Monday, September 28, 2015

Catatan Kecil dari Pulau Madura

Perjalanan ke Pulau Madura kemarin menyisakan banyak cerita. Banyak hal yang saya tahu tentang Madura selama ini ternyata terbatas hanya di permukaan. Misalnya, Madura yang identik dengan sate madura. Kenyataannya, di Madura malah saya hampir tidak menemukan penjual sate madura. Justru yang menjadi kebanggaan di sana adalah soto madura dan saat ini yang sedang populer adalah pentol (bakso) berbagai rasa.

Pentol cepat berkembang dan menjadi tren di "Pulau Garam" mungkin terkait dengan bahan utama pentol, yaitu daging sapi. Pulau Madura sendiri dkenal sebagai salah satu penghasil sapi terbaik di Indonesia.

Tujuan utama saya, Kabupaten Sumenep, terletak di ujung pulau. Ya, sekali-kalinya saya menginjakkan kaki ke pulau ini langsung ke bagian paling ujung. Kabupaten ini ternyata juga menyimpan banyak cerita sejarah dan legenda. Dari buku panduan yang saya beli di Kompleks Makam Asta Tinggi, legenda di kabupaten itu juga terkait dengan kerajaan-kerajaan besar pada zamannya, seperti Majapahit pada masa pemerintahan Brawijaya.

BATIK MADURA
Sebelum berangkat ke Madura, teman saya menyarankan untuk berburu batik khas Madura. Setidaknya Sumenep. Menurut mereka, batik khas Madura punya corak tersendiri, bahkan setiap kabupaten berbeda. Karena kami tidak sempat mengunjungi pasar tradisional atau sentra perajin batik, maka kami hanya bisa mengunjungi satu toko batik.
Kain Indonesia cantek-cantek
Pengen mboroooong....
Sayangnya, ketika kami sampai di toko tersebut, batik-batik yang ada justru kebanyakan berasal dari daerah Jawa. Bahkan untuk mencari batik dengan corak asli Sumenep kami tidak menemukannya. Akhirnya kami hanya berkutat dengan corak-corak batik Madura yang lain, seperti Bangkalan.

Dan sayangnya lagi, menurut yang punya toko, saat ini perkembangan batik di Sumenep justru berkiblat ke Jawa. Alhasil motifnya susah dibedakan dengan yang biasa kami lihat di Jawa.

PAWAI SEPEDA HIAS
Satu yang juga khas Sumenep adalah pawai sepeda hias. Biasanya pawai ini muncul pada akhir bulan Agustus dan masih dalam rangkaian peringatan hari kemerdekaan. Pawai ini biasanya dilombakan dalam bentuk regu. Hampir semua sekolah mengikuti pawai sepeda ini. Saya sebelumnya tidak begitu tahu bahwa pawai ini sangat ditunggu oleh warga Sumenep. Tapi sewaktu di toko batik, setiap kali ada sepeda yang lewat, mbak-mbak penjaga toko langsung berlari keluar sambil berteriak-teriak heboh. :)
Sepeda hias dengan tema: kuda terbang
Kuda Terbang, lambang Kabupaten Sumenep
Saya cukup beruntung karena sekolah yang kami datangi akhirnya tampil sebagai pemenang pertama sehingga punya stok foto. Hahaha. Namun, karena pawai ini jugalah saya dan teman-teman harus segera "keluar" dari Sumenep karena takut terjebak dalam keramaian pawai.

KUDA TERBANG
Lambang Kabupaten Sumenep adalah Kuda Terbang. Terasa aneh? Sewaktu pertama tahu pun saya merasa aneh karena bayangan saya langsung ke pegasus yang sering muncul dalam cerita mitologi Yunani atau film-film Hollywood. 

Kuda terbang adalah tunggangan Jokotole, penguasa Negeri Sumenep yang kemudian bergelar Pangeran Saccadiningrat II. Jokotole sendiri adalah menantu dari Raja Majapahit karena dia menikah dengan Dewi Ratnadi, salah seorang putri Brawijaya.
Simbol Keraton Sumenep (photo by: Wikipedia)
Lambang Sumenep (photo by: Pemkab)
Alkisah, sewaktu Jokotole menjadi penguasa Negeri Sumenep, dia ditantang oleh Dempo Abang, putra Raja Negeri Kelleng. Dempo Abang mempunyai sebuah perahu yang bisa terbang. Dia telah menaklukkan banyak kerajaan di Jawa dan China. Perang akhirnya tak terelakkan. Menghadapi perahu terbang Dempo Abang, Jokotole menunggangi Mega Remeng, seekor kuda yang bisa terbang. Pada akhirnya, Jokotole memenangi pertempuran itu. Itulah kenapa akhirnya sampai sekarang lambang Kabupaten Sumenep adalah kuda terbang.

ODONG-ODONG
Saya tidak tahu namanya jika di daerah Madura. Tapi teman saya pun yang tinggal di Madura menyebutnya odong-odong.
Odong-odong
Antara lucu dan serem gak sih?
Bayi Raksasa (?)
Di Sumenep, kendaraan ini suka hilir mudik di sekitar alun-alun dan keraton. Ukurannya yang besar praktis langsung menyita perhatian orang-orang dari luar kota seperti kami. Bentuknya pun lucu-lucu, malah kadang serem, menggambarkan berbagai karakter dalam film-film. Saya sempat berpikir kok anak-anak yang naik di atasnya tidak takut ya? :D Tapi sungguh, kendaraan hiburan ini lucu. Dan kalau malam hari, mereka berjejer dengan lampu-lampu hias di sekitar alun-alun. Meriah sekali!

KULINER
Di Madura, dari beberapa makanan yang sempat saya coba, yang paling menarik perhatian saya adalah: nasi jagung dan sayur daun kelor. Rasanya? enak! beneran. Saya tidak pernah menyangka bahwa daun kelor ternyata jika dimasak enak.

Selain itu, saya juga mencoba Rujak Selingkuh yang merupakan perpaduan rujak cingur dan soto madura, Nasi Bebek Sinjay, dan Ayam Berewok. Sementara untuk oleh-oleh saya membeli makanan berbahan dasar lorjuk, sejenis binatang laut yang masih termasuk bangsa kerang-kerangan atau juga disebut kerang bambu.

Kalau saya ditanya, apakah saya pengen balik ke pulau ini? Saya akan jawab: YA! Dan tujuan utama saya kemudian adalah Pulau Gili Iyang. Dan kemudian Api Tak Kunjung Padam di Pamekasan (kemarin lewat doang), juga ke sentra batik.


Tulisan Terkait:
- A Journey to Sumenep: The Heart of Purity
- Rujak Selingkuh dan Asta Tinggi
- Pantai Lombang
- Masjid Agung dan Keraton


2 comments:

Lidya Fitrian said...

mampir ke arung makan MAdura yang terkenal gak mbak disana?

vimax asli said...

salam sukses selalu dan trimakasih atas informasinya