Wednesday, January 07, 2015

Lost in Manado (Day 1): Monumen Yesus Memberkati

Melanjutkan cerita saya sewaktu "terdampar" di Manado kemarin.

Setelah pemberitahuan dari pihak Garuda bahwa pesawat belum bisa meneruskan perjalanan menuju Bandara Sultan Babullah di Ternate (Maluku Utara), kami akhirnya pasrah diboyong ke hotel terdekat. Barang-barang yang kami bawa pun akhirnya dimasukkan ke bus yang sudah disediakan pihak maskapai.


Dan siang itu, kami menyusuri jalanan dari Bandara Sam Ratulangi, Manado (Sulawesi Utara), menuju Hotel Novotel. Sepanjang jalan, seorang turis Australia tak henti-hentinya bergumam dan bertanya kepada penumpang di sampingnya, bagaimana bisa di Indonesia, negeri dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, tapi di daerah ini banyak sekali gereja. Ish... sepertinya turis ini seharusnya pergi ke Bali atau daerah lain di Indonesia bagian timur untuk melihat bahwa ini Indonesia! :D

Bubur Manado Rumah Kopi K8
Setelah check in, telepon sana-sini, wawancara sana-sini, akhirnya pilihan kami tinggal: stay di hotel atau jalan-jalan, "terpaksa" berwisata di kota ini. Dan tentu saja, kami memutuskan untuk jalan-jalan. Kami menghubungi seorang teman yang bertugas di Manado dan sekitarnya dan akhirnya janjian untuk bertemu di Rumah Kopi K8 yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Sario. Ini salah satu rumah kopi terkenal di daerah itu.

Dengan menumpang taksi, yang herannya banyak nyamuk, berdebu, dan agak bau (padahal taksi biru yang di Jakarta biasa wangi itu), akhirnya kami sampai juga di Rumah Kopi K8. Penampakannya ternyata menipu! Dari depan, kedai kopi ini kecil, mirip warung-warung biasa di pinggir jalan. Tapi begitu masuk ke dalam, kedai kopi ini luas dan pengunjungnya banyak.

Keripik pisang goroho dan sambal roa
Pisang mutilasi
Setelah bertemu dengan teman kantor yang bermukim di Manado (Bang Zal), kami mulai memesan makanan di kedai kopi tersebut. Teman saya kalap! Dari bubur manado sampai segala macam pisang yang disajikan dengan sambal roa dipesan. Saya pun bingung gimana makan dan menghabiskannya. Untung teman kantor lain, yang kebetulan sedang liputan di Manado, datang pula ke kedai tersebut. Horeeee....! Akhirnya bantuan untuk menghabiskan makanan datang. Satu piring bubur kami bagi rame-rame. Rasanya? Enak! Berbagai pisang goroho disajikan dengan sambal roa sebagai pelengkap. Keripik pisang goroho, pisang mutilasi, pisang yang diiris tebal, dan onde-onde.

Jangan bayangkan onde-onde ini seperti yang biasa kita makan itu, dengan taburan wijen. Onde-onde di sini berisi gula merah, jadi sebenarnya lebih cenderung ke klepon. Dan tentu saja, karena namanya onde-onde, bentuknya lebih besar dari klepon. 

Onde-onde
Onde-onde isi gula merah
Makan, ngobrol sana-sini, ketawa-ketiwi mengingat nasib kami yang terdampar dan belum jelas mau bagaimana, mewarnai obrolan kami siang itu. Karena Bang Zal cukup terkenal di semua kalangan, jadi tiba-tiba saja di meja kami hadir orang-orang yang merupakan kenalannya. Pedagang koran, pengelola wisata, dosen, dan seterusnya. Obrolan pun makin beragam dari mulai birokrasi, wisata, sampai tugas kami yang seharusnya besok pagi dilaksanakan di Ternate. Bang Zal menawari kami untuk melanjutkan perjalanan dengan kapal dan bersedia mengantar. Tapi, kami menunggu instruksi dari kantor Jakarta karena saat itu gelombang laut pun sedang tinggi.

Selesai ngobrol dan hari menjelang sore, kami memutuskan untuk jalan lagi. Karena Bang Zal harus mengurus sesuatu hal, dia meminta istrinya untuk menemani kami jalan-jalan. Akhirnya, dimulailah "petualangan" kami di Manado.


Monumen Yesus Memberkati

Ini tujuan pertama kami. Karena hari sudah menjelang sore, hanya tempat ini yang bisa dijangkau dengan waktu terbatas.

Kalau Rio de Janeiro, Brasil, punya Cristo Redentor, di Manado punya patung Yesus Memberkati. Ini sebenarnya salah satu tujuan wisata religi di Manado, kota yang sebagian besar warganya adalah umat Nasrani. Patung ini berada di kawasan Perumahan Citraland, Manado.


Monumen Yesus Memberkati
Kota Manado
Patung dengan tinggi sekitar 30 meter ini (tinggi keseluruhan monumen 50 meter) menghadap ke Kota Manado dan Pantai Manado dengan posisi seperti terbang. Di sekeliling Patung Yesus terdapat pula patung-patung dengan ukuran lebih kecil yang digambarkan sebagai malaikat. Menurut catatan Museum Rekor Indonesia (MURI), patung ini adalah patung tertinggi di Indonesia.

Kami hanya foto-foto sebentar di sini. Mendung mulai menggelayut. Sesekali gerimis. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan.


Merciful Building
Ini salah satu tempat untuk membeli oleh-oleh khas Manado. Kami menyempatkan datang ke sini, tentu saja, untuk membeli oleh-oleh dan suvenir. Tapi ya, namanya dalam kondisi serba tidak menentu, kami hanya membeli ala kadarnya. Misalnya, mau membeli cakalang fufu, tapi kami bingung: apakah besok bisa terbang ke Ternate? Apakah setelah itu ikan bakal bertahan lama? Begitulah nasib kalau liburan karena "terpaksa". Akhirnya makanan khas seperti klaper koek, kue kenari, dan ikan roa kering masuk ke keranjang kami.

Pantai Boulevard

Oleh-oleh khas sudah terbeli meski terbatas. Saatnya menikmati pantai. Tidak afdal rasanya ke Manado tanpa ke pantai. Jangan bayangkan kami ke Bunaken, tempat wisata paling terkenal di Manado. Kondisi laut yang tidak menentu, dengan tinggi gelombang mencapai 2-4 meter tidak memungkinkan kami untuk ke sana. Akhirnya kami menuju Pantai Boulevard untuk menikmati sunset.

Pantai Boulevard adalah salah satu pantai di pusat kota Manado. Pantai ini "dikepung" banyak mal, di antaranya yang terkenal adalah Manado Town Square (Mantos). Kawasan ini merupakan area reklamasi terpanjang di Indonesia. Total area yang direklamasi sekitar 67 hektar! Gede? Banget! Di area pantai ini kita bisa duduk-duduk menikmati suasana sunset. Sehingga di pintu masuk, saat senja, banyak kendaraan berderet-deret masuk ke kawasan ini. Kawasan ini merupakan salah satu kawasan bisnis teramai di Manado. Hampir semua mal yang ada di daerah ini menghadap ke pantai.
Gunung Manado Tua
Lampu-lampu yang mulai menyala
Kami duduk-duduk menikmati suasana sore. Gunung Manado Tua di kejauhan. Lampu-lampu yang mulai menyala dari kawasan permukiman. "Merenungi nasib", istilahnya. Karena tentu saja, telepon dari pihak PGRI berkali-kali berdering menanyakan posisi kami, status pesawat, dan bagaimana kemungkinan untuk sampai di Ternate. Malam akhirnya datang. Kami makan malam di salah satu restoran di pinggir pantai itu. Yang mengejutkan, saat akan membayar, kami ditolak! Semuanya gratis. Ternyata, restoran seafood tersebut milik adik Bang Zal. :)

Setelah makan, kami minta diturunkan di Hotel Lion, hotel terdekat di kawasan itu. Hotel milik maskapai penerbangan Lion tersebut menjadi tempat menginap seorang teman kantor yang ada acara di kawasan itu. Akhirnya kami ketawa-ketiwi di kamar hotel yang luas. Saat sedang berpikir untuk balik ke hotel, tiba-tiba Bang Zal mengabarkan kalau dirinya sudah berada di parkiran hotel, menjemput kami. Sungguh, kami merasa tidak enak dengan segala pelayanan itu. Namun Bang Zal tetap mendesak kami dan keukeuh mengantar kami ke hotel.

Akhirnya, setelah berkeliling kota menikmati suasana malam menjelang Natal di Manado, kami pun sampai di hotel. Setelah mandi, kami teparrrr... menunggu esok hari semoga ada kepastian.


Tulisan Terkait:
- Lost in Manado (Day 2): Taman Waruga
- Lost in Manado (Day 2): City Extra Seafood


1 comment:

Keluarga Biru said...

Seru sekali ya perjalanannya, apalagi wisata kulinernya bikin ngiler. Salam kenal dari Keluarga Biru di Malang.