Monday, August 04, 2014

Pantai Ambal: Laut, Sate, dan Pacuan Kuda

Apabila disuruh menggambarkan Ambal dalam tiga hal, saya akan memilih: pantai, pacuan kuda, dan sate Ambal.

Ambal merupakan satu kecamatan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Apabila kita dalam perjalanan mudik Jakarta-Yogyakarta atau sebaliknya dan dialihkan ke selatan menyusuri Jalan Daendels, bisa dipastikan kita akan melintasi kawasan ini.
Pantai Ambal, satu dari banyak pantai di Kabupaten Kebumen
Saat musim mudik, kawasan ini cukup ramai karena Jalan Daendels merupakan jalur alternatif selatan-selatan atau dikenal juga sebagai jalur pantai selatan. Di sepanjang jalan ini, kita juga akan menemui banyak papan petunjuk menuju sejumlah pantai.

Pantai Ambal
Dari banyak pantai di sepanjang jalur selatan, yang paling saya kenal adalah Pantai Ambal. Tentu saja karena saya lahir dan besar di kecamatan tetangga yang tidak jauh dari kawasan ini. Saat kecil, saya beberapa kali diajak ibu ke kawasan ini untuk mengunjungi beberapa pengusaha emping. Selain tiga hal yang saya sebutkan di awal tulisan, kawasan ini sebenarnya juga terkenal sebagai penghasil emping melinjo. 
Anak Pantai
Saat Lebaran tiba, Pantai Ambal menjadi salah satu tujuan wisata warga sekitar. Sebenarnya tidak banyak yang istimewa dari pantai ini. Seperti umumnya pantai selatan, Pantai Ambal juga mempunyai ombak yang tinggi dan hamparan pasir hitam. 
We Love It! Blue sky, blue sea, beautiful sunshine
Sejak dua tahun terakhir, setiap mudik, pantai ini selalu menjadi tujuan kami untuk berwisata. Biasanya kami berangkat pagi-pagi sehingga sampai pantai belum banyak orang dan aktivitas yang ramai. Anak-anak suka main di pasir, membuat menara, bermain ombak. Dan setelah itu, biasanya mereka berenang di kolam-kolam nonpermanen yang mendadak muncul selama musim libur Lebaran.
Menunggu Ombak
Kolam-kolam yang terbuat dari terpal ini lumayan menghibur untuk anak-anak. Setelah bermain di pantai, penuh pasir, anak-anak biasanya main di kolam-kolam ini sebelum kemudian berbilas di tempat pembilasan yang juga nonpermanen. Tarifnya lumayan murah, dua anak cukup membayar Rp 5.000 untuk bermain sepuasnya.

Di sekitar kolam-kolam ini biasanya berjejer para penjual makanan dan mainan. Dari nasi pecel, gorengan, sate, aneka minuman, sampai nasi uduk.

Pacuan Kuda
Menjelang Lebaran, biasanya kuda-kuda terbaik mulai berdatangan ke kawasan ini. Beberapa kuda itu didatangkan berhari-hari menyeberangi lautan untuk mengikuti kejuaraan berkuda yang biasanya diadakan beberapa hari setelah Lebaran.

Pacuan kuda se-Jawa-Bali biasanya digelar tidak jauh dari kawasan pantai. Tahun-tahun lalu kami selalu mampir melihat kuda-kuda berlatih di tempat pacuan yang kesannya "tingkat kampung". Penutup dari seng yang seadanya, tempat loket yang cuma dari bedeng, sama sekali tidak mencerminkan bahwa pacuan kuda di tempat ini untuk sekelas Jawa-Bali.

Waktu kecil, beberapa kali saya sempat melihat kuda-kuda berpacu di arena. Tapi sepertinya saya tidak betah. Panas, persiapan yang lebih lama daripada pacuannya, membuat saya tidak lagi mengunjungi tempat ini.

Kalau pagi-pagi kita menyusuri kawasan Ambal selama musim Lebaran, jangan heran kalau di sana-sini melihat orang, dewasa maupun anak-anak, menuntun kuda. Bahkan kuda-kuda yang digunakan untuk menghibur para wisatawan di pantai sebagai kuda tunggang, beberapa di antaranya adalah kuda pacu atau mantan kuda pacuan. Bedanya dengan kuda biasa: kuda-kuda yang biasanya berlari di lintasan pacu ini punya bodi yang besar dan cukup tinggi.

Pada musim itu, banyak penduduk yang menyewakan lahannya untuk digunakan sebagai "istal" kuda dan tempat menginap para joki. Jangan bayangkan pacuan kuda di sini seperti di arena pacu kuda di Inggris sana. Jauuuuh... Namun sebagai hiburan, sebagai sarana wisata, boleh lah.

Sate Ambal
Sate Ambal adalah kuliner paling terkenal di kawasan ini, bahkan menjadi salah satu makanan khas Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Sate Ambal Pak Solikin, satu dari banyak warung sate Ambal
Sate Ambal
Kalau Anda menyusuri Jalan Daendels dan masuk di kawasan Ambal, di kanan-kiri jalan akan banyak ditemui warung sate Ambal

Sate Ambal berbeda dengan sate ayam kebanyakan yang berbumbu kecap. Sate ini biasanya dari daging ayam yang diiris tipis (Iya, diiris tipis, bukan bulet-bulet seperti kebanyakan sate ayam). Dan yang paling beda dan menjadikannya khas adalah bumbunya! Bumbu sate Ambal berasal dari tempe. Tempe yang sudah dikukus, kemudian dihaluskan dengan cabe dan bumbu lainnya. Jangan bayangkan rasa tempe goreng atau tempe bacem atau olahan tempe lainnya. Meski berasal dari tempe, rasa tempe hampir tidak ada bekasnya. Yang ada adalah rasa bumbu yang kental, manis, pedas, dan gurih.
Tumpukan sate yang belum dibakar. Dagingnya diiris tipis...
Sate Ambal dengan bumbu yang khas: tempe
Banyak warung sate Ambal yang terkenal di kawasan ini. Misalnya: Pak Kasman, Pak Solikin, atau Pak Mio. Yang terakhir adalah langganan keluarga kami sejak saya kecil dan biasanya mangkal di sekitar Pasar Kutowinangun. Ya, kalaupun tidak melintasi Jalan Daendels, kita masih bisa menikmati lezatnya sate ini di sekitar Pasar Kutowinangun. Di sekitar pasar itulah biasanya banyak penjual sate Ambal mangkal. Dagangan mereka biasanya digelar dan dibawa dengan pikulan.

Sate Ambal biasanya dimakan dengan ketupat atau nasi. Benar, ketupat! Bukan lontong seperti kebanyakan sate lainnya. Jadi, kalau mau menyantap sate Ambal secara komplet dengan kekhasannya, makanlah dengan ketupat! :)
Sate yang baru matang
Satu harga!
Jadi... kalau tiba-tiba dalam perjalanan mudik kemudian lalu lintas dialihkan lewat jalur selatan-selatan menyusuri Jalan Daendels, tidak usah galau. Banyak hal bisa dinikmati di kawasan ini. Saran saya: isilah bensin secukupnya sebelum melintasi jalur ini dan usahakan kendaraan dalam kondisi prima.

No comments: