Tuesday, June 30, 2015

Escape to Sawarna (Day 2): Pantai

Subuh datang. Setelah sholat subuh kami semua bersiap untuk menjelajah kawasan Sawarna. Di luar masih gelap. Tapi dengan semangat '45 kami menunggu guide kami yang katanya mau datang ke penginapan tepat setelah subuh. Ditunggu semenit, dua menit, sampai sekian puluh menit ternyata guide kami tidak datang juga. Apa kabar perburuan sunrise?
Pagi di Legon Pari
Malam sebelumnya sebenarnya kami sudah sepakat dengan orang yang akan menjadi guide kami hari itu. Tapi ternyata sampai kami semua berada di dalam mobil dia tidak nongol. Saat kami memutuskan akan nekat berangkat sendiri, tukang ojek yang mangkal di sekitar penginapan menawarkan diri untuk menjadi guide. Akhirnya kami bersepakat dengan salah satu dari mereka. Diki, remaja lokal kawasan itu yang akhirnya menemani kami seharian ke berbagai tempat wisata.

Pantai Legon Pari
Pagi itu akhirnya rombongan kami menyusuri jalanan yang masih sepi. Tujuan pertama adalah: Pantai Legon Pari.  Pantai yang berada di teluk ini berada di Kampung Leles, Desa Sawarna, Banten. Pada dasarnya, pantai-pantai di Sawarna saling terhubung sehingga memudahkan kita untuk menjelajah. Pantai Legon Pari, misalnya, berbatasan langsung dengan Karang Beureum di sebelah barat dan Karang Taraje di sebelah timur.
Jembatan gantung
Mari hiking!
Meski banyak tukang ojek di kawasan tersebut, hari itu kami memutuskan untuk hiking! Berapa lama waktu yang ditempuh untuk hiking sampai bertemu dengan pantai? Kurang lebih 45 menit. Hiking dimulai dengan (sepertinya hampir semua pantai di Sawarna) menyeberangi jembatan gantung. Dibandingkan dengan jembatan gantung di Pantai Tanjung Layar, jembatan yang menuju Legon Pari sedikit lebih lebar. Kami tidak begitu kesulitan untuk hiking karena jalanan sebagian besar sudah dikonblok. Kami tinggal menyusuri jalan yang naik-turun, kadang berhenti untuk sekadar "mengambil napas". Sawah, ladang singkong, dan riuhnya burung-burung menemani perjalanan kami hari itu meski mendung tetap menggelayut.
Pemandangan pagi itu di jalur hiking
Banyak orang menyebut Sawarna sebagai The Hidden Paradise. Meski sebutan ini juga disematkan ke beberapa tempat wisata lain, saya pikir untuk Sawarna hal itu tidak berlebihan karena untuk menuju pantainya kita perlu usaha ekstra. Tapi lelah akan segera hilang saat bertemu dengan pantai berpasir putih dan beningnya air laut. Kami, tentu saja, melewatkan sunrise. Selain karena waktu tempuh, juga karena pagi itu mendung. Meski begitu, kami cukup senang pagi itu bisa menikmati pantai yang tenang karena belum banyak pengunjung, pasir putih, melihat kesibukan para nelayan yang merapat ke pantai, serta mencari kerang laut warna-warni dan berbagai bentuk yang bertebaran di sana-sini.


Laba-laba Laut
Bening...

Air laut yang bening membuat kami bisa melihat berbagai biota laut tanpa harus snorkeling. Anak-anak senang melihat beragam hewan laut yang baru pertama kali mereka lihat. Laba-laba laut, ikan-ikan, kerang, sampai ular laut bisa kami lihat pagi itu. Sebelum ke sini, ada baiknya cari referensi tentang hewan-hewan laut lebih dahulu. Selain bisa mengenalkan ke anak-anak (kalau kita membawa anak kecil), juga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Happy!
Mau mencoba? :)
Laba-laba laut, misalnya. Saat melihatnya, anak-anak mengira bahwa itu bintang laut (karena mereka lebih familiar dengan bintang laut yang sering muncul di banyak film). Pantai Legon Pari berair bening, dengan banyak batuan, koral, dan alga. Cocok banget untuk tempat hidup hewan-hewan yang suka di perairan dangkal. Laba-laba laut tidak berbahaya sehingga kita bisa mencoba menyentuhnya. Berbeda dengan ular laut. Seperti kebanyakan ular, hewan ini berbisa. Jadi, tidak ada salahnya bekali diri dengan sedikit pengetahuan tentang biota laut atau kalau malas tanya saja ke guide yang mendampingi kita. Mereka sangat familiar dengan berbagai hewan laut itu. :D

Karang Beureum
Anak-anak, seperti biasa kalau bertemu laut, selalu senang bermain ombak dan susah berhenti. Tapi pagi itu kami "memaksa" mereka untuk menyusuri pantai menuju Karang Beureum. Menuju Karang Beureum, berarti dari Legon Pari kita berjalan ke arah kanan (barat). Menyusuri pasir putih yang halus, melihat berbagai biota laut di sepanjang perjalanan, atau mengumpulkan kulit kerang warna-warni.
Karang Beureum!
Saya selalu mencintai laut

Karang Beureum juga menjadi ikon wisata di Sawarna selain Tanjung Layar. Gugusan karang yang memanjang ini punya keunikan tersendiri. Kalau ada ombak besar yang datang, maka karang ini seolah-olah berubah menjadi air terjun. Cantik! Tak ayal, pagi itu daerah inilah yang menjadi spot paling ramai untuk para pencinta fotografi. Orang-orang dengan berbagai perlengkapan memotret yang serius. Sementara kami? Kami hanyalah pencinta pantai... :p


Beureum dalam bahasa Sunda berarti 'merah'. Hal ini mengacu ke gugusan karang yang ada di situ. Memang di puncak-puncak karang agak terlihat warna merah. Mungkin karena itulah kawasan ini disebut sebagai Karang Beureum. Di seputaran karang, kami menemui hamparan alga laut yang luas. Jadi mau tidak mau kami harus menginjaknya untuk menuju ke karang atau balik ke pantai. Saya belum pernah menjumpai hal ini di pantai-pantai yang saya kunjungi. 

Menyusuri pinggiran laut menuju Karang Beureum
Setelah dari Karang Beureum kami sarapan dulu di warung yang ada di dekat situ. Pihak penginapan yang tadinya bersedia mengirim sarapan akhirnya membatalkan kesediaan mereka karena menurut mereka terlalu jauh. Jadilah kami makan seadanya pagi itu. Untungnya, karena kami memang sudah berniat akan hiking, perbekalan yang kami bawa pagi itu lumayan untuk mengganjal perut.

Karang Taraje
Tujuan kami berikutnya adalah Karang Taraje. Taraje dalam bahasa Sunda berarti 'tangga'. Di kawasan ini, kami menemui banyak batu karang. Dari yang kecil sampai yang besar, dari yang biasa saja sampai yang bentuknya unik.
Pemandangan ala kartu pos! (modelnya sih enggak...)
Lovely
Anak-anak (kecuali Nikki) tidak ikut ke kawasan ini karena mereka sudah capek. Hiking dari awal perjalanan menuju Legon Pari dan kemudian jalan menyusuri pantai ke Karang Beureum cukup menguras tenaga. Karena itu, hanya kami-kami yang penasaran ini yang melanjutkan langkah menyusuri pantai menuju Karang Taraje.

Karang Taraje ini meyerupai pelataran besar dengan undakan. Mungkin karena itu disebut sebagai taraje. Untuk mencapai pelataran besar, pagi itu kami harus naik tangga dari bambu. Iya, tangga bambu yang sering dipakai di kampung atau para tukang itu. Serem? Pasti! Tapi setelah sampai di atas kita bisa melihat samudra yang luas. Apa rasanya langsung berhadapan dengan Samudra Indonesia? Wow!
Hamparan karang
Up! You can do it, Nikki!
Oh, ya. Jangan salah membedakan antara Karang Taraje dan Karang Beureum. Kalau kita Googling, kita akan menemukan beberapa tulisan yang menyebut sebagai Karang Taraje tapi nyatanya itu adalah Karang Beureum. Karang Beureum, seperti saya bilang, adalah kawasan pantai dengan gugusan karang yang sedikit berwarna merah. Kalau ada ombak besar datang, karang ini akan berubah menjadi "air terjun". Sementara Karang Taraje adalah gugusan karang yang tinggi dan berundak mirip tangga. Kita bisa naik ke atasnya dan akan menemukan pemandangan yang keren banget! Intinya, kalau kita berada di Legon Pari terus berjalan ke arah kanan (barat), yang kita temui adalah Karang Beureum. Sementara kalau kita berjalan ke kiri (timur), yang kita temui adalah Karang Taraje.

Pemandangan dari atas Karang Taraje
Kalau cuaca mendukung (dan ada tangga), saya sarankan untuk naik! Beneran, di atas pemandangannya keren. Tapi kalau ombak sedang tinggi ya lebih baik tidak usah. Karena itu, untuk datang ke kawasan ini, waktu paling baik adalah sesudah subuh. Selain berburu sunrise, ombaknya juga lumayan bersahabat.
Us!
Samudra Indonesia!
Kembali ke tempat anak-anak menunggu di Legon Pari, kami sudah kepayahan. Cuaca siang itu cukup panas. Akhirnya kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan, kali ini berencana menyusuri gua-gua yang ada di kawasan Sawarna. Untuk menuju ke jalan raya, anak-anak sudah tidak sanggup untuk jalan lagi sehingga kami menyewa ojek. Dan, saya akan bilang bahwa jalan kaki lebih menyenangkan daripada naik ojek. Jalanan yang naik turun, curam di beberapa bagian dan licin, berbatu, belum kalau ketemu ojek lain, kemudian menyeberang jembatan gantung dengan ojek, bagaimana rasanya? Nano-nano. Tapi kalau tidak sanggup berjalan kaki, ojek ini sangat membantu kok.
Laut biru, langit biru, dan pasir putih
Menuju Karang Taraje
Ini Banten, bukan Bali :)
Dan, seperti listrik yang sering byarpet, sinyal telepon di daerah ini juga payah. Kadang ada, kadang tidak, tapi lebih sering tidak ada. :D Karena itu, tempat ini cocok banget buat orang-orang yang ingin menyepi, lari dari kenyataan ingar-bingar dan sumpeknya Ibu Kota.

Postingan terkait:

Escape to Sawarna (Day 1)
- Goa-goa di Sawarna


7 comments:

Dewi Aja said...

Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, resepi dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

Lidya said...

airnya bening banget ya mbak

Idah Ceris said...

Asyik banget jembatan gantungnya, Mbak.
Btw, banyak karang di sana, ya. Seru banget.

candra said...

trimakasih infonya,,
sangat bermanfaat,,
salam sukses,,,

IndKur said...

Jadi total loe berapa hari di sana, Ret ?
Seru kayaknya. Duuh, gw banyak pertanyaan.
Makannya gimana ? Paketan dari Villa atau cari warung di sekitar situ.
Pengen deh sesekali. Hotel yang loe kemarin itu cukup rekomended ?

Keke Naima said...

bener-bener puas banget main di aur kalau ke sana, ya :)

retma-haripahargio said...

@indah: 3 hari 2 malam, Ndah. :p Makan kami pesan ke penginapan. Karena bawa anak-anak, gak mau repot juga sih. Tapi kalo gak pesen paketan, bisa juga kok kita pesen2. Nasi gorengnya lumayan enak. Terus kadang ada penjual juga yang masuk ke area penginapan. Bakso, nasi kotak, adaaaa.

Hotel kemarin lumayan. Kayaknya itu yang paling bagus. Tapi sempat ada trouble di masalah air (satu kamar). Dan di sana listrik masih suka mati2 yak.