Monday, September 28, 2015

Catatan Kecil dari Pulau Madura

Perjalanan ke Pulau Madura kemarin menyisakan banyak cerita. Banyak hal yang saya tahu tentang Madura selama ini ternyata terbatas hanya di permukaan. Misalnya, Madura yang identik dengan sate madura. Kenyataannya, di Madura malah saya hampir tidak menemukan penjual sate madura. Justru yang menjadi kebanggaan di sana adalah soto madura dan saat ini yang sedang populer adalah pentol (bakso) berbagai rasa.

Pentol cepat berkembang dan menjadi tren di "Pulau Garam" mungkin terkait dengan bahan utama pentol, yaitu daging sapi. Pulau Madura sendiri dkenal sebagai salah satu penghasil sapi terbaik di Indonesia.

Tujuan utama saya, Kabupaten Sumenep, terletak di ujung pulau. Ya, sekali-kalinya saya menginjakkan kaki ke pulau ini langsung ke bagian paling ujung. Kabupaten ini ternyata juga menyimpan banyak cerita sejarah dan legenda. Dari buku panduan yang saya beli di Kompleks Makam Asta Tinggi, legenda di kabupaten itu juga terkait dengan kerajaan-kerajaan besar pada zamannya, seperti Majapahit pada masa pemerintahan Brawijaya.

BATIK MADURA
Sebelum berangkat ke Madura, teman saya menyarankan untuk berburu batik khas Madura. Setidaknya Sumenep. Menurut mereka, batik khas Madura punya corak tersendiri, bahkan setiap kabupaten berbeda. Karena kami tidak sempat mengunjungi pasar tradisional atau sentra perajin batik, maka kami hanya bisa mengunjungi satu toko batik.
Kain Indonesia cantek-cantek
Pengen mboroooong....
Sayangnya, ketika kami sampai di toko tersebut, batik-batik yang ada justru kebanyakan berasal dari daerah Jawa. Bahkan untuk mencari batik dengan corak asli Sumenep kami tidak menemukannya. Akhirnya kami hanya berkutat dengan corak-corak batik Madura yang lain, seperti Bangkalan.

Dan sayangnya lagi, menurut yang punya toko, saat ini perkembangan batik di Sumenep justru berkiblat ke Jawa. Alhasil motifnya susah dibedakan dengan yang biasa kami lihat di Jawa.

PAWAI SEPEDA HIAS
Satu yang juga khas Sumenep adalah pawai sepeda hias. Biasanya pawai ini muncul pada akhir bulan Agustus dan masih dalam rangkaian peringatan hari kemerdekaan. Pawai ini biasanya dilombakan dalam bentuk regu. Hampir semua sekolah mengikuti pawai sepeda ini. Saya sebelumnya tidak begitu tahu bahwa pawai ini sangat ditunggu oleh warga Sumenep. Tapi sewaktu di toko batik, setiap kali ada sepeda yang lewat, mbak-mbak penjaga toko langsung berlari keluar sambil berteriak-teriak heboh. :)
Sepeda hias dengan tema: kuda terbang
Kuda Terbang, lambang Kabupaten Sumenep
Saya cukup beruntung karena sekolah yang kami datangi akhirnya tampil sebagai pemenang pertama sehingga punya stok foto. Hahaha. Namun, karena pawai ini jugalah saya dan teman-teman harus segera "keluar" dari Sumenep karena takut terjebak dalam keramaian pawai.

KUDA TERBANG
Lambang Kabupaten Sumenep adalah Kuda Terbang. Terasa aneh? Sewaktu pertama tahu pun saya merasa aneh karena bayangan saya langsung ke pegasus yang sering muncul dalam cerita mitologi Yunani atau film-film Hollywood. 

Kuda terbang adalah tunggangan Jokotole, penguasa Negeri Sumenep yang kemudian bergelar Pangeran Saccadiningrat II. Jokotole sendiri adalah menantu dari Raja Majapahit karena dia menikah dengan Dewi Ratnadi, salah seorang putri Brawijaya.
Simbol Keraton Sumenep (photo by: Wikipedia)
Lambang Sumenep (photo by: Pemkab)
Alkisah, sewaktu Jokotole menjadi penguasa Negeri Sumenep, dia ditantang oleh Dempo Abang, putra Raja Negeri Kelleng. Dempo Abang mempunyai sebuah perahu yang bisa terbang. Dia telah menaklukkan banyak kerajaan di Jawa dan China. Perang akhirnya tak terelakkan. Menghadapi perahu terbang Dempo Abang, Jokotole menunggangi Mega Remeng, seekor kuda yang bisa terbang. Pada akhirnya, Jokotole memenangi pertempuran itu. Itulah kenapa akhirnya sampai sekarang lambang Kabupaten Sumenep adalah kuda terbang.

ODONG-ODONG
Saya tidak tahu namanya jika di daerah Madura. Tapi teman saya pun yang tinggal di Madura menyebutnya odong-odong.
Odong-odong
Antara lucu dan serem gak sih?
Bayi Raksasa (?)
Di Sumenep, kendaraan ini suka hilir mudik di sekitar alun-alun dan keraton. Ukurannya yang besar praktis langsung menyita perhatian orang-orang dari luar kota seperti kami. Bentuknya pun lucu-lucu, malah kadang serem, menggambarkan berbagai karakter dalam film-film. Saya sempat berpikir kok anak-anak yang naik di atasnya tidak takut ya? :D Tapi sungguh, kendaraan hiburan ini lucu. Dan kalau malam hari, mereka berjejer dengan lampu-lampu hias di sekitar alun-alun. Meriah sekali!

KULINER
Di Madura, dari beberapa makanan yang sempat saya coba, yang paling menarik perhatian saya adalah: nasi jagung dan sayur daun kelor. Rasanya? enak! beneran. Saya tidak pernah menyangka bahwa daun kelor ternyata jika dimasak enak.

Selain itu, saya juga mencoba Rujak Selingkuh yang merupakan perpaduan rujak cingur dan soto madura, Nasi Bebek Sinjay, dan Ayam Berewok. Sementara untuk oleh-oleh saya membeli makanan berbahan dasar lorjuk, sejenis binatang laut yang masih termasuk bangsa kerang-kerangan atau juga disebut kerang bambu.

Kalau saya ditanya, apakah saya pengen balik ke pulau ini? Saya akan jawab: YA! Dan tujuan utama saya kemudian adalah Pulau Gili Iyang. Dan kemudian Api Tak Kunjung Padam di Pamekasan (kemarin lewat doang), juga ke sentra batik.


Tulisan Terkait:
- A Journey to Sumenep: The Heart of Purity
- Rujak Selingkuh dan Asta Tinggi
- Pantai Lombang
- Masjid Agung dan Keraton


Friday, September 25, 2015

Sumenep (3): Masjid Agung dan Keraton

Azan subuh belum lagi berkumandang dan alarm yang saya pasang pun belum berbunyi. Meski begitu saya sudah terjaga dan tidak bisa memejamkan mata lagi. Hari ini hari terakhir saya di Pulau Madura. Memanfaatkan waktu yang sedikit, saya berencana "nglayap" di seputaran kota Sumenep meski harus dilakukan seorang diri! Karena rencana itulah dan keterbatasan waktu, pukul 7 pagi saya sudah harus bekerja, sepagi itu saya menyeret diri ke kamar mandi.
Masjid Jamik Sumenep
Selama berada di Sumenep, saya mandi ala kadarnya. Pertama kali mandi di hotel tempat kami menginap, saat menyalakan shower saya terkejut karena air yang keluar bercampur dengan minyak. Gila, sebegitu kayanya Pulau Madura dengan potensi migasnya. Teman saya bilang, di sini untuk mendapatkan minyak tidak perlu mengebor dalam-dalam karena minyak dan gas di dalam perut bumi "Pulau Garam" melimpah. Ironisnya, kebanyakan orang-orang yang berada di rig adalah orang asing.

Setiap kali masuk kamar mandi, alhasil, saya selalu menenteng botol air mineral untuk sikat gigi dan cuci muka. Mandi sekadarnya. Dan pagi itu pun saya hanya sikat gigi, cuci muka, dan mengambil air wudu. Begitu azan subuh pertama selesai, saya langsung shalat subuh. Di luar masih gelap. Tapi pagi itu, saya bertekad berkeliling pusat kota. Sekarang atau tidak sama sekali. :)
Bagian dalam masjid
Pelataran masjid
Sampai di pelataran hotel saya bengong. Ternyata pintu gerbang terkunci. Pos satpam pun terkunci dan entah ke mana penghuninya. What?! Sudah dibela-belain bangun sebelum subuh tapi saya tetap harus menunggu pintu gerbang dibuka? Tidak mau sia-sia, akhirnya saya memutari lobi, dan berakhir mengetuk dapur hotel. Dibantu juru masak hotel, akhirnya saya menemukan petugas keamanan hotel tertidur di bangku lobi. Haishhhh.... Dengan susah payah juru masak hotel membangunkannya dan saya langsung minta dibukakan pintu gerbang.  

Udara segar menyambut saya pagi itu. Hanya satu-dua kendaraan yang lewat. Karena di sini tidak ada ojek, maka harapan saya hanya pada becak. Tak perlu menunggu lama, saya melihat abang becak di seberang jalan yang baru keluar dari mulut gang. Dan saya pun melambaikan tangan memanggilnya.
Taman Adipura Kota Sumenep
Salah satu "rumah"burung merpati
Pagi itu saya menyusuri jalanan kota Sumenep dengan becak yang atapnya dibuka. Bukan karena pengen kelihatan ala turis, tapi memang begitulah becak di sana. Di sepanjang perjalanan saya ngobrol dengan abang becak itu. Tentang kotanya, tentang keluarganya. Saya memintanya mengantar saya ke alun-alun kota dan masjid besar. Beberapa kali melintasi jalanan itu, saya tertarik untuk mengunjungi masjid tertua di kota itu: Masjid Jamik atau biasa juga disebut sebagai Masjid Agung Sumenep.

Masjid Jamik Sumenep
Memasuki kawasan Alun-alun Sumenep, saya meminta abang becak memutari kawasan itu. Minggu pagi yang mendung. Meski begitu, penjual makanan berjejer di sepanjang jalan dan pasar kaget sudah muncul. Keriaan Minggu pagi mulai kelihatan. Di Taman Adipura, burung-burung merpati yang memang sengaja dipelihara di taman itu berkeliling mencari makan.

Di latar belakang, berdiri kokoh Masjid Jamik, masjid tertua di Kota Sumenep. Masjid dengan campuran gaya China, Jawa, Islam, dan Eropa itu mencolok dengan warnanya yang keemasan. Beberapa bus peziarah mulai bergerak meninggalkan masjid. Marbot wira-wiri membereskan karpet dan perlengkapan lain yang dipakai untuk shalat subuh berjamaah.
Wasiat Pangeran Natakusuma
Tata Tertib di Dalam Masjid
Saya memasuki masjid dan menemukan pemandangan menakjubkan. Ingin masuk ke dalam, tapi apa daya saya dalam posisi terburu-buru. Saya melangkahkan kaki, mengitari masjid yang dibangun Pangeran Natakusuma I, Adipati Sumenep ke-31 yang memerintah pada tahun 1762-1811.

Nama resminya adalah Masjid Jamik Panembahan Somala alias Pangeran Natakusuma I, tetapi lebih dikenal sebagai Masjid Jamik atau Masjid Agung Sumenep. Masjid ini merupakan salah satu dari 10 masjid tertua di Nusantara yang mempunyai gaya arsitektur khas. 
Bagian dalam masjid

Setelah pembangunan kompleks Keraton Sumenep selesai, Pangeran Natakusuma memercayakan pembangunan Masjid Agung kepada Lauw Pia Ngo, seorang arsitek yang merupakan keturunan imigran dari China. Masjid ini, menurut saya, bernuansa emas. Warna emas ini sendiri terkait dengan budaya Madura. Warga Madura akan sangat bangga memakai perhiasan emas karena emas mencerminkan kebesaran, keagungan, dan martabat seseorang.

Secara keseluruhan, arsitektur Masjid Jamik menampilkan campuran arsitektur China, Jawa, Hindu, dan Eropa. Masjid Jamik dibangun karena masjid yang ada sebelumnya (masjid lama) sudah tidak mampu lagi menampung banyaknya jemaah. Saat itu agama Islam berkembang pesat di Sumenep. Hampir 80 persen penduduk Sumenep saat itu memeluk Islam meski kepercayaan lama juga belum ditinggalkan.
Atap Gapura yang terpengaruh arsitektur China
Papan Pengumuman
Saat saya masih mengagumi masjid ini, teman saya mengirim WA menanyakan posisi saya. Ketika saya jawab saya sedang "nglayap", dia mengajak saya menganjungi keraton, tapi dengan syarat: cepat dan langsung menuju tempat acara. Akhirnya dengan terburu-buru saya meminta abang becak mengantarkan saya kembali ke hotel. Mandi ala kadarnya, tanpa sarapan, dan dengan terburu-buru akhirnya kami bertiga menuju Keraton Sumenep.

Keraton Sumenep
Mungkin saya harus berterima kasih kepada bos karena meski kadang kala saya harus pergi jauh dari Pulau Jawa, daerah yang saya kunjungi mempunyai banyak tempat wisata. Sebelum datang ke Sumenep, saya tidak pernah menyangka bahwa di Pulau Madura ada sebuah keraton. Ya, ya... mungkin pengetahuan saya tentang sejarah memang kurang. Dan lagi, karena sibuk mempersiapkan materi presentasi, saya tidak sempat Googling untuk mengecek daerah tujuan saya kali ini.
Keraton Sumenep
Pintu Gerbang Utama, Labang Mesem
Area Keraton Sumenep pagi itu ramai. Sekelompok orang berolahraga, kelompok lain senam aerobik, sementara odong-odong wira-wiri membawa penumpang. Oh, ya. Odong-odong di sini lain dengan yang suka keliling di seputaran Jakarta dan sekitarnya. Odong-odong di Sumenep lebih gede dan bentuknya macam-macam. Mungkin lebih mirip mobil yang suka berkeliling kompleks membawa ibu-ibu dan anak-anak kecil. Tapi di sini penampilannya lebih "heboh".

Kami menuju pintu gerbang keraton, Labang Mesem. Di atas gerbang ini ada semacam loteng yang dulunya berfungsi untuk memantau segala aktivitas di sekitar keraton. Sayangnya, sepagi itu gerbang keraton masih dikunci. Kecewa? Pasti. Waktu kami cukup terbatas. Kalau kami tidak bisa masuk pagi itu, itu artinya kami tidak akan pernah masuk ke keraton karena kami harus bergegas. Akhirnya salah seorang teman menemui petugas jaga. Dan kami memohon-mohon untuk dibukakan pintu meski hanya sebentar. Bapak yang menjaga pintu akhirnya luluh juga mendengar permintaan kami. Akhirnya kami dibukakan pintu, itu pun dengan waktu yang terbatas, maksimal 15 menit. Kami menyanggupi karena lebih lama dari waktu itu pun kami sudah pasti telat datang ke tempat acara.
Pohon Beringin Raksasa
Pelataran Keraton dan Lonceng
Keraton Sumenep dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo I tahun 1762. Sebenarnya, Kerajaan Sumenep pada masanya juga merupakan kerajaan kecil, mungkin setingkat kabupaten, karena dulu pun Sumenep masih membayar (upeti) kepada kerajaan-kerajaan besar, seperti Singhasari, Majapahit, dan Mataram. Keraton ini sendiri dibangun dengan arsitek yang sama dengan Masjid Jamik, yaitu Lauw Pia Ngo. Pada dasarnya banyaknya akulturasi budaya di Sumenep juga terepresentasi pada lambang Kadipaten Sumenep, yaitu kuda terbang dan naga terbang. Naga Terbang, yang sampai sekarang menjadi lambang Kabupaten Sumenep, terkait dengan legenda Jokotole (saya ceritakan lain kali).
Tempat penyimpanan kereta
Melewati gerbang Labang Mesem dan masuk ke halaman keraton, saya "disambut" pohon beringin raksasa yang berusia sekitar 200 tahun. Di sebelahnya terdapat rumah kecil yang di dalamnya terdapat lonceng. Lonceng ini dulu dipergunakan untuk mengumpulkan para pengawal atau punggawa keraton.

Taman Sare
Saya dan teman saya terburu-buru menuju ke area sebelah kanan, sebuah pintu dengan tulisan TAMAN SARE di atasnya. Taman Sare (di Jogja ada Taman Sari), seperti layaknya di keraton lain, adalah tempat pemandian utama, tempat para putri keraton biasa mandi.
Taman Sare Keraton Sumenep
Tangga di Taman Sare Keraton Sumenep
Setelah melewati pintu, saya menyusuri tangga yang membawa saya ke bawah, ke tempat pemandian para putri keraton pada zamannya. Air di kolam ini bersumber dari air tanah dan dipercaya mempunyai beberapa khasiat yang berbeda. Pengunjung hanya diperbolehkan membasuh muka di tepian kolam. Saya melakukan itu? Tentu saja tidak....! :D Saat ini, kolam itu dihuni beberapa ikan yang pagi itu hilir mudik menampakkan badannya yang gemuk-gemuk.

Taman Sare mempunyai tiga pintu tangga dan dipercaya setiap tangga punya khasiat yang berbeda. Pintu pertama, diyakini bisa membuat awet muda serta mudah mendapatkan jodoh dan keturunan. Sementara pintu kedua diyakini bisa meningkatkan karier dan pangkat seseorang.
Pintu Taman Sare I
Pintu Taman Sare II
Pintu Taman Sare II
Pintu ketiga, diyakini bisa meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Teman saya, yang katanya mau "tobat", mencoba turun ke tangga pintu ketiga ini. Apakah sekarang dia berubah? Hahaha. Wong dia cuma turun dan foto-foto doang. Apa pun itu, menurut saya, semua bisa dilakukan dengan usaha dan kerja keras, ya kan? *lagi bener*
Pintu Ketiga
Pintu III Taman Sare
Di depan Pintu Ketiga Taman Sare, ada sebuah bangunan semacam saung. Saya tidak tahu apa fungsinya, mungkin untuk bercengkerama para putri setelah mandi?

Teman saya yang tinggal di Madura mengajak kami memasuki pendapa keraton. Sepagi itu, pendapa tersebut sepi, hanya berisi jejeran kursi. Pendapa ini biasanya digunakan untuk acara-acara penting, semacam menerima tamu penting, serah terima jabatan, atau acara kenegaraan.
Museum
Pendapa

Di Keraton sebenarnya ada museum, sayangnya pagi itu masih ditutup. Saya dan dua teman saya pun akhirnya keluar kompleks keraton. Meski sebentar, saya cukup puas bisa mengunjungi Keraton Sumenep. Mudah-mudah di lain waktu saya bisa mengunjunginya, tentunya dalam rangka wisata sesungguhnya, sehingga bisa berlama-lama di kawasan Jalan Dr Soetomo itu.

Tulisan terkait:
- A Journey to Sumenep, The Heart of Purity
- Rujak Selingkuh dan Asta Tinggi
- Pantai Lombang


Tuesday, September 15, 2015

Sumenep (2): Pantai Lombang

Pagi pertama di Sumenep. Hari ini sudah pasti dari pagi hingga sore kami bekerja (ya iya... dikira ini wisata gratis apa?!). Di luar itu kami, paling tidak saya, tetap berharap hari itu bisa mengunjungi setidaknya satu obyek wisata di Sumenep.

Sebelumnya, setiap kali perjalanan ke luar kota atas nama kantor, bagaimanapun kondisinya saya selalu menyempatkan diri untuk jalan-jalan. Rasanya rugi sekali sudah pergi jauh-jauh ke luar pulau tapi tidak mengunjungi satu pun tempat wisata.
Pantai Lombang
Secara singkat, karena saya tidak mau bercerita soal pekerjaan, tugas saya hari itu berlangsung lancar. Acara baru selesai sekitar pukul 3 sore. Dengan waktu yang sangat terbatas itu, mau tidak mau kami harus berpikir cepat ke mana obyek wisata yang bisa kami tuju. Dua teman saya yang baru sampai Sumenep menjelang subuh karena berangkat dari Jakarta pada malam sebelumnya mengusulkan kami untuk mengunjungi DESA WISATA LEGUNG dan PANTAI LOMBANG. Tujuan kami ternyata lumayan jauh, sekitar 25 kilometer dari pusat kota Sumenep. Tapi karena teman saya ingin sekali ke sana, akhirnya kami memutuskan menempuh perjalanan sekitar 45 menit.

DESA WISATA LEGUNG. Namanya terasa asing di telinga saya. Tapi begitu teman saya menceritakan keunikan desa itu, saya langsung teringat beberapa tulisan terkait desa ini. Desa Legung berada tidak begitu jauh dari Pantai Lombang, salah satu obyek wisata andalan di Sumenep. Berada tidak jauh dari pantai menjadikan desa ini mempunyai ciri khas yang tidak ditemukan di daerah lain, yaitu: para penduduk di desa ini tidur dengan kasur yang berupa pasir laut! Benar-benar pasir laut yang mereka bawa ke kamar tidur mereka, dikumpulkan, dan untuk tidur mereka sehari-hari. Meski mereka mempunyai "kasur normal", mereka tetap menjaga tradisi tidur di atas kasur pasir.

Tradisi tersebut telah berlangsung lama, selama ratusan tahun, dan berlangsung turun-temurun. Bahkan, kabarnya, beberapa anak dilahirkan di atas kasur pasir itu. Dan ke sanalah sore itu kami menuju, berkejaran dengan matahari yang sudah tidak sabar untuk kembali ke peraduan.

Jalanan sore itu sepi. Kami hanya beberapa kali bertemu dengan satu-dua kendaraan dan angkutan umum. Di mobil, kami berenam membunuh suntuk dan capek dengan berandai-andai soal pasir di kamar para penduduk Desa Legung, ditemani lantunan dari Isyana Sarasvati (teman saya "tergila-gila" pada Isyana). Saat memasuki gapura Desa Legung, ternyata gelap datang lebih cepat dari perkiraan kami. Akhirnya, di tengah perjalanan kami berputar, meninggalkan tujuan kami itu, dan berpacu dengan waktu untuk berburu sunset di Pantai Lombang.

PANTAI LOMBANG
Kalau mendengar kata "pantai", hati saya selalu berbunga-bunga. Saya selalu menyukai pantai karena setiap pantai selalu punya ciri khas sendiri, karakteristik sendiri. Pasirnya, pohon-pohonnya, air dan gelombangnya, lingkungan sekitar, hewan di sekitar pantai, dan seterusnya. Bagi saya, ketika datang ke suatu pantai, tempat itu akan bercerita sendiri tentang riwayatnya.
Pantai Lombang: pasir coklat dan cemara udang
Sunset sore itu...
Pantai Lombang di Sumenep salah satunya. Bagi saya, pasir pantai ini berwarna coklat! Bukan hitam layaknya pantai-pantai di sepanjang perairan Laut Selatan. Bukan pula putih bersih seperti beberapa pantai yang pernah saya kunjungi. Tapi coklat! Dan baru di pantai inilah saya secara harfiah memahami istilah "pasir berbisik". Sore itu, sambil menikmati matahari yang cepat sekali tenggelam, di tengah deru angin yang kencang, pasir-pasir di pantai itu bergemerisik. Beneran bersuara. Saya suka pantai ini!

Di sebelah barat, matahari mulai tenggelam di ufuk, menyisakan serpihan-serpihan warna merah dan orange. Sementara di sebelah kiri, bulan purnama mulai menyapa kami. Serombongan anak muda bersemangat bermain sepak bola di pantai, berlatar belakang bulan, mengingatkan saya pada film-film Hollywood. Tapi ini di Madura.
Deretan cemara udang

Jejak-jejak binatang laut bertebaran di sana-sini. Air laut yang membelah pasir pantai menyisakan daratan seperti pulau. Dua teman saya betah sekali berdiri di area itu, seolah-olah mereka dua manusia yang tinggal bersama di satu pulau terpencil. :p *lebay*


Lelaki dan Rembulan
Jejak yang Tertinggal
Kebanyakan pantai, di pinggirnya tumbuh pohon bakau. Tapi di Pantai Lombang, kita akan menemukan jenis pohon yang khas, yaitu: cemara udang (Casuarina equisetifolia). Kenapa disebut cemara udang? Tidak seperti pohon cemara lain yang tumbuh lurus ke atas, cemara udang cenderung tumbuh meliuk dan berbatang-batang, seperti udang. Tumbuhan ini cocok untuk dibikin bonsai. Sehingga tidak mengherankan saat kami menyusuri jalan menuju Pantai Lombang, di sepanjang perjalanan, di kanan-kiri jalan, kami melihat jejeran pohon cemara udang dalam bentuk sudah dibonsai. Cantik!

Cemara udang, menurut cerita, awalnya hanya tumbuh di pantai-pantai di Tiongkok. Sementara kenapa pohon cemara ini sampai di Sumenep, tepatnya di Pantai Lombang, ada beberapa versi cerita terkait hal itu. Salah satunya menyebutkan keberadaan cemara udang di pinggir pantai wilayah ini terkait dengan ekspedisi besar Tiongkok untuk mengarungi Nusantara di bawah kepemimpinan Laksamana Cheng Ho.

Bermain bola di pantai ditemani senja dan rembulan
Dikisahkan, salah satu kapal hancur dan tenggelam di sekitar perairan Jawa dan Madura. Dan bibit pohon cemara udang yang mereka bawa beberapa di antaranya akhirnya terdampar dan tumbuh di Pantai Lombang.

Hari makin gelap. Bulan semakin terang. Tiadanya penerangan di sekitar pantai memaksa kami segera angkat kaki dari area itu. Pasir masih berbisik, menyisakan jejak angin di sana-sini. Dengan susah payah kami mengambil foto karena angin yang makin kencang sungguh menyulitkan, menghasilkan gambar-gambar yang blur. Hutan cemara udang makin senyap. Anak-anak yang bermain bola bergegas meninggalkan pantai. Dan saya, dengan berat hati juga beranjak dari pantai itu sambil sepanjang jalan memunguti biji cemara yang berbentuk bulat.

AYAM BREWOK SAKERA 
Sepanjang perjalanan pulang menuju hotel, nyaris di dalam mobil hening. Kami berenam hampir semuanya capek dan lapar (tentu saja!). Karena kemungkinan besar kami tidak akan bisa mengangkat badan setelah bertemu kasur, akhirnya kami memutuskan untuk sekalian mencari makan malam.
Ayam Brewok
Setelah bingung memutuskan mau makan di mana, akhirnya pilihan kami adalah Ayam Brewok Sakera yang kebetulan terletak tidak begitu jauh dari hotel tempat kami menginap, Hotel Suramadu.

Namanya unik. Ayam Brewok. Tapi sebenarnya, kata brewok muncul karena ayamnya bertabur lengkuas parut. Ini mengingatkan saya ke bapak tukang ayam langganan yang sering menyertakan lengkuas parut banyak-banyak. Enak. Dan malam itu, dipadu dengan sambal mangga (eh, perasaan semua makanan goreng di Madura sambalnya selalu sambal mangga), kami menghabiskan makan malam kami dengan cepat.

Tulisan terkait:
A Journey to Sumenep, The Heart of Purity
- Masjid Agung dan Keraton Sumenep



Monday, September 14, 2015

Sumenep (1): Rujak Selingkuh dan Asta Tinggi

Sumenep, bagi beberapa orang, dianggap  sebagai Solo atau Jogja-nya Madura. Saat saya bercerita hendak pergi ke Sumenep, teman-teman di grup pun bilang demikian dan bahwa kota itu penduduknya "lebih halus" dibandingkan daerah lain di Madura. Pun pada corak batik, yang menurut seorang teman, lebih kalem daripada daerah di Madura lainnya.

Saat urusan awal untuk pekerjaan esok hari selesai, kami diajak menikmati kuliner khas Sumenep. Kalau ada yang menebak bahwa kami akan makan sate madura, tebakan itu salah besar. Sesungguhnya, meski saya berada di Madura, saya tidak melihat banyak penjual sate layaknya di Jakarta dan sekitarnya. :)

Sumenep termasuk kota yang asri, tidak banyak kendaraan bermotor berseliweran. Kalaupun ada angkutan umum, itu pun yang saya lihat hanya beberapa. Sementara sepanjang jalan di tengah kota, untuk mengaksesnya kita bisa menggunakan becak untuk berkeliling. Lupakan ojek, apalagi ojek berbasis aplikasi. Gak ada! Kalau ingin cepat, silakan panggil abang becak yang wira-wiri di jalanan. Tarif? cukup rasional.

RUJAK SELINGKUH
Sore itu kami diajak memasuki sebuah gang yang asri, tepatnya di Jalan Dr Wahidin Gang II daerah Pejagan. Gang ini mengingatkan saya ke gang-gang di perkampungan seputaran Alun-alun Yogyakarta. Rapi dan bersih. Tujuan kami ternyata tidak jauh dari mulut gang. Di dalam gang itu ada sebuah warung yang ternyata cukup terkenal di Sumenep karena pada lain hari ketika kami bertanya kepada warga soal kuliner, orang yang memberi petunjuk kepada kami pun mengarahkan kami ke warung ini.
Rujak Selingkuh khas Sumenep
Warung yang kami sambangi menyediakan rujak cingur, soto madura, juga aneka minuman. Satu yang menjadi perhatian saya adalah Rujak Selingkuh yang ternyata merupakan perpaduan antara rujak cingur dan soto madura. Rasanya? Enaaaak...! Rujak cingur yang berbumbu kacang diguyur kuah soto panas yang berkaldu sapi, ditambah beberapa potong singkong rebus. Pedas, segar, berkaldu. Lontong biasanya disertakan pula dalam potongan besar, juga kentang rebus, plus babat atau usus sapi. Porsinya yang besar mengenyangkan saya hingga malam hari. ;) Tapi beneran, enak.

Kalau di daerah lain biasanya di meja disediakan camilan semacam kerupuk atau rempeyek, di warung ini unik. Camilan yang tersedia adalah: kuping gajah! :) 

ASTA TINGGI
Malam menjelang. Akibat kelelahan, setelah mandi dan shalat magrib saya sempat tertidur. Sementara teman satu kamar saya, karena dia meng-handle banyak acara, terbenam dalam laptop dan pekerjaan. :)
Asta Tinggi pada Malam Hari
Tak lama, teman kami lainnya mengajak keluar mencari makan (padahal saya masih kekenyangan karena sorenya makan Rujak Selingkuh) dan jalan-jalan. Karena tertarik dengan kata "jalan-jalan", akhirnya kami semua ikut. 

Teman perjalanan kami menyebutkan Asta Tinggi. Awalnya, saya dan teman saya berpikiran bahwa itu adalah: semacam tempat makan! Dan kami, bodohnya, baru menyadari bahwa bayangan kami itu jauh dari realita ketika kami sudah didrop di pintu gerbang dan membaca tulisan di depan gedung: PASAREAN RAJA-RAJA SUMENEP. *dan kemudian krik-krik-krik. Tiba-tiba hening...* :p
Mau berwisata malam ke sini? ;)
Apa?! Jadi ini semacam wisata uji nyali? Malam-malam kita berwisata ke kuburan? Oke, baiklah. Kalau tidak kuat tinggal melambai ke arah kamera kan, ya? Hahaha. *tertawa dengan panik*

Akhirnya kami masuk ke area pasarean. Gelap. Penerangan terbatas. Kami mulai menyusuri jalanan setapak yang mengitari area utama. Bos saya melarang kami untuk masuk ke area sebelah kanan. Alasannya? Hm, dulu... salah satu teman kantor "hilang" beberapa jam di area tersebut. Dia merasa masuk hanya sekian menit, sementara teman lainnya yang berada di luar area sudah menunggu selama berjam-jam. Padahal itu siang bolong. Lah, kalau malam begini kami ada yang hilang, gimana nyarinya?

Saya dan teman-teman mengikuti rute yang tersedia. Pertama, mengisi buku tamu yang disediakan oleh juru kunci. Di sini kita juga bisa membeli buku tentang sejarah dan segala sesuatu terkait Asta Tinggi dan Sumenep. Cukup membayar Rp 10.000. Dan juga ada peta peziarahan yang bisa kita ikuti untuk memutari kawasan itu  (kalau siang kayaknya oke, tapi kalau malam, jujur saja... saya nyerah!).
Lukisan para petinggi keraton dan peta peziarahan
Menyan, yang malah mengingatkan saya ke edisi Harry Potter and the Sorcerer's Stone
Ditemani seorang "guide", kami menyusuri pemakaman, dari mulai makam yang masih tergolong "baru" hingga makam para pangeran. Kami mendengarkan guide kami bercerita. Untungnya, guide kami itu berbaik hati menyalakan lampu-lampu di sana-sini sepanjang jalur peziarahan. Kami berhenti di area kubah Pangeran Panji Pulang Jiwa. Di sini ada enam pusara keluarga kerajaan. Guide kami membujuk saya, "Foto aja, mbak. Gak papa." Yang kemudian saya jawab dengan senyuman. Sungguh, saya tidak ada nyali untuk berfoto-foto di depan makam pada malam hari! :(

Saya dan seorang teman cukup lama berada di area itu, mendengarkan guide kami bercerita. Dia menunjukkan salah satu kubah, yang disebutnya sebagai Kubah Bindara Saod. Bindara, dalam adat Madura, biasanya disematkan di depan anak laki-laki keturunan kiai. Sementara untuk perempuan, biasa dengan sebutan Nyai. Adapun nama Saod, mempunyai sejarah tersendiri. Alkisah, Kiai Abdullah, seorang penyiar agama Islam, setiap hari keluar-masuk kampung untuk berdakwah. Setiap saat, beliau selalu pulang tepat waktu dan sang istri yang saat itu tengah mengandung selalu setia menunggunya di depan pintu rumah.

Pada suatu hari, tidak seperti biasanya, Kiai Abdullah pulang terlambat. Istrinya tidak berada di depan rumah dan rumahnya pun terkunci. Berkali-kali Kiai Abdullah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tapi tidak ada jawaban. 

Tiba-tiba, terdengar suara anak kecil menjawabnya, "Waalaikum salam abah, umi sedang sholat." Kiai Abdullah pun terkejut. Saat pintu kemudian terbuka, dia bertanya kepada istrinya, siapa tadi yang menjawab salamnya. Dan istrinya kemudian menjawab, "Itu anak kita. Dia yang menyahut (membalas) salammu."  Karena peristiwa itulah maka ketika anak itu lahir, dia diberi nama Bindara Saod (Saod=menyahut=membalas ucapan salam).

Guide kami mengajak kami berkeliling lagi. Tapi saya menolaknya. Saya lebih memilih mencari area yang lebih terang, yang berarti itu adalah di sekitar gerbang. :p Guide kami tertawa dan mengatakan bahwa banyak orang berziarah pada malam hari, bahkan semakin malam biasanya semakin ramai.

Saya berpikir kalau saya datang ke tempat ini pada siang hari, saya akan senang sekali berkeliling ke area itu. Bangunan utama Asta Tinggi bercat putih dan bernuansa kolonial. Sementara pusara yang bertebaran di sana mempunyai bentuk yang unik. Ukurannya jauh lebih panjang daripada ukuran normal. Tapi dalam gelap pun, bentuknya menunjukkan bahwa yang dimakamkan di sana adalah para petinggi keraton.
Bagus, kan? Lebih bagus kalau ke sini siang hari!
Akhirnya kami keluar dari Asta Tinggi. Menunggu mobil jemputan, kami duduk-duduk di depan gerbang, sambil mengawasi beberapa peziarah yang baru datang dan turun dari truk. Well, setidaknya kalau ada yang bertanya apakah saya pernah berwisata yang cukup menantang dan menguji nyali, saya akan menjawab: pernah! 

Malam itu kami tutup dengan makan malam mi ayam penthol. Yeaaaah... saat ini penthol sedang ngehitz dan menjadi makanan yang cukup kekinian di Sumenep.

Tulisan terkait:
A Journey to Sumenep, The Heart of Purity
- Pantai Lombang
- Masjid Agung dan Keraton Sumenep