Monday, September 14, 2015

Sumenep (1): Rujak Selingkuh dan Asta Tinggi

Sumenep, bagi beberapa orang, dianggap  sebagai Solo atau Jogja-nya Madura. Saat saya bercerita hendak pergi ke Sumenep, teman-teman di grup pun bilang demikian dan bahwa kota itu penduduknya "lebih halus" dibandingkan daerah lain di Madura. Pun pada corak batik, yang menurut seorang teman, lebih kalem daripada daerah di Madura lainnya.

Saat urusan awal untuk pekerjaan esok hari selesai, kami diajak menikmati kuliner khas Sumenep. Kalau ada yang menebak bahwa kami akan makan sate madura, tebakan itu salah besar. Sesungguhnya, meski saya berada di Madura, saya tidak melihat banyak penjual sate layaknya di Jakarta dan sekitarnya. :)

Sumenep termasuk kota yang asri, tidak banyak kendaraan bermotor berseliweran. Kalaupun ada angkutan umum, itu pun yang saya lihat hanya beberapa. Sementara sepanjang jalan di tengah kota, untuk mengaksesnya kita bisa menggunakan becak untuk berkeliling. Lupakan ojek, apalagi ojek berbasis aplikasi. Gak ada! Kalau ingin cepat, silakan panggil abang becak yang wira-wiri di jalanan. Tarif? cukup rasional.

RUJAK SELINGKUH
Sore itu kami diajak memasuki sebuah gang yang asri, tepatnya di Jalan Dr Wahidin Gang II daerah Pejagan. Gang ini mengingatkan saya ke gang-gang di perkampungan seputaran Alun-alun Yogyakarta. Rapi dan bersih. Tujuan kami ternyata tidak jauh dari mulut gang. Di dalam gang itu ada sebuah warung yang ternyata cukup terkenal di Sumenep karena pada lain hari ketika kami bertanya kepada warga soal kuliner, orang yang memberi petunjuk kepada kami pun mengarahkan kami ke warung ini.
Rujak Selingkuh khas Sumenep
Warung yang kami sambangi menyediakan rujak cingur, soto madura, juga aneka minuman. Satu yang menjadi perhatian saya adalah Rujak Selingkuh yang ternyata merupakan perpaduan antara rujak cingur dan soto madura. Rasanya? Enaaaak...! Rujak cingur yang berbumbu kacang diguyur kuah soto panas yang berkaldu sapi, ditambah beberapa potong singkong rebus. Pedas, segar, berkaldu. Lontong biasanya disertakan pula dalam potongan besar, juga kentang rebus, plus babat atau usus sapi. Porsinya yang besar mengenyangkan saya hingga malam hari. ;) Tapi beneran, enak.

Kalau di daerah lain biasanya di meja disediakan camilan semacam kerupuk atau rempeyek, di warung ini unik. Camilan yang tersedia adalah: kuping gajah! :) 

ASTA TINGGI
Malam menjelang. Akibat kelelahan, setelah mandi dan shalat magrib saya sempat tertidur. Sementara teman satu kamar saya, karena dia meng-handle banyak acara, terbenam dalam laptop dan pekerjaan. :)
Asta Tinggi pada Malam Hari
Tak lama, teman kami lainnya mengajak keluar mencari makan (padahal saya masih kekenyangan karena sorenya makan Rujak Selingkuh) dan jalan-jalan. Karena tertarik dengan kata "jalan-jalan", akhirnya kami semua ikut. 

Teman perjalanan kami menyebutkan Asta Tinggi. Awalnya, saya dan teman saya berpikiran bahwa itu adalah: semacam tempat makan! Dan kami, bodohnya, baru menyadari bahwa bayangan kami itu jauh dari realita ketika kami sudah didrop di pintu gerbang dan membaca tulisan di depan gedung: PASAREAN RAJA-RAJA SUMENEP. *dan kemudian krik-krik-krik. Tiba-tiba hening...* :p
Mau berwisata malam ke sini? ;)
Apa?! Jadi ini semacam wisata uji nyali? Malam-malam kita berwisata ke kuburan? Oke, baiklah. Kalau tidak kuat tinggal melambai ke arah kamera kan, ya? Hahaha. *tertawa dengan panik*

Akhirnya kami masuk ke area pasarean. Gelap. Penerangan terbatas. Kami mulai menyusuri jalanan setapak yang mengitari area utama. Bos saya melarang kami untuk masuk ke area sebelah kanan. Alasannya? Hm, dulu... salah satu teman kantor "hilang" beberapa jam di area tersebut. Dia merasa masuk hanya sekian menit, sementara teman lainnya yang berada di luar area sudah menunggu selama berjam-jam. Padahal itu siang bolong. Lah, kalau malam begini kami ada yang hilang, gimana nyarinya?

Saya dan teman-teman mengikuti rute yang tersedia. Pertama, mengisi buku tamu yang disediakan oleh juru kunci. Di sini kita juga bisa membeli buku tentang sejarah dan segala sesuatu terkait Asta Tinggi dan Sumenep. Cukup membayar Rp 10.000. Dan juga ada peta peziarahan yang bisa kita ikuti untuk memutari kawasan itu  (kalau siang kayaknya oke, tapi kalau malam, jujur saja... saya nyerah!).
Lukisan para petinggi keraton dan peta peziarahan
Menyan, yang malah mengingatkan saya ke edisi Harry Potter and the Sorcerer's Stone
Ditemani seorang "guide", kami menyusuri pemakaman, dari mulai makam yang masih tergolong "baru" hingga makam para pangeran. Kami mendengarkan guide kami bercerita. Untungnya, guide kami itu berbaik hati menyalakan lampu-lampu di sana-sini sepanjang jalur peziarahan. Kami berhenti di area kubah Pangeran Panji Pulang Jiwa. Di sini ada enam pusara keluarga kerajaan. Guide kami membujuk saya, "Foto aja, mbak. Gak papa." Yang kemudian saya jawab dengan senyuman. Sungguh, saya tidak ada nyali untuk berfoto-foto di depan makam pada malam hari! :(

Saya dan seorang teman cukup lama berada di area itu, mendengarkan guide kami bercerita. Dia menunjukkan salah satu kubah, yang disebutnya sebagai Kubah Bindara Saod. Bindara, dalam adat Madura, biasanya disematkan di depan anak laki-laki keturunan kiai. Sementara untuk perempuan, biasa dengan sebutan Nyai. Adapun nama Saod, mempunyai sejarah tersendiri. Alkisah, Kiai Abdullah, seorang penyiar agama Islam, setiap hari keluar-masuk kampung untuk berdakwah. Setiap saat, beliau selalu pulang tepat waktu dan sang istri yang saat itu tengah mengandung selalu setia menunggunya di depan pintu rumah.

Pada suatu hari, tidak seperti biasanya, Kiai Abdullah pulang terlambat. Istrinya tidak berada di depan rumah dan rumahnya pun terkunci. Berkali-kali Kiai Abdullah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tapi tidak ada jawaban. 

Tiba-tiba, terdengar suara anak kecil menjawabnya, "Waalaikum salam abah, umi sedang sholat." Kiai Abdullah pun terkejut. Saat pintu kemudian terbuka, dia bertanya kepada istrinya, siapa tadi yang menjawab salamnya. Dan istrinya kemudian menjawab, "Itu anak kita. Dia yang menyahut (membalas) salammu."  Karena peristiwa itulah maka ketika anak itu lahir, dia diberi nama Bindara Saod (Saod=menyahut=membalas ucapan salam).

Guide kami mengajak kami berkeliling lagi. Tapi saya menolaknya. Saya lebih memilih mencari area yang lebih terang, yang berarti itu adalah di sekitar gerbang. :p Guide kami tertawa dan mengatakan bahwa banyak orang berziarah pada malam hari, bahkan semakin malam biasanya semakin ramai.

Saya berpikir kalau saya datang ke tempat ini pada siang hari, saya akan senang sekali berkeliling ke area itu. Bangunan utama Asta Tinggi bercat putih dan bernuansa kolonial. Sementara pusara yang bertebaran di sana mempunyai bentuk yang unik. Ukurannya jauh lebih panjang daripada ukuran normal. Tapi dalam gelap pun, bentuknya menunjukkan bahwa yang dimakamkan di sana adalah para petinggi keraton.
Bagus, kan? Lebih bagus kalau ke sini siang hari!
Akhirnya kami keluar dari Asta Tinggi. Menunggu mobil jemputan, kami duduk-duduk di depan gerbang, sambil mengawasi beberapa peziarah yang baru datang dan turun dari truk. Well, setidaknya kalau ada yang bertanya apakah saya pernah berwisata yang cukup menantang dan menguji nyali, saya akan menjawab: pernah! 

Malam itu kami tutup dengan makan malam mi ayam penthol. Yeaaaah... saat ini penthol sedang ngehitz dan menjadi makanan yang cukup kekinian di Sumenep.

Tulisan terkait:
A Journey to Sumenep, The Heart of Purity
- Pantai Lombang
- Masjid Agung dan Keraton Sumenep


No comments: