Sunday, March 01, 2015

Lampegan Old Station

Perjalanan kali ini adalah dalam rangka me time. Saya lebih suka bertualang daripada pergi ke salon untuk acara me time. Lagi pula, dengan memanfaatkan trip-trip murah yang sekarang bertebaran, biayanya tidak jauh berbeda dengan ngendon di salon. Tapi itu pilihan. Setiap orang, kan, punya pilihan masing-masing. :)

Untuk perjalanan one day trip dengan tujuan Situs Megalitikum Gunung Padang dan Lampegan Old Station ini saya cukup mengeluarkan uang Rp 199.000. Itu sudah termasuk akomodasi, tiket, guide lokal, makan siang, dan dua orang kru. Perjalanan dimulai dari Plaza Semanggi sebagai meeting point.
Terowongan Lampegan
Pagi itu, saya diantar suami saya ke Plaza Semanggi. Tadinya saya berencana membawa kendaraan sendiri, tapi sepertinya sepagi itu, untuk parkir belum dibuka. Sebagai tempat berkumpul adalah Dunkin' Donuts Plaza Semanggi. Lumayan, lah. Sambil menunggu peserta lain, bisa sarapan dan ngopi-ngopi cantik dulu. Hari ini saya benar-benar "cuti". Cuti sebagai ibu rumah tangga dan pekerja kantoran. Hanya diri saya (meski sama suami saya di jalan disuruh nyalain GPS tracker. Ish...).

Perjalanan pagi itu lumayan lancar. Karena hampir sepanjang perjalanan saya tertidur akibat malamnya masih ngantor, saya hanya sempat ngobrol sebentar dengan teman baru di samping saya. Saat terbangun, kami sudah melewati daerah Puncak. Hanya sebentar yang bisa saya lihat karena kemudian kabut turun cukup tebal sehingga saya hampir tidak bisa melihat pemandangan di luar  lewat jendela bus.
Terowongan Bersejarah Itu...
Ngobrol dengan beberapa peserta di kanan-kiri saya, dan "tekun" menyimak obrolan mereka yang membuat saya melongo. Hampir semuanya sudah punya rencana trip sepanjang tahun. Hebat!!! Dan tentu saja, mereka adalah petualang ala backpacker, bukan koperer. :p Lucu mendengarkan pengalaman mereka. Mendapati losmen dengan fasilitas buruk, atau kamar mandi yang hanya satu dan harus rebutan.

Lampegan Old Station
Pemberhentian pertama kami adalah Stasiun Tua Lampegan. Posisi stasiun ini sebenarnya tidak jauh dari situs Gunung Padang sehingga kalau berencana ke Gunung Padang, tidak ada salahnya berkunjung ke stasiun ini. 
Stasiun Lampegan. Hanya dibuka saat ada kereta yang berhenti
Stasiun yang dibangun tahun 1882 ini mempunyai terowongan unik. Terowongan ini juga sama tuanya, dibangun tahun 1879 dan baru selesai pada 1882. Stasiun Lampegan terletak di Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Cianjur. Beberapa sumber menyebutkan, terowongan yang awalnya sepanjang 686 meter ini dibangun dengan meledakkan bagian tengah badan Gunung Kancana. Terowongan ini salah satu terowongan tertua yang pernah dibangun Pemerintah Hindia Belanda. Pasca gempa bumi yang mengakibatkan tanah longsor dan kemudian mengalami perbaikan, panjang terowongan saat ini 415 meter.

Apakah Stasiun Lampegan ini masih berfungsi? Masih. Saat kami tiba di stasiun ini, kebetulan ada kereta yang sedang berhenti. Sayangnya, begitu kami masuk ke area peron, kereta kembali berangkat sehingga kami tidak bisa foto-foto. Kereta Siliwangi yang melewati stasiun ini melayani tujuan Cianjur dan Sukabumi/Bogor. Datanglah ke sini sekitar pukul 10.30 karena akan ada kereta yang lewat dan berhenti di stasiun pukul 10.56. Bagus buat foto-foto. ;)




Ini bukan penumpang, tapi hampir semuanya wisatawan :)
Asal kata Lampegan diambil dari percakapan bahasa Belanda kala itu."Steek Lampen aan!" demikian kondektur spur zaman dulu berteriak setiap kali memasuki terowoangan Lampegan, yang berarti 'nyalakan lampu'. Bagi orang awam dan penduduk lokal, kata tersebut terdengar sebagai Lampegan sehingga stasiun dan terowongan tersebut terkenal dengan nama Lampegan.

Saya suka suasana di sekitar stasiun ini karena mengingatkan saya ke stasiun di dekat rumah saya sebelum stasiun tersebut direnovasi. Masih ada sisa-sisa kejayaan zaman dulu, dengan kantor, loket, dan perumahan pejabat stasiun.
Saya dan Monik  di depan stasiun
Di kawasan ini juga berkembang cerita mistis yang turun-temurun diceritakan oleh penduduk di sekitar kawasan tersebut. Cerita itu adalah hilangnya Nyi Sadea, penari ronggeng yang diundang Pemerintah Hindia Belanda untuk menghibur dalam acara peresmian stasiun dan terowongan Lampegan. Menurut cerita, saat itu Nyi Sadea diundang untuk menghibur dalam acara yang digelar oleh Pemerintah Hindia Belanda. Setelah perayaan usai, Nyi Sadea pulang dengan melintasi terowongan yang baru diresmikan tersebut. Sejak saat itulah ronggeng tersebut tidak terdengar lagi kabar beritanya.
Hm, kalau terkait ronggeng, saya tidak bisa lepas dari gambaran "Ronggeng Dukuh Paruk"-nya Ahmad Tohari. 

Hari semakin beranjak siang. Dan kami pun akhirnya kembali ke bus untuk menuju pemberhentian berikutnya: Situs Megalitikum Gunung Padang.

Nb: @Nanik: aku ambil fotonya ya....
sumber: berbagai sumber

7 comments:

Lidya - Mama Cal-Vin said...

ada perkumpulannya gitu ya mak untuk jalan-jalan kesana? seru juga ya jalan-jalan sejarah

CAESAR SHOP said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Della said...

Hmmmm.. Nyi Sadea.. mistis. I love mistis :D

Keke Naima said...

saya waktu itu ke gunung padang, tapi pakai mobil :D

dick.o said...

www.anehbanget.info Postingan yang sangat bagus, saya setuju dengan Anda 100%!

dick.o said...

www.anehbanget.biz saya terkesan, saya harus mengatakan ini kepada anda.

dick.o said...

www.kisahkita.net Sangat jarang saya menemukan sebuah blog yang informatif dan menghibur seperti ini.