Wednesday, April 01, 2015

Situs Megalitikum Gunung Padang

Setelah mengunjungi Stasiun Tua Lampegan, kami meneruskan perjalanan ke Situs Megalitikum Gunung Padang, masih di kawasan Cianjur, Jawa Barat. Perjalanan yang tidak begitu jauh karena situs tersebut lumayan dekat dengan Stasiun Lampegan.

Apa yang terlintas saat kita menyebut Gunung Padang? Kalau teman saya akan bilang: Alien. :) Banyak perdebatan soal Gunung Padang ini. Salah satunya, teknologi yang digunakan untuk membangun situs yang disebut-sebut lebih tua dari situs Machu Picchu di Peru dan Piramida Giza di Mesir. Gunung Padang, yang menurut beberapa ahli jauh lebih tinggi dan lebih luas dari Borobudur, sudah menjadi "target" saya untuk dikunjungi. Saya penasaran, terutama saat teman saya selalu bilang: "Alien, alien. Harus ke sana sebelum rusak."
Situs Megalitikum Gunung Padang
Jadilah siang yang mendung dan sempat gerimis itu saya mendaki banyak anak tangga menuju puncak Gunung Padang. Siang itu rombongan kami dipandu Pak Nanang, "guide" yang dengan senang hati menceritakan segala hal tentang Gunung Padang, tentunya menurut versi dia.

Gunung Padang, menurut Pak Nanang, berarti 'Bukit Cahaya'. Jadi sebenarnya ini bukanlah sebuah gunung, tetapi bukit. Situs ini terdiri dari 5 teras (sejumlah penelitian lanjutan menyebutkan hingga 20 teras). Disebutkan, Gunung Padang sudah digunakan untuk kegiatan spiritual sejak tahun 1763.
Pusat Informasi
Hari itu kami seperti anak-anak yang sedang menjalani study tour dengan Pak Nanang yang menenteng megafon di depan kami. Siang itu pengunjung di situs tersebut sangat banyak. Bahkan saya sampai susah sekali menemukan spot yang benar-benar bersih dari keberadaan manusia untuk berfoto. Dari begitu banyak manusia siang itu, beberapa akhirnya mengikuti perjalanan rombongan kami dan tekun mendengarkan penjelasan Pak Nanang, sang juru kunci.

Dalam perjalanan awal kami memasuki area situs, di dekat pintu masuk, kami menjumpai sebuah sumur. Disebutkan, air sumur ini tidak pernah berkurang dalam musim apa pun. Sumur ini dianggap "keramat" oleh warga sekitar dan diyakini airnya bisa membuat awet muda dan enteng jodoh.
Sumur "keramat"
Teras Pertama
Beberapa penelitian (dari sekian banyak penelitian yang dilakukan di tempat ini) menyebutkan bahwa ritual yang dijalankan di Gunung Padang juga melibatkan alat musik. Salah satunya yang kami lihat siang itu adalah batu kecapi, batu berbentuk persegi panjang dengan panjang sekitar 1 meter. Pernah mengetuk batu? Nah, batu kecapi ini jika diketuk bunyinya akan lain dengan batu biasa. Hal yang sama terjadi pada batu bonang, yang juga berada di teras pertama.
Tangga yang harus kita daki untuk naik ke puncak Gunung Padang
Bukit-bukit yang mengelilingi Gunung Padang
Pak Nanang sempat menunjukkan "cap" jari tangan di atas batu kecapi. Yang menurut dia, juga bisa dibaca sebagai huruf, yaitu lafal Allah.

Teras Kedua
Memasuki teras kedua, kami ditunjukkan beberapa batuan yang masih berdiri. Pak Nanang menyebutnya sebagai Batu Kursi. Pak Nanang dan, menurut dia, beberapa orang meyakini teras ini memiliki kekuatan energi yang berbeda dengan teras lainnya. Ada keyakinan bahwa teras ini digunakan sebagai tempat untuk memanjatkan doa. Teras ini juga disebut sebagai "Mahkota Dunia".

Teras Ketiga
Tidak banyak yang diceritakan Pak Nanang soal teras ketiga (atau saya lupa saking lamanya belum ditulis. Hahaha). Menurut dia, uji karbon menunjukkan bahwa batuan di teras ini berusia 5.000 sebelum Masehi.


Batu kecapi
"Tanda/simbol" di batu kecapi
Teras Keempat
Hanya ada sedikit batu-batuan di area ini. Menurut Pak Nanang, hal itu bisa diartikan sebagai simbol bahwa kita harus mengosongkan diri kita dari perasaan iri dan dengki.

Teras Kelima
Ini teras terakhir sekaligus teras tertinggi. Dan menurut sang juru kunci, teras ini cukup membingungkan para peneliti. Karena berdasarkan penelitian, batu-batuan di teras ini berusia sekitar 11.800 sebelum Masehi. Bandingkan dengan Piramida Giza yang "hanya" berusia 2.500-2.800 sebelum Masehi. Teras kelima juga biasa disebut sebagai "Singgasana Raja".
Saat malam, bisa introspeksi diri sambil memandang bintang-bintang
Usia dan jenis batuan yang ada di Gunung Padang ini yang memancing perdebatan. Apabila kita melihat sekeliling, tidak ada tempat yang bisa menjelaskan dari mana batu-batuan ini berasal.

Gunung Padang. Dikelilingi 5 bukit, dengan batuan yang sebagian berbentuk segi 5, dan terdiri atas 5 teras. Tidak heran teman saya selalu ribut soal "alien" kalau terkait dengan kawasan ini karena sampai saat ini belum ada keterangan dan penjelasan yang pasti dari mana batu-batuan yang ada di Gunung Padang berasal.

Sore menjelang. Itu artinya kami harus segera meninggalkan kawasan tersebut. Gerimis sudah menghilang. Tapi cuaca dan udara yang lembab mengiringi perjalanan kami menuju Jakarta. Kekaguman, berbagai pertanyaan, bermunculan di benak. Dalam masa puluhan ribu tahun sebelum Masehi bagaimana teknologi manusia saat itu? Apakah memang ada "campur tangan" dari pelaku teknologi maju? Entahlah. Yang pasti, banyak orang yang penasaran dengan Situs Megalitikum Gunung Padang.

4 comments:

Dewi Aja said...

Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

Oh ya, di sana anda bisa dengan bebas mendowload music, foto-foto, video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

Lidya - Mama Cal-Vin said...

masing-masing teras mempunyai arti sendiri ya mbak. Belajar sejarah dari postingan ini

ayu ningsih said...

terima kasih telah berbagi info..
sangat menarik dan bermamfat..
mantap

ulak said...


sangat menarik dan bermamfat..
mantap