Friday, September 25, 2015

Sumenep (3): Masjid Agung dan Keraton

Azan subuh belum lagi berkumandang dan alarm yang saya pasang pun belum berbunyi. Meski begitu saya sudah terjaga dan tidak bisa memejamkan mata lagi. Hari ini hari terakhir saya di Pulau Madura. Memanfaatkan waktu yang sedikit, saya berencana "nglayap" di seputaran kota Sumenep meski harus dilakukan seorang diri! Karena rencana itulah dan keterbatasan waktu, pukul 7 pagi saya sudah harus bekerja, sepagi itu saya menyeret diri ke kamar mandi.
Masjid Jamik Sumenep
Selama berada di Sumenep, saya mandi ala kadarnya. Pertama kali mandi di hotel tempat kami menginap, saat menyalakan shower saya terkejut karena air yang keluar bercampur dengan minyak. Gila, sebegitu kayanya Pulau Madura dengan potensi migasnya. Teman saya bilang, di sini untuk mendapatkan minyak tidak perlu mengebor dalam-dalam karena minyak dan gas di dalam perut bumi "Pulau Garam" melimpah. Ironisnya, kebanyakan orang-orang yang berada di rig adalah orang asing.

Setiap kali masuk kamar mandi, alhasil, saya selalu menenteng botol air mineral untuk sikat gigi dan cuci muka. Mandi sekadarnya. Dan pagi itu pun saya hanya sikat gigi, cuci muka, dan mengambil air wudu. Begitu azan subuh pertama selesai, saya langsung shalat subuh. Di luar masih gelap. Tapi pagi itu, saya bertekad berkeliling pusat kota. Sekarang atau tidak sama sekali. :)
Bagian dalam masjid
Pelataran masjid
Sampai di pelataran hotel saya bengong. Ternyata pintu gerbang terkunci. Pos satpam pun terkunci dan entah ke mana penghuninya. What?! Sudah dibela-belain bangun sebelum subuh tapi saya tetap harus menunggu pintu gerbang dibuka? Tidak mau sia-sia, akhirnya saya memutari lobi, dan berakhir mengetuk dapur hotel. Dibantu juru masak hotel, akhirnya saya menemukan petugas keamanan hotel tertidur di bangku lobi. Haishhhh.... Dengan susah payah juru masak hotel membangunkannya dan saya langsung minta dibukakan pintu gerbang.  

Udara segar menyambut saya pagi itu. Hanya satu-dua kendaraan yang lewat. Karena di sini tidak ada ojek, maka harapan saya hanya pada becak. Tak perlu menunggu lama, saya melihat abang becak di seberang jalan yang baru keluar dari mulut gang. Dan saya pun melambaikan tangan memanggilnya.
Taman Adipura Kota Sumenep
Salah satu "rumah"burung merpati
Pagi itu saya menyusuri jalanan kota Sumenep dengan becak yang atapnya dibuka. Bukan karena pengen kelihatan ala turis, tapi memang begitulah becak di sana. Di sepanjang perjalanan saya ngobrol dengan abang becak itu. Tentang kotanya, tentang keluarganya. Saya memintanya mengantar saya ke alun-alun kota dan masjid besar. Beberapa kali melintasi jalanan itu, saya tertarik untuk mengunjungi masjid tertua di kota itu: Masjid Jamik atau biasa juga disebut sebagai Masjid Agung Sumenep.

Masjid Jamik Sumenep
Memasuki kawasan Alun-alun Sumenep, saya meminta abang becak memutari kawasan itu. Minggu pagi yang mendung. Meski begitu, penjual makanan berjejer di sepanjang jalan dan pasar kaget sudah muncul. Keriaan Minggu pagi mulai kelihatan. Di Taman Adipura, burung-burung merpati yang memang sengaja dipelihara di taman itu berkeliling mencari makan.

Di latar belakang, berdiri kokoh Masjid Jamik, masjid tertua di Kota Sumenep. Masjid dengan campuran gaya China, Jawa, Islam, dan Eropa itu mencolok dengan warnanya yang keemasan. Beberapa bus peziarah mulai bergerak meninggalkan masjid. Marbot wira-wiri membereskan karpet dan perlengkapan lain yang dipakai untuk shalat subuh berjamaah.
Wasiat Pangeran Natakusuma
Tata Tertib di Dalam Masjid
Saya memasuki masjid dan menemukan pemandangan menakjubkan. Ingin masuk ke dalam, tapi apa daya saya dalam posisi terburu-buru. Saya melangkahkan kaki, mengitari masjid yang dibangun Pangeran Natakusuma I, Adipati Sumenep ke-31 yang memerintah pada tahun 1762-1811.

Nama resminya adalah Masjid Jamik Panembahan Somala alias Pangeran Natakusuma I, tetapi lebih dikenal sebagai Masjid Jamik atau Masjid Agung Sumenep. Masjid ini merupakan salah satu dari 10 masjid tertua di Nusantara yang mempunyai gaya arsitektur khas. 
Bagian dalam masjid

Setelah pembangunan kompleks Keraton Sumenep selesai, Pangeran Natakusuma memercayakan pembangunan Masjid Agung kepada Lauw Pia Ngo, seorang arsitek yang merupakan keturunan imigran dari China. Masjid ini, menurut saya, bernuansa emas. Warna emas ini sendiri terkait dengan budaya Madura. Warga Madura akan sangat bangga memakai perhiasan emas karena emas mencerminkan kebesaran, keagungan, dan martabat seseorang.

Secara keseluruhan, arsitektur Masjid Jamik menampilkan campuran arsitektur China, Jawa, Hindu, dan Eropa. Masjid Jamik dibangun karena masjid yang ada sebelumnya (masjid lama) sudah tidak mampu lagi menampung banyaknya jemaah. Saat itu agama Islam berkembang pesat di Sumenep. Hampir 80 persen penduduk Sumenep saat itu memeluk Islam meski kepercayaan lama juga belum ditinggalkan.
Atap Gapura yang terpengaruh arsitektur China
Papan Pengumuman
Saat saya masih mengagumi masjid ini, teman saya mengirim WA menanyakan posisi saya. Ketika saya jawab saya sedang "nglayap", dia mengajak saya menganjungi keraton, tapi dengan syarat: cepat dan langsung menuju tempat acara. Akhirnya dengan terburu-buru saya meminta abang becak mengantarkan saya kembali ke hotel. Mandi ala kadarnya, tanpa sarapan, dan dengan terburu-buru akhirnya kami bertiga menuju Keraton Sumenep.

Keraton Sumenep
Mungkin saya harus berterima kasih kepada bos karena meski kadang kala saya harus pergi jauh dari Pulau Jawa, daerah yang saya kunjungi mempunyai banyak tempat wisata. Sebelum datang ke Sumenep, saya tidak pernah menyangka bahwa di Pulau Madura ada sebuah keraton. Ya, ya... mungkin pengetahuan saya tentang sejarah memang kurang. Dan lagi, karena sibuk mempersiapkan materi presentasi, saya tidak sempat Googling untuk mengecek daerah tujuan saya kali ini.
Keraton Sumenep
Pintu Gerbang Utama, Labang Mesem
Area Keraton Sumenep pagi itu ramai. Sekelompok orang berolahraga, kelompok lain senam aerobik, sementara odong-odong wira-wiri membawa penumpang. Oh, ya. Odong-odong di sini lain dengan yang suka keliling di seputaran Jakarta dan sekitarnya. Odong-odong di Sumenep lebih gede dan bentuknya macam-macam. Mungkin lebih mirip mobil yang suka berkeliling kompleks membawa ibu-ibu dan anak-anak kecil. Tapi di sini penampilannya lebih "heboh".

Kami menuju pintu gerbang keraton, Labang Mesem. Di atas gerbang ini ada semacam loteng yang dulunya berfungsi untuk memantau segala aktivitas di sekitar keraton. Sayangnya, sepagi itu gerbang keraton masih dikunci. Kecewa? Pasti. Waktu kami cukup terbatas. Kalau kami tidak bisa masuk pagi itu, itu artinya kami tidak akan pernah masuk ke keraton karena kami harus bergegas. Akhirnya salah seorang teman menemui petugas jaga. Dan kami memohon-mohon untuk dibukakan pintu meski hanya sebentar. Bapak yang menjaga pintu akhirnya luluh juga mendengar permintaan kami. Akhirnya kami dibukakan pintu, itu pun dengan waktu yang terbatas, maksimal 15 menit. Kami menyanggupi karena lebih lama dari waktu itu pun kami sudah pasti telat datang ke tempat acara.
Pohon Beringin Raksasa
Pelataran Keraton dan Lonceng
Keraton Sumenep dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo I tahun 1762. Sebenarnya, Kerajaan Sumenep pada masanya juga merupakan kerajaan kecil, mungkin setingkat kabupaten, karena dulu pun Sumenep masih membayar (upeti) kepada kerajaan-kerajaan besar, seperti Singhasari, Majapahit, dan Mataram. Keraton ini sendiri dibangun dengan arsitek yang sama dengan Masjid Jamik, yaitu Lauw Pia Ngo. Pada dasarnya banyaknya akulturasi budaya di Sumenep juga terepresentasi pada lambang Kadipaten Sumenep, yaitu kuda terbang dan naga terbang. Naga Terbang, yang sampai sekarang menjadi lambang Kabupaten Sumenep, terkait dengan legenda Jokotole (saya ceritakan lain kali).
Tempat penyimpanan kereta
Melewati gerbang Labang Mesem dan masuk ke halaman keraton, saya "disambut" pohon beringin raksasa yang berusia sekitar 200 tahun. Di sebelahnya terdapat rumah kecil yang di dalamnya terdapat lonceng. Lonceng ini dulu dipergunakan untuk mengumpulkan para pengawal atau punggawa keraton.

Taman Sare
Saya dan teman saya terburu-buru menuju ke area sebelah kanan, sebuah pintu dengan tulisan TAMAN SARE di atasnya. Taman Sare (di Jogja ada Taman Sari), seperti layaknya di keraton lain, adalah tempat pemandian utama, tempat para putri keraton biasa mandi.
Taman Sare Keraton Sumenep
Tangga di Taman Sare Keraton Sumenep
Setelah melewati pintu, saya menyusuri tangga yang membawa saya ke bawah, ke tempat pemandian para putri keraton pada zamannya. Air di kolam ini bersumber dari air tanah dan dipercaya mempunyai beberapa khasiat yang berbeda. Pengunjung hanya diperbolehkan membasuh muka di tepian kolam. Saya melakukan itu? Tentu saja tidak....! :D Saat ini, kolam itu dihuni beberapa ikan yang pagi itu hilir mudik menampakkan badannya yang gemuk-gemuk.

Taman Sare mempunyai tiga pintu tangga dan dipercaya setiap tangga punya khasiat yang berbeda. Pintu pertama, diyakini bisa membuat awet muda serta mudah mendapatkan jodoh dan keturunan. Sementara pintu kedua diyakini bisa meningkatkan karier dan pangkat seseorang.
Pintu Taman Sare I
Pintu Taman Sare II
Pintu Taman Sare II
Pintu ketiga, diyakini bisa meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Teman saya, yang katanya mau "tobat", mencoba turun ke tangga pintu ketiga ini. Apakah sekarang dia berubah? Hahaha. Wong dia cuma turun dan foto-foto doang. Apa pun itu, menurut saya, semua bisa dilakukan dengan usaha dan kerja keras, ya kan? *lagi bener*
Pintu Ketiga
Pintu III Taman Sare
Di depan Pintu Ketiga Taman Sare, ada sebuah bangunan semacam saung. Saya tidak tahu apa fungsinya, mungkin untuk bercengkerama para putri setelah mandi?

Teman saya yang tinggal di Madura mengajak kami memasuki pendapa keraton. Sepagi itu, pendapa tersebut sepi, hanya berisi jejeran kursi. Pendapa ini biasanya digunakan untuk acara-acara penting, semacam menerima tamu penting, serah terima jabatan, atau acara kenegaraan.
Museum
Pendapa

Di Keraton sebenarnya ada museum, sayangnya pagi itu masih ditutup. Saya dan dua teman saya pun akhirnya keluar kompleks keraton. Meski sebentar, saya cukup puas bisa mengunjungi Keraton Sumenep. Mudah-mudah di lain waktu saya bisa mengunjunginya, tentunya dalam rangka wisata sesungguhnya, sehingga bisa berlama-lama di kawasan Jalan Dr Soetomo itu.

Tulisan terkait:
- A Journey to Sumenep, The Heart of Purity
- Rujak Selingkuh dan Asta Tinggi
- Pantai Lombang


1 comment:

Lidya Fitrian said...

mudah-mudahan bisa kesana bawa anak-anak mbak jadi bisa jalan-jalan ke museumnya