Wednesday, September 09, 2015

A Journey to Sumenep, The Heart of Purity

Beberapa waktu lalu saya mendapat tugas kantor untuk menyambangi Pulau Madura. Sekali-kalinya ke Pulau Madura, saya langsung menuju ke daerah paling ujung: KABUPATEN SUMENEP. Kali ini mumpung saya sedang ada mood untuk bercerita, makanya buru-buru saya menuliskan perjalanan kemarin, sebelum bernasib sama seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya yang entah kapan bakal saya tulis. :)
Masjid Agung Sumenep
Perjalanan saya dimulai sebelum subuh, tentu saja, karena pesawat saya pagi itu dijadwalkan pukul 06.10. Mungkin kelihatannya bakal: pagi bangettttt. Kalau dilihat dari perjalanan pesawat Jakarta-Surabaya, mungkin iya. Tapi ditambah perjalanan darat menuju ujung Pulau Madura, nyatanya, baru sore hari saya sampai di tujuan.

Begitu menginjakkan kaki di Bandara Juanda, saya disambut suasana bandara yang masih sepi. Menunggu jemputan, akhirnya saya dan dua teman saya duduk-duduk sambil ngobrol sana-sini. Untungnya, perjalanan kali ini bawaannya sedikit, beda dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya.
Berapa kali pun naik pesawat, saya akan selalu terpaku pada pemandangan dr jendelanya



Ketika jemputan kami datang, maka dimulailah perjalanan panjang kami. Sebelumnya saya tidak menyangka bahwa perjalanan akan sebegitu panjang. Perkiraan saya mungkin sekitar 3 jam sehingga tengah hari saya sudah sampai. Nyatanya... tujuan saya berada di bagian ujung Pulau Madura sehingga butuh lebih banyak waktu untuk mencapainya.

Perjalanan membelah Kota Surabaya pagi itu tidak begitu menemui kesulitan kecuali beberapa kali kami salah belok (yah... anggaplah jalan-jalan pagi). Saat memasuki kota itu, di otak saya sudah berjejer destinasi yang bakal saya tuju di hari terakhir nanti. Saya ingin berkeliling Surabaya, melihat hasil kerja Wali Kota Surabaya sekarang yang sangat dibanggakan warga kotanya, Rismaharini.

JEMBATAN SURAMADU
Baru kali ini saya melewati Jembatan Suramadu. Pemandangan pagi itu lumayan keren, tetapi sayangnya, saya tidak bisa berhenti untuk berfoto-foto. Pengin juga sih naik perahu yang ada di sekitaran jembatan tersebut sambil berfoto dengan latar Jembatan Suramadu. Tapi apa daya, perjalanan kali ini adalah dalam rangka bekerja, bukan jalan-jalan. Kalaupun nanti saya bisa jalan-jalan, itu adalah bonus! Hahaha. :p
Akhirnya dapat foto juga saat perjalanan pulang
Bos saya bilang bahwa waktu terbaik untuk berfoto di jembatan ini adalah saat sore atau malam hari. Dan dengan cepat saya menghitung waktu apakah kira-kira saya bisa berfoto di waktu yang tepat. Tapi yaaaah, semua toh tergantung sopir dari kantor kan yak?!

NASI BEBEK SINJAY
Setiap kali orang menyeberang ke Pulau Madura, kebanyakan dari mereka tujuan utamanya adalah: mencicipi Nasi Bebek Sinjay yang tersohor itu. Seorang teman kantor bahkan sebelumnya berpesan kalau saya HARUS mencicipi nasi bebek itu. Dan beberapa orang bahkan bilang belum ke Madura kalau belum mencicipi Nasi Bebek Sinjay!
Nasi Bebek Sinjay
Seorang teman lainnya mengatakan bahwa dia pengen banget ke sana, tetapi sayangnya saat sampai di tempat tersebut selalu penuh sesak, tidak ada ruang lagi. Mungkin pagi itu saya harus bersyukur karena saya sampai di tempat itu masih sepi karena baru buka. Meski baru buka, ternyata beberapa deret meja pun sudah dipesan. Gila! Pada puncak keramaian, biasanya tempat ini penuh. Padahal begitu masuk tempat itu pun saya sudah bengong melihat begitu banyaknya jejeran kursi dan begitu luasnya rumah makan tersebut.
Tidak hanya puluhan, tapi ratusan kursi!
Setiap hari, ratusan bebek dipasok ke rumah makan itu. Masuk akal. Beberapa orang yang saya temui sebelumnya bahkan mengatakan mereka sering kali tidak kebagian tempat di rumah makan ini. Pagi itu pun saat kami makan, orang datang silih berganti. Sepagi itu sudah ramai dan sibuk.

Nasi Bebek Sinjay terdiri dari nasi (yang porsinya banyak banget), sambal mangga, lalapan, dan tentu saja bebek yang ditaburi kremesan. Bebeknya empuk, gurih, enak banget! Sementara sambal mangganya lebih dominan ke asam daripada pedas. Percayalah, untuk beberapa orang porsi nasi yang besar itu gak bakal berasa banyak. :)

Perjalanan dilanjutkan kembali....

BANGKALAN-SAMPANG-PAMEKASAN
Beberapa kota besar yang harus saya lalui sebelum sampai di Sumenep adalah: Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Setiap kota punya ciri khas masing-masing. Setidaknya, menurut salah seorang teman yang pencinta batik, setiap daerah punya corak batik tersendiri.
Dan saya akan selalu jatuh cinta kepada laut dan pantai!
Tujuan saya adalah Sumenep, kota yang mempunyai julukan "The Heart of Purity". Keren yak! Saya suka kota-kota yang mulai memikirkan potensi pariwisata mereka sehingga punya julukan yang keren sebagai branding untuk menarik minat wisatawan, seperti Jogja Never Ending Asia, Solo The Spirit of Java, atau Banyuwangi The Sunrise of Java.
Salah satu tambak garam
Apa yang terkenal di Madura selain sebagai penghasil garam? Pondok pesantren. Sepanjang perjalanan saya siang itu, saya melewati sejumlah pondok pesantren besar. Menyenangkan melihat beberapa santri yang sedang berjalan memakai sarung. Pondok yang kelihatan asri (dan pengen suatu saat saya kunjungi).

Perjalanan yang panjang menyusuri Bangkalan. Tengah hari rombongan kami baru sampai di Sampang. Karena saat itu hari Jumat, maka kami berhenti di masjid karena beberapa teman harus melaksanakan shalat Jumat. Saya dan seorang teman akhirnya lesehan di seberang masjid di kantor Telkom. Sementara teman saya kerja, saya tertidur di bangku. Malam sebelumnya saya harus menyiapkan materi dan baru tidur beberapa jam untuk kemudian harus bangun pagi dan bergegas ke bandara.
Dua sampan di Sampang
Setelah shalat Jumat dan zuhur (saya), perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini kami menyusuri Sampang. Mau tidak mau, saat memasuki kota ini, saya teringat peristiwa-peristiwa terkait Sampang. Tapi begitu di kanan-kiri saya terhampar pantai, lautan, dan ladang garam, saya tidak bisa lagi melepaskan pandangan. Lovely! Saya selalu jatuh cinta kepada pantai, apa pun bentuknya.

Siang itu sangat panas. Bahkan suhu di dalam mobil pun yang memakai AC mencapai 32 derajat celsius. Tapi di luar, di rawa-rawa, saya melihat anak-anak asyik bermain di tengah lumpur. Beberapa burung camar (atau kuntul) berwarna putih bersih beterbangan di sekitaran rawa. Satu hal yang saya perhatikan: di Madura, warna yang dominan adalah hijau. Entah itu kantor, rumah penduduk, sekolah, atau bangunan apa pun, selalu mempunyai nuansa hijau. Saya pikir, jangan-jangan di toko bangunan akhirnya hanya ada cat warna hijau. Hahaha. Dan anehnya... orang Madura malah tidak mengenal warna hijau! Warna hijau mereka sebut sebagai "biru daun".
Talang Siring
Sepanjang perjalanan Sampang-Pamekasan-Sumenep, saya melihat pemandangan-pemandangan yang menakjubkan: hamparan tambak garam, ladang tembakau, pabrik garam, dan ibu-ibu yang menyunggi bawaan di kepala, khas orang-orang Madura.

Memasuki Pamekasan, di sisi jalan adalah Pantai Talang Siring. Yang khas di sini adalah pondok-pondok bambu yang dibangun oleh para nelayan untuk menyimpan hasil melaut mereka. Hasil tangkapan akan dikumpulkan, dijemur sebelum dikeringkan, dan disimpan untuk kemudian dijual.


Melewati hamparan ladang tembakau. Beberapa gudang milik perusahaan rokok besar negeri ini berdiri di kawasan itu yang pastinya sebagai penyimpanan tembakau. Gudang tersebut kadang tidak ada namanya, hanya pagar atau cat bangunan yang mencirikan bahwa gudang ini milik perusahaan rokok anu. 

Satu hal lagi yang terkenal dari Madura adalah: jambu air camplong. Di sepanjang Sampang-Pamekasan, di pinggir jalan biasanya banyak orang menjajakan jambu air jenis ini. Jambu air yang berwarna putih, berair banyak, dan manis. Rasanya segar banget dimakan saat cuaca panas (dan berakhir lupa foto karena keburu masuk ke mulut).

Akhirnya, saat sore menjelang, rombongan kami sampai di penginapan: Hotel Suramadu. Setelah mengurus check in, memasukkan barang-barang ke kamar, perjalanan berlanjut ke tempat kami mengadakan acara esok hari. Dan selama dua hari dan dua malam berikutnya saya akan menikmati suasana Kota Sumenep, kota yang mempunyai banyak julukan. Dan psssstttt... tentu saja saya akan bertualang meski itu harus dilakukan seorang diri!

Tulisan terkait:
Rujak Selingkuh dan Asta Tinggi
Pantai Lombang
- Masjid Agung dan Keraton Sumenep




1 comment:

Lidya said...

untungnya mbak retma cepet nlis ya , kan aku jadi pnya bacaaan jalan-ajalan :) mbak jambu cangklong itu yang ky gimana