Wednesday, June 17, 2015

Hiking: Goa Agung Garunggang

Oke, lupakan sejenak soal perjalanan di luar Pulau Jawa. Ramadhan sudah dekat, jadi saya berkejaran dengan waktu untuk posting peristiwa akhir-akhir ini saja. Seperti diketahui, keluarga kami suka hiking dan camping (kemudian ingat belum posting soal camping terakhir). *kunyah keyboard*

Wiken kemarin kami sekeluarga hiking ke GOA AGUNG GARUNGGANG. Nama yang tidak familiar? Pertama kali suami saya mengajukan "proposal" untuk hiking ke tempat itu pun saya tidak ada gambaran di mana tempat tersebut. Dan ternyata, geopark itu cuma di sekitaran daerah Sentul, yang artinya tidak jauh dari Jakarta! Sungguh pengetahuan saya soal tempat wisata nol banget.
Gua Agung Garunggang
Jalanan di sekitar kompleks gua
Pagi itu kami berangkat dari rumah sekitar pukul 6 pagi. Sengaja pagi-pagi karena kami membawa anak-anak berumur 7 dan 11 tahun. Jadi perjalanan yang kami perkirakan sepanjang 8 kilometer pergi-pulang akan memakan waktu cukup lama. Memasuki kawasan Sentul, jalanan lumayan ramai oleh orang-orang yang berolahraga: lari, bersepeda, atau lainnya. Di depan pintu masuk Jungle Land, kami belok ke kanan. Jalanan juga masih ramai karena orang-orang banyak juga yang menuju ke Gunung Pancar. Di pertigaan, orang-orang melaju ke kanan menuju Gunung Pancar sesuai papan petunjuk, sementara tujuan kami ke kiri yang tidak ada papan petunjuk sama sekali. Akhirnya kami memarkir kendaraan di sebuah warung di perbatasan jalan.
Are you ready? :)
Yeah... Di mana pun, Indonesia selalu indah!
Yes, you can do it, Kira!
Hiking dimulai. Perbekalan dicek (karena sepanjang perjalanan tidak ada warung satu pun), sepatu, dan jangan ketinggalan plastik sampah. Tujuan kami adalah gua yang cukup tersembunyi. Kami harus berjalan melintasi perbukitan. Kendaraan umum? Jangan harap. Ojek? Nol. Jadi benar-benar persiapkan fisik untuk hiking kali ini. Anak-anak? Kami berharap mereka kuat menempuh jarak tersebut, dan setiap kali mereka butuh beristirahat, kami akan beristirahat.

Hari itu, kami seperti memasuki kawasan pedesaan zaman dulu. Saat melintasi jembatan di atas sungai yang berarus deras, kami melihat orang yang sibuk mencuci baju atau mandi di kali. Memasuki kawasan perkampungan, kami disambut rumah-rumah khas dusun dengan kamar mandi seadanya dari lembaran terpal. Gayung yang berupa rantang. Anak kecil yang hampir telanjang di pelataran rumah. Kandang kambing atau ayam di samping rumah. Jalanan kampung yang kalau ada satu motor lewat pun kami harus minggir. What a day! Di sepanjang jalan kampung, setiap bertemu warga, kami saling sapa dan berakhir dengan pertanyaan: "Mau ke gua?". Khas perkampungan di Indonesia! Sepanjang jalan kami ngoceh ke anak-anak bagaimana kami harus bersyukur.
Get outside and go for run!
Dare to try?
Di pos ronda, kami "menemukan" seorang anak yang duduk bengong sendirian. Kami akhirnya mengajak anak itu untuk ikut berjalan bersama kami, menunjukkan letak Gua Garunggang. Namanya Irfan, kelas V SD. Dialah yang akhirnya menjadi "guide" kami. Irfan yang bertelanjang kaki itu menjadi teman perjalanan kami, tempat kami bertanya, dan saat kami beristirahat, menjadi teman mengobrol.

Perjalanan pagi itu kami lewati dengan beberapa kali istirahat. Jangan bandingkan kami dengan Irfan yang senyam-senyum melihat kami kelelahan. Jalanan naik-turun dan di beberapa tempat nyaris curam. Saat anak-anak mulai capek, kami beristirahat sambil menikmati pemandangan di sebuah dangau. Ngobrol dengan guide kami soal keluarganya, adiknya, sekolahnya, dan teman-temannya.
Ini hiking! Siapkan fisik ya...
Beristirahat bersama Irfan, "guide" kami pagi itu
GOA AGUNG GARUNGGANG di kawasan Sentul ini bisa dibilang masih minim sentuhan dari pemerintah. Bahkan untuk sekadar papan petunjuk pun tidak ada. Saat saya mencari referensi tentang tempat ini, saya hampir tidak bisa menemukannya. Jadi perjalanan ke tempat ini bagi saya seperti sebuah tantangan. 

Dan akhirnya... siang itu, saya sampai di kompleks GOA AGUNG GARUNGGANG. Saya lebih suka menyebutnya kompleks karena kawasan ini tidak hanya terdiri dari satu gua dan beberapa batuan. Tapi ada banyak batuan yang bertebaran di sana-sini. Kalau di Gunung Padang batuannya terstruktur seperti piramida, batuan di kompleks Gua Agung Garunggang lebih mirip Batu Angus di Ternate yang menyebar (belum posting! *pemalas*).
Kompleks Gua Agung Garunggang
Bagian ini mengingatkan saya ke Kompleks Garuda Wisnu Kencana
Irfan, guide kami siang itu, patut diacungi jempol. Dia mengenalkan kami ke Pak Ajum, orang yang bisa dibilang penjaga tempat itu dan tahu cerita soal Gua Agung Garunggang. Kami mengobrol dengan Pak Ajum yang saat ditanya jumlah cucunya pun tidak tahu saking banyaknya. Dengan kemampuan bahasa Sunda yang hampir nol, saya coba mencerna apa yang Pak Ajum ceritakan. Pak Ajum yang akhirnya menemani kami (suami saya) siang itu memasuki gua.

Menurut Pak Ajum, Gua Agung Garunggang sebenarnya ditemukan tahun 1987. Saat itu, ada orang Belanda yang datang ke kawasan tersebut. Tujuan orang Belanda itu adalah mencari harta karun nenek moyangnya, yang menurut dia berada di daerah itu. Pada tahun tersebut, Gua Garunggang masih tertutup tanah dan semak. Bahkan di atasnya ada yang diusahakan sebagai lahan pertanian oleh penduduk. Orang Belanda itu dibantu para penduduk mulai membabat semak dan membersihkan tempat tersebut. Kabarnya, di kawasan itu ada empat peti harta karun peninggalan nenek moyangnya.
Salah satu di antara 4 gua
Istirahat
What are you doing, Nikki?! :D
Pencarian harta berakhir nihil. Sampai saat ini pun peti harta tidak ditemukan. Dan ternyata kawasan tersebut adalah kompleks gua yang menurut Pak Ajum terdiri dari empat gua. Gua-gua ini di permukaan hampir tidak kelihatan. Mulut gua yang sempit dan tersembunyi di antara semak membuat kami menerka-nerka apakah harta karun itu benar-benar ada. Menurut Pak Ajum yang sudah pernah memasuki semua gua itu, gua-gua yang ada di kawasan tersebut saling terhubung. Dan menurut Pak Ajum tidak jauh dari kawasan itu ada situs Batu Gantung. Tapi siang itu kami sudah tidak sanggup untuk meneruskan ke Batu Gantung.

Hari makin siang. Kawasan gua mulai rame oleh para pengunjung yang hampir semuanya anak remaja. Mereka rata-rata membawa perlengkapan untuk camping dan hiking. Menurut Pak Ajum, kawasan ini memang ramai setelah di atas pukul 11 siang. Setelah dirasa cukup, kami memutuskan untuk meninggalkan kawasan itu. Perjalanan kami masih jauh dan bakal tidak nyaman untuk anak-anak apabila matahari makin tinggi. Guide kami memilih tidak ikut kami pulang, tetapi tinggal di kawasan gua bersama teman-temannya yang baru datang. Akhirnya hanya kami berempat yang pulang. Untuk anak-anak umur 7 dan 11 tahun, perjalanan hiking kali ini lumayan berat. Tapi ternyata mereka bisa. Hurray! Lain kali kita hiking lagi ya, nak.... Jangan kapok. :)
Di dalam salah satu gua bersama Pak Ajum
Aslinya gua ini gelap gulita

Tentang GOA AGUNG GARUNGGANG
Haloooo... dunia!
  • Terletak di Cigobang, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Bogor
  • Waktu saya datang ke sana tidak ada papan petunjuk arah
  • Menurut penjaga tempat tersebut ditemukan tahun 1987
  • Gua Garunggang ditemukan atas dasar cerita terdapat harta karun peninggalan nenek moyang warga Belanda yang dikubur di kawasan tersebut
  • Gua Garunggang saat ini terdiri dari 4 gua yang saling terhubung
  • Gua ini hanya bisa ditempuh dengan: jalan kaki, sepeda, atau motor
  • Untuk menuju tempat ini pastikan perbekalan mencukupi karena di sepanjang jalan tidak ada warung, hanya naik-turun bukit. Pastikan jangan sampai dehidrasi.
  • Pakai sunblock atau pelindung lain
  • Kalau mau hiking lebih baik berangkat pagi
  • Manfaatkan anak-anak yang biasanya ada di perkampungan untuk menjadi guide (kasih tips seikhlasnya dan sharing bekal)
  • Temui Pak Ajum (saksi hidup dan orang yang merawat tempat sekitaran gua)
  • Jangan kaget atau heran kalau di tengah perjalanan terdengar suara memanggil dengan kode ala suara serigala karena itu ternyata cara berkomunikasi (anak-anak, termasuk cucu Pak Ajum dan Pak Ajum, melakukan hal itu). Mereka akan memanggil dan saling menyahut. 
  • Total perjalanan pergi-pulang hampir 8 kilometer (sesuai Endomondo) 
  • Selain Gua Garunggang di kawasan ini juga ada situs Batu Gantung

Kegiatan alam lainnya:



6 comments:

Lidya said...

ternyata ada tempat yang menarik sepert ini di daerah Jakarta ya mbak. Selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan ya mbak

retma-haripahargio said...

Bukan Jakarta. Masuknya ke Bogor. Sama2 ya Lidya. Selamat berpuasa.

Idah Ceris said...

Serius sneng banget ngelihat kekompakannya, Mbak. Baru tahu di Bogor ada Gua macam ini. :)

rm dari Bogor tapi ke Curug2 dowang. :D

Idah Ceris said...

rm mksudnya kmrn. :D

Unknown said...

Blog yg bagus please follow capunk-cr9.blogspot.CO.id

indosat 10 digit said...

Wah tempat yang asik untuk bersepda dan berfoto hehe :D