Sunday, May 31, 2015

Ternate (Day 1): Pantai Sulamadaha

Setelah dirasa cukup mengagumi Danau Tolire, kami pun beranjak dari kawasan itu. Tujuan kami berikutnya adalah Pantai Sulamadaha, salah satu pantai terkenal di Ternate. Yeah... terberkatilah orang-orang di Ternate yang hidup dikelilingi banyak pantai dan pemandangan indah.

Kalau kita ke pantai, biasanya kita akan bertanya: pasirnya berwarna apa? Putih? Hitam? Dan jawaban umum adalah salah satu di antara hal itu. Hal yang sama tidak kita jumpai di Pantai Sulamadaha karena: ada bagian yang pasirnya berwarna hitam, dan ada pula pasir putih!
Teluk Saomadaha
Perjalanan kami dari Danau Tolire menuju Sulamadaha yang terletak di Desa Sulamadaha, Ternate,  tidak begitu jauh. Bahkan kami hanya bercakap-cakap sebentar dan tahu-tahu sudah sampai. Menuju sesuatu yang indah, perlu usaha. Begitu juga yang kami alami. Dari parkiran, tempat yang menjadi tujuan kami masih agak jauh sehingga kami perlu berjalan kaki sekitar 15 menit. Jalanan yang mendaki tetapi sudah cukup bagus dan terawat ini betul-betul menguras tenaga.

Tapi, diselingi cerita dan pemandangan yang indah dari Pantai Sulamadaha, perjalanan tersebut tidak terasa. Pantai yang siang itu berombak besar, dengan pasirnya yang berwarna hitam, cukup menyita perhatian saya. Saya pencinta pantai! Saya selalu kagum dengan deburan ombak, berbagai bentuk pantai, pasirnya, dan semuanya. Sayangnya saat itu cuaca agak mendung sehingga saya tidak bisa menemukan perpaduan yang asyik di pantai: matahari dan langit biru. Meski begitu, Pulau Hiri di kejauhan membuat saya terkagum-kagum. Pulau Hiri dulu menjadi tempat pengasingan Sultan Muhammad Djabir Syah yang sengaja diungsikan agar tidak tertangkap Belanda. Sultan Muhammad Djabir Syah sendiri pernah menjadi Menteri Dalam Negeri pada masa pemerintahan Republik Indonesia Serikat.
Saya selalu jatuh cinta pada pantai! Termasuk Sulamadaha.
Saat kami menyusuri jalanan setapak yang mendaki, di kiri-kanan kami bisa menjumpai burung-burung yang ramai di sarangnya. Bahkan beberapa di antaranya dengan santai terbang melintas di depan kami. Pantai ini benar-benar dijaga keasriannya. Tempat parkir yang jauh menjadikan habitat burung-burung dan sekitaran pantai tetap pada tempatnya.

Teman kami mulai kepayahan dan kami beristirahat sejenak. Saat itu kami berpikir kami sudah sampai ke tujuan. Tapi menurut kenalan kami, masih ada "surga tersembunyi" yang harus kami datangi. Dan dimulailah perjalanan kami. Mendaki batu-batu, meraba-raba mencari pegangan, mencari tumpuan, dan berusaha menjaga keseimbangan badan agar tidak terpeleset. Saat mengunjungi pantai ini, pastikan kita memakai alas kaki yang tepat!



Dan akhirnyaaaa... tada! Perjuangan itu layak dijalani. Meninggalkan hamparan pasir hitam, kami mulai memasuki area Teluk Saomadaha yang berpasir putih dan berbentuk piramida. Penduduk setempat menyebutnya Holl. Aaaaah... saya beneran pengen guling-guling di pantainya. Hanya satu kata: wonderful! Air yang sebening kristal sehingga koral-koral bisa langsung terlihat dengan mata telanjang, pasir yang putih, dan hamparan karang laut di mana-mana bercampur dengan pasir. Tempat ini cocok banget buat diving dan snorkeling. Tapi tanpa perlengkapan itu pun kita sudah bisa melihat dasar laut.

Apakah dalam tulisan-tulisan sebelumnya saya sudah bilang bahwa Indonesia itu sangat indah? Saya bisa mengulanginya lagi ratusan kali. Pantai Sulamadaha, Teluk Saomadaha, dan Pulau Hiri dalam satu pandangan. Dan kenalan kami bilang bahwa pemandangan di depan kami saat itu adalah hanya "salah satu" pemandangan indah di Ternate?! Saya rasa seminggu di sini pun tidak cukup! :D *dan kemudian saya dikirimi tagihan dari kantor*
Kami berlama-lama di Teluk Saomadaha. Selain karena pemandangan indahnya juga karena malas beranjak akibat membayangkan jalanan yang harus kami lewati kembali menuju parkiran. Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, kami harus kembali ke mobil karena perjalanan kami hari itu belum berakhir. Dan saya, sambil mencari-cari batu untuk berpijak (sepertinya harus mulai kursus panjat tebing), menunggu kejutan apalagi yang bisa dieksplor di pulau ini.

Ternate (Day 1): Tolire, Danau Cantik yang Penuh Misteri

Pagi yang temaram. Akhirnya pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Sultan Babullah dengan mulus. Karena sudah masuk area Indonesia timur, itu artinya waktu di sini lebih cepat 2 jam. Saat itu pukul 7 pagi sehingga di Jakarta masih sekitar pukul 5. 

Begitu keluar dari pintu bandara, saya disambut dengan pemandangan Gunung Gamalama. Sama persis seperti yang dikatakan teman saya: "Saat kamu berada di Ternate, dari sisi mana pun kamu akan bisa melihat Gunung Gamalama."
Danau Tolire dilihat dari udara
Bawaan kami hari itu tidak begitu banyak karena barang-barang yang sempat tertahan di Manado dalam perjalanan sebelumnya sudah dikirim lewat kapal. Kami dijemput oleh sopir yang disediakan oleh pihak pengundang acara. Barang-barang kami masukkan ke bagasi, dan pagi itu kami menyusuri jalanan yang asri. Jalanan sepanjang pantai yang tenang, pasar yang mulai ramai dengan banyak pedagang dan pembeli hilir mudik. Kami bertiga (saya dan dua teman saya) norak ala turis karena baru pertama kali menginjakkan kaki di  "Spice Island", Bumi Rempah-rempah, tanah yang berabad-abad lalu menjadi primadona.

Kami membuka kaca jendela mobil lebar-lebar saat melintasi pasar. Tidak peduli dengan pandangan orang-orang yang heran melihat kenorakan kami. Banyak benda di pasar yang terasa asing bagi kami. Yang saya anggap seperti rebung, ternyata adalah bahan sayur lilin. Ikan asap? Jangan tanya. Berderet besar-besar di sepanjang jalan. Surga!

Sopir kami, Darwin yang asal Tidore, menawarkan untuk sarapan dan membawa kami ke Rumah Makan Kamis. Ini salah satu rumah makan terkenal di Ternate. Salah satu menu sarapan khas di Ternate adalah nasi kuning. Saya hampir selalu menjumpai menu nasi kuning di Indonesia bagian timur. Yang membedakan dengan nasi kuning yang biasa saya makan adalah: nasi kuning di sini tidak terlalu gurih, tidak pulen, tidak ada sayuran, dan biasanya lauknya adalah ikan. Enak! Tapi sepertinya kamus makanan saya hanya terdiri dari kata "enak" dan "enak banget". :)
Sarapan kami pagi itu: nasi kuning ala Ternate
Selesai sarapan, kami diantar ke hotel tempat kami menginap, Hotel Bela. Begitu sampai di lobi, saya langsung ingin berterima kasih ke teman kantor yang mengurusi akomodasi kami. Karena di depan hotel inilah kita bisa langsung melihat Pulau Maitara dan Pulau Tidore yang tergambar di uang seribu rupiah. Lovely. Setelah barang-barang kami turunkan, mengurus segala keperluan untuk check in hotel, kami berembuk mau ke mana. Menengok lokasi untuk acara belum memungkinkan karena gedung yang akan kami pakai saat itu masih ada acara. Teman saya mengusulkan agar kami menyewa mobil, saya kebagian nyetir, dan kami berkeliling kota. *keselek*

Oke, saya setiap hari nyetir. Tapi di Indonesia timur? Dengan hanya satu provider yang bisa diandalkan, boro-boro bisa mengandalkan Google Maps. Mau nyasar sampai mana kita?! Akhirnya diputuskan kami mengunjungi seorang kenalan di kantor Jasa Raharja. Kenalan yang baru beberapa bulan lalu kami temui, saat kami tertimpa musibah bersama, terdampar di Manado akibat erupsi Gunung Gamalama.

Begitu bertemu, ternyata sambutannya luar biasa. Dia senang sekali kami akhirnya bisa datang ke kotanya. Dengan antusias dia mengenalkan kami ke keluarganya, dan hari itu juga mengajak kami jalan-jalan. Kenalan kami itu memaksa kami bertiga masuk ke mobilnya, menyuruh sopir kami pulang, dan bersama keluarganya, siang itu kami berkeliling kota. 

Danau Tolire
Salah satu tempat wisata paling terkenal di Ternate adalah Danau Tolire. Ke sanalah siang itu kami menuju. Dan layaknya "Bumi Rempah-rempah", sepanjang jalan kami bisa menemui deretan pohon pala atau pohon cengkeh. Lupakan penyejuk udara di mobil. Kami (saat itu) adalah turis yang haus udara bersih dan segar dengan sebersit bau rempah di udara. Perjalanan siang itu menyenangkan. Penuh cerita dan tawa di mobil kami. Dan setelah menempuh perjalanan dengan jalan yang naik turun, akhirnya kami sampai di kawasan danau terkenal itu.

Danau Tolire sebenarnya terdiri dari dua danau. Masyarakat setempat biasa menyebutnya dengan Tolire Besar dan Tolire Kecil. Keduanya terpisah jarak sekitar 200 meter. Danau Tolire Kecil menurut saya lebih tampak seperti rawa. Sementara Danau Tolire Besar, berlatar Gunung Gamalama, terlihat sangat menakjubkan!
Danau Tolire dengan airnya yang nyaris tak beriak
Menurut cerita, Danau Tolire dahulu adalah sebuah kampung yang terletak di lembah Gunung Gamalama. Saat itu, warga kampung hidup sejahtera. Namun, kemudian kampung itu dikutuk oleh "penguasa alam" akibat penduduknya yang melanggar norma. Alkisah, seorang penduduk kampung menghamili anak gadisnya. Saat ayah dan anak gadisnya bermaksud lari dari kampung itu, tiba-tiba tanah tempat mereka berpijak anjlok. Air keluar dari dalam bumi, yang kemudian berakhir menjadi danau. Danau Tolire Besar diyakini sebagai tempat sang ayah, sementara Tolire Kecil adalah tempat si gadis.

Siang itu, saat kami asyik memotret di kawasan danau, perhatian kami teralih oleh pergerakan air yang serasa membelah tengah danau tersebut. Air danau yang hijau dan tenang, nyaris tak ada riak, serasa dibelah oleh satu pergerakan yang membentuk garis lurus memanjang. Kami yang tidak tahu apa-apa ini bertanya kepada teman-teman kami. Dan kemudian mengalirlah cerita bahwa di danau tersebut dipercaya hidup buaya putih. Kepercayaan bahwa danau itu dihuni kawanan buaya gaib inilah yang menjaga kawasan sekitaran danau tetap lestari, asri, nyaris tak tersentuh tangan manusia. Berdasarkan cerita, buaya putih ini jarang terlihat dan tidak semua orang bisa melihat kehadirannya. Sementara siang itu, kami bisa melihat dengan jelas bahwa ada sesuatu yang bergerak membelah air danau. Entahlah apa itu... tapi di antara tenang dan diamnya permukaan danau, pergerakan yang berasa meluncur tenang membentuk garis lurus itu menyita perhatian kami.
Danau cantik yang penuh misteri
Danau Tolire menyimpan banyak cerita. Siang itu teman kami menyuruh kami melempar kerikil atau batu ke arah danau tersebut. Dipercayai bahwa apabila kita melempar batu, tidak akan pernah ada yang bisa sampai ke permukaan danau itu seberapa kuat dan jauh kita melempar. Biasanya di sekitaran danau selalu ada penjual batu, tapi siang itu kami tidak menemukan seorang pun. 

Terkait kedalaman danau, sampai sekarang tidak pernah ada angka pasti. Sampai saat ini belum ada pengukuran kedalaman Danau Tolire, tapi diyakini danau ini sangat dalam, berkilo-kilo meter, bahkan ada bagiannya yang langsung terhubung ke laut. Dan, cerita yang beredar di masyarakat, di dasar danau ini banyak terdapat harta karun. Harta karun itu berasal dari harta penduduk Kesultanan Ternate. Saat penjajahan Portugis, warga Ternate membuang harta mereka ke Danau Tolire dengan maksud agar harta mereka tidak dirampas penjajah.  Sampai saat ini belum ada penyelidikan resmi apakah benar di dasar danau tersebut tersimpan harta karun.
Parkiran. Dari sudut mana pun selalu terlihat laut!
Danau air tawar yang banyak dihuni ikan ini juga diyakini airnya tidak pernah bertambah atau berkurang. Hanya saja, setiap kali memasuki musim hujan, airnya akan berubah menjadi coklat.

Hari makin siang. Saatnya perjalanan kami diteruskan. "Bumi Rempah-rempah" ini mempunyai banyak sekali tempat wisata dan kami berkejaran dengan waktu untuk menjelajah tempat ini. Karena kami di sini sebenarnya untuk kerja, bukan wisata! Haha.