Tuesday, October 27, 2015

House of Sampoerna: Antara Benci dan Cinta

Surabaya, Jawa Timur, suatu siang yang terik.
Ketika malam sebelumnya teman saya memasukkan HOUSE OF SAMPOERNA ke dalam daftar tempat yang wajib kami kunjungi, saya sempat ragu. Saya orang yang sangat sensitif terhadap asap rokok. Bukan cuma merasa terganggu. Tapi, setiap kali terpapar asap rokok, biasanya saya akan menderita sakit kepala. Pernah dalam satu kesempatan, ketika saya harus menghadiri satu acara yang kebanyakan pesertanya merokok, setelahnya saya menderita sakit kepala selama 3 hari!
Museum House of Sampoerna
Tapi, dengan pertimbangan bahwa ini museum, saya akhirnya menyetujui. Saya berharap bahan-bahan utama rokok efeknya tidak sedahsyat ketika rokok dibakar. Dan lagi... tujuan kali ini mengingatkan saya ke "Pulau Rempah", Maluku. Mengingatkan saya saat hiking di perkebunan cengkeh di lereng Gunung Gamalama untuk melihat pohon afo (cengkeh) tertua di dunia yang berumur sekitar 400 tahun. Saya berharap "aroma" museum ini sama seperti ketika saya hiking di antara rimbunnya pohon cengkeh dan pala ketika itu. Aroma cengkeh yang samar-samar terasa segar di udara.
Pintu masuk museum
Penghargaan dari TripAdvisor
Dengan menumpang taksi, akhirnya kami sampai di kawasan Kota Surabaya lama. Ketika keluar dari taksi, saya cuma bisa bilang: Wow! Ini benar-benar museum tentang rokok. Bahkan pilar museum pun berbentuk batang rokok. Dan kemudian saya teringat sejarah panjang rokok kretek di Indonesia. Juga novel sejarah Roro Mendut karya Romo Mangun. Ah... rokok dan sejarah panjang umat manusia.

Saat kecil, saya sering melihat kakek saya "meramu" sendiri rokoknya. Dari tembakau, cengkeh, dan entah apalagi. Pada masa itu, setidaknya saya masih melihat rokok kretek dengan bungkus dari kulit jagung atau biasa disebut klobot. Beberapa industri rumahan bahkan sempat muncul di sekitaran kampung saya, tetapi kemudian gulung tikar.

Roll-Royce Silver Shadow koleksi keluarga Sampoerna
Museum yang terasa "menenangkan"

Memasuki halaman museum, saya langsung tertarik dengan mobil Roll-Royce yang berada di samping gedung utama. Roll-Royce Silver Shadow ini ternyata digunakan generasi kedua Aga Sampoerna di Singapura pada 1972-1994. Mobil ini termasuk satu dari hanya 2.700-an Silver Shadow chassis panjang yang pernah dibuat pabrik Roll-Royce pada 1965-1977. Eh, katanya mobil ini masih bisa digunakan loh. Tapi pelat mobilnya masih memakai pelat mobil Singapura.

Masuk ke gedung utama, saya langsung terkesan dengan museum ini. Rapi, terang, modern, dan bersih. Jauh dari kesan museum yang gelap dan sumpek. Penataan yang keren, kolam ikan di tengah ruangan yang membuat suasana tambah nyaman, dan barang-barang yang kinclong. Sungguh, kalau saja saya tidak "bermusuhan" dengan rokok, tempat ini enak banget. Tidak heran museum ini menjadi pemenang TripAdvisor Travellers' Choice 2013.
Museum yang bersih, luas, dan kinclong!
Replika warung pertama pendiri Sampoerna
Koleksi Kebaya
Alasan lain saya penasaran dengan museum ini adalah keterangan yang ada di website resmi Museum House of Sampoerna: Sampoerna's founder Liem Seeng Tee, AN ORPHAN WHO BOUGHT THE EX ORPHANAGE. Ya, ya... gedung yang sekarang menjadi museum, awalnya adalah sebuah panti asuhan putra yang dikelola Pemerintah Belanda. Bangunan ini sendiri dibangun pada 1862. Kemudian, baru pada 1932, bangunan ini dibeli Liem Seeng Tee dan dipakai untuk pusat usahanya, termasuk memproduksi rokok Sampoerna. Salah satu "cerita indah", kan? Bagaimana seorang anak yatim piatu akhirnya membeli gedung eks panti asuhan.

Area House of Sampoerna sebenarnya terdiri dari 3 bagian: sayap barat adalah hunian resmi pribadi (karena itu mobil-mobil mewah dipajang di bagian ini), sayap kiri difungsikan sebagai galeri dan kafe, serta gedung utama yang dipakai sebagai museum dan pabrik. 
Ruangannya enak yak
Mesin cetak kuno
Perlengkapan Marching Band Sampoerna
Museum House of Sampoerna sendiri terdiri atas dua lantai. Lantai pertama difungsikan untuk museum yang "menceritakan" bagaimana pendiri Sampoerna membangun bisnisnya. Ada juga replika warung pendiri PT Sampoerna, Liem Seeng Tee, dan istrinya, Siem Tjiang Nio. Juga dipamerkan berbagai tembakau terbaik dari negeri ini, seperti dari Ploso dan Gunung Sumbing. Aroma tembakau dan cengkeh, tentu saja, menguar di seluruh ruangan ini. Di sini kita juga bisa menemui berbagai koleksi kemasan yang pernah dipakai untuk rokok produksi Sampoerna. Juga koleksi pemantik api. Dan tentunya mesin cetak kuno yang dulu digunakan untuk mencetak kemasan rokok.

Hal yang menarik lainnya adalah: kostum dan perlengkapan marching band (maksud saya, kok bisa di antara jejeran barang yang terkait dengan rokok terselip perlengkapan marching band?).  Well, ternyata hal ini terkait dengan salah satu acara yang betah saya tonton di TV zaman dulu kala, yaitu siaran langsung Parade dan Festival Bunga Mawar Pasadena. Nah, Sampoerna Marching Band ini ternyata  mewakili Indonesia pada 1990 dan 1991 dalam Festival Bunga Pasadena di California. Anggota marching band ini adalah 234 pekerja perempuan perusahaan itu, termasuk para pelinting rokok. Tahun 1990, dengan tema "Unity in Diversity", kontingen Indonesia memenangi acara itu dan mendapat The International Trophy (the 1st Prize for non-American Participants).
Perlengkapan "laboratorium"zaman dulu
Koleksi kemasan rokok produk Sampoerna
Dji Sam Soe!
Sekitar 15 menit berlalu. Saya harus menghirup udara segar! Akhirnya saya keluar dari museum dengan kondisi seperti ikan yang butuh air. Perjalanan saya menjelajah Surabaya hari itu masih cukup panjang sehingga saya tidak mau tersiksa sakit kepala. Akhirnya saya duduk-duduk di depan museum, sementara teman saya masih menjelajah di dalam.

Sekitar 10 menit kemudian teman saya keluar dan mengajak saya ke lantai 2. Saya mengikuti dia dengan catatan "jangan lama-lama". Akhirnya saya naik ke lantai 2 gedung itu. Wah! Andai saya tidak mengikuti teman saya, bagian asyik museum itu pasti terlewat. Ternyata tempat itu juga difungsikan sebagai pabrik. Jadi, dari dinding kaca kita bisa melihat aktivitas para pekerja yang sebagian besar adalah perempuan melinting rokok. Sayangnya, ada larangan mengambil foto di area ini.
Tembakau asal Ploso, Jawa Timur
Tembakau Asal Gunung Sumbing
Selain itu, di area ini juga ada toko suvenir. Macam-macam yang dijual. Dari mulai batik tulis (motifnya cantik gila! Sayang harganya juga bikin sakit kepala), topi, kaos, mug, sampai magnet kulkas. Desainnya lumayan bagus-bagus.

Setelah membeli suvenir, kami akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kunjungan hari itu ke Museum House of Sampoerna. Bagi saya pribadi, kunjungan ke tempat ini adalah perpaduan rasa benci dan cinta. Saya membenci rokok karena tubuh saya rentan terhadap rokok. Sementara apa yang ditawarkan museum ini hampir tidak bisa saya tolak. Kenangan, sejarah, dan cerita soal cita-cita "an orphan who bought the ex orphanage" menyeret saya ke tempat ini.

Surabaya Heritage Track
Di halaman museum, kami menemukan bus wisata terparkir di halaman. Pihak Sampoerna ternyata menyediakan bus khusus bagi wisatawan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Surabaya. Oh, keren banget! Sayangnya, lagi-lagi waktunya tidak cocok dengan jadwal kami. Untuk jadwal keberangkatan bus dan tujuan bisa dilihat di sini: Surabaya Heritage Track. Gratis!
Bus wisata yang disediakan Sampoerna

Tentang Museum House of Sampoerna:
- Buka dari Senin-Minggu pukul 09.00-22.00
- Masuk museum dan ikut Surabaya Heritage Track dengan bus wisata: GRATIS!
- Alamat: Taman Sampoerna No 6, Krembangan, Pabean Cantikan, Surabaya
- Website: House of Sampoerna
- Tips: untuk orang-orang yang susah toleran terhadap rokok seperti saya ada baiknya bawa: MASKER.

TULISAN TERKAIT WISATA SURABAYA:
- Masjid Cheng Hoo dan Taman Bungkul


Monday, October 19, 2015

Hiking Sore di Gunung Pancar: Memuja Alam

Setiap kali hiking, kami selalu melakukannya pada pagi hari.  Alasannya banyak: udara yang masih segar, anggota rombongan masih bersemangat, waktu yang masih panjang, dan seterusnya. Tapi kali ini, kami melakukan hiking pada sore hari! Dari hiking kali ini kami bisa belajar sesuatu: karena kita berkejaran dengan matahari, maka perhitungan waktu, jarak tempuh, dan anggota rombongan (apalagi membawa anak-anak) harus diperhitungkan dengan benar.
Rombongan remaja yang hiking sore itu
Hiking dimulai dari sini!
Kali ini tujuan kami adalah: TAMAN WISATA ALAM GUNUNG PANCAR. TWA Gunung Pancar terletak di Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat. Dari Jakarta, sebenarnya lokasi ini tidak begitu jauh. Kita cukup masuk Tol Jagorawi, keluar di Gerbang Tol Sentul Selatan (Sentul City), dan menyusuri jalan menuju Jungle Land, Sentul. Tepat di depan pintu masuk Jungle Land, belok ke kanan. Di jalanan ini kita lurus terus mengikuti papan petunjuk yang ada di beberapa tempat. Sampai pertigaan, ada papan petunjuk yang mengarahkan kita ke kanan, menuju Sumber Air Panas Gunung Pancar. Sementara kalau kita memilih ke kiri, kita akan sampai ke GOA AGUNG GARUNGGANG.

Gunung Pancar menjadi pilihan kami karena taman wisata ini selain memiliki hutan pinus, juga sumber air panas. Rencana kami adalah menyusuri jalanan setapak di tengah hutan pinus dan berakhir di sumber air panas.
Gerbang masuk dan kantor TWA Gunung Pancar
Daftar tiket masuk
Awalnya, kami berencana memulai hiking pukul 2 siang. Tapi, karena beberapa saudara terlambat datang, akhirnya hiking baru dimulai pukul 3. Sebenarnya kami tidak begitu yakin dengan kalkulasi waktu karena kami harus berkejaran dengan sinar matahari. Mungkin kami bisa sampai di tujuan, tapi untuk balik ke parkiran pasti hari sudah gelap.

Perjalanan kami dimulai dari parkiran yang terletak tepat di samping gerbang TWA Gunung Pancar. Seorang saudara akhirnya menunggu di mobil, siap menjemput kalau ternyata kami kemalaman di jalan. Hari itu kami hiking bertujuh, 3 anggota di antaranya adalah anak-anak.
Di tengah hutan pinus
Menyeberangi sungai yang mengering
Karena wiken, untuk masuk area TWA GUNUNG PANCAR kami dikenai tiket Rp 7.500 per orang. Sementara untuk hari biasa tiket masuk cukup Rp 5.000 per orang. Jalanan di TWA Gunung Pancar lumayan enak karena jalan utama sampai atas (sumber air panas) sudah diaspal. Tapi karena tujuan kami adalah hiking, kami tidak menggunakan jalur itu. Kami mengikuti arahan petugas untuk menyusuri jalan setapak yang dimulai dari sebelah kanan gerbang pintu masuk TWA Gunung Pancar.

Dan, dimulailah petualangan hari itu! Kami mulai menyusuri jalanan setapak yang di beberapa tempat penuh batuan. Kami melewati "lahan" pohon pandan. Penuh kehati-hatian kami menyusuri jalanan yang menurun, melewati sungai kecil yang hari itu kering akibat kemarau panjang. Mungkin kalau tidak kemarau panjang seperti sekarang, akan lebih mengasyikkan saat menyeberangi sungai itu.
Pohon-pohon yang berderak ketika angin bertiup
Deretan pohon pinus
Jalanan setapak naik turun melewati rimbunnya pohon pinus. Ketika angin berembus, pohon-pohon itu berderak, beberapa bersentuhan karena rapatnya jarak pohon. Saat angin bertiup, suara mirip helikopter menghampiri. Makin lama makin dekat. Anak-anak, setiap kali angin bertiup dan muncul suara akibat gesekan pepohonan, akan menengadah dan bertanya, "Apa itu?". Karena hiking kali ini, mereka jadi tahu arti harfiah dari kata "berderak". Tiap kali ada angin serta suara-suara dari dahan dan batang pohon mulai terdengar, mereka selalu berhenti. Menengadah, mengamati pergerakan pohon-pohon. 

Kami terus berjalan menyusuri jalan setapak di tengah rapatnya pohon pinus. Sempat salah arah, menemui jalan buntu, akhirnya kami berbalik melewati area camping ground. Di TWA Gunung Pancar ada beberapa area camping ground. Pengen banget bisa camping di sini. Tapi, menurut petugas yang kami temui, karena saat ini kemarau panjang, fasilitas terkait toilet agak terbatas karena pasokan air minim. Lah, kalau begitu harus berpikir seribu kali untuk camping. Mungkin perlu menunggu waktu yang tepat, musim yang tepat.
Lovely
Di antara batuan dan hutan pinus
Kami bertemu serombongan anak remaja yang juga hiking. Hiking, bagi kami, selain sebagai olahraga, juga mengajarkan anak-anak untuk mencintai alam. Menghargai segala ciptaan-Nya yang telah memberikan banyak kehidupan. Memuja alam Indonesia yang begitu kaya. Dan kali ini, dengan hiking di sore hari, kami bisa menikmati berkas-berkas cahaya matahari yang tersisa di antara pohon pinus, tanah yang meski kemarau di beberapa bagian tetap lembab, dan aroma pinus asli, bukan pengharum ruangan beraroma pinus.

Hiking di Gunung Pancar lumayan enak. Kita tidak perlu repot atau khawatir kehabisan bekal. Warung-warung bertebaran di sana-sini menyediakan minuman dan makanan.
Setelah menemui jalan buntu akhirnya kami kembali ke jalur yang benar
Salah satu camping ground yang kami lewati
Matahari mulai meninggalkan tempatnya. Sisa-sisa sinarnya yang menuntun kami ke area sumber air panas. Awalnya, tujuan kami adalah pemandian air panas untuk umum. Namun, akhirnya kami memutuskan berbelok, menuju Giri Tirta Hot Spring Resort. 

Baru setengah perjalanan, kami berpapasan dengan mobil terakhir yang biasanya disediakan pihak Giri Tirta untuk antar-jemput karyawan dan pengunjung. Tapi karena kami sudah di tengah perjalanan, terlalu nanggung untuk berbalik arah. Akhirnya kami nekat tetap menuju Giri Tirta.

GIRI TIRTA HOT SPRING RESORT
Sebenarnya, ini bukan tujuan awal kami. Tapi, tertarik dengan fasilitas yang disediakan, akhirnya kami memilih ke tempat ini. Selain itu, jalur menuju Giri Tirta juga lebih menantang, dengan jalan yang naik turun dan di beberapa tempat tidak mulus.
Di antara dua pilihan
Akhirnya pilih ke sini

Giri Tirta adalah salah satu resort yang "tersembunyi" di tengah hutan pinus. Menurut saya, kalau habis hiking ramai-ramai dan ternyata kemalaman, enggak ada salahnya menginap di sini. Dengan catatan: harus beramai-ramai. Tempat ini sepertinya juga cocok buat "menyepi", menyingkir dari hiruk pikuk Ibu Kota. Jaraknya juga tidak begitu jauh dari Jakarta. Sebagai alternatif, daripada ke Puncak atau ke Bandung yang biasanya macet parah saat musim liburan, juga pas.

Sore itu, hanya seorang penjaga yang menemui kami. Semua aktivitas dan pelayanan di Giri Tirta sudah berhenti. Ini karena saat kami ke sana bukan musim liburan sehingga tidak ada tamu satu pun. Dan, kami sendiri tidak berniat untuk menginap di sini, kecuali terpaksa, karena besok kami harus ke kantor dan anak-anak masuk sekolah.
Giri Tirta Hot Spring Resort and Spa
Jalan Menuju Giri Tirta

Karena semua karyawan sudah pulang, jadilah kami "menguasai" tempat itu. Tidak ada apa-apa, hanya kolam-kolam air panas yang bisa ditawarkan penjaga tempat itu. Sebenarnya kami mulai lapar, tapi petugas restoran pun sudah pulang. Akhirnya, setelah lama berembuk mau memutuskan bagaimana, kami menyewa salah satu kolam untuk anak-anak berendam sambil berkoordinasi dengan saudara yang lain untuk menjemput kami.

Resor tersebut sebenarnya asyik dan cantik. Sayangnya, kami datang ke tempat ini ketika hari sudah mulai gelap dan lampu-lampu sudah mulai dinyalakan.
Kami yang suka hiking!
Ada yang bermain peran jadi petugas resepsionis :)
Sepi
Kami menyewa salah satu kolam yang ada di resor tersebut. Kolamnya cantik. Dan yang pasti, kami bisa berendam di air panas. Anak-anak enggak sabar, langsung nyebur. Sementara kami yang dewasa berpikir ratusan kali untuk ikut menceburkan diri karena baju ganti tertinggal di mobil. Akhirnya sore itu kami hanya menunggui anak-anak sambil berkoordinasi dengan saudara untuk menjemput kami di tempat itu.

Hari itu, matahari cepat sekali menghilang. Gelap menyelimuti dengan cepat. Kolam yang kami sewa, ternyata ada bagian yang lampunya mati (doh!). Akhirnya begitu ada saudara yang menjemput, kami bergegas meninggalkan tempat itu. 
Finally, kolam air panas

Gelap. Karena malam dan kami harus menyusuri hutan pinus (iya, hutan), sudah bisa dipastikan tidak ada lampu sama sekali. Kami hanya mengandalkan penerangan dari lampu mobil sehingga kami harus sangat berhati-hati saat menyusuri jalanan menuju gerbang TWA Gunung Pancar. Dan, akhirnya... kami bisa bernapas lega setelah melihat deretan lampu dari gerbang dan kantor pengelola TWA Gunung Pancar.

Hiking sore hari itu mengasyikkan! Tapi, sekali lagi, perhitungan waktu benar-benar harus tepat, apalagi kalau kita memilih hiking di tengah hutan atau gunung. Hari itu, setidaknya kami jalan kaki sejauh 3 kilometer (menurut strava).


TULISAN TERKAIT:
- Hiking
- Camping


Thursday, October 08, 2015

Camping Asyik di Ranca Upas

Musim UTS telah tiba! Dan setelah itu, tentu saja, ada jeda waktu untuk "bernapas". Anak-anak lega satu tahap telah terlewati, emak-bapaknya apalagi. Emak-emak macam saya, yang harus antar-jemput sekolah setiap hari (dan mendadak jadi pembuat soal latihan kala UTS), setidaknya punya waktu ekstra buat tidur. Hurray!

Biasanya, setelah UTS atau semesteran atau apalah namanya, untuk refreshing, keluarga kami punya dua pilihan: hiking atau camping. Kami jarang sekali ke mal, jadi lupakan itu. Kami ke mal biasanya hanya untuk sekadar nonton film atau pertunjukan musik. Lain itu hampir tidak pernah. Hiking terakhir kami adalah ke GOA AGUNG GARUNGGANG di seputaran Sentul. Sementara camping terakhir adalah ke RANCA UPAS di Bandung, Jawa Barat.

RANCA UPAS
Bumi Perkemahan RANCA UPAS atau Kampung  Cai terletak di Jalan Raya Ciwidey Patenggang, Kabupaten Bandung. Dari nama daerahnya kelihatan bahwa bumi perkemahan ini posisinya tidak jauh dari tempat wisata Kawah Putih di Ciwidey yang terkenal itu dan Situ Patenggang yang cantik.
Bumi Perkemahan Ranca Upas
My Life, My Adventure
Dibandingkan dengan tempat-tempat camping yang pernah kami coba, Ranca Upas lebih cocok buat anak-anak. Selain danau, di tempat itu juga ada playground untuk anak-anak, fasilitas outbond, waterboom, juga tempat penangkaran rusa. Yang lebih asyik lagi adalah: waterboom di sini airnya hangat karena ada sumber air panas alami di Kampung Cai. Di luar itu, letak bumi perkemahan RANCA UPAS tidak begitu jauh dari Kawah Putih dan Situ Patenggang. Jadi kalau ada waktu lebih, tidak ada salahnya mampir ke dua tersebut.

Menghindari macet yang sesorean karena waktu itu long wiken, kami berangkat ke Bandung pada dini hari. Alhasil, memasuki Kabupaten Bandung masih sepi. Ini kabupaten, bukan kota. Jadi pagi itu kami menyusuri jalanan yang masih lengang, khas kota-kota kecil, yang mengingatkan saya ke kampung halaman. Jalanan yang tidak begitu lebar, pulau-pulau jalan yang penuh bebungaan di sepanjang tengah kota, dan lalu lintas dengan beragam kendaraan.

Kampung Cai Ranca Upas
Bunga lonceng yang bertebaran di sana-sini
Jajaran warung makan
Saat tiba di bumi perkemahan, suasana masih sepi. Hanya ada beberapa tenda yang berdiri. Beberapa orang sedang menghangatkan badan di dekat kompor atau memasak untuk sarapan. Pemandangan yang menenangkan. Tenda-tenda, tanah yang basah habis diguyur hujan semalam, kepulan asap di beberapa tempat, hawa yang segar dan dingin, serta jejeran pohon menghijau. Petugas kebersihan hilir mudik menyapu dan membereskan beberapa spot.

Karena masih sepi, kami bisa memilih area untuk mendirikan tenda dengan leluasa. Saat itu kami memilih mendirikan tenda di dekat kolam renang. Pertimbangannya banyak: kami bisa mengawasi anak-anak sambil tetap leyeh-leyeh di tenda, mau berendam di air panas juga dekat (lupakan berenang karena kolamnya lebih cocok untuk berendam), dan terutama tidak jauh dari toilet. Karena waktu itu rombongan keluarga yang lain belum sampai akibat terjebak macet, sambil menunggu tenda yang kami pesan datang, kami berjalan-jalan di lingkungan bumi perkemahan tersebut.
Tenda-tenda yang sudah terpasang
Ini blok yang kami pilih untuk mendirikan tenda
Kolam air hangat untuk anak-anak
Meski udara dingin menggigit tapi tetap bisa berenang
Kami mengelilingi lapangan yang ada di tempat itu dan mengecek fasilitas (terutama toilet) di seputaran area camping yang kami pilih. Toiletnya lumayan bersih dan banyak. Warung-warung berjejer di sepanjang tepi lapangan. Wah! Sepertinya untuk masalah makanan kami cukup terjamin. *emak-emak pemalas*

Karena kami juga membawa tenda, selain tenda yang kami pesan, maka kami mulai membuka dan mendirikan tenda bersama anak-anak. Kami "berdiskusi" menentukan mana tempat yang paling cocok. Acara ini biasanya lumayan seru. Yang satu pengen di sini, yang satu pengen di sana. Belum lagi kalau kami mulai mengeluarkan pasak-pasak dan menarik tali-tali. Biasanya kami berempat berbagi tugas.
Begini cara mendirikan tenda ya...
Yak... tendanya mulai berdiri!
Tenda-tenda yang sudah berdiri
Bagian ini biasanya menjadi bagian paling menyenangkan bagi suami saya. Dia bisa mengajari anak-anak cara mendirikan tenda, berbagi tugas mengangkut barang-barang, menempatkan barang-barang, dan menatanya di dalam tenda ketika tenda sudah berdiri. Karena itu, di rumah kami punya beberapa tenda, sleeping bag, tas carrier (tentu saja), dan perlengkapan camping lain yang tidak jauh berbeda dengan perlengkapan naik gunung. :p

Begitu tenda sudah berdiri, anak-anak langsung nyebur ke kolam renang. Di sini tidak usah khawatir bakal kedinginan. Meski udara dingin menggigit, apalagi di pagi hari, anak-anak masih leluasa berenang. Asap tipis di permukaan kolam renang yang menandakan bahwa air di kolam tersebut hangat selalu membuat pengen berendam! Saat saya selesai menata barang-barang, ternyata petugas bumi perkemahan tersebut datang dengan tenda-tenda yang kami pesan. Ya, karena kali ini acara camping bersama keluarga, kami masih butuh beberapa tenda lagi di luar tenda yang kami miliki.

Kolam renang air hangat
Rumah pohon
Jelang tengah hari, keluarga yang lain akhirnya sampai di Bumi Perkemahan RANCA UPAS. Karena waktunya sudah mepet, akhirnya kami memutuskan kegiatan hari itu difokuskan hanya di sekitaran bumi perkemahan. Yang artinya membiarkan anak-anak main sepuasnya di kolam renang air hangat dan melihat penangkaran rusa. Tadinya kami berencana mengunjungi KAWAH PUTIH CIWIDEY atau ke SITU PATENGGANG. Tapi kemacetan dari sehari sebelumnya akibat long wiken membuyarkan rencana semula.

KOLAM AIR HANGAT
Anak-anak, tentu saja, tak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka hilir mudik dari satu kolam ke kolam lain. Puas bermain di kolam khusus anak-anak, mereka pindah ke kolam yang lebih besar. Tidak usah khawatir, di kolam yang lebih besar pun anak-anak masih bisa bermain meski tetap harus ada pengawasan dari orangtua. Karena itu kami memilih mendirikan tenda di sekitaran kolam renang. Sambil mengawasi anak-anak berenang, yang tentu saja kadang rasanya berabad-abad lamanya, kami bisa leyeh-leyeh di tenda atau sekadar ngobrol dan bersantai di depan tenda.
Yeah!
Berendam di air hangat sambil ngobrol


Setelah sesi pertama berenang (entah mereka berenang berapa sesi karena rasanya enggak kelar-kelar), anak-anak berbilas di toilet. Yang menyenangkan di sini adalah airnya hangat (beneran hangat, bukan air panas)! Air hangat itu menyenangkan. Biasanya, kalau kami camping di seputaran gunung, pagi hari kami memilih tidak mandi karena seringnya tidak tahan dengan dinginnya air pegunungan. Jadi kalau masih mau mencoba-coba camping dengan membawa anak-anak, sekadar perkenalan, kayaknya di RANCA UPAS lebih cocok. :p
Penampakan secara keseluruhan (klik untuk memperbesar)
Siang itu karena malas masak, akhirnya saya memilih memesan makanan di warung seputaran kolam (camping macam apa ini?! Hahaha). Iya, layaknya wahana permainan di mana pun, di sekelilingnya pasti berdiri warung dengan aneka makanan. Sosis bakar, hamburger, nasi, gorengan, kopi, dan seterusnya. Tapi, tetap saja warung-warung di seputaran kolam bakal tutup sesuai jam operasional kolam renang.

Makin siang, suasana pun makin ramai. Banyak rombongan yang baru datang. Keluarga, anak-anak sekolah, atau rombongan lain. Tenda-tenda mulai berdiri. Seusai makan siang, kami memutuskan pergi ke penangkaran rusa yang "cuma di situ doang". 

PENANGKARAN RUSA
Satu hal lagi yang asyik kalau camping di RANCA UPAS adalah: tempat penangkaran rusa. Saat anak-anak melihat tempat ini, mereka ribut pengen masuk dan memberi makan para rusa.
Penangkaran Rusa
Jangan lupa beli makanan dulu ya...
Untuk masuk area ini: gratis! Tapi lebih baik sebelum masuk, bawa satu atau dua kantong (kalau bawa anak-anak, satu kantong dipastikan kurang!) wortel yang dijual di depan pintu masuk. Harganya Rp 5.000 untuk satu kantong.

Setelah itu kita bisa masuk ke dalam dan turun lewat tangga kayu. Karena kita benar-benar akan berhadapan dengan rusa, pastikan anak-anak selalu dalam pengawasan. Oh, ya. Sayangnya, beberapa bagian tangga dan jalan menuju tempat penangkaran ini, yang terbuat dari kayu, lapuk/rusak di beberapa bagian. Jadi kalau mau ke sini, selalu pastikan anak-anak dalam pengawasan. Dan semoga kayu-kayu itu saat ini sudah diganti oleh pengelolanya.
Memberi makan rusa
Mereka suka wortel!
Anak-anak senang banget di area sini. Mereka bisa memberi makan rusa-rusa yang langsung datang ketika kita menyodorkan wortel. Bosan di satu spot, mereka pindah ke sisi yang lain. Dan rusa-rusa kembali datang. Tapi, yang enggak begitu senang emaknya. Kok, perasaan wortel-wortel cepat habis yak?! :p

Sebenarnya hampir setiap hari, ketika antar-jemput sekolah, di kompleks perumahan yang saya lewati di tamannya ada banyak rusa. Tapi saya tidak tahu apakah rusa-rusa ini boleh dikasih makan atau tidak karena tidak ada pengumuman di seputaran pagar taman. Kadang sepulang sekolah, saya dan Kira berhenti di taman itu hanya untuk melihat rusa-rusa bersantai di bawah pohon.
Mari masak makan malam
Malam harinya, suasana lumayan gelap karena entah kenapa lampu penerangan di sekitar kolam tidak dinyalakan. Untungnya di sini semua perlengkapan pendukung camping tersedia. Kami akhirnya menyewa petromaks di warung-warung yang ada di sekitar lapangan, juga membeli kayu bakar yang biasa digunakan untuk api unggun untuk tandem jalan karena malam itu sekitar tenda becek akibat hujan sejak sore.
Selalu suka dengan suasana saat camping
Tenda kami
Setelah makan malam, ngobrol sana-sini, akhirnya kami tidur juga. Siapkan tenaga untuk esok pagi karena kami berencana jalan-jalan dan mengunjungi Kawah Putih di Ciwidey. 

Untuk info harga dan lokasi detail, sila tengok di sini: RANCA UPAS

Alternatif untuk Camping Keluarga:
- Mandalawangi Camping Ground di Taman Nasional Gede Pangrango, Cianjur