Saturday, August 09, 2014

Mudik Terparah: 36 Jam demi Kampung Halaman!

Lebaran tahun ini, kami menjalani perjalanan mudik paling parah sepanjang sejarah! *lebay, biarin* 
Bayangkan, 36 jam harus kami habiskan hanya untuk perjalanan Bekasi-Kebumen. Padahal, dalam kondisi normal, perjalanan itu bisa kami tempuh hanya dalam waktu 12 jam, bahkan kurang. Kalau diandaikan, perjalanan mudik kami sudah setara dengan perjalanan Jakarta-AS. Kebangetan? Sangat!
Suatu masjid di suatu tempat...
Kalau ada yang tanya, buat apa macet-macetan hanya untuk berlebaran di kampung? Saya akan menjawab, yang paling saya kangeni adalah: sholat Id bersama-sama, antri sungkem ke orangtua dan orang yang lebih tua, serta makan bersama-sama setelah shalat Id. Selain itu bisa bercerita berbagai hal dengan sanak famili dan kenalan. Menapak tilas segala hal pada masa kecil. Wisata kuliner. Ziarah. Dan tentunya sederet daftar kegiatan yang hanya bisa dilakukan di kampung halaman saat Idul Fitri tiba. Bagi saya, mudik bukan hanya sekadar pulang ke kampung halaman, tapi sudah semacam "perjalanan batin dan kenangan".

Sabtu, H-2
Perjalanan mudik kami tahun ini dimulai pada Sabtu, dua hari menjelang Lebaran. Beberapa jam sebelum kami memulai perjalanan, kegiatan kami hanya memantau Twitter, mantengin semua akun yang terkait dengan lalu lintas dan info mudik. Kami akhirnya sampai pada kesimpulan: semua jalan macet. Bahkan Jalan Tol Cikampek sejak KM 50-an sudah stuck, berhenti. 

Dengan memantapkan hati *tsah* akhirnya kami memulai perjalanan mudik setelah sholat zuhur. Sempat senang karena perjalanan sore itu lalu lintasnya tidak berarti. Kami bisa melaju dan sempat berharap akan mengalami perjalanan mudik seperti tahun lalu yang hanya menempuh perjalanan sekitar 12 jam! Kilometer 50-an yang dilaporkan macet di Twitter sudah lengang dan kami tetap bisa melaju tanpa hambatan.

Namun, ketika kami sampai di KM 68, kami sempat terbengong-bengong dan bingung dengan banyaknya mobil yang berbalik arah! Ini beneran mobil-mobil berbalik arah, melawan arus di tengah jalan tol! Tadinya saya berpikir ada Decepticon yang datang menyerang bumi kecelakaan. Dan dengan sok kalem kami tetap maju beberapa meter dan ternyata... haish! Kemacetan membentang di depan kami. Saya ingat kami belum begitu lama melintasi area untuk keluar menuju Dawuan dan bus-bus mengambil jalur itu. Akhirnya, dengan keberanian yang bisa disetarakan dengan Optimus Prime dipaksakan, kami memutar balik di tengah jalan tol, melawan arus, dan mengikuti mobil-mobil lain keluar menuju Pintu Tol Dawuan.

Jangan tanya ada polisi atau tidak. Layaknya film superhero, polisi mungkin akan datang kalau pertarungan kemacetan sudah kelar. :D Saya tidak akan menggambarkan letak Dawuan di mana. Pokoknya, kami melipir menghindari Jalan Tol Cikampek. Yang artinya, kami berada di sepanjang pinggir jalan tol itu.

Magrib tiba. Kami terpaksa berbuka puasa di mobil, di tengah kemacetan yang menggila. Untuk bisa berputar balik ke arah Cikampek karena jalan ternyata dialihkan, kami harus menempuh perjalanan sekitar 2-3 jam. Itu hanya untuk memutar balik. Perjalanan berikutnya makin membuat kami, para pemudik, mengelus dada.

Saya tahu bahwa Jembatan Comal di Pemalang belum berfungsi seperti sedia kala. Pun Jembatan Cibaruyan di Ciamis. Tapi saya tidak pernah menyangka dampaknya akan sedahsyat ini ke lalu lintas di jalur tengah dan selatan. Menggerutu ke pemerintah di tengah kemacetan yang mengular tidak berguna karena makin membuat kita emosi. Akhirnya kami hanya bisa pasrah, ikut berderet bersama ribuan orang lainnya menuju kampung halaman.

Tengah malam. Kami berhenti di sebuah masjid entahlah di daerah mana. Yang pasti belum jauh dari area Cikampek dan sekitarnya. Lelah lahir batin sudah mendera. Perjalanan panjang masih membentang tanpa kepastian kapan kami akan sampai. Setelah istirahat, Mas tidur sekitar 2 jam, dan makan Pop Mi (yang akhirnya kami hitung sebagai makan sahur karena kemacetan parah dan susah berhenti), kami pun melanjutkan perjalanan kembali.

Minggu, H-1
Subuh menjelang. Kami berhenti lagi di sebuah masjid. Meski dibilang sebuah masjid, tempat ini serupa dengan mushola, dengan kondisi yang memprihatinkan. Lantai retak di sana-sini, atap yang sudah tidak lagi rata, dan beberapa bagian plafon bolong. Kondisi sekitarnya, yang rencananya mau dibangun pesantren, bahkan terkesan kumuh.

Tapi alhamdulillah kami masih bisa sholat subuh dan beristirahat di sini. Mas (mencoba) tidur lagi, sementara saya memandikan anak-anak. Untungnya anak-anak tidak rewel. Karena dalam perjalanan ini kami menyiapkan banyak buku cerita buat mereka, pagi itu mereka bisa duduk-duduk tenang menyongsong hari baru sambil baca di mobil, menunggu papanya siap melanjutkan perjalanan lagi.

Siang yang menyengat. Sudah hampir 24 jam kami berada di jalan, tapi jarak yang kami tempuh hanya sepertiga menuju tempat tujuan. Macet, ruwet. Kami hanya bisa bernapas lega ketika memasuki Tol Palimanan-Kanci dan Kanci-Pejagan, lepas dari kemacetan yang menggila. Saya sempat menggantikan Mas nyetir di tol ini agar dia bisa beristirahat. Namun kalau ingat bahwa kami baru melintasi Cirebon-Brebes, rasa kesal langsung menyergap.

Keluar tol, kami disambut dengan kemacetan yang menggila. Ini lintasan yang paling tidak saya suka selama mudik: Pejagan dan Bumiayu. Di lintasan ini, kami lebih sering berhenti. Akhirnya saya gantian nyetir lagi supaya Mas bisa istirahat. Dan di tengah macet yang menggila, yang tidak kami tahu di mana ujungnya, saya dan Nikki berandai-andai: Andai ada baling-baling bambu atau pintu ke mana saja punya Doraemon. Atau ada rental Buckbeak-nya Harry Potter (atau punya Hagrid?). :D Sementara Kira mulai bertanya: "Kampung di mana sih? Jauh banget ya? Kok kita enggak sampai-sampai?"

Magrib tiba. Kami masih terjebak macet di Brebes. Buka puasa hari itu hanya: teh manis yang suam-suam kuku karena air panas di termos yang kami bawa sudah berumur lebih dari 24 jam. Tidak ada makan besar, hanya biskuit-biskuit yang kami bawa. Di kanan kami hanya ada sungai. Sementara di kiri kami hanya semak-semak. Kalaupun ada rest area Mie Sedap yang kami temui kemudian, penuh sesak dengan para pemudik yang juga berbuka puasa.

Malam pun menghampiri kami. Di udara, suara petasan berkali-kali menggema, mengiringi gema takbir yang sudah mulai terdengar di mana-mana. Dan kami masih terjebak di "antah berantah", bahkan semua mobil di belakang dan depan kami mematikan mesin karena kondisi lalu lintas yang sama sekali tidak bergerak.

Para pengemudi, termasuk Mas, keluar dari mobil dan saling bercakap-cakap. Penumpang bus di sebelah kami banyak yang turun dan berjalan-jalan menghilangkan penat. Gelap karena tidak ada penerangan dan semua mobil mematikan mesin dan lampu. Di tengah kondisi demikian, anak-anak masih menikmati suasana karena mereka bisa melihat: bintang! Bintang yang sangat banyak bertaburan di langit malam itu. Sangaaaaatttt... banyak, menemani kami para pemudik yang sudah lelah lahir batin. 

Akhirnya, setelah entah berapa lama, kami bisa bergerak kembali. Dan ujung dari kemacetan itu adalah: pengaturan lalu lintas yang menurut kami tidak seimbang. Kami dibiarkan berlarut-larut dalam kemacetan, sementara dari dua arah lain hanya diisi sedikit kendaraan. Kami sempat beristirahat di sebuah SPBU untuk mengisi bensin dan makan mi instan (lagi). Kondisi toilet di SPBU ini sangat parah. Tidak ada air, dan sampah menumpuk di toilet. Yaiks.... :(

Kami melanjutkan perjalanan kembali. Awalnya, kami ingin beristirahat di suatu penginapan atau hotel karena sudah terlalu lelah. Tapi kalau mengingat kami  berkejaran dengan waktu, agar bisa sholat Id di kampung, rasanya sayang banget "membuang" waktu di tempat tidur. 

Tengah malam. Kalau mendengar suara takbir yang menggema di masjid-masjid yang kami lintasi, rasanya sedih. Seharusnya kami sudah ada di rumah atau di masjid mengagungkan nama Allah SWT. Namun nyatanya, kami masih harus melintasi jalanan tanpa tahu kapan kami sampai.

Senin, Hari-H
Dini hari. Akhirnya kami terlepas dari kemacetan dan masuk kota Banyumas. Kami sempatkan membeli oleh-oleh getuk goreng untuk keluarga. Setelah itu kami memasuki kota Purwokerto yang lengang dan terus menemui jalanan yang lancar. Tentu saja sepi. Ini adalah dini hari dan hari raya! Beberapa jam lagi orang-orang akan berduyun-duyun memasuki masjid dan lapangan.

Dan akhirnyaaaa... Alhamdulillah. *sujud syukur* Kami tiba di kampung halaman, setelah 36 jam perjalanan yang sungguh menguras waktu, tenaga, dan emosi. Alhamdulillah kami masih bisa sholat Idul Fitri bersama-sama keluarga. Alhamdulillah kami masih bisa menikmati Lebaran hari pertama di rumah.

Tahun ini adalah perjalanan mudik terparah yang kami alami. Kalau sampai pemerintah mengatakan mudik tahun ini aman, lancar, dan sebagainya... saya yakin pemerintah sudah mulai delusional dan denial sama kenyataan. Semoga pemerintahan baru nanti mendengar jeritan hati kami, para pemudik, yang setiap tahun memadati jalur utara, tengah, dan selatan.

Selamat HARI RAYA IDUL FITRI. Minal Aidzin Wal Faidzin.
Semoga semua amal ibadah kita di bulan Ramadhan diterima Allah SWT.
Dan Maaf Lahir Batin apabila ada salah kata, tulisan, dan tindakan.
**Wiko-Retma-Nikki-Kira*

4 comments:

Idah Ceris said...

Berarti 3x lipat dari kondisi normal ya, Mba.

Meski banyak menjumpai yang "tidak enak" saat diperjalanan, ini akan menjadi kenangan, ya.

Keke Naima said...

mudik lebaran lalu kayaknya termasuk yang luar biasa macetnya, ya.

Lidya said...

lama juga ya mbak 36 jam, tapi terbayar ya pas sudah sampai di kampung halaman. Maaf lahir batin mbak

christine natalia said...

Mau Jalan-jalan gratis ke Macau dan iPhone 5c GRATIS?
Yuk ikutan lomba blog 'Why Macau' di sini http://bit.ly/WhyMacau
Caranya mudah, tuliskan keinginanmu untuk pergi ke Macau. Topik nya bisa tentang kuliner, objek wisata, kebudayaan, dan tempat populer di Macau. Sertakan foto atau video agar tulisanmu lebih menarik.

Lihat info selengkapnya di sini http://bit.ly/WhyMacau