Saturday, February 28, 2015

Hanya Perempuan Biasa

Ada hari-hari saat saya tidak suka membuka semua media sosial yang saya punya. Kalau sekarang ditanya, misalnya, berapa kali dalam seminggu membuka Facebook, akan saya jawab: tidak pasti karena belum tentu dalam seminggu itu saya membuka Facebook.

Kadang kala saya memang ketinggalan cerita atau berita yang penting dari saudara atau teman. Tapi kemarin-kemarin saya benar-benar jengah dengan postingan-postingan yang muncul. Tidak semuanya, tapi sebagian besar.

Dalam kondisi seperti itu, saya di-invite ke sebuah grup. Sempat kaget karena ternyata mereka, para penghuni grup itu, adalah teman-teman milis saat milis sedang dalam masa jayanya.

Dan kemudian saya merasa menemukan sebuah tempat di mana saya bisa benar-benar menjadi orang normal. Saya capek dengan segala status yang ada di media sosial yang seolah-olah mempertontonkan figur ibu kuat, ibu super, ibu hebat. Ibu ideal yang muncul di majalah, televisi, atau iklan. Saya bukan perempuan seperti itu. Saya perempuan biasa yang masih suka mengeluh capek, kadang butuh menangis, kadang masih harus ngosek kamar mandi, teriak ke anak-anak saat mereka susah dikasih tahu, atau cuma ingin merebahkan diri karena capek antar-jemput sekolah.
Ratusan pesan yang belum saya baca... ;)
Saat ini, alhamdulillah, saya menemukan "dunia" saya. Saya bersama para perempuan-perempuan yang tidak "jaga image" atau penuh pencitraan. Ada satu hari di mana kami tertawa-tawa membaca cerita dan pengalaman beberapa teman. Atau ada hari-hari di mana kami menangis bersama, saling menguatkan, saat hidup sedang tidak bersahabat dengan kondisi rumah tangga ataupun kehidupan seseorang.

Saya belajar banyak dari mereka. Bagaimana ketika kehidupan benar-benar seperti roda. Saat di atas, seseorang bisa hidup dalam gemerlapnya dunia. Dan saat di bawah, seseorang harus benar-benar berjuang, makan sehari sekali demi anak-anak agar mereka tetap bisa makan tiga kali sehari. Bagaimana saat kesakitan, keterpurukan, pengkhianatan, menempa mereka untuk menjadi tegar dan ikhlas. Tegar yang tersirat karena tak pernah terucapkan tapi ditampilkan. Ikhlas seperti Surat Al Ikhlas yang di dalamnya tidak menyebutkan satu pun kata ikhlas. Bukan ikhlas yang terucap, tapi hasil berdamai dengan diri.

Para perempuan itu, yang kadang masih membicarakan sabun untuk mencuci baju, mengosek kamar mandi, atau membahas bagaimana tips membeli barang dengan harga murah. Saat ini... mereka yang mengisi hari-hari saya. Mereka yang kadang juga menjadi "tempat sampah" saya dan tempat berguru.

Saya hanyalah perempuan biasa. Yang kadang merasa terimpit, ingin menangis, ingin teriak. Atau terkadang banjir dengan air mata bahagia. 

Beratus-ratus baris pesan saya terima setiap hari. Terkadang hanya ocehan, kadang ilmu, info, kritik, tips, perbedaan pendapat, atau permintaan tolong. Hidup itu... tergambar jelas dari obrolan mereka. Bukan hidup monoton yang hanya mengharap pujian dari komentar orang. Tapi juga banyak kritik. Yang kadang memecut kami untuk menjadi lebih baik. Semoga.... karena saya hanya perempuan biasa.

3 comments:

Lidya - Mama Cal-Vin said...

ngosek kamar madni, nyuci ,ngepel kerjaan sehari-hari aku itu sih mbak :)

retma-haripahargio said...

@Lidya: tosss... :D Tapi tetep aja kita gak pamer kamar mandi sebagai background foto toh? Hahaha.

Vimax Asli said...

Thank you for sharing in this article
I can learn a lot and could also be a reference
I hope to read the next your article updates

[-] Vimax Asli
[-] Agen Vimax Asli