anak-anak menjalani hari pertama masuk sekolah, kami sebagai orangtua harus ada dan mengantar mereka. Saya berpikir ini adalah salah satu tahapan penting dalam kehidupan mereka dan kami sebagai orangtua harus hadir.
Terbangkan balonmu setinggi mungkin, setinggi cita-citamu...!
Tahun ini, ajaran baru dimulai di tengah-tengah bulan Ramadhan. Walhasil, saat upacara penyambutan murid baru di lapangan, anak-anak keleleran. Ada yang duduk-duduk di lantai atau jongkok. Alhamdulillah para guru memahami sehingga anak-anak kelas 1, yang sebagian besar baru mulai belajar puasa, termasuk Kira, diperbolehkan "istirahat", duduk atau jongkok.

Lucu? Pasti. Di saat musik yang menggebu dari Europe, The Final Countdown, menggema dengan penuh semangat, anak-anak loyo. Balon berwarna-warni dilepaskan ke udara. Sambutan, jabat tangan, dan tepukan tangan menyambut murid baru serta tahun ajaran baru sudah usai. Saatnya hari-hari sekolah dimulai....

Selamat menjadi murid SD, Akira! Semoga betah di sekolah baru. Semoga selama 6 tahun ke depan Kira bisa menikmati hari-hari sebagai murid SD. xoxo.

Tuesday, July 22, 2014

Suatu Pagi di Ancol...

Minggu ini, selama wiken, Sabtu dan Minggu, setiap kali selesai sholat subuh kami langsung ngacir ke Ancol. Dipikir-pikir, sudah lama juga kami enggak ke Ancol, sejak datang di waktu yang salah, pagi hari sesudah perayaan Tahun Baru. Walhasil yang kami lihat tumpukan sampah di mana-mana.
Kegiatan favorit di pantai: main pasir
Kemarin memang kami niatkan untuk ke Ancol karena mau "berburu" udara pagi di pantai. Hal ini karena Kira sudah agak lama batuk tapi belum sembuh-sembuh juga. Dulu, waktu Nikki kecil kami juga melakukan hal ini. Dan Alhamdulillah agak meringankan.

Waktu masih tinggal di Jakarta, kami rutin ke pantai pagi-pagi. Demi mendapatkan udara segar untuk anak-anak. Selain bisa berolahraga dan main pasir juga. Kadang kala sembari menunggui anak-anak main, saya menyewa tikar dan tidur di pinggir pantai. Harap maklum, kemungkinan jam segitu paling-paling saya baru tidur dua-tiga jam.
Semburat matahari pagi
Hening
Minggu pagi kemarin, cuaca cerah pagi hari menyambut kami. Alhamdulillah, kami bisa berburu sunrise, meski ternyata awal-awal muncul matahari ternyata ada gumpalan mendung di cakrawala. Namun akhirnya kami pun bisa menyaksikan pemandangan yang menakjubkan, siluet berlatar belakang sunrise.
Saatnya berlabuh...
Halo, Pagi...
Kami berjalan-jalan menyusuri dermaga yang membentang di seputaran pantai. Nongkrong di pagar pembatas sambil melihat kapal-kapal nelayan yang pulang melaut dan menuju tepian untuk menggelar dagangan. Yup! Di sepanjang tepian dermaga, kita bisa berkeliling melihat dagangan para nelayan ini. Hasil tangkapan yang masih fresh, berbagai macam bentuk ikan. Anak-anak happy banget melihat bentuk-bentuk ikan yang kadang "ajaib".
Tangkapan hari ini
Ikan pari, udang, gurita, dan lain-lain
Menyusuri bagian lain pantai, anak-anak sempat bermain bola. Di satu bagian, memang ada tempat untuk voli pantai dan main bola, lengkap dengan gawangnya. Setelah itu mereka main pasir, kegiatan yang mereka tunggu-tunggu. Meski tidak membawa mainan khusus untuk bermain di pasir, anak-anak tetap bergembira. Membuat menara, gunung, dan seterusnya.
Dermaga Hati; Biarkan aku berlabuh di Dermaga Hatimu... :p
Kalau di Korea ada N Seoul Tower di Namsan Park yang punya gembok cinta dan jadi salah satu tempat romantis. Sementara di Paris, Perancis, ada Love Lock Bridge yang juga terkenal dengan gembok cinta-nya. Di Indonesia? Ada.... di Ancol! Namanya Dermaga Hati. Gemboknya masih sedikit dan sebenarnya enggak yakin juga ini bakalan berfungsi seperti N Seoul Tower atau Love Lock Bridge. Tapi mengingat posisinya yang juga di jembatan dermaga, kayaknya sih sama saja.

Hari beranjak siang dan pantai mulai ramai. Orang-orang jalan pagi, jogging, lari, belanja ikan, atau sekadar berburu sunrise. Di beberapa tempat kami bertemu dengan orang-orang yang membawa jalan anjing-anjing mereka. Cantik dan lucu-lucu. Karena makin ramai, itu berarti saatnya kami pulang. Udara segar yang dibutuhkan, terutama untuk anak-anak, dirasa cukup. Kami harus segera pulang sebelum mulai terjebak macet.