Monday, October 19, 2015

Hiking Sore di Gunung Pancar: Memuja Alam

Setiap kali hiking, kami selalu melakukannya pada pagi hari.  Alasannya banyak: udara yang masih segar, anggota rombongan masih bersemangat, waktu yang masih panjang, dan seterusnya. Tapi kali ini, kami melakukan hiking pada sore hari! Dari hiking kali ini kami bisa belajar sesuatu: karena kita berkejaran dengan matahari, maka perhitungan waktu, jarak tempuh, dan anggota rombongan (apalagi membawa anak-anak) harus diperhitungkan dengan benar.
Rombongan remaja yang hiking sore itu
Hiking dimulai dari sini!
Kali ini tujuan kami adalah: TAMAN WISATA ALAM GUNUNG PANCAR. TWA Gunung Pancar terletak di Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat. Dari Jakarta, sebenarnya lokasi ini tidak begitu jauh. Kita cukup masuk Tol Jagorawi, keluar di Gerbang Tol Sentul Selatan (Sentul City), dan menyusuri jalan menuju Jungle Land, Sentul. Tepat di depan pintu masuk Jungle Land, belok ke kanan. Di jalanan ini kita lurus terus mengikuti papan petunjuk yang ada di beberapa tempat. Sampai pertigaan, ada papan petunjuk yang mengarahkan kita ke kanan, menuju Sumber Air Panas Gunung Pancar. Sementara kalau kita memilih ke kiri, kita akan sampai ke GOA AGUNG GARUNGGANG.

Gunung Pancar menjadi pilihan kami karena taman wisata ini selain memiliki hutan pinus, juga sumber air panas. Rencana kami adalah menyusuri jalanan setapak di tengah hutan pinus dan berakhir di sumber air panas.
Gerbang masuk dan kantor TWA Gunung Pancar
Daftar tiket masuk
Awalnya, kami berencana memulai hiking pukul 2 siang. Tapi, karena beberapa saudara terlambat datang, akhirnya hiking baru dimulai pukul 3. Sebenarnya kami tidak begitu yakin dengan kalkulasi waktu karena kami harus berkejaran dengan sinar matahari. Mungkin kami bisa sampai di tujuan, tapi untuk balik ke parkiran pasti hari sudah gelap.

Perjalanan kami dimulai dari parkiran yang terletak tepat di samping gerbang TWA Gunung Pancar. Seorang saudara akhirnya menunggu di mobil, siap menjemput kalau ternyata kami kemalaman di jalan. Hari itu kami hiking bertujuh, 3 anggota di antaranya adalah anak-anak.
Di tengah hutan pinus
Menyeberangi sungai yang mengering
Karena wiken, untuk masuk area TWA GUNUNG PANCAR kami dikenai tiket Rp 7.500 per orang. Sementara untuk hari biasa tiket masuk cukup Rp 5.000 per orang. Jalanan di TWA Gunung Pancar lumayan enak karena jalan utama sampai atas (sumber air panas) sudah diaspal. Tapi karena tujuan kami adalah hiking, kami tidak menggunakan jalur itu. Kami mengikuti arahan petugas untuk menyusuri jalan setapak yang dimulai dari sebelah kanan gerbang pintu masuk TWA Gunung Pancar.

Dan, dimulailah petualangan hari itu! Kami mulai menyusuri jalanan setapak yang di beberapa tempat penuh batuan. Kami melewati "lahan" pohon pandan. Penuh kehati-hatian kami menyusuri jalanan yang menurun, melewati sungai kecil yang hari itu kering akibat kemarau panjang. Mungkin kalau tidak kemarau panjang seperti sekarang, akan lebih mengasyikkan saat menyeberangi sungai itu.
Pohon-pohon yang berderak ketika angin bertiup
Deretan pohon pinus
Jalanan setapak naik turun melewati rimbunnya pohon pinus. Ketika angin berembus, pohon-pohon itu berderak, beberapa bersentuhan karena rapatnya jarak pohon. Saat angin bertiup, suara mirip helikopter menghampiri. Makin lama makin dekat. Anak-anak, setiap kali angin bertiup dan muncul suara akibat gesekan pepohonan, akan menengadah dan bertanya, "Apa itu?". Karena hiking kali ini, mereka jadi tahu arti harfiah dari kata "berderak". Tiap kali ada angin serta suara-suara dari dahan dan batang pohon mulai terdengar, mereka selalu berhenti. Menengadah, mengamati pergerakan pohon-pohon. 

Kami terus berjalan menyusuri jalan setapak di tengah rapatnya pohon pinus. Sempat salah arah, menemui jalan buntu, akhirnya kami berbalik melewati area camping ground. Di TWA Gunung Pancar ada beberapa area camping ground. Pengen banget bisa camping di sini. Tapi, menurut petugas yang kami temui, karena saat ini kemarau panjang, fasilitas terkait toilet agak terbatas karena pasokan air minim. Lah, kalau begitu harus berpikir seribu kali untuk camping. Mungkin perlu menunggu waktu yang tepat, musim yang tepat.
Lovely
Di antara batuan dan hutan pinus
Kami bertemu serombongan anak remaja yang juga hiking. Hiking, bagi kami, selain sebagai olahraga, juga mengajarkan anak-anak untuk mencintai alam. Menghargai segala ciptaan-Nya yang telah memberikan banyak kehidupan. Memuja alam Indonesia yang begitu kaya. Dan kali ini, dengan hiking di sore hari, kami bisa menikmati berkas-berkas cahaya matahari yang tersisa di antara pohon pinus, tanah yang meski kemarau di beberapa bagian tetap lembab, dan aroma pinus asli, bukan pengharum ruangan beraroma pinus.

Hiking di Gunung Pancar lumayan enak. Kita tidak perlu repot atau khawatir kehabisan bekal. Warung-warung bertebaran di sana-sini menyediakan minuman dan makanan.
Setelah menemui jalan buntu akhirnya kami kembali ke jalur yang benar
Salah satu camping ground yang kami lewati
Matahari mulai meninggalkan tempatnya. Sisa-sisa sinarnya yang menuntun kami ke area sumber air panas. Awalnya, tujuan kami adalah pemandian air panas untuk umum. Namun, akhirnya kami memutuskan berbelok, menuju Giri Tirta Hot Spring Resort. 

Baru setengah perjalanan, kami berpapasan dengan mobil terakhir yang biasanya disediakan pihak Giri Tirta untuk antar-jemput karyawan dan pengunjung. Tapi karena kami sudah di tengah perjalanan, terlalu nanggung untuk berbalik arah. Akhirnya kami nekat tetap menuju Giri Tirta.

GIRI TIRTA HOT SPRING RESORT
Sebenarnya, ini bukan tujuan awal kami. Tapi, tertarik dengan fasilitas yang disediakan, akhirnya kami memilih ke tempat ini. Selain itu, jalur menuju Giri Tirta juga lebih menantang, dengan jalan yang naik turun dan di beberapa tempat tidak mulus.
Di antara dua pilihan
Akhirnya pilih ke sini

Giri Tirta adalah salah satu resort yang "tersembunyi" di tengah hutan pinus. Menurut saya, kalau habis hiking ramai-ramai dan ternyata kemalaman, enggak ada salahnya menginap di sini. Dengan catatan: harus beramai-ramai. Tempat ini sepertinya juga cocok buat "menyepi", menyingkir dari hiruk pikuk Ibu Kota. Jaraknya juga tidak begitu jauh dari Jakarta. Sebagai alternatif, daripada ke Puncak atau ke Bandung yang biasanya macet parah saat musim liburan, juga pas.

Sore itu, hanya seorang penjaga yang menemui kami. Semua aktivitas dan pelayanan di Giri Tirta sudah berhenti. Ini karena saat kami ke sana bukan musim liburan sehingga tidak ada tamu satu pun. Dan, kami sendiri tidak berniat untuk menginap di sini, kecuali terpaksa, karena besok kami harus ke kantor dan anak-anak masuk sekolah.
Giri Tirta Hot Spring Resort and Spa
Jalan Menuju Giri Tirta

Karena semua karyawan sudah pulang, jadilah kami "menguasai" tempat itu. Tidak ada apa-apa, hanya kolam-kolam air panas yang bisa ditawarkan penjaga tempat itu. Sebenarnya kami mulai lapar, tapi petugas restoran pun sudah pulang. Akhirnya, setelah lama berembuk mau memutuskan bagaimana, kami menyewa salah satu kolam untuk anak-anak berendam sambil berkoordinasi dengan saudara yang lain untuk menjemput kami.

Resor tersebut sebenarnya asyik dan cantik. Sayangnya, kami datang ke tempat ini ketika hari sudah mulai gelap dan lampu-lampu sudah mulai dinyalakan.
Kami yang suka hiking!
Ada yang bermain peran jadi petugas resepsionis :)
Sepi
Kami menyewa salah satu kolam yang ada di resor tersebut. Kolamnya cantik. Dan yang pasti, kami bisa berendam di air panas. Anak-anak enggak sabar, langsung nyebur. Sementara kami yang dewasa berpikir ratusan kali untuk ikut menceburkan diri karena baju ganti tertinggal di mobil. Akhirnya sore itu kami hanya menunggui anak-anak sambil berkoordinasi dengan saudara untuk menjemput kami di tempat itu.

Hari itu, matahari cepat sekali menghilang. Gelap menyelimuti dengan cepat. Kolam yang kami sewa, ternyata ada bagian yang lampunya mati (doh!). Akhirnya begitu ada saudara yang menjemput, kami bergegas meninggalkan tempat itu. 
Finally, kolam air panas

Gelap. Karena malam dan kami harus menyusuri hutan pinus (iya, hutan), sudah bisa dipastikan tidak ada lampu sama sekali. Kami hanya mengandalkan penerangan dari lampu mobil sehingga kami harus sangat berhati-hati saat menyusuri jalanan menuju gerbang TWA Gunung Pancar. Dan, akhirnya... kami bisa bernapas lega setelah melihat deretan lampu dari gerbang dan kantor pengelola TWA Gunung Pancar.

Hiking sore hari itu mengasyikkan! Tapi, sekali lagi, perhitungan waktu benar-benar harus tepat, apalagi kalau kita memilih hiking di tengah hutan atau gunung. Hari itu, setidaknya kami jalan kaki sejauh 3 kilometer (menurut strava).


TULISAN TERKAIT:
- Hiking
- Camping


11 comments:

Bunda Kanaya said...

yang saya sukai daeri hiking di tempat seperti ini adalah bau pohon-pohonnya

retma-haripahargio said...

Iya. Makanya suka banget jalan ke tempat-tempat kayak gini. Memberi kesempatan tubuh menghirup udara segar.:D

Anggie...mamAthar said...

Mungkin waktunya kurang pagi ya mb... jadinya kemalaman...
Tp asyik jg hiking di tempat seperti itu mb...

Obat Tradisional Keloid said...

hiking yang menyenangkan

Obat Infeksi Saluran Kemih said...

seru ya hiking
udah lama nih ga hiking

Lidya Fitrian said...

wah hutan pinus mbak asyiiiik. ngeri juga ya kalau perjalanan malem di lokasi yang masih asing

Idah Ceris said...

Berpacu dengan waktu ya, Mbak. Segeer banget kolamnya. ..

Nur Susianti said...

Seru yaaa
Jadi kangen pingin hiking lagi..
Kayaknya enaknya hikingnya pagi ya mba, supaya ga kemaleman :)

Unknown said...

Salam...saya mau tanya kalau hiking disana tanpa guide bisa ga yah. Dan jika perku guide..apa bisa di dapat di lokasi? Berapa harga guidenya? Apakah ada yg ounya nmr telp guide yg murah? Trmksh.

Lea Aalto said...

Salam...saya mau tanya kalau hiking disana tanpa guide bisa ga yah. Dan jika perku guide..apa bisa di dapat di lokasi? Berapa harga guidenya? Apakah ada yg ounya nmr telp guide yg murah? Trmksh.

retma w said...

Bisa... Kemarin saya tanpa guide, kok. Kalau mau guide, hubungi petugas. Soal tarif saya tidak tahu. Kalau ke sana, tempat parkirnya kan persis di dekat kantor pengelola (sebelum gerbang masuk). Temui saja petugasnya. Tapi enggak pakai guide juga pasti bisa karena jalan utama aspal mulus dan selalu kelihatan kok. Kalau takut tersesat, susuri saja jalanan beraspalnya, atau lewat pinggir-pinggir.

Kalaupun tersesat, gampang! Banyak warung di situ. Tinggal tanya rutenya ke penjual di warung. :) Gutlak yaaa.