Tuesday, December 29, 2015

"Bertualang" di Monumen Kapal Selam

Museum dan monumen berbentuk gedung? Ah, itu sudah biasa. Kali ini saya jalan-jalan ke Monumen Kapal Selam atau biasa juga disingkat Monkasel, monumen kapal selam terbesar di Asia!
Pintu gerbang Monkasel
Saat masih duduk di bangku sekolah, setiap kali sekolah mengadakan acara study tour atau kunjungan ke museum, monumen, atau tempat-tempat bersejarah lain, hampir bisa dipastikan saya tidak bisa menikmati kunjungan itu! Tetek bengek dan tugas dari sekolah membuat saya (dan mungkin teman-teman yang lain) lebih fokus mencari data daripada "menikmati" kunjungan dan menikmati perjalanan sejarah.

Akhir-akhir ini saya mengunjungi beberapa museum. Beberapa tempat sudah modern dengan pencahayaan yang bagus dan cukup informatif, sementara beberapa yang lain masih seperti gambaran museum saat saya masih duduk di bangku sekolah: suram, berdebu, dan sunyi. Beberapa cukup asyik dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, tetapi beberapa minim informasi.
Dalam perawatan

Suatu siang yang membakar Kota Surabaya, Jawa Timur. Setelah mengunjungi beberapa obyek wisata, kami (saya dan seorang teman) akhirnya mengunjungi dua museum terakhir yang ada dalam list kami. Salah satunya adalah Monumen Kapal Selam yang terletak di pinggir Kalimas. Destinasi ini kami pilih karena berada dalam jalur yang kami lewati dan... ngomong-ngomong, kapan lagi kami bisa masuk kapal selam?! :D

Taksi yang kami tumpangi memasuki suatu pusat perbelanjaan, Plaza Surabaya. Oke, saya agak bingung. Bolak-balik saya memastikan Gmaps apakah kami salah arah. Tapi ternyata, untuk menuju museum yang menjadi destinasi kami memang harus melewati pusat perbelanjaan itu. Awalnya saya bengong melihat jejeran mobil. Beneran museum ini begitu ramai?!  Saya cukup waswas jangan-jangan Monkasel ditutup karena sedang ada kegiatan. Tapi ternyata, setelah memasuki kawasan monumen, saya baru menyadari bahwa mobil-mobil yang berjejer banyak adalah para pengunjung mall. :p
Data KRI Pasopati
Site Plan Monkasel
Setelah membeli tiket yang cukup murah, sekitar Rp 10.000, saya memasuki Monkasel
dengan ragu-ragu. Kami harus menaiki tangga menuju pintu masuk monumen. Di pintu masuk, kami disambut seorang petugas yang berpakaian putih-putih layaknya anggota TNI Angkatan Laut. Inginnya sih, ada seorang guide atau petugas yang menemani kami menelusuri setiap ruangan. Tapi yah... akhirnya dengan segala keterbatasan, kami sendirian menelusuri setiap lorong di dalam kapal selam itu.

Monkasel bagi saya cukup menarik karena monumen ini dalam bentuk riil, bukan replika. Monkasel benar-benar kapal selam yang dijadikan monumen. Menggunakan KRI Pasopati 410, monumen ini beroperasi sejak tahun 1998. KRI Pasopati termasuk tipe SS Whiskey Class dan dibuat di Vladivostok, Rusia, pada 1952. Kapal selam ini mulai beroperasi pada tahun 1962 dan ikut ambil bagian dalam beberapa operasi penting, salah satunya Trikora.

Periskop
Pada masanya, KRI Pasopati mempunyai tugas utama untuk menghancurkan garis musuh serta melakukan pengawasan dan penggerebekan secara diam-diam. Kapal selam ini mampu menyelam hingga kedalaman 250 meter di bawah permukaan laut. Adapun kedalaman normal adalah 170 meter.

Pada tahun 1960-an hingga 1970-an, armada laut Indonesia cukup diperhitungkan dunia. Pada masa itu, Presiden Soekarno giat membeli alutsista. Salah satunya adalah 12 kapal selam Whiskey Class. Kapal selam ini dibeli untuk memaksa Belanda meninggalkan Papua. Kapal selam ini memiliki daya jelajah 8.500 mil laut (sekitar 15.742 kilometer).

Well, sebenarnya saya tidak begitu bisa menikmati perjalanan kali ini. Selain keterangan dan data yang sangat minim, saya pun hanya bisa melihat bagian-bagian kapal selam yang sering saya tonton di film-film action. Sayang sekali monumen sebesar ini, dengan kandungan sejarah yang tak sedikit, tapi minim informasi. Dalam bayangan saya, setidaknya, setiap bagian ada penjelasan atau cerita, syukur-syukur ada foto awak sedang berkegiatan dalam setiap bagian kapal selam sehingga fungsi alat-alat bisa jelas dimengerti.

Pintu yang menghubungkan setiap ruangan
Pada masanya, KRI Pasopati ini "dihuni" 63 awak, termasuk komandan. Karena ini benar-benar kapal selam, saat menyusuri setiap bagian atau berpindah ruangan saya harus menunduk dalam-dalam karena "pintu" yang cukup rendah. Bagian ini, menurut saya, paling asyik kalau mengajak anak-anak karena kita bisa merasakan "bertualang" di kapal selam.

Di atas permukaan laut, kapal ini berpenggerak diesel dengan kecepatan 18,3 knot (34 km/jam). Sementara saat berada di dalam laut, kapal ini berpenggerak batere. Terbagi dalam 7 ruangan, saya menyusuri dari haluan hingga buritan dengan semua ruangan yang berukuran sangat sempit. Haluan dan buritan kapal selam ini juga difungsikan sebagai ruang penyimpanan torpedo. Saya agak kesulitan membayangkan berminggu-minggu, berbulan-bulan, hidup dalam ruangan-ruangan sesempit itu. :D

Ruang torpedo
Apalagi, saat beroperasi, para awak harus bisa menahan hawa panas dalam kapal yang tidak berpendingin udara. Oksigen mungkin cukup, tapi panasnya?! Oh, yeaaah... saya salut dengan para awak kapal selam. Di tengah hawa yang panas mereka juga harus berjibaku dengan musuh.

Siang yang panas membuat saya segera keluar dari Monkasel. Mengamati kapal selam itu dari luar, saya sungguh takjub dengan perjuangan para awak. Tergesa-gesa saya menuruni tangga menuju taksi yang telah menunggu. Kami tidak sempat menonton videorama tentang peperangan di Laut Aru. Tapi, kunjungan singkat saya ke Monkasel siang itu membuat saya menyadari bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang sudah seharusnya mempunyai armada laut yang disegani. Pada masa lalu mungkin iya, tapi sekarang? Mungkin masih banyak pekerjaan rumah untuk itu.

Jalesveva Jayamahe 


Tulisan terkait:
- Obyek Wisata di Surabaya
- Museum
- Wisata Kapal Perang 

Tuesday, November 03, 2015

Dewi Kwan Im dan Dewa Empat Muka: Tak Perlu Jauh-jauh ke Bangkok...

Saat saya memamerkan foto-foto saya di depan patung Dewi Kwan Im dan Dewa Empat Muka ke salah seorang teman, dia otomatis berujar, "Kamu habis liburan ke Bangkok?". Itsh... memangnya hanya Bangkok yang punya patung-patung raksasa semacam itu?  Tak perlu lah jauh-jauh ke Bangkok untuk mengunjungi patung raksasa Dewi Kwan Im dan Dewa Empat Muka. Indonesia pun punya, tepatnya di Surabaya!
Patung Dewi Kwan Im di Pantai Ria Kenjeran
Siang yang membakar. Saya dan teman saya masih menyusuri jalanan Surabaya dengan taksi. Dan lebih nekat lagi, di tengah matahari yang hari itu menggelar "diskon gila-gilaan" sehingga panasnya menyengat, tujuan kami berikutnya adalah: pantai! PANTAI RIA KENJERAN atau KENJERAN PARK (KENPARK) adalah salah satu tempat wisata yang malam sebelumnya kami masukkan ke dalam list "Tempat Wajib Dikunjungi".

Terletak sekitar 9 kilometer dari pusat Kota Surabaya, Pantai Ria Kenjeran punya pesona yang khas. Bahkan, bukan laut yang menjadi tujuan utama kami hari itu, tetapi patung raksasa DEWI KWAN IM dan DEWA EMPAT MUKA.
Pintu Gerbang Kenjeran Park
Fantasi dimulai dari sini!
Taksi yang kami tumpangi menyusuri jalanan menuju kawasan pantai yang siang itu lengang. Lagian, siapa juga yang mau wisata pada hari Senin yang terik? :D Setelah perjalanan yang lumayan lama karena beberapa kali berhenti di pusat oleh-oleh, akhirnya kami memasuki gerbang Kenjeran Park. Saat melihatnya pertama kali, entah mengapa saya langsung terbayang Taman Mini Indonesia Indah dengan Istana Anak-anak-nya.

PATUNG DEWI KWAN IM
Taksi kami berhenti di depan sebuah kelenteng. Saat keluar dari taksi saya sebenarnya agak bingung karena di depan saya "hanya" ada sebuah kelenteng. Sementara di belakang saya ada sebuah patung besar keemasan. Saya ingin langsung berbalik menuju patung keemasan tersebut, tapi teman saya "menyeret" saya ke dalam kelenteng.
Kelenteng Sanggar Agung
Gapura Bali
Kami memasuki pelataran Kelenteng Sanggar Agung atau Hong San Tang. Tempat ibadah umat Tridharma itu siang tersebut sepi. Saya mengedarkan pandangan beberapa kali, takjub dengan perpaduan budaya yang terlihat di kelenteng itu. Gapura Bali di pintu gerbang, kolam "bunga teratai" di depan gedung, dan bangunan kelenteng yang lebih mirip pendapa Jawa. Kelenteng Sanggar Agung, selain sebagai tempat ibadah, juga salah satu destinasi wisata di Kota Surabaya yang banyak dikunjungi wisatawan, terutama saat Imlek.

Saya ragu memasuki kelenteng karena ternyata beberapa umat sedang berdoa dengan khusyuk di dalam. Tetapi, petugas yang saya datangi dengan ramah mempersilakan kami masuk. Kata dia, "Masuklah ke dalam, tidak apa-apa. Patung Dewi Kwan Im ada di belakang." 
Pemujaan
Buddha
Khusyuk Berdoa
Dengan tidak enak hati saya masuk ke dalam kelenteng lewat pintu samping. Seorang laki-laki setengah baya tengah khusyuk berdoa. Bau hio menyergap. Beberapa perempuan tengah membersihkan tempat ibadah tersebut, menata bunga, menyalakan lilin, dan hio. Suasana yang syahdu. Karena saya kebingungan antara sungkan melewati tempat ibadah dan penasaran, seorang petugas mendatangi saya dan meyakinkan saya bahwa tidak apa-apa untuk terus ke bagian belakang kelenteng.

Dan akhirnya, begitu melewati pintu belakang... Oh, My God! Di depan saya terpampang pemandangan yang keren banget! Patung raksasa Dewi Kwan Im dengan latar belakang laut lepas. Patung setinggi sekitar 20 meter (pernyataan resmi menyebutkan 18 meter) itu berdiri kokoh membelakangi laut. Sinar matahari yang siang itu cukup terik memantulkan setiap warna yang ada di patung tersebut. Dewi Kwan Im di tengah, diapit dua penjaganya, Sha Nan dan Tong Nu. Agak di bawahnya, 4 Maharaja Langit pelindung empat penjuru dunia. Dan terakhir, dua patung naga setinggi 6 meter.


Saya mengenal sosok Dewi Kwan Im lewat film-film Tiongkok yang pernah diputar di televisi semacam Kera Sakti dan Ular Putih (hahaha. Era kapan itu?). Selain itu, saya dulu juga penggemar komik karya Tony Wong.

Kelenteng Sanggar Agung ternyata memang dipersembahkan untuk Nan Hai Guan Shi Yin Pu Sa atau Bodhisatwa Kwan Im Laut Selatan. Patung Dewi Kwan Im dibangun dengan keyakinan sosok Dewi Kwan Im pernah memperlihatkan diri di sekitar area tersebut. Kelenteng secara resmi dibuka pada tahun 1999. 

Siang itu, saya menjumpai beberapa orang berusia lanjut tengah bersantai di halaman belakang kelenteng. Beberapa berdoa, beberapa duduk santai di kursi panjang, bahkan ada yang duduk di pinggir laut. Serombongan anak balita tiba. Mereka melepas burung-burung kecil ke alam dengan gembira. Ah, suasana yang amat "menyejukkan" di tengah teriknya Kota Surabaya.

Saya keluar dari kelenteng dengan masih terkagum-kagum. Kami sempat berpapasan dengan beberapa orang yang "berniat" mengambil foto di area tersebut, menilik dari perlengkapan yang mereka bawa. Ah, pantas saja banyak orang ingin mengunjungi tempat ini. Kalaupun saya tidak menerangkan kepada teman saya bahwa foto yang saya perlihatkan berlokasi di Surabaya, pantas saja dia berasumsi saya sedang berlibur ke Bangkok.

Keluar dari pintu gerbang kelenteng, kami menyeberang jalan. Tujuan kami berikutnya berada tepat di seberang jalan. Ketika saya sampai di seberang, saya bertemu dengan beberapa anak berseragam sekolah yang kebingungan. Mereka mencari patung Dewi Kwan Im, tapi tidak tahu di mana karena di sekitar area tersebut tidak ada papan petunjuk. Ketika saya mengarahkan mereka untuk masuk ke kelenteng, mereka menampakkan muka bimbang. Saya meyakinkan mereka bahwa di sana ada pemandangan yang keren dan akhirnya mereka bergegas memasuki Kelenteng Sanggar Agung.

DEWA EMPAT MUKA (Four Faces Buddha)
Saya sebenarnya tidak yakin dengan istilah yang akan saya pakai. Beberapa pihak menyebutkan Dewa Empat Muka, tetapi ada pula yang menyebutnya Buddha Empat Muka atau Buddha Empat Wajah. Tapi melihat penampilannya, saya lebih suka menyebutnya sebagai Dewa Empat Muka, mengacu pada perbedaan keyakinan agama Buddha dan Hindu serta penampilan patung tersebut.
Dewa Empat Muka (Muka 1)

Di Bangkok, Thailand, salah satu destinasi wisata terkenal adalah Four Faces Buddha. Banyak orang mendatangi patung tersebut untuk berdoa, utamanya untuk mencari jodoh. Tapi jujur saja, kalau kita sering melihat gambaran dewa-dewa umat Hindu di India, kemudian membandingkannya dengan gambaran Buddha, saya lebih suka menyebut patung itu Dewa, bukan Buddha. Namun, catatan lain menyebutkan, dalam agama Buddha sosok ini dikenal sebagai Catur Brahma Vihara, lambang empat sifat luhur yang harus dimiliki oleh seorang penganut agama Buddha.

Dewa Empat Muka di Pantai Kenjeran ini mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai patung Four Faces Buddha terbesar di Indonesia. Tinggi Dewa Empat Muka atau Se Mien Fo sekitar 9 meter. Apabila diukur dengan kuilnya, maka tingginya mencapai sekitar 36 meter. Kompleks patung berwarna keemasan itu konon menghabiskan dana sekitar Rp 4 miliar.
Muka 2

Muka 3

Muka 4
Diresmikan pada 9 November 2004, Dewa Empat Muka ini representasi dari sifat positif yang harus dibina umat manusia, terutama pengikut Buddha, yaitu welas asih, murah hati, adil, dan meditasi. Setiap muka,yang menghadap ke empat penjuru mata angin, memperlihatkan posisi tertentu dan membawa simbol tertentu. 

Di sebelah kanan Dewa Empat Muka, saya menjumpai sebuah kuil yang lebih kecil. Di tengahnya ada patung Ganesha, Dewa Ilmu Pengetahuan dalam mitologi Hindu.
Ganesha
Panas makin menyengat karena saat itu tengah hari. Udara terasa kering. Tapi entah mengapa saya suka berada di kawasan ini. Bangunan-bangunan yang besar dan patung-patung raksasa berbagai ikon seperti membawa saya ke antah berantah, jauh dari kawasan sebenarnya, Surabaya!

Jadi, berencana ke Thailand untuk mengunjungi Dewa Empat Muka? Coba pikirkan lagi. Tak perlu jauh-jauh ke sana. Cobalah mengunjungi Surabaya dan kemudian sambangi kawasan Kenjeran. 

If You Think Adventure is Dangerous, Try Routine. It is Lethal (Paulo Coelho)
Jepang? Tiongkok? Ooooh... ternyata Surabaya!
Dragons!
Tentang Patung Raksasa Dewi Kwan Im dan Dewa Empat Muka:
1. Terletak di kawasan Pantai Ria Kenjeran  atau Kenjeran Park (Kenpark)
2. Berjarak sekitar 9 kilometer dari pusat Kota Surabaya
3. Karena tidak ada papan petunjuk, begitu masuk kawasan Kenjeran Park, langsung arahkan kendaraan menuju Kelenteng Sanggar Agung. Patung Dewi Kwan Im terletak di bagian belakang kelenteng, sementara Four Faces Buddha terletak persis di seberang kelenteng.

Tulisan terkait wisata Surabaya:
- Masjid Cheng Hoo dan Taman Bungkul
- House of Sampoerna: Antara Benci dan Cinta


Tuesday, October 27, 2015

House of Sampoerna: Antara Benci dan Cinta

Surabaya, Jawa Timur, suatu siang yang terik.
Ketika malam sebelumnya teman saya memasukkan HOUSE OF SAMPOERNA ke dalam daftar tempat yang wajib kami kunjungi, saya sempat ragu. Saya orang yang sangat sensitif terhadap asap rokok. Bukan cuma merasa terganggu. Tapi, setiap kali terpapar asap rokok, biasanya saya akan menderita sakit kepala. Pernah dalam satu kesempatan, ketika saya harus menghadiri satu acara yang kebanyakan pesertanya merokok, setelahnya saya menderita sakit kepala selama 3 hari!
Museum House of Sampoerna
Tapi, dengan pertimbangan bahwa ini museum, saya akhirnya menyetujui. Saya berharap bahan-bahan utama rokok efeknya tidak sedahsyat ketika rokok dibakar. Dan lagi... tujuan kali ini mengingatkan saya ke "Pulau Rempah", Maluku. Mengingatkan saya saat hiking di perkebunan cengkeh di lereng Gunung Gamalama untuk melihat pohon afo (cengkeh) tertua di dunia yang berumur sekitar 400 tahun. Saya berharap "aroma" museum ini sama seperti ketika saya hiking di antara rimbunnya pohon cengkeh dan pala ketika itu. Aroma cengkeh yang samar-samar terasa segar di udara.
Pintu masuk museum
Penghargaan dari TripAdvisor
Dengan menumpang taksi, akhirnya kami sampai di kawasan Kota Surabaya lama. Ketika keluar dari taksi, saya cuma bisa bilang: Wow! Ini benar-benar museum tentang rokok. Bahkan pilar museum pun berbentuk batang rokok. Dan kemudian saya teringat sejarah panjang rokok kretek di Indonesia. Juga novel sejarah Roro Mendut karya Romo Mangun. Ah... rokok dan sejarah panjang umat manusia.

Saat kecil, saya sering melihat kakek saya "meramu" sendiri rokoknya. Dari tembakau, cengkeh, dan entah apalagi. Pada masa itu, setidaknya saya masih melihat rokok kretek dengan bungkus dari kulit jagung atau biasa disebut klobot. Beberapa industri rumahan bahkan sempat muncul di sekitaran kampung saya, tetapi kemudian gulung tikar.

Roll-Royce Silver Shadow koleksi keluarga Sampoerna
Museum yang terasa "menenangkan"

Memasuki halaman museum, saya langsung tertarik dengan mobil Roll-Royce yang berada di samping gedung utama. Roll-Royce Silver Shadow ini ternyata digunakan generasi kedua Aga Sampoerna di Singapura pada 1972-1994. Mobil ini termasuk satu dari hanya 2.700-an Silver Shadow chassis panjang yang pernah dibuat pabrik Roll-Royce pada 1965-1977. Eh, katanya mobil ini masih bisa digunakan loh. Tapi pelat mobilnya masih memakai pelat mobil Singapura.

Masuk ke gedung utama, saya langsung terkesan dengan museum ini. Rapi, terang, modern, dan bersih. Jauh dari kesan museum yang gelap dan sumpek. Penataan yang keren, kolam ikan di tengah ruangan yang membuat suasana tambah nyaman, dan barang-barang yang kinclong. Sungguh, kalau saja saya tidak "bermusuhan" dengan rokok, tempat ini enak banget. Tidak heran museum ini menjadi pemenang TripAdvisor Travellers' Choice 2013.
Museum yang bersih, luas, dan kinclong!
Replika warung pertama pendiri Sampoerna
Koleksi Kebaya
Alasan lain saya penasaran dengan museum ini adalah keterangan yang ada di website resmi Museum House of Sampoerna: Sampoerna's founder Liem Seeng Tee, AN ORPHAN WHO BOUGHT THE EX ORPHANAGE. Ya, ya... gedung yang sekarang menjadi museum, awalnya adalah sebuah panti asuhan putra yang dikelola Pemerintah Belanda. Bangunan ini sendiri dibangun pada 1862. Kemudian, baru pada 1932, bangunan ini dibeli Liem Seeng Tee dan dipakai untuk pusat usahanya, termasuk memproduksi rokok Sampoerna. Salah satu "cerita indah", kan? Bagaimana seorang anak yatim piatu akhirnya membeli gedung eks panti asuhan.

Area House of Sampoerna sebenarnya terdiri dari 3 bagian: sayap barat adalah hunian resmi pribadi (karena itu mobil-mobil mewah dipajang di bagian ini), sayap kiri difungsikan sebagai galeri dan kafe, serta gedung utama yang dipakai sebagai museum dan pabrik. 
Ruangannya enak yak
Mesin cetak kuno
Perlengkapan Marching Band Sampoerna
Museum House of Sampoerna sendiri terdiri atas dua lantai. Lantai pertama difungsikan untuk museum yang "menceritakan" bagaimana pendiri Sampoerna membangun bisnisnya. Ada juga replika warung pendiri PT Sampoerna, Liem Seeng Tee, dan istrinya, Siem Tjiang Nio. Juga dipamerkan berbagai tembakau terbaik dari negeri ini, seperti dari Ploso dan Gunung Sumbing. Aroma tembakau dan cengkeh, tentu saja, menguar di seluruh ruangan ini. Di sini kita juga bisa menemui berbagai koleksi kemasan yang pernah dipakai untuk rokok produksi Sampoerna. Juga koleksi pemantik api. Dan tentunya mesin cetak kuno yang dulu digunakan untuk mencetak kemasan rokok.

Hal yang menarik lainnya adalah: kostum dan perlengkapan marching band (maksud saya, kok bisa di antara jejeran barang yang terkait dengan rokok terselip perlengkapan marching band?).  Well, ternyata hal ini terkait dengan salah satu acara yang betah saya tonton di TV zaman dulu kala, yaitu siaran langsung Parade dan Festival Bunga Mawar Pasadena. Nah, Sampoerna Marching Band ini ternyata  mewakili Indonesia pada 1990 dan 1991 dalam Festival Bunga Pasadena di California. Anggota marching band ini adalah 234 pekerja perempuan perusahaan itu, termasuk para pelinting rokok. Tahun 1990, dengan tema "Unity in Diversity", kontingen Indonesia memenangi acara itu dan mendapat The International Trophy (the 1st Prize for non-American Participants).
Perlengkapan "laboratorium"zaman dulu
Koleksi kemasan rokok produk Sampoerna
Dji Sam Soe!
Sekitar 15 menit berlalu. Saya harus menghirup udara segar! Akhirnya saya keluar dari museum dengan kondisi seperti ikan yang butuh air. Perjalanan saya menjelajah Surabaya hari itu masih cukup panjang sehingga saya tidak mau tersiksa sakit kepala. Akhirnya saya duduk-duduk di depan museum, sementara teman saya masih menjelajah di dalam.

Sekitar 10 menit kemudian teman saya keluar dan mengajak saya ke lantai 2. Saya mengikuti dia dengan catatan "jangan lama-lama". Akhirnya saya naik ke lantai 2 gedung itu. Wah! Andai saya tidak mengikuti teman saya, bagian asyik museum itu pasti terlewat. Ternyata tempat itu juga difungsikan sebagai pabrik. Jadi, dari dinding kaca kita bisa melihat aktivitas para pekerja yang sebagian besar adalah perempuan melinting rokok. Sayangnya, ada larangan mengambil foto di area ini.
Tembakau asal Ploso, Jawa Timur
Tembakau Asal Gunung Sumbing
Selain itu, di area ini juga ada toko suvenir. Macam-macam yang dijual. Dari mulai batik tulis (motifnya cantik gila! Sayang harganya juga bikin sakit kepala), topi, kaos, mug, sampai magnet kulkas. Desainnya lumayan bagus-bagus.

Setelah membeli suvenir, kami akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kunjungan hari itu ke Museum House of Sampoerna. Bagi saya pribadi, kunjungan ke tempat ini adalah perpaduan rasa benci dan cinta. Saya membenci rokok karena tubuh saya rentan terhadap rokok. Sementara apa yang ditawarkan museum ini hampir tidak bisa saya tolak. Kenangan, sejarah, dan cerita soal cita-cita "an orphan who bought the ex orphanage" menyeret saya ke tempat ini.

Surabaya Heritage Track
Di halaman museum, kami menemukan bus wisata terparkir di halaman. Pihak Sampoerna ternyata menyediakan bus khusus bagi wisatawan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Surabaya. Oh, keren banget! Sayangnya, lagi-lagi waktunya tidak cocok dengan jadwal kami. Untuk jadwal keberangkatan bus dan tujuan bisa dilihat di sini: Surabaya Heritage Track. Gratis!
Bus wisata yang disediakan Sampoerna

Tentang Museum House of Sampoerna:
- Buka dari Senin-Minggu pukul 09.00-22.00
- Masuk museum dan ikut Surabaya Heritage Track dengan bus wisata: GRATIS!
- Alamat: Taman Sampoerna No 6, Krembangan, Pabean Cantikan, Surabaya
- Website: House of Sampoerna
- Tips: untuk orang-orang yang susah toleran terhadap rokok seperti saya ada baiknya bawa: MASKER.

TULISAN TERKAIT WISATA SURABAYA:
- Masjid Cheng Hoo dan Taman Bungkul


Monday, October 19, 2015

Hiking Sore di Gunung Pancar: Memuja Alam

Setiap kali hiking, kami selalu melakukannya pada pagi hari.  Alasannya banyak: udara yang masih segar, anggota rombongan masih bersemangat, waktu yang masih panjang, dan seterusnya. Tapi kali ini, kami melakukan hiking pada sore hari! Dari hiking kali ini kami bisa belajar sesuatu: karena kita berkejaran dengan matahari, maka perhitungan waktu, jarak tempuh, dan anggota rombongan (apalagi membawa anak-anak) harus diperhitungkan dengan benar.
Rombongan remaja yang hiking sore itu
Hiking dimulai dari sini!
Kali ini tujuan kami adalah: TAMAN WISATA ALAM GUNUNG PANCAR. TWA Gunung Pancar terletak di Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat. Dari Jakarta, sebenarnya lokasi ini tidak begitu jauh. Kita cukup masuk Tol Jagorawi, keluar di Gerbang Tol Sentul Selatan (Sentul City), dan menyusuri jalan menuju Jungle Land, Sentul. Tepat di depan pintu masuk Jungle Land, belok ke kanan. Di jalanan ini kita lurus terus mengikuti papan petunjuk yang ada di beberapa tempat. Sampai pertigaan, ada papan petunjuk yang mengarahkan kita ke kanan, menuju Sumber Air Panas Gunung Pancar. Sementara kalau kita memilih ke kiri, kita akan sampai ke GOA AGUNG GARUNGGANG.

Gunung Pancar menjadi pilihan kami karena taman wisata ini selain memiliki hutan pinus, juga sumber air panas. Rencana kami adalah menyusuri jalanan setapak di tengah hutan pinus dan berakhir di sumber air panas.
Gerbang masuk dan kantor TWA Gunung Pancar
Daftar tiket masuk
Awalnya, kami berencana memulai hiking pukul 2 siang. Tapi, karena beberapa saudara terlambat datang, akhirnya hiking baru dimulai pukul 3. Sebenarnya kami tidak begitu yakin dengan kalkulasi waktu karena kami harus berkejaran dengan sinar matahari. Mungkin kami bisa sampai di tujuan, tapi untuk balik ke parkiran pasti hari sudah gelap.

Perjalanan kami dimulai dari parkiran yang terletak tepat di samping gerbang TWA Gunung Pancar. Seorang saudara akhirnya menunggu di mobil, siap menjemput kalau ternyata kami kemalaman di jalan. Hari itu kami hiking bertujuh, 3 anggota di antaranya adalah anak-anak.
Di tengah hutan pinus
Menyeberangi sungai yang mengering
Karena wiken, untuk masuk area TWA GUNUNG PANCAR kami dikenai tiket Rp 7.500 per orang. Sementara untuk hari biasa tiket masuk cukup Rp 5.000 per orang. Jalanan di TWA Gunung Pancar lumayan enak karena jalan utama sampai atas (sumber air panas) sudah diaspal. Tapi karena tujuan kami adalah hiking, kami tidak menggunakan jalur itu. Kami mengikuti arahan petugas untuk menyusuri jalan setapak yang dimulai dari sebelah kanan gerbang pintu masuk TWA Gunung Pancar.

Dan, dimulailah petualangan hari itu! Kami mulai menyusuri jalanan setapak yang di beberapa tempat penuh batuan. Kami melewati "lahan" pohon pandan. Penuh kehati-hatian kami menyusuri jalanan yang menurun, melewati sungai kecil yang hari itu kering akibat kemarau panjang. Mungkin kalau tidak kemarau panjang seperti sekarang, akan lebih mengasyikkan saat menyeberangi sungai itu.
Pohon-pohon yang berderak ketika angin bertiup
Deretan pohon pinus
Jalanan setapak naik turun melewati rimbunnya pohon pinus. Ketika angin berembus, pohon-pohon itu berderak, beberapa bersentuhan karena rapatnya jarak pohon. Saat angin bertiup, suara mirip helikopter menghampiri. Makin lama makin dekat. Anak-anak, setiap kali angin bertiup dan muncul suara akibat gesekan pepohonan, akan menengadah dan bertanya, "Apa itu?". Karena hiking kali ini, mereka jadi tahu arti harfiah dari kata "berderak". Tiap kali ada angin serta suara-suara dari dahan dan batang pohon mulai terdengar, mereka selalu berhenti. Menengadah, mengamati pergerakan pohon-pohon. 

Kami terus berjalan menyusuri jalan setapak di tengah rapatnya pohon pinus. Sempat salah arah, menemui jalan buntu, akhirnya kami berbalik melewati area camping ground. Di TWA Gunung Pancar ada beberapa area camping ground. Pengen banget bisa camping di sini. Tapi, menurut petugas yang kami temui, karena saat ini kemarau panjang, fasilitas terkait toilet agak terbatas karena pasokan air minim. Lah, kalau begitu harus berpikir seribu kali untuk camping. Mungkin perlu menunggu waktu yang tepat, musim yang tepat.
Lovely
Di antara batuan dan hutan pinus
Kami bertemu serombongan anak remaja yang juga hiking. Hiking, bagi kami, selain sebagai olahraga, juga mengajarkan anak-anak untuk mencintai alam. Menghargai segala ciptaan-Nya yang telah memberikan banyak kehidupan. Memuja alam Indonesia yang begitu kaya. Dan kali ini, dengan hiking di sore hari, kami bisa menikmati berkas-berkas cahaya matahari yang tersisa di antara pohon pinus, tanah yang meski kemarau di beberapa bagian tetap lembab, dan aroma pinus asli, bukan pengharum ruangan beraroma pinus.

Hiking di Gunung Pancar lumayan enak. Kita tidak perlu repot atau khawatir kehabisan bekal. Warung-warung bertebaran di sana-sini menyediakan minuman dan makanan.
Setelah menemui jalan buntu akhirnya kami kembali ke jalur yang benar
Salah satu camping ground yang kami lewati
Matahari mulai meninggalkan tempatnya. Sisa-sisa sinarnya yang menuntun kami ke area sumber air panas. Awalnya, tujuan kami adalah pemandian air panas untuk umum. Namun, akhirnya kami memutuskan berbelok, menuju Giri Tirta Hot Spring Resort. 

Baru setengah perjalanan, kami berpapasan dengan mobil terakhir yang biasanya disediakan pihak Giri Tirta untuk antar-jemput karyawan dan pengunjung. Tapi karena kami sudah di tengah perjalanan, terlalu nanggung untuk berbalik arah. Akhirnya kami nekat tetap menuju Giri Tirta.

GIRI TIRTA HOT SPRING RESORT
Sebenarnya, ini bukan tujuan awal kami. Tapi, tertarik dengan fasilitas yang disediakan, akhirnya kami memilih ke tempat ini. Selain itu, jalur menuju Giri Tirta juga lebih menantang, dengan jalan yang naik turun dan di beberapa tempat tidak mulus.
Di antara dua pilihan
Akhirnya pilih ke sini

Giri Tirta adalah salah satu resort yang "tersembunyi" di tengah hutan pinus. Menurut saya, kalau habis hiking ramai-ramai dan ternyata kemalaman, enggak ada salahnya menginap di sini. Dengan catatan: harus beramai-ramai. Tempat ini sepertinya juga cocok buat "menyepi", menyingkir dari hiruk pikuk Ibu Kota. Jaraknya juga tidak begitu jauh dari Jakarta. Sebagai alternatif, daripada ke Puncak atau ke Bandung yang biasanya macet parah saat musim liburan, juga pas.

Sore itu, hanya seorang penjaga yang menemui kami. Semua aktivitas dan pelayanan di Giri Tirta sudah berhenti. Ini karena saat kami ke sana bukan musim liburan sehingga tidak ada tamu satu pun. Dan, kami sendiri tidak berniat untuk menginap di sini, kecuali terpaksa, karena besok kami harus ke kantor dan anak-anak masuk sekolah.
Giri Tirta Hot Spring Resort and Spa
Jalan Menuju Giri Tirta

Karena semua karyawan sudah pulang, jadilah kami "menguasai" tempat itu. Tidak ada apa-apa, hanya kolam-kolam air panas yang bisa ditawarkan penjaga tempat itu. Sebenarnya kami mulai lapar, tapi petugas restoran pun sudah pulang. Akhirnya, setelah lama berembuk mau memutuskan bagaimana, kami menyewa salah satu kolam untuk anak-anak berendam sambil berkoordinasi dengan saudara yang lain untuk menjemput kami.

Resor tersebut sebenarnya asyik dan cantik. Sayangnya, kami datang ke tempat ini ketika hari sudah mulai gelap dan lampu-lampu sudah mulai dinyalakan.
Kami yang suka hiking!
Ada yang bermain peran jadi petugas resepsionis :)
Sepi
Kami menyewa salah satu kolam yang ada di resor tersebut. Kolamnya cantik. Dan yang pasti, kami bisa berendam di air panas. Anak-anak enggak sabar, langsung nyebur. Sementara kami yang dewasa berpikir ratusan kali untuk ikut menceburkan diri karena baju ganti tertinggal di mobil. Akhirnya sore itu kami hanya menunggui anak-anak sambil berkoordinasi dengan saudara untuk menjemput kami di tempat itu.

Hari itu, matahari cepat sekali menghilang. Gelap menyelimuti dengan cepat. Kolam yang kami sewa, ternyata ada bagian yang lampunya mati (doh!). Akhirnya begitu ada saudara yang menjemput, kami bergegas meninggalkan tempat itu. 
Finally, kolam air panas

Gelap. Karena malam dan kami harus menyusuri hutan pinus (iya, hutan), sudah bisa dipastikan tidak ada lampu sama sekali. Kami hanya mengandalkan penerangan dari lampu mobil sehingga kami harus sangat berhati-hati saat menyusuri jalanan menuju gerbang TWA Gunung Pancar. Dan, akhirnya... kami bisa bernapas lega setelah melihat deretan lampu dari gerbang dan kantor pengelola TWA Gunung Pancar.

Hiking sore hari itu mengasyikkan! Tapi, sekali lagi, perhitungan waktu benar-benar harus tepat, apalagi kalau kita memilih hiking di tengah hutan atau gunung. Hari itu, setidaknya kami jalan kaki sejauh 3 kilometer (menurut strava).


TULISAN TERKAIT:
- Hiking
- Camping