Tuesday, December 29, 2015

"Bertualang" di Monumen Kapal Selam

Museum dan monumen berbentuk gedung? Ah, itu sudah biasa. Kali ini saya jalan-jalan ke Monumen Kapal Selam atau biasa juga disingkat Monkasel, monumen kapal selam terbesar di Asia!
Pintu gerbang Monkasel
Saat masih duduk di bangku sekolah, setiap kali sekolah mengadakan acara study tour atau kunjungan ke museum, monumen, atau tempat-tempat bersejarah lain, hampir bisa dipastikan saya tidak bisa menikmati kunjungan itu! Tetek bengek dan tugas dari sekolah membuat saya (dan mungkin teman-teman yang lain) lebih fokus mencari data daripada "menikmati" kunjungan dan menikmati perjalanan sejarah.

Akhir-akhir ini saya mengunjungi beberapa museum. Beberapa tempat sudah modern dengan pencahayaan yang bagus dan cukup informatif, sementara beberapa yang lain masih seperti gambaran museum saat saya masih duduk di bangku sekolah: suram, berdebu, dan sunyi. Beberapa cukup asyik dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, tetapi beberapa minim informasi.
Dalam perawatan

Suatu siang yang membakar Kota Surabaya, Jawa Timur. Setelah mengunjungi beberapa obyek wisata, kami (saya dan seorang teman) akhirnya mengunjungi dua museum terakhir yang ada dalam list kami. Salah satunya adalah Monumen Kapal Selam yang terletak di pinggir Kalimas. Destinasi ini kami pilih karena berada dalam jalur yang kami lewati dan... ngomong-ngomong, kapan lagi kami bisa masuk kapal selam?! :D

Taksi yang kami tumpangi memasuki suatu pusat perbelanjaan, Plaza Surabaya. Oke, saya agak bingung. Bolak-balik saya memastikan Gmaps apakah kami salah arah. Tapi ternyata, untuk menuju museum yang menjadi destinasi kami memang harus melewati pusat perbelanjaan itu. Awalnya saya bengong melihat jejeran mobil. Beneran museum ini begitu ramai?!  Saya cukup waswas jangan-jangan Monkasel ditutup karena sedang ada kegiatan. Tapi ternyata, setelah memasuki kawasan monumen, saya baru menyadari bahwa mobil-mobil yang berjejer banyak adalah para pengunjung mall. :p
Data KRI Pasopati
Site Plan Monkasel
Setelah membeli tiket yang cukup murah, sekitar Rp 10.000, saya memasuki Monkasel
dengan ragu-ragu. Kami harus menaiki tangga menuju pintu masuk monumen. Di pintu masuk, kami disambut seorang petugas yang berpakaian putih-putih layaknya anggota TNI Angkatan Laut. Inginnya sih, ada seorang guide atau petugas yang menemani kami menelusuri setiap ruangan. Tapi yah... akhirnya dengan segala keterbatasan, kami sendirian menelusuri setiap lorong di dalam kapal selam itu.

Monkasel bagi saya cukup menarik karena monumen ini dalam bentuk riil, bukan replika. Monkasel benar-benar kapal selam yang dijadikan monumen. Menggunakan KRI Pasopati 410, monumen ini beroperasi sejak tahun 1998. KRI Pasopati termasuk tipe SS Whiskey Class dan dibuat di Vladivostok, Rusia, pada 1952. Kapal selam ini mulai beroperasi pada tahun 1962 dan ikut ambil bagian dalam beberapa operasi penting, salah satunya Trikora.

Periskop
Pada masanya, KRI Pasopati mempunyai tugas utama untuk menghancurkan garis musuh serta melakukan pengawasan dan penggerebekan secara diam-diam. Kapal selam ini mampu menyelam hingga kedalaman 250 meter di bawah permukaan laut. Adapun kedalaman normal adalah 170 meter.

Pada tahun 1960-an hingga 1970-an, armada laut Indonesia cukup diperhitungkan dunia. Pada masa itu, Presiden Soekarno giat membeli alutsista. Salah satunya adalah 12 kapal selam Whiskey Class. Kapal selam ini dibeli untuk memaksa Belanda meninggalkan Papua. Kapal selam ini memiliki daya jelajah 8.500 mil laut (sekitar 15.742 kilometer).

Well, sebenarnya saya tidak begitu bisa menikmati perjalanan kali ini. Selain keterangan dan data yang sangat minim, saya pun hanya bisa melihat bagian-bagian kapal selam yang sering saya tonton di film-film action. Sayang sekali monumen sebesar ini, dengan kandungan sejarah yang tak sedikit, tapi minim informasi. Dalam bayangan saya, setidaknya, setiap bagian ada penjelasan atau cerita, syukur-syukur ada foto awak sedang berkegiatan dalam setiap bagian kapal selam sehingga fungsi alat-alat bisa jelas dimengerti.

Pintu yang menghubungkan setiap ruangan
Pada masanya, KRI Pasopati ini "dihuni" 63 awak, termasuk komandan. Karena ini benar-benar kapal selam, saat menyusuri setiap bagian atau berpindah ruangan saya harus menunduk dalam-dalam karena "pintu" yang cukup rendah. Bagian ini, menurut saya, paling asyik kalau mengajak anak-anak karena kita bisa merasakan "bertualang" di kapal selam.

Di atas permukaan laut, kapal ini berpenggerak diesel dengan kecepatan 18,3 knot (34 km/jam). Sementara saat berada di dalam laut, kapal ini berpenggerak batere. Terbagi dalam 7 ruangan, saya menyusuri dari haluan hingga buritan dengan semua ruangan yang berukuran sangat sempit. Haluan dan buritan kapal selam ini juga difungsikan sebagai ruang penyimpanan torpedo. Saya agak kesulitan membayangkan berminggu-minggu, berbulan-bulan, hidup dalam ruangan-ruangan sesempit itu. :D

Ruang torpedo
Apalagi, saat beroperasi, para awak harus bisa menahan hawa panas dalam kapal yang tidak berpendingin udara. Oksigen mungkin cukup, tapi panasnya?! Oh, yeaaah... saya salut dengan para awak kapal selam. Di tengah hawa yang panas mereka juga harus berjibaku dengan musuh.

Siang yang panas membuat saya segera keluar dari Monkasel. Mengamati kapal selam itu dari luar, saya sungguh takjub dengan perjuangan para awak. Tergesa-gesa saya menuruni tangga menuju taksi yang telah menunggu. Kami tidak sempat menonton videorama tentang peperangan di Laut Aru. Tapi, kunjungan singkat saya ke Monkasel siang itu membuat saya menyadari bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang sudah seharusnya mempunyai armada laut yang disegani. Pada masa lalu mungkin iya, tapi sekarang? Mungkin masih banyak pekerjaan rumah untuk itu.

Jalesveva Jayamahe 


Tulisan terkait:
- Obyek Wisata di Surabaya
- Museum
- Wisata Kapal Perang