Tuesday, January 13, 2015

Lost in Manado (Day 2): City Extra Seafood

Hujan mengiringi perjalanan kami saat meninggalkan Taman Waruga. Di sepanjang jalan kami menikmati pemandangan yang didominasi pohon kelapa dan pohon manggis. Di sini, hampir di setiap pekarangan rumah penduduk terdapat pohon manggis. Karena banyaknya pohon manggis itu juga Minahasa Utara ditetapkan sebagai Kabupaten Buah.

Siang menjelang. Karena tidak ada kepastian soal penerbangan, kami memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Sayangnya, saat itu semua seat yang kami inginkan fully booked. Mau tidak mau, satu malam lagi harus kami lewatkan di Manado. Tentu masih dengan harapan tiba-tiba ada penerbangan ke Ternate karena masih ada satu hari lagi yang memungkinkan untuk kami menyelenggarakan acara sesuai rencana awal. Sementara satu teman kami yang pergi ke Tomohon bisa pulang hari ini.
Pemandangan seperti ini bisa didapat di sepanjang perjalanan menuju Kalasey
Memasuki kota Manado kembali. Karena "guide" kami selama dua hari ini adalah dosen Universitas Sam Ratulangi, maka dengan berbaik hati dia mengajak kami tour de kampus. Jadi siang itu kami berempat berkeliling di sekitar kompleks Universitas Sam Ratulangi. Dari satu fakultas ke fakultas lain. Gedung pusat, menengok beberapa fakultas unggulan, juga melihat aktivitas para mahasiswa. Puas berkeliling kampus, akhirnya kami mencari tempat makan. 

City Extra Seafood
Tujuan kami berikutnya adalah: City Extra Seafood di kawasan Kalasey. Ini salah satu restoran seafood terkenal di Manado. Dari pusat kota sebenarnya tempat ini tidak jauh. Dan saat menuju tempat ini, di sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang indah karena di sebelah kanan adalah pantai! Oke, sepertinya saya harus lebih banyak bersyukur bahwa saya tinggal di Indonesia. "Terdampar" pun saya masih bisa menikmati banyak tempat indah.
City Extra Food (klik untuk memperbesar gambar)
Menurut "guide" kami, biasanya restoran City Extra akan dipenuhi banyak pengunjung dan pelayanannya lama. Namun saat kami tiba di restoran yang sangat luas itu, kami hanya melihat beberapa meja yang terisi. Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan kami.

Restoran ini keren banget! Luas dengan meja-meja yang tertata rapi. Meja-meja ini dilapisi kain yang setiap kali pengunjung selesai makan akan selalu diganti. Jadi meski mejanya berbalut kain putih, meja makan yang kita pesan akan selalu terlihat bersih.

Hal lain adalah pemandangannya. Makan di restoran ini, sambil menunggu saat sunset, kita akan disuguhi pemandangan yang mengesankan. Dari tempat ini kita bisa melihat Pulau Bunaken dan Manado Tua. Jadi saya dan seorang teman saya merasa betah berada di pinggiran laut dan nongkrong di dermaga. Saat di dermaga, tiba-tiba saja saya percaya bahwa di tengah laut sana bisa jadi saat itu ombak setinggi 4 meter. Saya yang berada di pinggir laut pun berasa selalu dikejar ombak. Mau foto-foto? Tiba-tiba ombak sudah memecah di pinggir dermaga dan airnya ke mana-mana.
Bobara Bakar dan dabu-dabu
Woku Goropa
Saat melihat menu makanan, saya takjub dengan berbagai macam ikan yang dihidangkan: goropa, goropa tikus, bobara, udang gola, kolombi, dan seterusnya. Nama-nama yang unik bertebaran di sana-sini.  Akhirnya kami memesan tumis kangkung, bobara bakar, dan woku goropa. Well, saya suka tumis kangkung di Manado. Kangkungnya selalu enak dan daunnya lebar-lebar. Kangkung ini tentu saja tidak bisa ditemui di daerah lain karena kangkung di sini khas, berasal dari Danau Tondano. Bobara bakarnya lumayan. Sementara woku goropa bumbunya melimpah. Sambal dabu-dabunya juga enak. Sepertinya kalau di Manado, semua makanan hanya ada dua kategori: enak dan enak banget! :D

Kami menghabiskan banyak waktu di restoran ini. Karena saat itu restoran sepi, kami tidak merasa bersalah menghabiskan waktu berjam-jam di sini. Bolak-balik nongkrong di pinggir dermaga. Foto-foto bareng dengan bantuan pelayan restoran. Ngobrol berbagai macam hal.
Pulau Bunaken dan Manado Tua (klik untuk memperbesar gambar)
Tiba-tiba, saat mengecek berita (ya, kami selalu memantau perkembangan penerbangan dan aktivitas Gunung Gamalama), kami dipaksa untuk menghela napas panjang. Sore itu, Gunung Gamalama kembali erupsi. Jadi sudah bisa dipastikan kami tidak akan bisa melanjutkan perjalanan ke Ternate. 

Sisa hari itu kami jalani dengan berkoordinasi dengan banyak orang. Memohon maaf kepada pihak PGRI Ternate. Sedih, pasti. Bahkan mereka mengatakan sudah memesan tempat, makanan, dan seterusnya. Dengan jumlah peserta pelatihan yang mencapai 120 orang, sungguh hal itu menyesakkan. Sayangnya, alam saat itu berbicara lain. Tentunya, sebagai manusia, kita pun tidak bisa apa-apa.

Setelah menikmati sunset, kami beranjak pulang. Sebelumnya kami mampir ke toko oleh-oleh lainnya: Kawanua. Gerimis mengiringi perjalanan kami menuju hotel. Malam itu, kami hanya bisa berharap penerbangan besok siang lancar. Dan, semoga kami bisa pulang. 

Tulisan Terkait:
- Lost in Manado (Day 1): Monumen Yesus Memberkati dan Pantai Boulevard
- Lost in Manado (Day 2): Taman Waruga

3 comments:

Lidya - Mama Cal-Vin said...

Tidak bisa di paksakan ya mbak karena keadaan. Semoga bisa di mengerti oleh pihak san. Tapi bisa jalan-jalan ya :)

Idah Ceris said...

Goropa tikus? Zzz hihihi

Iya, manusia hanya bisa berrencana ya, Mbak. Semoga lain waktu iso ke sana. . .

ei said...

retmaaaa...dah lama ngga mampir sini, kangeeeennnn... :*