Wednesday, September 24, 2014

Melawan Arus...

Tahun ajaran baru sudah berlangsung hampir tiga bulan. Dalam masa itu, saya "berjuang" sebagai orangtua. Well, hari ini kondisinya adalah seperti ini:
Akira: Best Student of The Week
Akira: dengan bintang sebagai penghargaan untuk Math
Tidak usah langsung merasa minder atau merasa kenapa-kenapa. Saya melalui fase panjang untuk menampilkan senyum itu. Senyum agar dia nyaman bersekolah. Saya tidak mengharapkan atau menargetkan Kira mendapatkan penghargaan ini-itu. Saya hanya mengharapkan senyum itu setiap kali dia bersekolah. Sesimpel itu.

Saat Playgroup, Kira punya kepercayaan diri yang besar. Dia mau tampil di mini concert sekolah dan selalu merasa senang berangkat sekolah dan menemui teman-temannya. Kemudian TK dia menempati sekolah baru. Alhamdulillah TK A berlangsung mulus selama setahun. Dan, kemudian... saat masa TK B akhir, dimulailah perjuangan kami sebagai orangtua.

Saya tidak pernah menargetkan anak-anak untuk selalu berprestasi. Yang saya inginkan adalah mereka menikmati sekolah, menikmati masa kanak-kanak, belajar sesuai umur, dan mengerti serta memahami ilmu yang diberikan. Dengan pemikiran seperti itu, saat hampir semua teman-teman Kira di TK B menjalani les hampir setiap pulang sekolah, saya menjemputnya tepat waktu. Hanya Kira dan satu temannya yang tidak les.

Ternyata saya kecolongan. Sungguh! Di TK itu anak-anak diharuskan bisa membaca, bahkan pernah sekali Kira dibawain PR. Saat itu saya meradang dan sedih. Dan yang lebih membuat saya terluka dimulailah fase-fase di mana Kira mulai susah sekolah. Dia mulai sering menangis, takut menghadapi angka-angka dari soal Matematika yang disodorkan gurunya di TK. Saya mencoba ngobrol dengan sang guru. Tapi tetap saja soal-soal les juga diberikan ke semua murid pada waktu jam belajar.

Saya menjalani minggu-minggu penuh perjuangan. Tetap pada pendirian, melawan arus besar, atau mengikuti arus. Bukan keputusan yang mudah. Mengikuti arus, itu artinya Kira harus ikut les, mengubah segala pendirian saya bahwa dia masih duduk di taman kanak-kanak. Taman... yang artinya porsi main seharusnya lebih besar. Atau tetap pada pendirian dengan segala konsekuensinya. Akhirnya keputusan dibuat: kami, sebagai orangtua, menentang arus!

Fase pertama terlewati. Kira lulus dari TK dan masuk SD. Yang membuat saya sedih adalah dia seperti mengalami trauma. Setiap kali bel sekolah berbunyi, dia akan panik dan menangis, atau terkadang memegang erat tangan saya dan berbisik: "Mama... 8 + 1 itu jadinya berapa?" Oh, Nak... tahukah kamu bahwa saat itu Mama sedih sekali? hancur rasanya mendengar dan melihatmu begitu.

Tiga bulan ini berat bagi saya (dan Kira tentunya) untuk menjalaninya. Akhirnya saya memulai "program" untuk menenangkan dia, mengembalikan segala kepercayaan diri dia yang mendadak luntur dan hilang. Berbagai upaya kami usahakan. Dari mulai berbicara dengan wali kelasnya (yang alhamdulillah banget mau membantu upaya kami memulihkan kepercayaan diri Kira) hingga mengikutkannya ke kelas bela diri.

Kenapa bela diri? Bagi kami: dia bisa "melampiaskan" ke aktivitas fisik, selain agar dia percaya ke dirinya bahwa dia "kuat". Step demi step kami lalui. Dan hampir tiga bulan berlangsung sejak saya bilang: "Enggak apa-apa, dek. Mengerjakan soal salah itu enggak apa-apa. Nanti kita benerin di rumah. Belum tahu itu enggak apa-apa, karena itu makanya adek sekolah, dan itu gunanya sekolah."

Saya terharu dan bangga dengan hasil perjuangan Kira. Foto-foto di atas adalah hasil perjuangan dia mengembalikan semua kepercayaan dirinya. Lebih dari itu, senyum itu kembali muncul. Setiap kali bel sekolah berbunyi, tidak ada lagi kepanikan atau ketakutan atau air mata.

Bagi saya tiga bulan ini berat. Dan masih panjang perjalanan kami, menghadapi Kurikulum baru yang juga berat. Semoga selalu bisa menampilkan senyum itu ya, Nak! Kami akan selalu mendukungmu. Dan bangga karena hingga detik ini, kamu adalah pemenang yang mau berjuang! *peluks*