Sunday, January 26, 2014

Seberapa Berharga Nyawa Manusia?

Minggu lalu, suatu malam.
Saya baru saja turun dari mobil teman saya di seputaran Semanggi. Seperti biasa, saya pun menuju salah satu mobil omprengan yang parkir di seberang Polda itu.

Baru saja saya menyapa sang sopir, Pak Udin, sopir lain datang. Dan tanpa ba-bi-bu, sopir itu langsung menampar Pak Udin. Kejadian begitu cepat.... Pengejaran, perkelahian, dan entah apa lagi.

Sebagai penumpang yang berpikir bahwa saya harus cepat-cepat sampai rumah, saya cuma bisa memandang kejadian itu dengan bingung dan shocked. Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala: bisakah saya pulang? apakah para sopir omprengan akan kembali? bagaimana akhirnya mereka?

Malam itu, akhirnya... saya tidak jadi naik mobil omprengan yang dikendarai Pak Udin. Saya dan penumpang lain berpindah ke mobil omprengan sopir satunya. Dan malam itu, dia mengendarai mobil saya dengan wajah penuh darah hasil perkelahiannya. *sigh*

Beberapa hari kemudian, suatu malam.
Saya menerima kabar dari seorang sopir omprengan lain bahwa Pak Udin, dalam perkelahian malam itu, akhirnya tewas. Jasadnya ditemukan esok paginya di seputaran Semanggi. Innalillahi wainnailaihi rojiun...

Saya shocked. Sampai segitunyakah? Demi uang yang bagi sebagian orang mungkin "cuma" seharga dua gelas kopi di gerai terkenal, Pak Udin harus bertaruh nyawa. Bertahun-tahun saya menemui banyak kejadian aneh dan menyedihkan di jalanan, tapi enggak ada yang setragis nasib Pak Udin. Semakin sedih saat sopir omprengan yang mengantar saya malam itu bercerita bagaimana kondisi terakhir Pak Udin.  Apakah hanya segitu harga sebuah nyawa manusia?

Saat saya posting soal kondisi Pak Udin di Facebook, berselang beberapa menit, di belahan bumi lainnya, keponakan saya memposting kondisi terakhir dirinya di kampus, Purdue University. Hari itu, saat dia berada di lab kampusnya, terjadi penembakan. Satu orang tewas akibat penembakan itu.

Menyedihkan. Seberapa berharga nyawa seorang manusia saat ini? :(  

10 comments:

joe said...

barangkali memang orang-orang kita terkenal sebagai orang2yang suka nekat

Hanna HM Zwan said...

innalillahi....ngeri ya sekarang,apa2 kelahi... :(

Ristin said...

Ngeri bgt mbak.. Aku jg bbrp kali tuh pernah naik omprengan dari semanggi, kondisinya memang rame, dan hectic, mgkn itu jg yg bikin kyk rebutan penumpang ya? Semoga ga ada lg perkelahian spt crt mbak yaa.. Kita sama2 cari rezeki, harusnya masih inget tuk saling mnghargai, rezeki udh ada bagiannya masing2. Hiks..ikut prihatin...

fitri anita said...

Inalillahi...segitunya ya...Rezeki kan sudah ada yang mengaturnya...

Lidya - Mama Cal-Vin said...

Innalillahi, seram juga ya mbak

duniaely said...

wah .. sampai serem bgt ya mbak ceritanya ?

Bibi Titi Teliti said...

Retmaaaa...
syerem ceritanya deh :(

Mudah2an kita selalu berada dalam perlindungan Allah yaaaah...

Della said...

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.. Ah Ma, ngeri bangeeeeeettt.. T^T

ririe said...

miris kalau dgr/lht org demikian mudah menyebabkan nyawa orang lain emlayang Mbak.

Jd ingt seorang warga negara Jerman pernah bilang jk di Indonesia yg paling murah adalah Nyawa manusia :(

retma-haripahargio said...

@ririe: What?? Sampe sebegitunyakah pandangan orang luar terhadap Indonesia? Miris dengernya. :(