Saturday, February 28, 2015

His Name is Iain

Postingan kali ini khusus tentang Iain. Iain adalah anak dari keponakan suami saya. Saya agak enggak tega untuk menyebut dia sebagai cucu, grandson, atau apalah itu namanya. Saya? Punya cucu? Oh, noooo...
Suatu Hari di Bandung
Karena umur suami saya terpaut sekitar 14 tahun dengan kakaknya, sementara suami saya dan saya terpaut 7 tahun, jadilah keadaan ruwet begini. Umur keponakan suami saya tidak terpaut jauh dengan saya, yang artinya wajar sudah berkeluarga. Tapi saya tetap merasa tidak legawa sudah punya cucu... hahaha. *denial tingkat tinggi*

Untuk masalah ini kakak ipar sampai minta maaf kepada saya. Mungkin dia merasa enggak enak juga melihat saya, dengan wajah imut begini, tiba-tiba punya cucu! *ada yang tiba-tiba mual?*
Pstttt... ada yang sedang tidur!
Well, karena beberapa saudara memang tinggal di luar Indonesia, jadi jarang sekali keluarga suami saya berkumpul secara lengkap. Hari-hari menjelang akhir tahun, ketika badai salju biasanya menyergap daerah Barat, beberapa orang biasanya memilih "pulang" ke Indonesia. Negeri yang, tentu saja, selalu berkelimpahan matahari. Mari kita bersyukur... ;)

Akhir tahun kemarin, hanya 4 orang yang pulang ke Indonesia. Dan salah satunya, tentu saja Iain, yang sebentar lagi akan segera punya adik. Saat ini Iain sedang lucu-lucunya dan dia suka menyebutkan semua benda dengan warnanya. Favoritnya adalah semua mobil yang mempunyai sirene. Nino-nino, begitu dia menirukan bunyi sirene.
He said: wait for me... aunt Kiyaaa.
Hello, boys!
Waktu kami ke Bandung, sepanjang jalan dia mengoceh menyebut satu per satu mobil dan warnanya. Jadi perjalanan kami saat itu diwarnai dengan ocehan: yeyow (yellow) truck, blue taxi, nino-nino is coming.... Ouw, nino-nino is gone. :D Dan saat kami melewati masjid, dan kebetulan sedang azan, dia akan bertanya terus: What is that? what is that? Lucuuuuu.

Kami ke Bandung menginap dua malam di Galeri Ciumbuleuit. Awalnya hanya 3 orang dewasa dan 3 anak-anak saja (Nikki, Akira, dan Iain). Yang lain? Hobi keluarga kakak yang satu ini kalau pulang adalah "jalan". Bukan kuliner, bukan belanja, tapi benar-benar jalan. Yang artinya hiking atau naik gunung. Dan kali ini mereka naik ke Gunung Papandayan, sementara tahun sebelumnya ke Gunung Gede.
Nama saya Iain. Saya sangat suka makan mi! :p
Jadi... enggak heran kan, kalau keluarga kami pun akhirnya jarang sekali ke mall dan lebih memilih perjalanan yang berhubungan dengan alam. Sementara menunggu para saudara lain yang naik gunung kembali turun ke pusat, hari-hari di Bandung kami isi dengan bertarung menghadapi kemacetan. Yup! Menyebalkan sekali, ke mana-mana tidak bisa karena terjebak macet. Pada akhirnya, kami pun lebih senang leyeh-leyeh di hotel. Mendengarkan celotehan dan teriakan anak-anak.

No comments: