Wednesday, January 07, 2015

Lost in Manado (Day 2): Taman Waruga

Pagi, hari kedua kami "terdampar" di Manado. Teman kami yang menginap di Hotel Lion sudah berangkat menuju Tomohon, gudangnya kuliner ekstrem. Sementara kami bertiga masih menunggu kepastian. Pagi itu, Garuda belum bisa menerbangkan pesawat. Baru siangnya kemungkinan ada keputusan.

Akhirnya, hari itu kami jalan-jalan lagi. Hari kedua "Lost in Manado" kami jalani dengan rute yang lebih jauh, yaitu menuju kabupaten tetangga, Minahasa Utara. Pilihan saat itu adalah ke sekitar kawasan Airmadidi. Yang artinya ada beberapa pilihan obyek wisata: Gunung Klabat, Kaki Dian, Telaga Tumatenden, dan Waruga.
Kompleks waruga di Desa Sawangan, Airmadidi
Pintu masuk menuju taman waruga
Gunung Klabat sebenarnya dari kejauhan sepanjang perjalanan sudah kelihatan. Yang unik di kawasan itu adalah terdapat tulisan Minahasa Utara ala tulisan Hollywood di Los Angeles. Sementara Kaki Dian merupakan menara dengan 7 cabang lampu. 

Pernah baca legenda Jaka Tarub dan Nawangwulan? Jaka Tarub adalah laki-laki yang mencuri selendang salah seorang bidadari, yaitu Nawangwulan, saat para bidadari turun dari kahyangan untuk mandi. Di Minahasa Utara, legenda ini juga ada. Dan, tempat mandi para bidadari tersebut adalah Telaga Tumatenden. Bedanya adalah legenda Jaka Tarub menyebutkan ada 7 bidadari, sementara di Telaga Tumatenden terdapat 9 pancuran sebagai simbol 9 bidadari.

Hujan mengiringi perjalanan kami siang itu. Awalnya, kami berencana mengunjungi Telaga Tumatenden. Tapi, karena papan petunjuk arah menuju telaga ternyata terlewat, akhirnya tujuan kami berubah. Taman Waruga di Desa Sawangan, Airmadidi, menjadi tujuan kami berikutnya.

TAMAN WARUGA
Taman Waruga adalah sebuah kompleks pekuburan. Bukan sembarang kompleks pekuburan, melainkan kompleks kubur batu. Zaman dahulu, nenek moyang orang Minahasa punya tradisi unik, yaitu mengubur orang yang sudah meninggal dalam sebuah batu.
Kompleks waruga
Kubur batu yang berjajar di taman waruga
Konon, ini adalah warisan dari zaman Megalitikum. Waruga dahulu adalah makam yang biasa ditaruh di sekitar rumah (pekarangan), baik di depan maupun belakang rumah panggung warga. Makam batu ini berbentuk seperti rumah. Seseorang yang akan membuat makam ini harus mengambil batu di pegunungan, kemudian memahatnya membentuk kotak, dan kemudian membuat penutupnya yang mirip atap rumah. Rata-rata lebar waruga sekitar 1 meter, dengan tinggi sekitar 2 meter. Beratnya sekitar 100 kilogram hingga 400 kilogram. Di penutup waruga biasanya terdapat berbagai hiasan dan simbol. Menurut penjaga makam, beberapa simbol ini sebagai penanda status orang yang dimakamkan dalam kubur batu tersebut.

Waruga awal, hampir semuanya polos, tidak terdapat hiasan sama sekali. Sementara tahun-tahun berikutnya mulai terdapat hiasan-hiasan di penutupnya. Ukuran waruga biasanya juga menunjukkan siapa yang dimakamkan di dalamnya. Untuk anak kecil biasanya berukuran lebih kecil.
Pahatan yang biasanya menunjukkan status. Jas dan hiasan kepala serupa mahkota berarti orang penting, misalnya tetua adat.
Hiasan yang makin rumit menunjukkan waruga sesudah tahun-tahun awal 
Hal unik lainnya adalah: orang yang dimakamkan dalam waruga selalu dalam posisi duduk. Untuk laki-laki di atas sebuah piring, sementara perempuan dengan 2 piring yang ditempatkan di atas kepala dan sebagai alas. Bersama mereka biasanya juga disertakan perhiasan semasa mereka hidup. Jangan bayangkan perhiasan emas dan mutiara semacam di Piramida Mesir. Karena ini dari zaman Megalitikum, maka perhiasan yang menyertai mereka dalam bentuk batu. Menurut keterangan penjaga makam, hiasan-hiasan tersebut beberapa ada yang hilang, sementara sebagian lain diboyong ke museum.

Menurut catatan, tradisi ini mulai berhenti sejak abad ke-20. Alasannya, saat itu berkembang wabah penyakit (kolera dan tifus) yang diduga bersumber dari mayat yang membusuk dalam waruga. Menurut penjaga makam, sebenarnya ada ribuan waruga. Namun, yang ada di Taman Waruga Airmadidi hanya ratusan. Lainnya tersebar di daerah lain.
Proses pembuatan waruga
Barang-barang yang disertakan dalam waruga
"Pemakaman". Perempuan dengan 2 piring sebagai alas dan tutup kepala
Waruga biasanya ditempatkan di sekitar rumah (pekarangan)
Beberapa waruga besar yang ada di kompleks tersebut, menurut keterangan penjaga makam, berisi tidak hanya satu individu. Jadi, waruga juga berfungsi seperti pemakaman keluarga. Yang artinya dalam satu waruga bisa jadi berisi tulang dari beberapa anggota keluarga.

Kompleks waruga di Airmadidi ini masih dalam tahap pengembangan. Yang terbaru, di sepanjang jalan menuju kompleks tersebut di kanan-kirinya terdapat relief yang menceritakan bagaimana waruga itu dibuat, juga kehidupan sehari-hari masyarakat pada masa itu. Di relief itu kita bisa melihat perbedaan simbol waruga perempuan atau laki-laki, proses pembuatan waruga, dan di mana waruga biasanya ditempatkan pada masa itu.
Jas yang menyimbolkan status 
Museum waruga
Hari beranjak siang. Cuaca mendung dengan sesekali gerimis menemani kunjungan kami ke kompleks waruga tersebut. Gloomy, sepi, karena saat itu hanya kami berempat yang mengunjungi cagar budaya itu. Di dekat pintu gerbang sebenarnya terdapat museum yang menyimpan benda-benda yang dahulu terdapat dalam waruga. Namun karena cuaca yang tidak mendukung, dan suasana yang sepi, kami akhirnya memutuskan untuk angkat kaki dari kawasan tersebut dan kembali menuju pusat kota Manado.

Tulisan Terkait:
- Lost in Manado (Day 1): Monumen Yesus Memberkati dan Pantai Boulevard
- Lost in Manado (Day 2): City Extra Seafood


5 comments:

Vera said...

Wahh baru tau aku ada pemakaman model gini. Taunya cuma yg di trunyan bali itu yg mayatnya cuma digeletakin di bawah pohon tp ga bau sama sekali

retma-haripahargio said...

Kalau mau ngubek2 Indonesia, bakal banyak yang unik kayaknya, Ver. Jadi pengen nabung khusus buat jalan2 ke wilayah timur nih. :D Habis ke wilayah timur Indonesia mahal.

Idah Ceris said...

Pantesan makamnya berdiri,ya. Ngga tidur kayak makam biasanya. Soal, dimakamkannya dg cara duduk.

Asyik sekali jalan2 kali ini, Mbak.

fitri anita said...

Jaman batu sudah bisa buat kayak gitu...

Baru tau ada makam kayak gitu jeng...

Mister bookie said...

Bandar Poker

Agen Poker

Bandar Poker

Agen Poker

Bandar Poker

Agen Poker

Judi Online

Bokep Asia

Info Poker