Tuesday, December 30, 2014

Lost In Manado

Kamis sore
H-1 saya pergi ke Ternate. Bukan untuk jalan-jalan atau liburan. Tapi karena tugas kantor. Rencananya, saya dan dua teman kantor yang semuanya perempuan, akan memberikan pelatihan untuk guru-guru anggota PGRI di Ternate. Satu teman saya dari segi jurnalistik dan saya untuk bahasa. Sementara satu yang lain dari bagian marketing.

Sore itu sebenarnya saya masih cuti. Tapi karena untuk pengurusan tiket pesawat dan barang-barang keperluan pelatihan, terpaksa saya ke kantor. Bawaan kami mirip orang mau pindah rumah. Maklum, belum ada kantor perwakilan di Ternate sehingga barang-barang harus dibawa dari Jakarta.
Pesawat yang akhirnya tidak pernah sampai sesuai tujuan
Bayangkan kami, 3 perempuan, harus membawa barang-barang untuk 120 peserta pelatihan (guru SMP dan SMA) serta perlengkapan lain. :D Demi efisiensi akhirnya barang-barang dibagi tiga untuk kami bawa masing-masing. Beratnya? Lumayan! Kelebihan bagasi? Hm, sekian juta. :p

Pesawat yang kami tumpangi rencananya berangkat pukul 4 pagi. Jadi kami janjian sekitar pukul 2 pagi sudah berada di bandara karena masih harus mengurus barang-barang sebelum check in.

Pukul 00 sekian. Pesan WA dari seorang teman masuk. Gunung Gamalama di Ternate mengalami erupsi. Oke, berusaha tenang. Saya kemudian memantau semua berita yang ada. Keputusan setelah berunding dengan teman-teman, kami tetap berangkat ke bandara.

Akhirnya kami bertemu di bandara. Saat check in kami bertanya kepada petugas apakah pesawat yang kami tumpangi akan tetap terbang dengan kondisi Gunung Gamalama seperti sekarang? Dan jawaban yang kami terima: tetap terbang. Kondisi masih memungkinkan.
Pagi itu, saat yang sama Gamalama erupsi
Di ruang tunggu, kami bertanya lagi. Dan jawaban tetap sama, pesawat tetap terbang dengan rute dan jam yang sudah ditentukan. Kami masuk bus yang mengangkut kami ke pesawat. Beberapa penumpang mulai ngobrol soal Gunung Gamalama. Masuk pesawat, kami bertanya lagi kepada petugas di pintu masuk. Dan jawaban yang kami terima pun sama. Akhirnya, subuh itu, saya terbang dengan rute Jakarta-Ternate.

Jumat pagi, 19 Desember
Di dalam pesawat, saya langsung tertidur. Sekitar 1 jam berlalu. Setelah makan pagi, saya tidur lagi. Namun sinar matahari yang mulai masuk lewat jendela pesawat membangunkan saya. Menikmati pagi yang mulai menyapa sambil ngobrol dengan penumpang lain, seorang penumpang asal Ternate. Saya mengobrol tentang tempat-tempat yang mungkin bisa dikunjungi.
Manado!

Para penumpang yang menunggu kepastian di counter Garuda
Tidak berapa lama, menurut perasaan saya, pesawat tidak lagi bergerak maju. Dan kemudian terdengar pengumuman bahwa kami tidak bisa meneruskan perjalanan karena Gunung Gamalama kembali erupsi. Pengumuman di pesawat: "Bagi Anda yang duduk di sebelah kanan, Anda bisa menyaksikan Gunung Gamalama sedang erupsi." Ya, saat itu sekitar pukul 7 pagi. Dan saat Gunung Gamalama meletus, saya berada di ketinggian, dan waktu itu berencana mendarat di dekatnya karena Bandara Sultan Babullah berada tidak jauh dari puncak gunung.
Petugas Garuda: Semua penerbangan ke Ternate... ditutup!
Menunggu beberapa menit di ketinggian. Dan akhirnya kami terpaksa mendarat di Bandara Sam Ratulangi, Manado. Saya dan para penumpang pesawat lain menunggu di ruang tunggu. Pengumuman awal, pemberitahuan lebih lanjut akan kami terima sekitar pukul 12 siang. Hah? Jadi selama sekitar 4 jam saya harus berada di bandara? :(

Saya keluar dari ruang tunggu Garuda dan keluyuran ke toko-toko di bandara. Teman saya masih sibuk mewawancarai para penumpang. Tidak lama, kami diminta ke restoran untuk makan dulu. Dan setelah itu, pengumuman berikutnya sungguh tidak enak: Semua penerbangan ke Ternate ditutup sampai waktu yang belum ditentukan.
Oke, kami mulai bingung. Kami punya janji besok pagi kami harus berada di Ternate. Tapi kami tertahan di bandara. Kemudian, pihak Garuda memberikan dua pilihan: kembali ke Jakarta atau menunggu. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu dengan harapan Gunung Gamalama akan makin kalem, hujan abu menipis, dan kami bisa mendarat di Bandara Sultan Babullah.
Novotel Manado. Di sini kami menanti kepastian...
Kami diangkut ke hotel yang disediakan oleh pihak Garuda. Karena hotel terdekat dengan bandara adalah Novotel, akhirnya kami menginap di situ. Tanpa kepastian, tanpa kejelasan, setelah wawancara sana-sini, mengirim berita, menghubungi teman yang ada di Manado, akhirnya kami jalan-jalan di kota ini.

Jalan-jalan yang tidak sepenuhnya bisa kami nikmati. Jalan-jalan di antara telepon sana-sini menunggu kejelasan: apakah kami pulang ke Jakarta? Apakah pesawat besok pagi bisa terbang lagi ke Ternate? Ataukah kami harus meneruskan perjalanan dengan kapal? Untuk sementara, kami terdampar di Manado!