Saturday, August 22, 2015

Escape to Sawarna (Day 2): Goa

Masuk kantor hari pertama setelah libur Lebaran lalu, saya langsung disambut seorang teman yang bercerita menggebu-gebu karena baru saja ke Sawarna. Tapi pada akhirnya dia berkata, "Ah, gitu aja." What?! Saya agak bingung mendengar komentarnya. Dan kemudian saya bertanya, "Kamu menuju pantai bagaimana? Jalan kaki, hiking, atau naik ojek?" Jawaban teman saya membuat saya bengong. "Pakai mobil lah...," jawabnya. Oh, pantesan saja dia bilang "gitu aja". Saya akan bilang, kalau ke pantai di Sawarna masih bisa menggunakan mobil, itu artinya belum menjelajah ke pantai yang sesungguhnya.

Dan selain pantai, tentu saja Sawarna memiliki banyak goa yang juga bisa dijelajah.

Goa Lalay
Goa tujuan pertama kami dalam perjalanan ke Sawarna adalah Goa Lalay. Terletak di Desa Cipanas, goa ini merupakan salah satu goa yang terkenal di Sawarna. Lalay, dalam bahasa Sunda, berarti 'kelelawar'. Menurut penduduk, dahulu di dalam gua ini banyak terdapat kelelawar dan orang-orang Baduy sering datang ke goa ini untuk mengambil kelelawar. Bagi orang Baduy, kelelawar selain bisa untuk lauk juga bisa digunakan sebagai obat untuk sejumlah penyakit.
Mulut Goa Lalay
Akira di depan Mulut Goa Lalay
Perjalanan kami ke Goa Lalay siang itu terdiri dari: menyusuri jalan setapak di perkampungan penduduk, jembatan gantung (untuk yang kesekian kali bertemu dengan jembatan gantung), jalanan yang sempit naik turun, melewati satu area pemakaman, dan tentu saja sawah yang menghijau.

Memasuki kawasan Goa Lalay, ternyata saat itu banyak rombongan yang sedang beristirahat. Saat melihat mereka menenteng alas kaki dan celana yang basah, saya membatin: "Oh, noooo. Jadi ini goa ada airnya? Ada arusnya?" Karena saat itu rombongan kami membawa anak-anak dengan umur terkecil adalah 4 tahun, tentu saja langsung waswas.
Jembatan gantung kesekian yang kami lewati

Untuk memasuki Goa Lalay, di tempat itu ada tempat persewaan helm (lengkap dengan senter) atau perlengkapan selusur goa lainnya. Tapi guide kami hari itu, Diki, langsung mengajak kami menuju mulut goa. Karena menurut dia kami tidak akan begitu dalam masuk, kami tidak memerlukan peralatan tersebut, cukup senter yang dibawa oleh Diki. Sampai di depan mulut goa saya melongo. "Kita masuk dari mana?" tanya saya. Diki, sambil tersenyum, menunjuk ke mulut goa yang sempit dan hampir separuhnya terendam air. 
Tempat Persewaan Peralatan Susur Goa

Kami satu per satu mulai masuk ke dalam air. Saat mulai memasuki mulut goa, anak-anak yang kecil menyerah. Akhirnya saya, Kira, dan saudara yang membawa anak kecil menunggu di warung yang ada di sekitaran Goa Lalay. Sementara anggota rombongan yang lain, termasuk Nikki, masuk ke dalam goa. Hampir setengah jam kami menunggu di warung hingga para anggota rombongan kembali lagi. Cerita seru dari mereka yang masuk ke dalam goa mengobati rasa penasaran.
Di dalam Goa Lalay
Pemandangan di dalam goa

Suasana di dalam Goa
Siang menjelang. Karena itu hari Jumat, akhirnya kami beristirahat sambil menunggui anggota rombongan yang laki-laki Jumatan. Selesai shalat Jumat kami kembali lagi ke penginapan. Sebagian besar memutuskan untuk beristirahat. Tapi kami sekeluarga memutuskan untuk keluar lagi. Mendung mulai menggelayut. Kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu karena kalau hujan turun kami pasti tidak bisa jalan-jalan lagi. Akhirnya kami memanggil Diki dan meminta dia membawa kami ke goa-goa lainnya yang ada di sekitar penginapan.

Goa Langir
Tujuan kami berikutnya adalah Goa Langir. Di sepanjang perjalanan menuju Goa Langir, di sebelah kanan jalan saya melihat berderet papan petunjuk berbagai macam goa. Waaaah, ternyata Diki mengajak kami ke "kompleks goa". Ini menyenangkan. Jadi kami tidak perlu jauh-jauh lagi jalan.
Pemandangan di sekitar Goa Langir
Perjalanan Menuju Goa Langir

Tapi, setelah kami memarkir mobil, ternyata Diki mengajak kami berjalan menyusuri pantai! What?! Ke pantai lagi? Ternyata, tujuan utama kami, Goa Langir, berada di tepi pantai. Bagi saya, Goa Langir hanya berupa celah sempit. Dan ternyata begitu pun saat kami masuk ke dalam. Sempit, basah dengan tetesan air dari atas dinding-dinding batu, dan tentu saja: gelap! Meski gelap, kami mencoba berfoto-foto ria di sini bermodalkan senter dan blitz.
Menuju Mulut Goa Langir
Ini bukan Sauron, tapi mulut Goa Langir :)
Di dalam Goa Langir, foto yang lumayan jelas

Setelah mencoba beberapa kali, oke... sepertinya kami ada masalah di dalam goa. Tiba-tiba semua blitz tidak mau nyala. Dicoba beberapa kali pun tetap enggak mau. Itu artinya, kami harus segera angkat kaki dari dalam goa. Hahaha. 
Di sekitar Goa Langir
Saat kembali ke hamparan pasir dan debur ombak, kami mengecek ponsel masing-masing. Dan, lampu blitz kembali berfungsi! Yeaaaah. Mari menyusuri hamparan pasir keluar dari kawasan Goa Langir yang sore itu terasa sangat sepi. Terlepas dari masalah tersebut, saya suka pemandangan sore itu. Laut dan langit yang keperakan akibat mendung. Suasana yang sendu dan sepi. Hanya ada beberapa orang di pantai tersebut selain kami. Berasa menikmati private beach. Dan, sejujurnya... dari semua goa yang kami kunjungi hari itu, lingkungan Goa Langir yang paling saya sukai.

Goa Seribu Candi
Seperti saya bilang sebelumnya, saat itu kami berada di kawasan "kompleks goa". Jadi untuk menuju tujuan berikutnya, Goa Seribu Candi, kami cukup berjalan kaki. Meski dekat, untuk menuju mulut goa butuh usaha ekstra. Perjalanan menanjak dan terjal harus kami lewati. Hujan malam sebelumnya membuat jalanan licin sehingga kami yang membawa anak-anak harus pelan-pelan menaiki tangga.
Naik, naik... menuju goa... tinggi-tinggi sekali
Menuju Goa Seribu Candi
Mulut Goa Seribu Candi
Saat membaca papan petunjuk di tepi jalan, saya membayangkan di dalam Goa Seribu Candi akan terdapat banyak candi yang kemudian membawa ingatan saya ke kompleks Candi Prambanan. Atau, setidaknya ada beberapa candi di dalam goa. Namun, ternyata bayangan saya salah total. Nama Goa Seribu Candi ternyata berasal dari banyaknya stalagmit yang ada di dalam goa. Bentuk stalagmit-stalagmit ini bagi warga lokal dianggap mirip dengan stupa candi sehingga goa tersebut dinamakan Goa Seribu Candi.

Secara administratif, goa ini terletak di Kampung Cihaseum, Sawarna. Goa ini merupakan goa horizontal dengan panjang sekitar 30 meter.

Pemandangan di dalam Goa Seribu Candi
Goa Seribu Candi
Di dalam goa basah dan tetesan air terdengar dari berbagai tempat. Penerangan yang kami bawa, lampu yang kami sewa dari warung sekitar dengan tarif Rp 5.000, tidak cukup menerangi semua bagian goa. Meski demikian, kami masih bisa melihat stalagmit yang bertebaran di sana-sini. Untuk berfoto di dalam goa kita harus hati-hati karena selain banyak stalagmit juga basah dan tentu saja gelap.

Saat kami keluar dari Goa Seribu Candi, tiba-tiba hujan turun dan hal itu berarti perjalanan kami sore tersebut harus segera berakhir. Suasana yang semakin gelap dan hujan yang semakin deras memaksa kami balik ke penginapan secepatnya. Padahal, masih ada beberapa goa yang ingin kami kunjungi hari itu. Dan padahal, goa-goa itu terletak persis di sekitaran Goa Seribu Candi, seperti: Goa Harta Karun. Anak-anak sebenarnya tertarik sekali dengan goa ini karena mereka berpikir bahwa goa itu akan penuh harta seperti dalam kisah Ali Baba atau Aladdin. Padahal, goa tersebut dinamakan demikian karena dinding-dindingnya yang berwarna keemasan.

Malam itu hujan mengguyur dengan deras. Kami tidak bisa ke mana-mana lagi. Sementara besok siang kami harus check out dari penginapan. Kami hanya bisa berharap pagi esok masih ada waktu bagi kami untung sekali lagi mengunjungi pantai agar anak-anak puas bermain.

Postingan Terkait:
Escape to Sawarna (Day 2): Pantai
Escape to Sawarna (Day 1)