Saturday, October 03, 2015

Masjid Cheng Hoo dan Taman Bungkul

Pagi menjelang siang. Matahari sudah lumayan terik di Kota Surabaya, Jawa Timur. Malam sebelumnya di hotel, saya dan dua teman berembuk memutuskan akan jalan-jalan ke mana. Akhirnya seorang teman memilih pergi ke daerah Tanggulangin untuk berburu tas, sementara saya dan seorang teman lain memilih mengeksplor Kota Surabaya. Jadi, hingga tengah malam kami masih menyusun list tempat tujuan yang ternyata lumayan banyak. Tadinya kami enggak yakin apakah semua tempat di daftar itu bisa kami sambangi.

MASJID MUHAMMAD CHENG HOO
Pagi itu saya memasuki sebuah kompleks sekolah di daerah Ketabang, Genteng. Sebuah TK di sebelah kiri penuh celoteh anak-anak. Sementara di depannya terbentang lapangan olahraga yang cukup luas. Tapi bukan itu tujuan saya. Tujuan saya adalah sebuah masjid kecil di pinggir lapangan. Masjid berwarna merah dan beratap hijau yang mirip dengan bangunan kelenteng, Masjid Muhammad Cheng Hoo.
Masjid Muhammad Cheng Hoo
Saya dan teman saya memasuki masjid yang kecil dan bersahaja itu. Di sebelah kanan sebelum tangga, terdapat taman kecil. Relief Laksamana Cheng Hoo dan armadanya terpampang di sana. 

Di edisi khusus majalah National Geographic tentang Cheng Hoo (ya, ya... waktu peringatan 100 tahunnya, 10 tahun lalu, saya ngebet banget punya buku itu), armada Cheng Hoo sangat menakjubkan. Kapalnya adalah kapal terbesar yang pernah dibuat. Kapal Vasco da Gama, penjelajah asal Portugis itu, paling hanya 1/7 dari kapal Cheng Hoo. 
Relief Cheng Hoo

Cheng Hoo, terlahir dengan nama Ma He, anak pejabat di Desa Yunan, salah satu provinsi di Mongol. "Ma" dalam bahasa Tiongkok bisa disamakan dengan Muhammad. Ayahnya, Haji Ma, adalah teladan bagi Cheng Hoo. Semua sifat baiknya menjadi panduan bagi Cheng Hoo di kemudian hari. Armada kapalnya mengunjungi banyak negara. Hebatnya, bukan penaklukan, bukan penjajahan yang menjadi tujuan. Tapi kebanyakan adalah perdagangan dan hubungan diplomatik. Meski sampai sekarang tujuan pelayaran itu masih jadi perdebatan, pelayaran-pelayaran Cheng Hoo seperti ensiklopedia terapung bagi Dinasti Ming, gabungan pengetahuan berharga dari Nanjing hingga Afrika.

Seperti ayahnya yang bergelar haji, pada hari-hari terakhirnya, Cheng Hoo pun menuju titik pangkal umat Islam dunia: Kabah. Karena sebagai laksamana Ming dia tidak boleh tunduk di depan takhta kerajaan mana pun, Cheng Hoo mengutus rekannya sesama "Muhammad", Ma Huan, ke Semenanjung Arab. Apa yang disampaikan Ma kepada Cheng Hoo sama seperti yang terlihat setiap bulan Ramadhan di Mekkah.

Di buku National Geographic tertulis: "Mereka mewujudkan kualitas utama Islam, yakni perayaan kerendahan hati dan kebajikan persamaan hak. Mereka juga mencerminkan kisah Cheng Hoo yang selama hidupnya dikenal memiliki kualitas utama sebagai Muslim." Cobaaaa... bandingkan dengan status-status enggak mutu di media sosial saat ini. Mungkin yang pasang status di medsos itu belum baca kisah Cheng Hoo sehingga tidak punya malu. :p

Pagi itu, dua warga Tionghoa setengah baya memasuki masjid. Setelah berwudu, mereka melaksanakan shalat Dhuha. Saya takjub melihatnya! Dua warga Tionghoa itu khusyuk dalam "pertemuan" dengan Yang Memberi Kehidupan. Seorang marbot menghampiri saya dan bertanya apakah saya akan melaksanakan shalat juga. Dan kemudian dia juga bercerita tentang masjid itu dan memberi saya buku tentang sejarah Masjid Muhammad Cheng Hoo.
Pat Kwa
Masjid Cheng Hoo Surabaya mulai dibangun tahun 2001 oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Diresmikan tahun 2003, masjid ini sebagai penghormatan kepada Laksamana Besar Cheng Hoo. Rancangan awal diilhami bentuk Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada 996 Masehi. Bangunan utama berukuran 11 x 9 meter. Panjang 11 meter menandakan bahwa Kabah saat pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS memiliki panjang dan lebar 11 meter, sementara 9 meter sebagai simbol Wali Sanga. Di bagian atas berbentuk segi 8 (pat kwa), yang dalam bahasa Tionghoa Fat berarti 'jaya' dan 'keberuntungan'.
Prasasti
Kenapa Wali Sanga? Selain karena mereka adalah para wali yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, juga karena Sunan Ampel dan Sunan Giri adalah keturunan Tionghoa. Menurut sejarah, untuk mempererat hubungan dengan Kerajaan Majapahit, Puteri Campa akhirnya menikah dengan Raja Majapahit. Keturunan pertama mereka adalah Raden Patah (Jin Bun), kemudian Sunan Ampel dan Sunan Giri.

Matahari mulai meninggi. Setelah membeli suvenir miniatur Masjid Cheng Hoo dan songkok unik ala Tiongkok di toko suvenir di depan TK, kami meninggalkan kompleks itu.


TAMAN BUNGKUL
Salah satu "ikon" baru Kota Surabaya adalah Taman Bungkul. Taman di Jalan Raya Darmo yang menjadi kebanggaan warga kota tersebut masuk dalam daftar tujuan yang wajib kami kunjungi. Sejak era Bu Rismaharini, Kota Surabaya bersolek dan muncul sebagai kota dengan banyak taman. Dan Taman Bungkul sendiri pernah meraih predikat sebagai Taman Terbaik Se-Asia (catet, se-Asia!) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2013. Karena penasaran dengan berbagai pemberitaan itulah akhirnya kami menuju ke sana.
Nama Bungkul tidak terlepas dari tokoh penyebar agama Islam di Surabaya, Ki Ageng Supo atau Sunan Bungkul. Sebelum datang ke taman ini saya tidak tahu akan fakta ini. Tapi pagi itu, ketika saya memasuki kawasan taman, banyak orang berziarah ke makam Sunan Bungkul yang terletak di belakang taman.


Begitu masuk ke taman seluas sekitar 900 meter persegi itu, saya tidak bisa menghilangkan rasa iri pada warga Surabaya. Ini kota kan? Tapi punya taman sebagus dan seluas ini? Kenapa Bekasi tidak bisa punya taman semacam ini? *melirik KTP*

Pagi itu satu keluarga berolahraga di taman tersebut. Menyenangkan melihat suami-istri dan seorang anaknya yang masih kecil bercanda di taman. Petugas taman hilir-mudik. Menyapu, menyiram aneka tanaman. Di pinggir jalan, mobil SIM keliling mulai didatangi warga. Kan... bagaimana saya tidak iri? :D Bahkan tempat untuk berfoto pun disediakan. Di pinggir jalan diberi pembatas untuk para wisatawan sehingga orang norak macam saya bisa berfoto dengan nyaman tanpa terganggu dan mengganggu lalu lintas.
Trotoar yang lebar dan teduh
Taman yang teduh di tengah kota. Impian semua warga kota, kan? Saya betah lama-lama di taman ini. Amfiteater ada, wifi gratisan ada, tempat bermain ada. Tapi dari itu semua, yang paling saya suka adalah: hijau dan teduh. Tak heran dalam suatu kesempatan Wali Kota Surabaya bilang bahwa suhu udara di Surabaya turun. Setelah melihat Taman Bungkul dan beberapa taman lain yang saya lewati, hal itu masuk akal.
Makam Ki Ageng Bungkul
Di sekitar Taman Bungkul sebenarnya ada banyak warung makanan dan jajanan. Sayangnya, karena pagi itu saya sarapan di hotel dan cukup kenyang, saya tidak sempat mencicipi satu pun makanan di sana.

3 comments:

Idah Ceris said...

Baru tahu sejarahnya taman bungkul ini krn adanya sunan bungkul. ;)

vimax said...

sip informasi sejarang yg sangat bermanfaat

retma-haripahargio said...

Sama.. aku juga baru tahu setelah lihat ada makam Sunan Bungkul itu. :p Tdnya cuman ngira-ngira kenapa namanya Bungkul gitu yak.