Tuesday, October 27, 2015

House of Sampoerna: Antara Benci dan Cinta

Surabaya, Jawa Timur, suatu siang yang terik.
Ketika malam sebelumnya teman saya memasukkan HOUSE OF SAMPOERNA ke dalam daftar tempat yang wajib kami kunjungi, saya sempat ragu. Saya orang yang sangat sensitif terhadap asap rokok. Bukan cuma merasa terganggu. Tapi, setiap kali terpapar asap rokok, biasanya saya akan menderita sakit kepala. Pernah dalam satu kesempatan, ketika saya harus menghadiri satu acara yang kebanyakan pesertanya merokok, setelahnya saya menderita sakit kepala selama 3 hari!
Museum House of Sampoerna
Tapi, dengan pertimbangan bahwa ini museum, saya akhirnya menyetujui. Saya berharap bahan-bahan utama rokok efeknya tidak sedahsyat ketika rokok dibakar. Dan lagi... tujuan kali ini mengingatkan saya ke "Pulau Rempah", Maluku. Mengingatkan saya saat hiking di perkebunan cengkeh di lereng Gunung Gamalama untuk melihat pohon afo (cengkeh) tertua di dunia yang berumur sekitar 400 tahun. Saya berharap "aroma" museum ini sama seperti ketika saya hiking di antara rimbunnya pohon cengkeh dan pala ketika itu. Aroma cengkeh yang samar-samar terasa segar di udara.
Pintu masuk museum
Penghargaan dari TripAdvisor
Dengan menumpang taksi, akhirnya kami sampai di kawasan Kota Surabaya lama. Ketika keluar dari taksi, saya cuma bisa bilang: Wow! Ini benar-benar museum tentang rokok. Bahkan pilar museum pun berbentuk batang rokok. Dan kemudian saya teringat sejarah panjang rokok kretek di Indonesia. Juga novel sejarah Roro Mendut karya Romo Mangun. Ah... rokok dan sejarah panjang umat manusia.

Saat kecil, saya sering melihat kakek saya "meramu" sendiri rokoknya. Dari tembakau, cengkeh, dan entah apalagi. Pada masa itu, setidaknya saya masih melihat rokok kretek dengan bungkus dari kulit jagung atau biasa disebut klobot. Beberapa industri rumahan bahkan sempat muncul di sekitaran kampung saya, tetapi kemudian gulung tikar.

Roll-Royce Silver Shadow koleksi keluarga Sampoerna
Museum yang terasa "menenangkan"

Memasuki halaman museum, saya langsung tertarik dengan mobil Roll-Royce yang berada di samping gedung utama. Roll-Royce Silver Shadow ini ternyata digunakan generasi kedua Aga Sampoerna di Singapura pada 1972-1994. Mobil ini termasuk satu dari hanya 2.700-an Silver Shadow chassis panjang yang pernah dibuat pabrik Roll-Royce pada 1965-1977. Eh, katanya mobil ini masih bisa digunakan loh. Tapi pelat mobilnya masih memakai pelat mobil Singapura.

Masuk ke gedung utama, saya langsung terkesan dengan museum ini. Rapi, terang, modern, dan bersih. Jauh dari kesan museum yang gelap dan sumpek. Penataan yang keren, kolam ikan di tengah ruangan yang membuat suasana tambah nyaman, dan barang-barang yang kinclong. Sungguh, kalau saja saya tidak "bermusuhan" dengan rokok, tempat ini enak banget. Tidak heran museum ini menjadi pemenang TripAdvisor Travellers' Choice 2013.
Museum yang bersih, luas, dan kinclong!
Replika warung pertama pendiri Sampoerna
Koleksi Kebaya
Alasan lain saya penasaran dengan museum ini adalah keterangan yang ada di website resmi Museum House of Sampoerna: Sampoerna's founder Liem Seeng Tee, AN ORPHAN WHO BOUGHT THE EX ORPHANAGE. Ya, ya... gedung yang sekarang menjadi museum, awalnya adalah sebuah panti asuhan putra yang dikelola Pemerintah Belanda. Bangunan ini sendiri dibangun pada 1862. Kemudian, baru pada 1932, bangunan ini dibeli Liem Seeng Tee dan dipakai untuk pusat usahanya, termasuk memproduksi rokok Sampoerna. Salah satu "cerita indah", kan? Bagaimana seorang anak yatim piatu akhirnya membeli gedung eks panti asuhan.

Area House of Sampoerna sebenarnya terdiri dari 3 bagian: sayap barat adalah hunian resmi pribadi (karena itu mobil-mobil mewah dipajang di bagian ini), sayap kiri difungsikan sebagai galeri dan kafe, serta gedung utama yang dipakai sebagai museum dan pabrik. 
Ruangannya enak yak
Mesin cetak kuno
Perlengkapan Marching Band Sampoerna
Museum House of Sampoerna sendiri terdiri atas dua lantai. Lantai pertama difungsikan untuk museum yang "menceritakan" bagaimana pendiri Sampoerna membangun bisnisnya. Ada juga replika warung pendiri PT Sampoerna, Liem Seeng Tee, dan istrinya, Siem Tjiang Nio. Juga dipamerkan berbagai tembakau terbaik dari negeri ini, seperti dari Ploso dan Gunung Sumbing. Aroma tembakau dan cengkeh, tentu saja, menguar di seluruh ruangan ini. Di sini kita juga bisa menemui berbagai koleksi kemasan yang pernah dipakai untuk rokok produksi Sampoerna. Juga koleksi pemantik api. Dan tentunya mesin cetak kuno yang dulu digunakan untuk mencetak kemasan rokok.

Hal yang menarik lainnya adalah: kostum dan perlengkapan marching band (maksud saya, kok bisa di antara jejeran barang yang terkait dengan rokok terselip perlengkapan marching band?).  Well, ternyata hal ini terkait dengan salah satu acara yang betah saya tonton di TV zaman dulu kala, yaitu siaran langsung Parade dan Festival Bunga Mawar Pasadena. Nah, Sampoerna Marching Band ini ternyata  mewakili Indonesia pada 1990 dan 1991 dalam Festival Bunga Pasadena di California. Anggota marching band ini adalah 234 pekerja perempuan perusahaan itu, termasuk para pelinting rokok. Tahun 1990, dengan tema "Unity in Diversity", kontingen Indonesia memenangi acara itu dan mendapat The International Trophy (the 1st Prize for non-American Participants).
Perlengkapan "laboratorium"zaman dulu
Koleksi kemasan rokok produk Sampoerna
Dji Sam Soe!
Sekitar 15 menit berlalu. Saya harus menghirup udara segar! Akhirnya saya keluar dari museum dengan kondisi seperti ikan yang butuh air. Perjalanan saya menjelajah Surabaya hari itu masih cukup panjang sehingga saya tidak mau tersiksa sakit kepala. Akhirnya saya duduk-duduk di depan museum, sementara teman saya masih menjelajah di dalam.

Sekitar 10 menit kemudian teman saya keluar dan mengajak saya ke lantai 2. Saya mengikuti dia dengan catatan "jangan lama-lama". Akhirnya saya naik ke lantai 2 gedung itu. Wah! Andai saya tidak mengikuti teman saya, bagian asyik museum itu pasti terlewat. Ternyata tempat itu juga difungsikan sebagai pabrik. Jadi, dari dinding kaca kita bisa melihat aktivitas para pekerja yang sebagian besar adalah perempuan melinting rokok. Sayangnya, ada larangan mengambil foto di area ini.
Tembakau asal Ploso, Jawa Timur
Tembakau Asal Gunung Sumbing
Selain itu, di area ini juga ada toko suvenir. Macam-macam yang dijual. Dari mulai batik tulis (motifnya cantik gila! Sayang harganya juga bikin sakit kepala), topi, kaos, mug, sampai magnet kulkas. Desainnya lumayan bagus-bagus.

Setelah membeli suvenir, kami akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kunjungan hari itu ke Museum House of Sampoerna. Bagi saya pribadi, kunjungan ke tempat ini adalah perpaduan rasa benci dan cinta. Saya membenci rokok karena tubuh saya rentan terhadap rokok. Sementara apa yang ditawarkan museum ini hampir tidak bisa saya tolak. Kenangan, sejarah, dan cerita soal cita-cita "an orphan who bought the ex orphanage" menyeret saya ke tempat ini.

Surabaya Heritage Track
Di halaman museum, kami menemukan bus wisata terparkir di halaman. Pihak Sampoerna ternyata menyediakan bus khusus bagi wisatawan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Surabaya. Oh, keren banget! Sayangnya, lagi-lagi waktunya tidak cocok dengan jadwal kami. Untuk jadwal keberangkatan bus dan tujuan bisa dilihat di sini: Surabaya Heritage Track. Gratis!
Bus wisata yang disediakan Sampoerna

Tentang Museum House of Sampoerna:
- Buka dari Senin-Minggu pukul 09.00-22.00
- Masuk museum dan ikut Surabaya Heritage Track dengan bus wisata: GRATIS!
- Alamat: Taman Sampoerna No 6, Krembangan, Pabean Cantikan, Surabaya
- Website: House of Sampoerna
- Tips: untuk orang-orang yang susah toleran terhadap rokok seperti saya ada baiknya bawa: MASKER.

TULISAN TERKAIT WISATA SURABAYA:
- Masjid Cheng Hoo dan Taman Bungkul


3 comments:

Alris said...

Kudu dikunjungi nih kalo ke Surabaya.
Baru tahu kalo pendiri kerajaan bisnis rokok itu seorang yatim.

retma-haripahargio said...

@Alris: iya... hebat yak. Kayaknya dia sempat diadopsi atau diasuh sama satu keluarga. Tapi sepertinya dia pilih mandiri.

Farrel And Merry said...

Anakku demen banget tuh naik busnya sampoerna, gratis pula jadi emaknya juga seneng hahaha

http://farrelandmerry.blogspot.co.id