Tuesday, April 07, 2015

Ternate-Tidore: A Journey

5 Maret 2015
Kamis tengah malam. Saat orang lain masih terlelap, saya sudah menyeret-nyeret koper di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Jadwal pesawat saya hari itu pukul 01.40. Tujuan: Provinsi Maluku Utara. Dalam beberapa jam lagi saya akan jauh dari rumah. Ya, beberapa hari ke depan, saya "nguli" jauh dari keluarga.
Halooo... Ternate!!!
Saat menunjukkan tiket ke petugas bandara, dia berseru dengan muka berbinar: "Wow... mau beli bacan ya?" Ish... demam batu akik sudah sebegitunya. Bahkan saya yang tidak tahu apa-apa soal perakikan "dituduh" mau beli batu bacan hanya karena tujuan saya tidak jauh dari asal batu itu: Pulau Bacan. :D Ya, mending koper saya ini isinya uang, Mas... bisa beli batu bacan seabrek. Lah wong isinya cuma baju dan buku.

Dini hari itu saya memasuki pesawat Garuda dengan berdebar-debar. Berdoa semoga cuaca cerah dan Gunung Gamalama berbaik hati kepada saya. Tujuan utama saya adalah Kota Ternate, kota yang terletak di punggung Gunung Gamalama. Kalau kebanyakan kota lain berada di kaki gunung, kota tujuan saya berada di punggung gunung karena kaki Gunung Gamalama berada di dasar laut. Karena itulah saya berdoa semoga gunung ini tidak erupsi lagi seperti pada perjalanan saya sebelumnya.
Saya sudah bilang: Indonesia itu indah!
Morning!!!
Begitu pesawat mengudara, saya langsung menarik selimut dan tidur. Mau lihat apa malam-malam begini? Semua gelap gulita, apalagi setelah meninggalkan Jakarta. Makanan dan snack yang dibagikan pramugari lewat. Saya lebih memilih tidur. Turbulensi pesawat membangunkan saya. Beberapa hari belakangan memang cuaca hampir tidak pernah cerah. Menit berikutnya saya kembali tertidur, sebelum turbulensi lain membangunkan saya lagi. Oke, saatnya melihat matahari terbit.

Sebelum berangkat, salah satu bos saya bilang ke saya: "Indonesia itu bagus banget. Semakin ke timur, akan banyak pemandangan bagus. Kalau kamu ke Ternate, usahakan menyeberang ke Tidore. Kamu akan tahu bahwa sebenarnya negeri ini bagus banget."

Pagi itu, saat matahari mulai muncul, mata saya tak henti-hentinya menatap ke luar jendela. Deretan pulau-pulau cantik mulai terlihat. Meski mendung masih menggelayut dan sinar matahari agak tertahan, pemandangan di depan saya tetap menakjubkan. Dan saya akan bilang bahwa: apa yang dikatakan bos saya benar. Indonesia itu indah banget!
Finally... Bandara Sultan Babullah
Saat ketinggian pesawat mulai berkurang, saya mulai melihat Gunung Gamalama. Gunung yang erupsi Desember tahun lalu itu tegak berdiri dengan Kota Ternate di punggungnya. Dan akhirnya, alhamdulillah, pagi itu saya mendarat di Bandara Sultan Babullah. Dan selama 5 hari, saya akan bertualang di Pulau Rempah-rempah, pusat benteng Portugis dan VOC Belanda pada masanya. Abaikan masalah pekerjaan, karena saya tidak akan cerita terkait pekerjaan. :p Tapi saya akan bercerita tentang indahnya pantai, gunung, danau, sejarah, kesultanan, kuliner, dan benteng. 

4 comments:

Lidya - Mama Cal-Vin said...

Allhamdulillah sudah sampai ke TErnate ya mbak, aku belum pernah :) KOk petugas bandaranya langsung menudu cari akik ya mbak :)

Idah Ceris said...

Kapan yaa aku bisa sampai Ternateee. :D

Catatan said...

Manaaa lanjutaaannyaaa.....hihihi.....

Emang bener ya indonesia itu banyak pemandangan baguuss

dea said...

seru ea jadi pengen,,