Tuesday, June 30, 2015

Escape to Sawarna (Day 2): Pantai

Subuh datang. Setelah sholat subuh kami semua bersiap untuk menjelajah kawasan Sawarna. Di luar masih gelap. Tapi dengan semangat '45 kami menunggu guide kami yang katanya mau datang ke penginapan tepat setelah subuh. Ditunggu semenit, dua menit, sampai sekian puluh menit ternyata guide kami tidak datang juga. Apa kabar perburuan sunrise?
Pagi di Legon Pari
Malam sebelumnya sebenarnya kami sudah sepakat dengan orang yang akan menjadi guide kami hari itu. Tapi ternyata sampai kami semua berada di dalam mobil dia tidak nongol. Saat kami memutuskan akan nekat berangkat sendiri, tukang ojek yang mangkal di sekitar penginapan menawarkan diri untuk menjadi guide. Akhirnya kami bersepakat dengan salah satu dari mereka. Diki, remaja lokal kawasan itu yang akhirnya menemani kami seharian ke berbagai tempat wisata.

Pantai Legon Pari
Pagi itu akhirnya rombongan kami menyusuri jalanan yang masih sepi. Tujuan pertama adalah: Pantai Legon Pari.  Pantai yang berada di teluk ini berada di Kampung Leles, Desa Sawarna, Banten. Pada dasarnya, pantai-pantai di Sawarna saling terhubung sehingga memudahkan kita untuk menjelajah. Pantai Legon Pari, misalnya, berbatasan langsung dengan Karang Beureum di sebelah barat dan Karang Taraje di sebelah timur.
Jembatan gantung
Mari hiking!
Meski banyak tukang ojek di kawasan tersebut, hari itu kami memutuskan untuk hiking! Berapa lama waktu yang ditempuh untuk hiking sampai bertemu dengan pantai? Kurang lebih 45 menit. Hiking dimulai dengan (sepertinya hampir semua pantai di Sawarna) menyeberangi jembatan gantung. Dibandingkan dengan jembatan gantung di Pantai Tanjung Layar, jembatan yang menuju Legon Pari sedikit lebih lebar. Kami tidak begitu kesulitan untuk hiking karena jalanan sebagian besar sudah dikonblok. Kami tinggal menyusuri jalan yang naik-turun, kadang berhenti untuk sekadar "mengambil napas". Sawah, ladang singkong, dan riuhnya burung-burung menemani perjalanan kami hari itu meski mendung tetap menggelayut.
Pemandangan pagi itu di jalur hiking
Banyak orang menyebut Sawarna sebagai The Hidden Paradise. Meski sebutan ini juga disematkan ke beberapa tempat wisata lain, saya pikir untuk Sawarna hal itu tidak berlebihan karena untuk menuju pantainya kita perlu usaha ekstra. Tapi lelah akan segera hilang saat bertemu dengan pantai berpasir putih dan beningnya air laut. Kami, tentu saja, melewatkan sunrise. Selain karena waktu tempuh, juga karena pagi itu mendung. Meski begitu, kami cukup senang pagi itu bisa menikmati pantai yang tenang karena belum banyak pengunjung, pasir putih, melihat kesibukan para nelayan yang merapat ke pantai, serta mencari kerang laut warna-warni dan berbagai bentuk yang bertebaran di sana-sini.


Laba-laba Laut
Bening...

Air laut yang bening membuat kami bisa melihat berbagai biota laut tanpa harus snorkeling. Anak-anak senang melihat beragam hewan laut yang baru pertama kali mereka lihat. Laba-laba laut, ikan-ikan, kerang, sampai ular laut bisa kami lihat pagi itu. Sebelum ke sini, ada baiknya cari referensi tentang hewan-hewan laut lebih dahulu. Selain bisa mengenalkan ke anak-anak (kalau kita membawa anak kecil), juga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Happy!
Mau mencoba? :)
Laba-laba laut, misalnya. Saat melihatnya, anak-anak mengira bahwa itu bintang laut (karena mereka lebih familiar dengan bintang laut yang sering muncul di banyak film). Pantai Legon Pari berair bening, dengan banyak batuan, koral, dan alga. Cocok banget untuk tempat hidup hewan-hewan yang suka di perairan dangkal. Laba-laba laut tidak berbahaya sehingga kita bisa mencoba menyentuhnya. Berbeda dengan ular laut. Seperti kebanyakan ular, hewan ini berbisa. Jadi, tidak ada salahnya bekali diri dengan sedikit pengetahuan tentang biota laut atau kalau malas tanya saja ke guide yang mendampingi kita. Mereka sangat familiar dengan berbagai hewan laut itu. :D

Karang Beureum
Anak-anak, seperti biasa kalau bertemu laut, selalu senang bermain ombak dan susah berhenti. Tapi pagi itu kami "memaksa" mereka untuk menyusuri pantai menuju Karang Beureum. Menuju Karang Beureum, berarti dari Legon Pari kita berjalan ke arah kanan (barat). Menyusuri pasir putih yang halus, melihat berbagai biota laut di sepanjang perjalanan, atau mengumpulkan kulit kerang warna-warni.
Karang Beureum!
Saya selalu mencintai laut

Karang Beureum juga menjadi ikon wisata di Sawarna selain Tanjung Layar. Gugusan karang yang memanjang ini punya keunikan tersendiri. Kalau ada ombak besar yang datang, maka karang ini seolah-olah berubah menjadi air terjun. Cantik! Tak ayal, pagi itu daerah inilah yang menjadi spot paling ramai untuk para pencinta fotografi. Orang-orang dengan berbagai perlengkapan memotret yang serius. Sementara kami? Kami hanyalah pencinta pantai... :p


Beureum dalam bahasa Sunda berarti 'merah'. Hal ini mengacu ke gugusan karang yang ada di situ. Memang di puncak-puncak karang agak terlihat warna merah. Mungkin karena itulah kawasan ini disebut sebagai Karang Beureum. Di seputaran karang, kami menemui hamparan alga laut yang luas. Jadi mau tidak mau kami harus menginjaknya untuk menuju ke karang atau balik ke pantai. Saya belum pernah menjumpai hal ini di pantai-pantai yang saya kunjungi. 

Menyusuri pinggiran laut menuju Karang Beureum
Setelah dari Karang Beureum kami sarapan dulu di warung yang ada di dekat situ. Pihak penginapan yang tadinya bersedia mengirim sarapan akhirnya membatalkan kesediaan mereka karena menurut mereka terlalu jauh. Jadilah kami makan seadanya pagi itu. Untungnya, karena kami memang sudah berniat akan hiking, perbekalan yang kami bawa pagi itu lumayan untuk mengganjal perut.

Karang Taraje
Tujuan kami berikutnya adalah Karang Taraje. Taraje dalam bahasa Sunda berarti 'tangga'. Di kawasan ini, kami menemui banyak batu karang. Dari yang kecil sampai yang besar, dari yang biasa saja sampai yang bentuknya unik.
Pemandangan ala kartu pos! (modelnya sih enggak...)
Lovely
Anak-anak (kecuali Nikki) tidak ikut ke kawasan ini karena mereka sudah capek. Hiking dari awal perjalanan menuju Legon Pari dan kemudian jalan menyusuri pantai ke Karang Beureum cukup menguras tenaga. Karena itu, hanya kami-kami yang penasaran ini yang melanjutkan langkah menyusuri pantai menuju Karang Taraje.

Karang Taraje ini meyerupai pelataran besar dengan undakan. Mungkin karena itu disebut sebagai taraje. Untuk mencapai pelataran besar, pagi itu kami harus naik tangga dari bambu. Iya, tangga bambu yang sering dipakai di kampung atau para tukang itu. Serem? Pasti! Tapi setelah sampai di atas kita bisa melihat samudra yang luas. Apa rasanya langsung berhadapan dengan Samudra Indonesia? Wow!
Hamparan karang
Up! You can do it, Nikki!
Oh, ya. Jangan salah membedakan antara Karang Taraje dan Karang Beureum. Kalau kita Googling, kita akan menemukan beberapa tulisan yang menyebut sebagai Karang Taraje tapi nyatanya itu adalah Karang Beureum. Karang Beureum, seperti saya bilang, adalah kawasan pantai dengan gugusan karang yang sedikit berwarna merah. Kalau ada ombak besar datang, karang ini akan berubah menjadi "air terjun". Sementara Karang Taraje adalah gugusan karang yang tinggi dan berundak mirip tangga. Kita bisa naik ke atasnya dan akan menemukan pemandangan yang keren banget! Intinya, kalau kita berada di Legon Pari terus berjalan ke arah kanan (barat), yang kita temui adalah Karang Beureum. Sementara kalau kita berjalan ke kiri (timur), yang kita temui adalah Karang Taraje.

Pemandangan dari atas Karang Taraje
Kalau cuaca mendukung (dan ada tangga), saya sarankan untuk naik! Beneran, di atas pemandangannya keren. Tapi kalau ombak sedang tinggi ya lebih baik tidak usah. Karena itu, untuk datang ke kawasan ini, waktu paling baik adalah sesudah subuh. Selain berburu sunrise, ombaknya juga lumayan bersahabat.
Us!
Samudra Indonesia!
Kembali ke tempat anak-anak menunggu di Legon Pari, kami sudah kepayahan. Cuaca siang itu cukup panas. Akhirnya kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan, kali ini berencana menyusuri gua-gua yang ada di kawasan Sawarna. Untuk menuju ke jalan raya, anak-anak sudah tidak sanggup untuk jalan lagi sehingga kami menyewa ojek. Dan, saya akan bilang bahwa jalan kaki lebih menyenangkan daripada naik ojek. Jalanan yang naik turun, curam di beberapa bagian dan licin, berbatu, belum kalau ketemu ojek lain, kemudian menyeberang jembatan gantung dengan ojek, bagaimana rasanya? Nano-nano. Tapi kalau tidak sanggup berjalan kaki, ojek ini sangat membantu kok.
Laut biru, langit biru, dan pasir putih
Menuju Karang Taraje
Ini Banten, bukan Bali :)
Dan, seperti listrik yang sering byarpet, sinyal telepon di daerah ini juga payah. Kadang ada, kadang tidak, tapi lebih sering tidak ada. :D Karena itu, tempat ini cocok banget buat orang-orang yang ingin menyepi, lari dari kenyataan ingar-bingar dan sumpeknya Ibu Kota.

Postingan terkait:

Escape to Sawarna (Day 1)
- Goa-goa di Sawarna


Monday, June 22, 2015

Escape to Sawarna (Day 1)

Long wiken bulan lalu kami pergi ke SAWARNA yang terletak di daerah Lebak, Banten. Kalau dari Jakarta, lokasi wisata ini terhitung dekat dan komplet, surga bagi para pencinta alam seperti kami. Bahkan, kalau menurut saya, pantainya secantik pantai-pantai di Bali. Bening dan bersih.
Pantai Tanjung Layar
Sejak suami mengajukan proposal untuk berlibur ke Sawarna, saya mengajukan cuti jauh-jauh hari. Saat persiapan dirasa sudah matang, ternyata kami mendapat edaran dari sekolah kalau hari itu Kira pentas dalam rangka Puncak Tema. Duh, bingung memilih. Akhirnya diputuskan kami mengikuti acara di sekolah dan begitu Kira turun dari pentas langsung balik badan.

Kamis itu, sekitar pukul 10 pagi, kami baru bisa berangkat. Sementara rombongan saudara yang lain sudah berangkat dari pagi benar untuk menghindari kemacetan. Benar saja, begitu masuk Tol Jagorawi, arah ke Sukabumi sudah macet panjang. Mungkin kami harus bersyukur karena perjalanan kami hari itu dimudahkan. Saat kami melipir, tahu-tahu polisi lalu lintas membuka jalur alternatif yang langsung saja kami masuki sehingga lancar jaya melewati Ciawi. Setelah itu perjalanan tersendat karena kami harus berbagi jalan dengan truk-truk kontainer dan truk galon air mineral. Kami melipir lagi melewati jalur alternatif, melewati Tenjo Ayu.
Salah satu jalan yang kami lalui
Karena kami berangkat terhitung siang, kami hanya berhenti sekali di sebuah mushala untuk sholat. Makan dan lain-lain kami bawa sendiri. Jadi begitu anak-anak lapar saya mengedarkan kotak makanan dan mereka bisa makan tanpa membuang-buang waktu untuk berhenti di jalan.

Memasuki kawasan Palabuhanratu, kami bisa bernapas lega. Waktu sesuai perhitungan. Tadinya kami berpikir kalau ternyata kemalaman di jalan kami akan menginap dulu di Palabuhanratu. Jalan yang naik turun mirip roller coaster dan tanpa penerangan jalan, sementara di kanan-kiri hanya ada pohon kelapa sawit atau jati, membuat kami tidak yakin kalau harus meneruskan perjalanan saat malam.
Jembatan gantung yang harus kami lalui
Sawarna, sekitar 6 jam perjalanan dari Jakarta, memiliki banyak pantai yang indah, juga banyak gua yang bisa dijelajahi. Ini alternatif yang keren banget buat orang-orang yang suka berlibur di alam, tetapi tidak punya banyak waktu untuk ke luar pulau. Meski punya pantai yang bagus, gua-gua yang bisa dijelajahi, dan banyak tersedia penginapan murah, listrik masih menjadi masalah di daerah ini. Jadi kalau menginap di sini, jangan heran apabila berkali-kali mati lampu. 

Banyak teman saya bilang: "Ah, jauh. Jalannya enggak enak." Tapi untuk sesuatu yang indah, butuh perjuangan toh?! Waktu tempuh yang kurang lebih 6 jam, menurut saya, worthed banget! Karena di Sawarna saya menemukan banyak pantai indah. Kuncinya: jangan cuma sehari ke sini karena hanya akan capek di perjalanan. Dan lagi, 6 jam buat kami yang biasa melakukan perjalanan darat di atas 20 jam saat mudik enggak ada apa-apanya. :D

Pantai Tanjung Layar
Sore hari, kami baru tiba di Sawarna. Karena tidak mau menyia-nyiakan waktu, dan kebetulan penginapan yang kami pesan, Little Hula-Hula, melewati Pantai Tanjung Layar, akhirnya kami melipir dulu ke tempat wisata tersebut.
Sore itu karena belum masuk wiken, PANTAI TANJUNG LAYAR lumayan sepi. Untuk sampai ke pantai, kami harus melewati jembatan gantung, jalanan setapak yang kecil, persawahan, dan perkampungan penduduk. Perkampungan di sini rapi dan bersih. Banyak rumah penduduk yang difungsikan sebagai penginapan. Sejujurnya, rumah-rumah penduduk yang tertata rapi ini mengingatkan saya ke Desa Sukamaju, desa-nya Si Unyil yang selalu rapi. :D *ketahuan angkatan berapa deh*

Tanjung Layar adalah sebuah tanjung di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Di masa Hindia Belanda, tanjung ini bernama  Java's Eerste Punt, yang berarti 'Ujung pertama Pulau Jawa', mengacu ke orang yang berlayar dari barat.


Ikon Pantai Tanjung Layar adalah dua karang yang menjulang seperti kerucut. Yang menyenangkan di sini bagi saya adalah: pasir putih, air yang bening, pantai yang bersih (semoga selamanya akan selalu begitu), dan pemandangan yang menarik. Anak-anak aman bermain karena gugusan karang meredam ombak samudra.

Sore itu kami tidak bisa berlama-lama di Tanjung Layar karena gerimis. Perjalanan yang tadinya diniatkan untuk hiking pun berubah menjadi naik ojek. Perjalanan menuju dan dari Selayar ke parkiran lumayan jauh, sementara kami harus bergegas sebelum hujan turun. Akhirnya kami memanfaatkan para tukang ojek yang banyak mangkal di sekitar kawasan itu. Begitu sampai parkiran ternyata hujan deras sehingga kami memutuskan segera menuju penginapan.

Villa Little Hula-Hula
Dua malam ke depan, kami menginap di Little Hula-Hula. Kami memesan 2 cottage karena kami berombongan yang terdiri dari beberapa keluarga. Satu cottage bisa untuk 3 tempat tidur dengan fasilitas AC, televisi, dan satu kamar mandi. Kami pun tidur beramai-ramai dengan para saudara.

Jiah... nih anak kenapa tidurnya berantakan gini yak?! :D
Menginap di sini sebenarnya seru. Tapi, seperti saya singgung tadi, di daerah Sawarna masalah utama adalah listrik! Jadi listrik yang byarpet menemani kami sepanjang malam. AC yang seharusnya mengusir hawa panas pantai pun beberapa kali mati. Saran saya, kalau mau menginap di Sawarna, selalu pastikan bawa senter atau emergency lamp. Terlalu berlebihan? Tidak juga. Karena dua alat itu bisa kita manfaatkan untuk menjelajah gua-gua yang ada di Sawarna.
Makan malam
Malam pertama di Sawarna kami lalui dengan guyuran hujan deras. Waktu sempit di sore hari yang tadinya kami perkirakan bisa untuk menjelajah pantai di sekitar penginapan pun terbuang. Kami hanya bisa berdiam di penginapan, ngobrol dan makan. Karena tidak mau repot memikirkan makanan, kami pun minta pihak Little Hula-Hula menyediakan makan. Akhirnya kami seseruan makan malam ditemani gerimis yang tak juga berhenti. Kami hanya bisa berharap esok hari cuaca cerah, atau setidaknya tidak hujan, karena banyak tempat yang harus kami jelajahi.

Tulisan terkait:
- Pantai-pantai di Sawarna
- Goa-goa di Sawarna


Wednesday, June 17, 2015

Hiking: Goa Agung Garunggang

Oke, lupakan sejenak soal perjalanan di luar Pulau Jawa. Ramadhan sudah dekat, jadi saya berkejaran dengan waktu untuk posting peristiwa akhir-akhir ini saja. Seperti diketahui, keluarga kami suka hiking dan camping (kemudian ingat belum posting soal camping terakhir). *kunyah keyboard*

Wiken kemarin kami sekeluarga hiking ke GOA AGUNG GARUNGGANG. Nama yang tidak familiar? Pertama kali suami saya mengajukan "proposal" untuk hiking ke tempat itu pun saya tidak ada gambaran di mana tempat tersebut. Dan ternyata, geopark itu cuma di sekitaran daerah Sentul, yang artinya tidak jauh dari Jakarta! Sungguh pengetahuan saya soal tempat wisata nol banget.
Gua Agung Garunggang
Jalanan di sekitar kompleks gua
Pagi itu kami berangkat dari rumah sekitar pukul 6 pagi. Sengaja pagi-pagi karena kami membawa anak-anak berumur 7 dan 11 tahun. Jadi perjalanan yang kami perkirakan sepanjang 8 kilometer pergi-pulang akan memakan waktu cukup lama. Memasuki kawasan Sentul, jalanan lumayan ramai oleh orang-orang yang berolahraga: lari, bersepeda, atau lainnya. Di depan pintu masuk Jungle Land, kami belok ke kanan. Jalanan juga masih ramai karena orang-orang banyak juga yang menuju ke Gunung Pancar. Di pertigaan, orang-orang melaju ke kanan menuju Gunung Pancar sesuai papan petunjuk, sementara tujuan kami ke kiri yang tidak ada papan petunjuk sama sekali. Akhirnya kami memarkir kendaraan di sebuah warung di perbatasan jalan.
Are you ready? :)
Yeah... Di mana pun, Indonesia selalu indah!
Yes, you can do it, Kira!
Hiking dimulai. Perbekalan dicek (karena sepanjang perjalanan tidak ada warung satu pun), sepatu, dan jangan ketinggalan plastik sampah. Tujuan kami adalah gua yang cukup tersembunyi. Kami harus berjalan melintasi perbukitan. Kendaraan umum? Jangan harap. Ojek? Nol. Jadi benar-benar persiapkan fisik untuk hiking kali ini. Anak-anak? Kami berharap mereka kuat menempuh jarak tersebut, dan setiap kali mereka butuh beristirahat, kami akan beristirahat.

Hari itu, kami seperti memasuki kawasan pedesaan zaman dulu. Saat melintasi jembatan di atas sungai yang berarus deras, kami melihat orang yang sibuk mencuci baju atau mandi di kali. Memasuki kawasan perkampungan, kami disambut rumah-rumah khas dusun dengan kamar mandi seadanya dari lembaran terpal. Gayung yang berupa rantang. Anak kecil yang hampir telanjang di pelataran rumah. Kandang kambing atau ayam di samping rumah. Jalanan kampung yang kalau ada satu motor lewat pun kami harus minggir. What a day! Di sepanjang jalan kampung, setiap bertemu warga, kami saling sapa dan berakhir dengan pertanyaan: "Mau ke gua?". Khas perkampungan di Indonesia! Sepanjang jalan kami ngoceh ke anak-anak bagaimana kami harus bersyukur.
Get outside and go for run!
Dare to try?
Di pos ronda, kami "menemukan" seorang anak yang duduk bengong sendirian. Kami akhirnya mengajak anak itu untuk ikut berjalan bersama kami, menunjukkan letak Gua Garunggang. Namanya Irfan, kelas V SD. Dialah yang akhirnya menjadi "guide" kami. Irfan yang bertelanjang kaki itu menjadi teman perjalanan kami, tempat kami bertanya, dan saat kami beristirahat, menjadi teman mengobrol.

Perjalanan pagi itu kami lewati dengan beberapa kali istirahat. Jangan bandingkan kami dengan Irfan yang senyam-senyum melihat kami kelelahan. Jalanan naik-turun dan di beberapa tempat nyaris curam. Saat anak-anak mulai capek, kami beristirahat sambil menikmati pemandangan di sebuah dangau. Ngobrol dengan guide kami soal keluarganya, adiknya, sekolahnya, dan teman-temannya.
Ini hiking! Siapkan fisik ya...
Beristirahat bersama Irfan, "guide" kami pagi itu
GOA AGUNG GARUNGGANG di kawasan Sentul ini bisa dibilang masih minim sentuhan dari pemerintah. Bahkan untuk sekadar papan petunjuk pun tidak ada. Saat saya mencari referensi tentang tempat ini, saya hampir tidak bisa menemukannya. Jadi perjalanan ke tempat ini bagi saya seperti sebuah tantangan. 

Dan akhirnya... siang itu, saya sampai di kompleks GOA AGUNG GARUNGGANG. Saya lebih suka menyebutnya kompleks karena kawasan ini tidak hanya terdiri dari satu gua dan beberapa batuan. Tapi ada banyak batuan yang bertebaran di sana-sini. Kalau di Gunung Padang batuannya terstruktur seperti piramida, batuan di kompleks Gua Agung Garunggang lebih mirip Batu Angus di Ternate yang menyebar (belum posting! *pemalas*).
Kompleks Gua Agung Garunggang
Bagian ini mengingatkan saya ke Kompleks Garuda Wisnu Kencana
Irfan, guide kami siang itu, patut diacungi jempol. Dia mengenalkan kami ke Pak Ajum, orang yang bisa dibilang penjaga tempat itu dan tahu cerita soal Gua Agung Garunggang. Kami mengobrol dengan Pak Ajum yang saat ditanya jumlah cucunya pun tidak tahu saking banyaknya. Dengan kemampuan bahasa Sunda yang hampir nol, saya coba mencerna apa yang Pak Ajum ceritakan. Pak Ajum yang akhirnya menemani kami (suami saya) siang itu memasuki gua.

Menurut Pak Ajum, Gua Agung Garunggang sebenarnya ditemukan tahun 1987. Saat itu, ada orang Belanda yang datang ke kawasan tersebut. Tujuan orang Belanda itu adalah mencari harta karun nenek moyangnya, yang menurut dia berada di daerah itu. Pada tahun tersebut, Gua Garunggang masih tertutup tanah dan semak. Bahkan di atasnya ada yang diusahakan sebagai lahan pertanian oleh penduduk. Orang Belanda itu dibantu para penduduk mulai membabat semak dan membersihkan tempat tersebut. Kabarnya, di kawasan itu ada empat peti harta karun peninggalan nenek moyangnya.
Salah satu di antara 4 gua
Istirahat
What are you doing, Nikki?! :D
Pencarian harta berakhir nihil. Sampai saat ini pun peti harta tidak ditemukan. Dan ternyata kawasan tersebut adalah kompleks gua yang menurut Pak Ajum terdiri dari empat gua. Gua-gua ini di permukaan hampir tidak kelihatan. Mulut gua yang sempit dan tersembunyi di antara semak membuat kami menerka-nerka apakah harta karun itu benar-benar ada. Menurut Pak Ajum yang sudah pernah memasuki semua gua itu, gua-gua yang ada di kawasan tersebut saling terhubung. Dan menurut Pak Ajum tidak jauh dari kawasan itu ada situs Batu Gantung. Tapi siang itu kami sudah tidak sanggup untuk meneruskan ke Batu Gantung.

Hari makin siang. Kawasan gua mulai rame oleh para pengunjung yang hampir semuanya anak remaja. Mereka rata-rata membawa perlengkapan untuk camping dan hiking. Menurut Pak Ajum, kawasan ini memang ramai setelah di atas pukul 11 siang. Setelah dirasa cukup, kami memutuskan untuk meninggalkan kawasan itu. Perjalanan kami masih jauh dan bakal tidak nyaman untuk anak-anak apabila matahari makin tinggi. Guide kami memilih tidak ikut kami pulang, tetapi tinggal di kawasan gua bersama teman-temannya yang baru datang. Akhirnya hanya kami berempat yang pulang. Untuk anak-anak umur 7 dan 11 tahun, perjalanan hiking kali ini lumayan berat. Tapi ternyata mereka bisa. Hurray! Lain kali kita hiking lagi ya, nak.... Jangan kapok. :)
Di dalam salah satu gua bersama Pak Ajum
Aslinya gua ini gelap gulita

Tentang GOA AGUNG GARUNGGANG
Haloooo... dunia!
  • Terletak di Cigobang, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Bogor
  • Waktu saya datang ke sana tidak ada papan petunjuk arah
  • Menurut penjaga tempat tersebut ditemukan tahun 1987
  • Gua Garunggang ditemukan atas dasar cerita terdapat harta karun peninggalan nenek moyang warga Belanda yang dikubur di kawasan tersebut
  • Gua Garunggang saat ini terdiri dari 4 gua yang saling terhubung
  • Gua ini hanya bisa ditempuh dengan: jalan kaki, sepeda, atau motor
  • Untuk menuju tempat ini pastikan perbekalan mencukupi karena di sepanjang jalan tidak ada warung, hanya naik-turun bukit. Pastikan jangan sampai dehidrasi.
  • Pakai sunblock atau pelindung lain
  • Kalau mau hiking lebih baik berangkat pagi
  • Manfaatkan anak-anak yang biasanya ada di perkampungan untuk menjadi guide (kasih tips seikhlasnya dan sharing bekal)
  • Temui Pak Ajum (saksi hidup dan orang yang merawat tempat sekitaran gua)
  • Jangan kaget atau heran kalau di tengah perjalanan terdengar suara memanggil dengan kode ala suara serigala karena itu ternyata cara berkomunikasi (anak-anak, termasuk cucu Pak Ajum dan Pak Ajum, melakukan hal itu). Mereka akan memanggil dan saling menyahut. 
  • Total perjalanan pergi-pulang hampir 8 kilometer (sesuai Endomondo) 
  • Selain Gua Garunggang di kawasan ini juga ada situs Batu Gantung

Kegiatan alam lainnya: