Friday, January 31, 2014

Irit, Kenapa Tidak?

Ngomongin soal irit, sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari hal itu bukan sesuatu yang sulit. Saya sendiri bukan orang yang irit-irit amat, tapi kalau bisa irit, kenapa tidak? Irit bukan berarti pelit. Bahkan, dalam beberapa hal, irit bisa membawa dampak positif. Enggak percaya? Coba simak beberapa hal berikut:

1. Irit = sehat
Hampir setiap hari saya membawa bekal ke kantor. Selain irit, bisa dipastikan lebih sehat karena saya bisa mengatur sendiri bahan makanan, bumbu, dan pola makan. Jam kerja saya yang dimulai pukul 4 sore membuat saya tidak punya banyak alternatif kalau membeli makan di kantin atau seputaran kantor.
Salad ala saya. Semua bahan beli di pasar
Ayam Bekakak
Sarden dan Mie Goreng
Saat malam, jangan bayangkan ada makanan-makanan seperti di seputaran kantor saat siang hari yang kadang kala menggoda selera. Makanan yang tersedia saat malam hari, sesuai jam kerja saya, sudah bisa dipastikan ala warung tenda: nasi goreng, mi goreng, bakso, mi ayam, dan seterusnya. Sayuran hijau dan buah? hampir dipastikan tidak ada, kecuali mau usaha nyari di pasar.

Menyedihkan ya? Kalau mau dituruti terus dan tidak ingat kesehatan sih ya... enak. Praktis dan makanannya juga lumayan. Tapi, karena saya bosen makan makanan begitu dan tentu saja sadar diri kalau lama-lama enggak bagus buat badan, jadilah saya setiap hari membawa bekal dari rumah. Asal kita bisa mengakali, jatuhnya lebih irit dan tentu saja lebih sehat. Yang penting diperhatikan adalah: beli bahan makanan di pasar, bukan di supermarket. Dan kalau bisa menawar, tawarlah dengan penuh perjuangan. :p

2. Irit = Efektif
Hidup di kota besar, apalagi di Ibu Kota, waktu sangatlah penting. Transportasi yang masih amburadul, belum lagi kalau musim hujan seperti sekarang, kadang merepotkan. Kalau kita tidak bisa mengatur dan menghitungnya, bisa-bisa kita tua di jalan.

Hal paling menyebalkan yang pernah saya alami adalah Bekasi-Palmerah saya tempuh dalam waktu 5 jam! Itu dengan menggunakan bus kota dan APTB (angkutan perbatasan terintegrasi busway). Sungguh sia-sia waktu dan hidup kita kalau terus-terusan begitu. Padahal, dalam kondisi normal, jarak tersebut bisa ditempuh maksimal dalam 2 jam. Bahkan kalau tanpa kendala macet, bisa ditempuh dalam waktu 1 jam atau bahkan 45 menit!
Kereta yang sering saya pakai
Karena itu, sekarang saya menggunakan kereta Commuter Line. Sejak tarif progresif diberlakukan mulai Juli tahun lalu, saya dengan semangat '45 mulai menggunakan sarana publik ini. Kendala masih ada di sana-sini. Tapi setidaknya, Bekasi-Palmerah ditempuh dalam waktu 1 jam saja. Dan saya bisa bangga setengah mati kalau teman saya mengeluh macet di sana-sini, sementara saya sudah duduk manis di kantor. :D

Bekasi-Palmerah: Rp 3.000 saja
Dengan pemberlakuan tarif progresif, untuk 5 stasiun pertama cukup membayar Rp 2.000 dan per 3 stasiun berikutnya cukup Rp 500. Jadi dengan menggunakan kereta CL, selain irit karena saya hanya mengeluarkan Rp 3.000 (stasiun Bekasi-Palmerah di samping kantor), saya juga menghemat waktu di jalan.

3. Memanfaatkan fasilitas kantor = irit
Ini bukan ajakan untuk korupsi. Sungguh. Tapi mungkin, sepertinya saya bakalan seperti bagian humas kantor. ;)

Memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan kantor itu bukan dosa. Bahkan kita bisa irit karena tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk keuntungan pribadi. Tapi, tetap ada plus minusnya sih.
Bisa olahraga sambil ngeliat jalanan di bawah :)
Ini fasilitas bagian lain yang saya manfaatkan juga
Hampir setiap minggu, saya memanfaatkan fasilitas olahraga yang disediakan kantor (kalau sedang tidak banyak kerjaan). Hal itu berarti saya lari di atas treadmill atau berjalan di jogging track di seputaran parkiran belakang kantor. Mungkin untuk yang satu ini saya cukup bersyukur. Karena dengan banyaknya fasilitas olahraga yang bahkan disediakan di setiap lantai, saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk ikut menjadi anggota klub kebugaran. Minusnya adalah: saya tidak bisa pamer di media sosial sedang berada di klub kebugaran ternama atau memajang aplikasi semacam Endomondo. Biar kelihatan sok keren dan gaul, gitu deeeh... :)

Sebenarnya masih ada fasilitas kantor lainnya yang bisa dipake buat irit, yaitu: ruang karaoke. Suntuk, capek, pengen nyanyi teriak-teriak, atau pengen mellow karena gagal move on akibat patah hati? Enggak perlu jauh-jauh pergi ke tempat karaoke. Seret aja satu-dua orang teman ke ruang karaoke saat bubaran kantor. Paling modalnya cuma beliin kacang kulit di warung seputar kantor?  Minusnya: lagi-lagi tidak bisa pamer di media sosial dengan sok "check in" di tempat karaoke atau upload foto-foto di ruang KTV. :D
Ruang karaoke kantor
Itu beberapa tips ngirit ala saya. Masih ada beberapa contoh irit lainnya, tapi kayaknya tiga saja cukup. Sudah bisa dipastikan bukan karena pelit. Asal kita bisa mengakali, pintar mencari celah, pasti hal itu bisa dilakukan dan bahkan kita bisa mendapat banyak keuntungan.


“Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Irit tapi Bukan Pelit yang diadakan oleh Kakaakin”

Sunday, January 26, 2014

Seberapa Berharga Nyawa Manusia?

Minggu lalu, suatu malam.
Saya baru saja turun dari mobil teman saya di seputaran Semanggi. Seperti biasa, saya pun menuju salah satu mobil omprengan yang parkir di seberang Polda itu.

Baru saja saya menyapa sang sopir, Pak Udin, sopir lain datang. Dan tanpa ba-bi-bu, sopir itu langsung menampar Pak Udin. Kejadian begitu cepat.... Pengejaran, perkelahian, dan entah apa lagi.

Sebagai penumpang yang berpikir bahwa saya harus cepat-cepat sampai rumah, saya cuma bisa memandang kejadian itu dengan bingung dan shocked. Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala: bisakah saya pulang? apakah para sopir omprengan akan kembali? bagaimana akhirnya mereka?

Malam itu, akhirnya... saya tidak jadi naik mobil omprengan yang dikendarai Pak Udin. Saya dan penumpang lain berpindah ke mobil omprengan sopir satunya. Dan malam itu, dia mengendarai mobil saya dengan wajah penuh darah hasil perkelahiannya. *sigh*

Beberapa hari kemudian, suatu malam.
Saya menerima kabar dari seorang sopir omprengan lain bahwa Pak Udin, dalam perkelahian malam itu, akhirnya tewas. Jasadnya ditemukan esok paginya di seputaran Semanggi. Innalillahi wainnailaihi rojiun...

Saya shocked. Sampai segitunyakah? Demi uang yang bagi sebagian orang mungkin "cuma" seharga dua gelas kopi di gerai terkenal, Pak Udin harus bertaruh nyawa. Bertahun-tahun saya menemui banyak kejadian aneh dan menyedihkan di jalanan, tapi enggak ada yang setragis nasib Pak Udin. Semakin sedih saat sopir omprengan yang mengantar saya malam itu bercerita bagaimana kondisi terakhir Pak Udin.  Apakah hanya segitu harga sebuah nyawa manusia?

Saat saya posting soal kondisi Pak Udin di Facebook, berselang beberapa menit, di belahan bumi lainnya, keponakan saya memposting kondisi terakhir dirinya di kampus, Purdue University. Hari itu, saat dia berada di lab kampusnya, terjadi penembakan. Satu orang tewas akibat penembakan itu.

Menyedihkan. Seberapa berharga nyawa seorang manusia saat ini? :(  

Tuesday, January 07, 2014

Akhir Liburan: Putri Duyung Cottage

Menjelang akhir liburan sekolah. Setelah dingin-dinginan di gunung, kami bergeser untuk panas-panasan di pantai. Tentu bukan karena pepatah asam di gunung, garam di laut. Kalau itu mah mending beli di pasar. :D
Coba cari Kira... :))
Jadi, di pengujung liburan, kami melipir ke... enggak jauh-jauh, cukup: Ancol. Sebenarnya ini masih dalam rangka ngumpul dan liburan bareng keluarga besar. Tadinya kami berencana merayakan Tahun Baru bersama. Tapi ternyata beberapa di antara kami masih berada di luar kota, pun kondisi saya mulai drop.

Akhirnya, kami ngumpul dan menginap di Putri Duyung Cottage, Ancol. Sejak beberapa hari sebelumnya kami mulai berbagi tugas: siapa membawa apa dan janjian berangkat jam berapa, siapa menyusul, siapa ngurus check in, dan lain-lain. Barang-barang mulai masuk ke mobil lagi. Mulai packing lagi. Padahal baju-baju yang masuk tempat laundry setelah camping pun belum diambil. :p

Sabtu siang, setelah sholat zuhur, kami berangkat ke Ancol. Hari itu cuaca cerah, malah nyaris terik. Saat masuk kawasan Ancol, Pak Suami rencananya enggak mau langsung menuju Putri Duyung, tapi muter-muter dulu melihat pantai. Hasilnya? Kami terjebak macet karena hari itu pengunjung di Ancol ternyata masih padat. Dan yang lebih keterlaluan lagi adalah beberapa U-Turn ditutup dan dijadikan tempat parkir! Alhasil kami yang tadinya mau iseng lihat pantai malah harus muter-muter, bahkan sampai ke mall (iya... sekarang di Ancol ada mall!).

Setelah check in dan beres-beres, kami mulai gelaran makanan dan perlengkapan yang kami bawa. Ada bakso, mi goreng, nasi goreng, kue-kue, sosis, dan seterusnya. Bingung? Saya juga. Ini sebenarnya acara makan-makan atau apa? :D Setelah makan, dimulailah aktivitas pertama, yaitu mengajak anak-anak berenang.
Yang pada sibuk berenang...
The Krucils
Di belakang restoran Putri Duyung memang terdapat kolam renang yang langsung berada di pinggir laut. Bentuknya mirip kapal. Cuma, kayaknya terlalu sempit. Tapi bagi anak-anak sih enggak masalah. Mau sempit, mau luas... kalau sudah bertemu dengan kolam renang, itu serasa diajak jalan-jalan ke pabrik cokelat Willy Wonka! Sampai menjelang magrib pun, mereka susah banget untuk diajak udahan. Bagi mereka, kayaknya enggak masalah bibir sudah membiru. Langit mulai menggelap. Dan deburan ombak makin besar pertanda air laut pasang. Selama masih bisa bergaul dengan kolam renang, apa pun dijalani. *berasa kayak emak-emak berburu diskon*

Malam menjelang. Lampion-lampion mulai menyala. Setelah mandi, sholat magrib, kami duduk-duduk santai. Ada yang ngobrol di tepi laut, di dalam cottage, ada yang karaoke (niat banget sampe bawa alat buat karaoke), atau jalan-jalan menikmati malam dan lampion. Perahu nelayan yang dihias warna-warni mulai hilir mudik mengantar para wisatawan berkeliling.
Sunset dari jendela cottage yang kami tempati
"Perahu wisata" saat malam
Nikki dan lampion
Bagi saya, ini malam menyenangkan. Tak peduli sampai tengah malam kami masih melek, asyik ngobrol. Kasihan anak-anak yang sudah mulai ngantuk tapi enggak bisa tidur karena kebrisikan yang masih nyanyi. :D Kapan lagi bisa teriak-teriak puas tanpa ada yang menegur? Semoga, tetangga sebelah kami bisa tidur nyenyak dan damai malam itu. 

Pagi hari. Setelah semalaman kami kurang tidur, beberapa masih bisa melek pagi-pagi bener. Bukan karena sebegitu hebatnya, tapi beberapa harus pulang dan mengejar kereta pertama ke Bogor. ;)
Yum!
Nikki dan Kakak Dimas
Saya suka lampion di pohon ini
Pagi sampai siang kami habiskan buat "senang-senang". Anak-anak menyewa sepeda dan berkeliling di sekitar cottage. Beberapa ada yang jogging, pergi ke Marina, beres-beres cottage dan menyiapkan sarapan, dan seterusnya. Hari itu rasanya pagi cepat beralih ke siang. Yang artinya kami harus segera check out, dan sebentar lagi harus menghadapi realita sesungguhnya: liburan sudah berakhir. Selamat datang aktivitas yang padat dan kemacetan! Kalian merindukanku...? *sok akrab sama macet*    

Thursday, January 02, 2014

Camping di Mandalawangi (Lagi)

Sabtu lalu saya kembali lagi ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, tepatnya di kawasan Cibodas. Berhubung keluarga saya lagi demam aktivitas outdoor, terutama camping, enggak usah heran kalau nanti-nanti isi blog ini berkisar pada tenda, pantai, dan gunung. :D
Berangkatlah sejak subuh sebelum kena macet... :)
Kalau beberapa bulan lalu kami camping bersama teman, kali ini kami balik lagi ke Mandalawangi Camping Ground bersama keluarga besar. Dan yang lebih seru, kali ini kami mendapat lokasi di blok bukaan baru, yaitu di dekat sungai. Bersama keluarga, dengan beberapa tenda yang kami sewa, berasa punya area privat, deh. Karena sudah berpengalaman pada camping sebelumnya, kali ini bawaan saya sudah mirip kayak orang pulang kampung, bukan lagi standar anak pramuka. Tapiiiii, mungkin ini hanya sementara karena kami mulai mengincar perlengkapan naik gunung biar lebih praktis.


Gunung Gede dan Gunung Pangrango
Menempati area camping bukaan baru, dengan batu gede di sana-sini, kalau siang lumayan enak. Teduh dan bisa buat duduk-duduk. Anak-anak pun bisa bermain dengan suka ria dan berlarian ke sana-sini atau main di sungai. Ditambah cuaca hari itu yang, alhamdulillah lumayan cerah. Tapi kalau malam, batu-batu ini buat anak-anak cukup mengganggu. Awalnya kami mengincar area blok dekat danau seperti sebelumnya. Tapi karena fully booked, ditambah bawa anak-anak kecil... akhirnya kami memilih lokasi baru ini.
Lokasi camping di blok bukaan baru, dekat sungai
Kali ini saya membawa dua tenda. Satu tenda cukup besar sehingga bisa buat sholat dan satu tenda ukuran sedang. Ternyata tenda yang besar sangat membantu karena sekaligus bisa kami jadikan mushala. Jadi enggak perlu bolak-balik nyari tempat sholat. Wudu pun bisa langsung dari sungai. Dan, sepertinya kali ini kami pesan ke orang yang tepat karena kami enggak perlu porter buat mengangkut barang-barang karena bisa parkir dekat area camping. Yay! happy.... :)

Siang itu, karena cuaca cerah, akhirnya sebagian dari kami bisa trekking menuju Air Terjun Cibeureum. Saya sih, karena tadi malem masih ngantor dan baru tidur sekitar 2 jam, memilih tidur di tenda karena yakin fisik saya akan kelelahan kalau terlalu dipaksa naik. Manalah kami berangkat saat subuh.
Air Terjun Cibeureum
Sebagian yang trekking
Jalan Menuju Air Terjun
Setelah merasa cukup tidur dan sholat, saya duduk-duduk bersama kakak dan ngobrol sambil menyiapkan makan siang buat yang mengikuti trekking. Sementara keluarga yang belum sampai di lokasi karena masih kerja, mulai "terbakar" akibat foto-foto yang kami kirim. :p


Lagi asyik nyantai, tiba-tiba hp suami berbunyi. Dan, terjadi percakapan aneh dengan petugas bank (PB) yang promosi produk.
Saya: Halo
PB: Ya, halo. Bisa bicara dengan bapak?
Saya: Oh, sedang keluar, Mas... Ini dari mana?
PB: Saya dari Bank xx. Mau menawarkan program XX. Bapak lagi keluar rumah ya Bu? Kira-kira berapa menit lagi baliknya?
Saya: Ehm, Mas, mas... kami sedang camping. Dan suami saya lagi ke atas, naik gunung, tuh.
PB: Huahahahaha (ketawa ngakak). Maaaf kalo begitu, Bu. Hati-hati ya.


Sore menjelang. Anggota rombongan yang trekking ke Air Terjun Cibeureum sudah sampai lagi di kawasan camping dan langsung menyerbu makanan. Yang anak-anak, termasuk Kira, ajaibnya... masih bisa lari-larian, muterin danau dengan perahu, dan berakhir dengan mandi dan main di sungai. Saya cukup takjub karena Kira, yang masih TK itu, bisa jalan sampai ke air terjun. Meski sesudah itu kalo ditanya jawabnya: capek banget. :D
Yang semangat mau ke air terjun
Sekarang mau ke mana kita?
Kira dan Pakde Pujo
Malam menjelang. Saya sangat bersyukur hari itu cuaca cerah. Beda sekali dengan camping sebelumnya yang diguyur hujan seharian dan semalaman. Bintang-bintang mulai kelihatan dan kunang-kunang (iyaaaaa... kunang-kunang) mulai muncul di sekitar sungai. Sehabis magrib kami mulai menyiapkan makan malam. Keluarga yang menyusul pun sudah bergabung.


Oke, camping macam apa kami ini.... Karena makanan kami terdiri dari: sosis bakar, french fries, dan indomi komplet (telur dan bakso). *ketawa guling-guling berasa lagi di restoran fast food dan warteg* Untung kornet dan sawi gak ada.
Sungguh, saya suka area ini... kayak di film2 Korea! :D
Yang akhirnya naik perahu di danau
Malam itu saya masuk tenda lebih dulu dibandingkan yang lain karena nemenin Kira. Dan ya ampuuun, malam itu benar-benar berasa di sekeliling salju. Semua perlengkapan yang kami bawa: selimut, jaket, kaos kaki, sleeping bag, bed cover (iya, buat anak-anak) gak mampu mengusir dinginnya malam itu. Berkali-kali kami bangun karena dingin yang kebangetan. 


Paginya? jangan ditanya. Sudah berasa kayak berbalok-balok es di sekeliling kami. Apalagi harus ke kamar mandi. Brrrrr.... Pagi itu aktivitas kami tidak banyak. Hanya sarapan, beres-beres tenda, dan mandi (hanya bagi yang mau).


Sepertinya camping berikutnya kami harus mulai menyisir taman nasional satu lagi, yaitu Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Bunga Randa Tapak (Dandelion) yang bertebaran di sana-sini. Canteeek...
Karena terkait area camping sudah saya tulis di postingan sebelumnya, sekarang saya nulis tips dan info tambahan saja deh:
  • Toilet memang bersih. Tapi kalau musim liburan panjang kayak kemarin dan hampir semua blok penuh, toilet agak jorok. Jadi, bisa dipastikan, hal itu karena pengunjung yang enggak menjaga kebersihan. Kalo ke tempat umum, jaga kebersihan, please.
  • Sinyal handphone, untuk beberapa provider hidup-mati, lemah, bahkan ada yang gak dapat sinyal sama sekali.
  • Lengkapi diri dengan perlengkapan yang komplet karena kalau musim hujan dinginnya minta ampun. 
  • Naik perahu di danau Rp 20.000 per jam

Tempat Camping lainnya:

Tahun Baru: Pesta, Belanja...?

Selamat Tahun Baru 2014!
Ini postingan pertama di tahun baru. Setelah males-malesan di tahun lalu dan target postingan tidak tercapai, kini saatnya singsingkan lengan baju buat nulis. Yay!

Menjelang tahun baru, yang tentunya juga berbarengan dengan liburan anak sekolah, hampir semua foto profil teman berlatar belakang tempat wisata. Memang ini saatnya berlibur setelah hampir setahun bekerja keras. Tapi bagi saya, ehm... hal itu seperti di awang-awang.
Yang gak punya kalender, bisa download gratis... :D
Kalaupun tahun lalu saya bisa berlibur ke luar pulau, itu pasti di hari yang enggak banget. Tahun 2013 pun ditutup dengan bisikan beberapa teman, "Kamu minggu ini dapat libur enggak, sih?" :D Beginilah nasib jadi bujangan karyawan. Enggak usah khawatir saya gak libur, karena dengan keberanian yang setara dengan orang antri BBM, saya bisa mendapatkan libur meski di jadwal sama bos ditulis KB. Kemungkinan Besar? Salah... ternyata maksud si bos adalah Kalau Bisa.

Tapi sepertinya bos saya bosen ditanya-tanya terus sama emak-emak satu ini, akhirnya saya dikasih libur. Seneng? Meski cuman sehari tetep seneng, daripada teman saya yang gak dapet libur... :p

Dengan kondisi begitu, namanya manusia, saya tetap enggak puas. Masalahnya, saya gak bisa menghampiri semua spanduk diskon yang dijembreng gede-gede di mal. Satu pun tidak. Libur yang cuman sehari gak mungkin banget buat saya untuk melakukan "me time". Penting gitu belanja? Namanya emak-emak macam saya ini, mata rasanya gatel kalo liat tulisan diskon. :D

Akhirnya melipirlah saya ke salah satu situs belanja. Kenapa bukan online shop yang bertebaran di Facebook? Mereka gak ngasih diskon, cuy.... Saya ini memang modis, modal diskon! Setelah pilah-pilih, saya akhirnya parkir di Zalora. Well, saya orang yang sedang terkena demam aplikasi di ponsel. Jadi begitu tahu itu situs ada aplikasi di ponsel, saya download lah. Jadi sambil naik kereta menuju kantor, saya masih tetep bisa belanja! #eh Cuman karena itu? nope.
Zalora mobile app
Setelah tanya ke beberapa teman, ternyata mereka sudah pernah belanja di Zalora. Dan kata teman saya, kalau kita COD, dan misalnya barang gak pas sama ukuran kita, bisa dituker, gratis! What? Sesuatu kan ya? Karena saya pernah harus nuker ke OL shop dengan biaya bolak-balik ditanggung sendiri. *sigh* Dan yang penting diskon, masih ditambah free biaya pengiriman. *joget-joget ala zumba biar agak sehat*

Oke, keinginan belanja terpenuhi. Sekarang tinggal: pesta! Pesta, di tahun baru? Hampir semua orang melakukan itu. Contohnya saja di Festival Malam Jakarta. Bisa ngitung berapa orang yang dateng ke acara itu? Mungkin untuk perbandingan dan latihan, belajarlah ngitung semut-semut merah yang berbaris di dinding... :D

Bagi saya,  pesta tahun baru kali ini berarti melihat kembang api di mal deket rumah. Dan sepanjang hidup saya, baru sekali ini saya melihat kembang api di mal. Itu pun karena menuju tempat itu cuman perlu ngesot, jadi gak perlu jauh-jauh dan macet-macetan. Berangkat dari rumah pun menjelang detik-detik pergantian tahun. Hidup memang enak kalo pas-pasan gitu. Pas deket rumah ada mal, pas ada kembang api, pas gak perlu macet-macetan.

Happy New Year, everyone.... Wish you a bright and happy new year.