Sunday, January 31, 2016

Pindahan "Dapur" dan Bekal ke Kantor

Saya menyadari, akhir-akhir ini untuk posting blog sangat susah. Kadang kala saya sudah menulis separuh jalan, tapi tiba-tiba waktu untuk menyelesaikannya tidak ada. Akhirnya beberapa postingan selamanya mendekam dalam posisi "draf".

Kadang kala saya merasa "tersentil". Contohnya ketika seorang teman bertanya soal suatu informasi, saya yakin pernah menulisnya. Tapi ketika saya cari lewat mesin pencari tidak ada. Dan ketika masuk ke blog, voila...! Postingan tersebut ternyata masih nongkrong manis di posisi draf dan baru "setengah jalan". :(
Dapur: tempat yang saat pagi hari seperti kapal pecah
Ruang makan: tempat segala cerita dan berisiknya piring, sendok, garpu, juga gelas
Karena itu, mulai tahun ini saya sepertinya tidak akan pernah posting di blog yang lain. Semuanya akan saya satukan di blog ini karena ternyata saya mulai kesusahan mengatur waktu.

DAPUR
Salah satu yang saya pindah ke sini adalah dapur. Lebih spesifik lagi, segala postingan tentang bekal. Saya, suami, dan anak-anak hampir setiap hari membawa bekal untuk ke kantor dan sekolah. Karena itu saya akan berbagi di sini. Enggak muluk-muluk. Saya hanya akan berbagi bekal yang gampang dipersiapkan, tidak memakan waktu banyak.

Persiapan
Karena waktu yang sangat terbatas, saya biasanya menyiapkan makanan dalam bentuk stok. Kalau tidak harus antar-jemput sekolah atau anak pulang lebih lama karena ikut ekstrakurikuler, saya biasanya menyiapkan stok makanan ini.
Stok makanan sebelum masuk kulkas
Tips: Manfaatkan semua kotak, wadah bekas selai, wadah bekas bumbu spageti atau BBQ, dan lainnya untuk menyimpan stok makanan. Tidak usah muluk-muluk. Cukup rebus semua sayuran yang diinginkan. Misal: jagung, labu, wortel, kacang merah, buncis, dan seterusnya. Sementara sayuran yang tidak bisa direbus cukup cuci bersih dan potong-potong. Setelah dingin masukkan ke wadah, tutup rapat, dan simpan dalam kulkas.

Bekal
Saya mulai berusaha menyertakan sayuran di bekal anak-anak. Agak susah karena mereka membawanya dari pagi. Tapi setidaknya sayuran rebus mulai saya sertakan. Selalu dimakan? Ah, enggak juga. Karena kadang selera kedua anak berbeda. Yang satu suka sayuran A, yang satu B. Yang satu lebih suka direbus, yang lain lebih suka dimasak sop. Dikira emaknya ini punya restoran apa... berharap masak macem2 dalam satu hari :p

Food Combining dan Makanan Sehat
Bukan bermaksud ikut tren makan makanan sehat. Tapi kalau mengikuti blog saya yang satunya dan postingan di Instagram, pasti bakal paham bahwa saya "terpaksa" mengikuti pola makan ini karena suami saya overwight dan pernah dapat peringatan dari kantor, bahkan diminta ikut program Wellness oleh kantor. Maka, mau tidak mau saya menyiapkan makanan dalam pola itu.
Cauliflower Breadstick dan Sayuran Rebus
Ayam Kukus Lemon, Avokad, Selada, Zucchini
Untuk urusan asisten rumah tangga, saya tidak pernah bernasib baik dalam hal dapur. Bolak-balik ganti ART selalu tidak bisa masak. Jadi mau tidak mau saya sendiri yang selalu "turun" ke dapur. :D Karena itu, sekalian saja masaknya ikutan pola makan suami. Katering? Biasanya saya hanya bertahan satu bulan, ganti katering lain satu bulan, begitu seterusnya karena anak-anak lebih memilih masakan emaknya.

Btw, sekarang berat badan suami sudah menuju ideal. Untuk makanan sudah tidak terlalu ketat, tapi dia tetap minta untuk beberapa hari dalam seminggu membawa bekal makanan sehat. Karena itu, saya akan berbagi. Sekali lagi, tidak akan pernah muluk-muluk. Semua simpel. Dan kalau sempat, saya akan tulis resepnya juga.

You don't have to eat less, You just have to eat right!

PS: Saya usahakan beberapa hari sekali atau setidaknya seminggu sekali saya posting bekal. Doakan saya rajin update blog. :D

Indischetafel Restaurant: Bersantap ala Sinyo dan Noni Belanda

INDISCHETAFEL RESTAURANT. Saat sedang mencari makan di Bandung, tanpa sengaja kami melewati tempat makan dengan nama yang agak susah dieja itu. :D Karena sudah malam dan kami kelaparan setelah jalan ke sana kemari, akhirnya kami memutuskan untuk makan di tempat tersebut.
Indichetafel Restaurant

Kami disambut dua pramusaji di pintu masuk. Di dalam, kami mendapati suasana restoran yang sangat vintage! Kami tiba-tiba merasa berada di ruang perjamuan Hindia Belanda. Tegel berbunga yang pernah menjadi impian saya dan kemudian memutuskan menyerah setelah tahu panjang dan lamanya antrean mendapatkan tegel itu. :D Gramofon di sudut kanan ruangan. Jejeran meja yang mengingatkan saya pada tatanan meja favorit bulik saya: taplak besar dengan gambar bunga dan renda di tepiannya, kemudian dilapisi kaca (Bayangkan... renda! Dulu, saat orang tergila-gila dengan renda, bahkan meja makan pun berenda!). 

Kami memilih satu tempat di dekat jendela besar, khas jendela bangunan dulu kala. Indischetafel Restaurant ternyata memang mengusung tema resto-museum. Karena itu, tidak heran di sini banyak sekali barang yang layak menyandang titel "penghuni museum". 
Suasana dalam restoran. Saya suka tegelnya!
Gramofon!
Pramusaji mengantarkan daftar menu dan mau tidak mau saya mengernyit melihat jajaran menu yang terpampang. Menu di restoran ini dibagi menjadi beberapa kategori, antara lain: Soepen (sup), Sla Soorten (salad), Hor's d'Óeuvre en Entrees, Vleeschgerechten, dan Bereiding van Rijs. Beberapa nama masakan membuat saya tersenyum, di antaranya: Biefstuk Sinyo Indische. Menu ini membuat saya membayangkan yang cocok makan ini adalah Minke: berjas komplet dengan dasi kupu-kupu dan memakai belangkon (tokoh dari tetralogi Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer).
Daftar Menu
Nasi Asem-Asem Sapi
Nasi Soep Boentoet Koeah Bakar

Kami memesan makanan: french fries and sausage untuk anak-anak (yang aman karena mereka pasti mau), Nasi Goreng, Nasi Soep Boentoet Koeah Bakar, dan Nasi Asem-Asem Sapi.
Untuk Nasi Asem-Asem Sapi: very recommended! Perpaduan panas, pedas, dan asam-nya pas. Enak dan segar. Yang lainnya menurut saya biasa saja. :p

Restoran yang pernah mendapat penghargaan Bandung Heritage tahun 2011 ini berdiri pada tahun 2009. Bangunannya sendiri merupakan peninggalan Belanda dan menjadi salah satu cagar budaya di Kota Bandung.
Salah satu sudut
Mesin Jahit Tua
Pada satu masa, sepertinya keluarga saya pernah punya bufet macam ini :D
Malam itu kami cukup menikmati berada di restoran ini. Musik era "Hindia Belanda" menemani kami. Kalau tidak membawa anak-anak, mungkin saya akan merasa kencan dengan seorang sinyo. :D 

Saat itu, beberapa keluarga juga makan di restoran tersebut. Beberapa sudah paruh baya dengan rambut memutih. Mungkin mereka sedang bernostalgia. Sementara di samping meja kami, tiga cewek ABG sibuk berfoto dengan menggunakan tongsis. Ya, ya... tempat ini memang bagus buat foto-foto dengan teman dan keluarga. Atau foto kelas, kelulusan, bahkan reuni! Mungkin sekalian dengan kostum ala noni dan sinyo Belanda atau pribumi-priayi. *hanya sekadar ide*
My fam!
Jendela dan taplak mejanya... :p
Saat menunggu makanan datang, saya dan anak-anak "menjelajah" ke setiap ruangan di restoran ini. Di dalam restoran ini memang ada beberapa ruangan serupa kamar. Ruangan-ruangan ini cocok dipakai untuk mereka yang datang dalam rombongan. Saya takjub dengan beberapa barang di sini. Beberapa mengingatkan saya pada barang-barang yang dulu kala "nangkring" di rumah saya.

Selain makanan utama, Indischetafel Resto juga menyediakan makanan ringan semacam kukis. Saya menemukannya ketika saya hendak membayar makanan. Eh, di kasir pun saya menemukan mesin kasir zaman dulu dengan satuan pembayaran gulden dan sen. Menurut saya, harga di restoran ini, kalau dihitung dengan "pengalaman" dan suasana, layak lah... Tapi untuk beberapa makanan, mungkin agak mahal. Ada baiknya kalau mau memesan, tanyakan dulu apa menu andalan di tempat itu. 
Lucu ya. Ingat, jangan dipegang!
Mesin kasir

INDISCHETAFEL RESTAURANT
Alamat: Jalan Sumatera No 19, Bandung,
Jawa Barat

Tulisan terkait:
- Bandung
- Museum

Thursday, January 21, 2016

Museum Geologi: Berkelana dengan "Mesin Waktu"...

Suatu siang yang panas di Kota Bandung.
Setiap kali ke "Kota Kembang", sebenarnya saya ingin mengajak anak-anak mengunjungi MUSEUM GEOLOGI BANDUNG, salah satu tempat wisata terkenal di kota itu. Namun, beberapa kali kami gagal karena kami datang di waktu yang tidak tepat dan museum tutup.
T-rex
Akhirnya, seusai UAS kemarin, kami berkesempatan mengunjungi museum tersebut. Sinar matahari yang siang itu terasa terik tidak menyurutkan kami untuk datang ke destinasi yang telah lama berada dalam list wajib kunjung.

Kami membeli tiket di loket yang berada di samping pintu masuk. Murah! Anak-anak hanya membayar Rp 2.000, sementara saya dan suami masing-masing Rp 3.000. Untuk ukuran sekelas Museum Geologi Bandung yang di dalamnya ternyata keren banget, tiket segitu terhitung amat sangat murah. 
Museum Geologi Bandung
Ayo Kita Bertualang... :)
Panduan Lokasi Museum
Melewati pintu utama, kami langsung disambut kerangka stegodon jenis Elephas. Baiklah, sepertinya kita akan melewati "mesin waktu" dan kembali ke zaman purba. Anak-anak mulai ribut membandingkan Museum Geologi dengan film Night at the Museum. Duh, kayaknya mereka kebanyakan nonton film sehingga mereka langsung membayangkan semua yang ada di museum ini bisa bergerak di malam hari dan bakalan seru. :p

Tapi, jangan salah. Museum Geologi yang tahun ini berumur 88 tahun itu, tahun lalu juga pernah menyelenggarakan program Night at the Museum. Seru? Sepertinya begitu. Dan kalau program itu ada lagi, mungkin saya akan mencobanya (dengan catatan hari itu libur). 
Elephas 
Tyrannosaurus Rex aka T-rex
Oh, My!
Kami langsung berhenti di depan kerangka gajah purba (Elephas hysudrindicus). Fosil gajah dari tepi Bengawan Solo ini adalah koleksi terbaru Museum Geologi Bandung. Fosil gajah ini diangkat dari tanah lempung di tepi Bengawan Solo pada tahun 2009. Ini adalah temuan paling spektakuler Museum Geologi karena fosilnya ditemukan hampir 90 persen atau yang terlengkap sejak penelitian dan ekskavasi fosil tahun 1850-an!

Gajah purba dari Desa Sunggun, Kecamatan Kradenan, Blora, Jawa Tengah, itu berasal dari masa 250.000-200.000 tahun lalu. Dibandingkan T-rex, gajah ini jauh lebih kecil dan lebih muda.
Stromatolit
Batu gamping
Telur Segnosaurus
Perjalanan berlanjut ke pintu sebelah kanan. Dan kemudian kami berhadapan dengan "artis" utama museum ini. Replika dinosaurus jenis Tyrannosaurus Rex atau T-Rex dari Amerika Utara. Saya sendiri pun lebih mengenal Museum Geologi Bandung karena kerangka ini. Bahkan, saat mengajak anak-anak ke museum ini, saya pun hanya bisa bilang bahwa di museum bakal ditemukan kerangka T-Rex. Dan ternyata, hari itu kami tidak hanya "bertemu" T-rex, tetapi juga menemukan banyak hal dan "petualangan" menarik di museum ini.

Saya suka museum ini! Bersih, modern, dan interaktif. Para petugasnya pun dengan ramah menyapa kami, beberapa bahkan menawarkan bantuan untuk memberikan penjelasan.
"Sejarah" manusia
Family Tree
Nikki, yang di sekolahnya mulai belajar soal sejarah manusia, seneng banget di sini. Dia bahkan ke sana kemari sendiri, membaca keterangan yang ada di setiap benda. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Stromatolit. Stromatolit dianggap sebagai fosil tertua karena merupakan tanda awal kehidupan. Stromatolit adalah struktur sedimen silikaan/karbonatan yang dibentuk oleh mikro-organisme, terutama ganggang biru-hijau.

Di bagian ini kami menemukan banyak "fosil" binatang purba dan manusia.

GEOLOGI INDONESIA
Kami beranjak ke pintu sebelah kiri yang di atasnya tertulis: Geologi Indonesia. Untuk yang satu ini, saya punya ketertarikan pribadi karena kampung halaman saya adalah salah satu situs geologi terkenal di Indonesia. Hampir semua mahasiswa Geologi dan geolog pasti mengenal dengan baik Karangsambung, kawah Candradimuka bagi para pencinta geologi dan ahli geologi.


Begitu masuk ke ruangan itu, saya cuma bisa bilang: Wow! Tiruan bumi berada di tengah ruangan dan satu bagiannya menampakkan lapisan bumi. Sementara di sebelah kirinya ada layar besar yang menayangkan film dokumentasi tentang planet-planet yang berada di Galaksi Bimasakti, juga peristiwa apa saja yang terjadi dan memengaruhi bumi.

Kami melihat batuan-batuan cantik berwarna-warni yang biasanya ada di perut bumi. Kristal aneka rupa bentuk dan warna. Amethyst, azurite, citrine, quartz, dan batuan indah lainnya.
Ngobrol tentang alam semesta... :p

Di sini juga ada pemaparan aneka batuan, beberapa di antaranya berasal dari kampung halaman saya. Karst Gombong, juga kompleks melange di Karangsambung. Tempat-tempat ini akan saya ceritakan kapan-kapan dalam postingan terpisah. :) Selain itu, saya juga menemukan pemaparan tentang Pantai Tanjung Layar di Sawarna, Banten. Ternyata batuan di Pantai Tanjung Layar di antaranya berasal dari Formasi Cimapag, batuan yang terendapkan dari arus keruh yang terjadi antara 22,5 juta dan 17 juta tahun lalu.

Tempat ini keren. Anak-anak bisa melihat dan membaca jenis batuan lewat layar sentuh. Setiap provinsi dipetakan dengan detail. Kita bisa memilih ingin membaca soal provinsi mana saja.
Aneka batuan yang cantik
Kristal Ametis
Nah, kita mau cari informasi apa?
Buat saya pribadi, yang menarik adalah informasi soal Toba dan Tambora. Di situ disebutkan, Toba adalah danau kaldera terbesar di dunia. Letusan Gunung Toba 75.000 tahun lalu merupakan letusan terbesar di dunia dalam 2 juta tahun terakhir. (Dan kemudian saya ingat tayangan di salah satu Channel soal dahsyatnya letusan Toba ini).

Sementara letusan Tambora pada 1815 adalah letusan terdahsyat sepanjang sejarah umat manusia. Letusannya terdengar hingga 2.600 kilometer dan menewaskan 117.000 orang. Setahun kemudian, di belahan bumi utara bahkan tidak terjadi musim panas karena sinar matahari tertutup abu letusan Gunung Tambora. WOW! Tidak heran, peristiwa ini akhirnya disebut sebagai "Pompeii dari Timur".

Kami naik ke lantai 2. 
Masih terkait dengan Gunung Tambora, di lantai ini kami menemukan banyak informasi menarik soal letusan dahsyatnya. Salah satunya: relasi menarik antara letusan Gunung Tambora dan kekalahan Napoleon Bonaparte di Waterloo, sebuah dataran rendah di kawasan Belgia.
Ayo ke lantai 2!
Yang ada di lantai 2... :)
18 Juni 1815. "Perang 100 Hari" yang telah disiapkan Napoleon gagal karena satu hal yang tak pernah diduganya: cuaca buruk! Kereta penghela meriam Napoleon terjebak lumpur karena tanah masih diselimuti salju.

Yang tak banyak diketahui orang adalah adanya kaitan cuaca buruk di Waterloo dengan sebuah fenomena alam yang terjadi jauh dari Eropa. Apalagi kalau bukan letusan Tambora! Seorang pakar geologi dalam pertemuan ilmiah di Inggris mengatakan, letusan Gunung Tambora telah berdampak besar terhadap tatanan iklim dunia kala itu, termasuk Waterloo pada tahun 1815.
Simulator Gempa
Barang-barang dari mineral dalam bumi
Di lantai 2 ini juga tersedia alat Simulator Gempa. Seorang petugas menawari kami untuk mencoba alat tersebut. Karena maksimal untuk 3 orang, akhirnya suami dan anak-anak saja yang mencobanya. Dengan alat ini kita bisa merasakan gempa hingga 5-6 skala Richter. Saat kita bergoyang karena "gempa", layar di depan kita juga akan menunjukkan apa yang terjadi di sekitar dan lingkungan kita dengan gempa skala tertentu.

Selain itu, kita juga bisa menemukan logam apa saja yang ada di permukaan dan perut bumi dan apa kegunaannya untuk kehidupan umat manusia. Belerang, emas, perak, lempung, dan seterusnya. 
Kami cukup lama berada di museum karena banyak hal yang sangat sayang jika dilewatkan. Misalnya plakat di atas. Saya sempat bengong membacanya. Arie Frederick Lasut, gugur demi dokumen-dokumen geologi dan pertambangan pada masa revolusi. Saya tidak bisa membayangkan jika dokumen-dokumen berharga itu tidak bisa diselamatkan dan lenyap begitu saja karena pasti butuh penelitian yang sangat panjang.

Secara keseluruhan, kami sangat puas berada di museum ini. Keren! Kalaupun ada yang kurang, mungkin adalah prasarana toilet. Saya berharap toilet diperbarui agar lebih modern karena di bangunan tua, agak gimana... gitu kalau ke toilet. :p


Real Museums are places where Time is Transformed into Space. ~Orhan Pamuk


MUSEUM GEOLOGI BANDUNG

  • Alamat: JL Diponegoro No 57 Bandung, Jawa Barat
  • Jam Operasional
    Senin-Kamis: 08.00-16.00
    Sabtu-Minggu: 08.00-14.00
    Jumat dan Libur Nasional: TUTUP
  • Tiket:
    Pelajar/Mahasiswa: Rp 2.000
    Umum: Rp 3.000

Thursday, January 07, 2016

Hiking: Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda

Sejak lama saya penasaran dengan Taman Hutan Raya Ir H Djuanda atau lebih dikenal sebagai Tahura Djuanda. Sebagai penyuka hiking, sebenarnya tempat ini sudah lama menjadi incaran keluarga kami. Namun, karena waktunya selalu kurang pas dan terkadang kami tidak "siap" menghadapi kemacetan Tol Cipularang, akhirnya perjalanan ke sana sering kali tertunda. Dan, memanfaatkan waktu jeda sebelum dan sesudah anak-anak UAS kemarin, kami akhirnya berkunjung ke Tahura.
Lukisan? Nope! Ini salah satu sudut di Tahura
Pertama kali mengunjungi Tahura, kami sebenarnya tanpa persiapan untuk hiking. Saat itu, karena bukan menjadi tujuan utama, akhirnya kami hanya "survei". Meski begitu, karena Tahura sangat luas, dengan waktu yang terbatas pun kami bisa mengunjungi salah satu obyek wisata di kawasan tersebut.

Perjalanan ke Tahura siang itu kami jalani dengan santai karena belum masuk musim liburan. Jalan Dago yang biasanya padat, hari itu pun lancar. Tapi sayangnya, karena papan petunjuk yang mengarah ke Tahura tertutup rimbunnya pohon, belokan menuju Tahura pun terlewat. Alhasil kami harus memutar balik yang untungnya tidak terlalu jauh.
Pilihan obyek wisata
Pada perjalanan kedua, setelah anak-anak UAS, kami tidak menemui kesulitan kecuali kemacetan di sekitar Jembatan Pasopati karena sudah mulai masuk musim liburan. Perjalanan kedua ini kami membawa ibu yang, alhamdulillah, masih sehat dan kuat ikut hiking bersama kami. Dan, tentu saja, kami lebih siap dan bisa menelusur lebih jauh.

Tahura Djuanda adalah taman hutan raya pertama di Indonesia dan diresmikan Presiden Soeharto pada 14 Januari 1985. Awalnya, hutan ini lebih dikenal sebagai Hutan Lindung Gunung Pulosari yang berfungsi sebagai tangkapan air.
Wilujeng Sumping
Jalan setapak yang enak untuk jalan atau lari
Tangga
Merunut sejarah, sejak era kolonial, hutan ini sudah ditetapkan sebagai kawasan lindung. Salah satu yang dilindungi adalah mata air Dago, sumber air bagi Sungai Cikapundung yang membelah Kota Bandung.

Saat memasuki kawasan hutan seluas 590 hektar itu, saya akhirnya mengerti kenapa teman saya menjadikan Tahura sebagai salah satu tempat favoritnya untuk hiking. Jalanan yang bersih dan tertata rapi sangat enak untuk jalan. Bahkan di beberapa tempat, hari itu saya bertemu dengan para petugas yang sedang merapikan tanaman di pinggiran jalan setapak. Belum lagi obyek wisata di tempat ini. Satu hari tidak cukup untuk menelusurinya.
Jembatan
Hello, boys! :D

Sejauh ini, saya hanya bisa menyambangi Goa Jepang, Goa Belanda, dan ke penangkaran rusa. Letak obyek wisata yang terpisah-pisah dengan jarak yang lumayan menyulitkan kami yang membawa anak-anak. Apalagi kami dalam rangka hiking! Untuk yang enggak mau hiking, gampang! Di Tahura banyak sekali tukang ojek yang siap mengantar ke destinasi pilihan.

GOA JEPANG
Salah satu obyek wisata di Tahura adalah Goa Jepang. Kalau dari pintu gerbang Tahura, obyek wisata ini yang paling dekat. 

Goa Jepang ini adalah salah satu dari banyak Goa Jepang yang tersebar di Indonesia yang umumnya dibuat pada 1942 hingga 1945.
Goa Jepang
Saat pendudukan Jepang, Kota Bandung adalah markas salah satu dari 3 kantor besar (bunsho) di Pulau Jawa. Bandung juga menjadi tempat pemusatan terbesar tawanan perang mereka, baik tentara Hindia Belanda (KNIL) dan sekutunya maupun masyarakat sipil.

Pada masa itu, selain memanfaatkan goa buatan Belanda, Jepang juga menambahkan sejumlah goa di kawasan tersebut. Goa-goa buatan Jepang dipergunakan untuk keperluan penyimpanan amunisi, logistik, dan komunikasi radio pada masa perang.
Jalan Menuju Goa Jepang


Untuk menelusuri goa ini, kita memerlukan bantuan penerangan karena di dalam goa benar-benar gelap. Bawalah senter atau manfaatkan senter di handphone untuk memasuki setiap ruangan dalam goa. Kalau hanya mengandalkan sinar dari layar ponsel, bisa dipastikan tidak banyak membantu. Alternatif lain adalah menyewa senter ke orang-orang yang memang menyediakan jasa itu, cukup dengan membayar Rp 5.000.

Memasuki Goa Jepang, awalnya anak-anak panik. Gelap gulita. Bahkan dengan penerangan dari senter pun, pandangan kami terbatas. Goa Jepang ini masih sangat alami. Lantainya masih berupa tanah yang berbentuk gumpalan-gumpalan yang terbentuk akibat kondensasi (pendinginan). Hal ini agak menyulitkan untuk berjalan karena kalau tidak berhati-hati, kita bisa terjatuh. Akhirnya, untuk menyelusuri setiap lorong, kami saling bergandengan tangan.
Papan keterangan yang memuat sejarah dan denah goa
Menuju Cahaya
Konon, goa ini dibangun dengan menggunakan sistem kerja paksa. Akibatnya, tidak sedikit pribumi (romusa) yang sakit bahkan meninggal di tempat ini.

Saya dan Akira akhirnya hanya melintasi jalan utama karena dia ribut minta keluar. Sementara Nikki dan papanya menyusuri dan memasuki hampir setiap lorong: barak, tempat senjata, dan lain-lain. Dari luar, Goa Jepang ini menurut saya juga layak disebut benteng. Ruangan yang banyak, beberapa pintu yang saling terhubung, dan lubang-lubang angin terlihat di sepanjang bangunan.

Meski goa peninggalan zaman Jepang dan dibiarkan sealami mungkin, kondisi dalam goa cukup bersih sehingga membuat kita nyaman menelusurinya. Ditambah dengan lubang-lubang angin, udara di dalam goa menurut saya tidak terlalu pengap dan lembab. 

GOA BELANDA
Tujuan kami berikutnya adalah Goa Belanda. Kami mendatangi goa ini pada kunjungan yang kedua ke Tahura.
Di depan Goa Belanda

Karena goa ini terletak lumayan jauh dari Goa Jepang, Akira akhirnya minta naik kuda. Dan berakhirlah dia naik kuda dari Goa Jepang ke Goa Belanda dengan tarif Rp 30.000.

Goa Belanda dibangun pada 1906 sebagai terowongan penyadapan aliran Sungai Cikapundung untuk PLTA yang dibuat oleh BEM (Bandoengsche Electricitiet Maatschappij). Hal itu dilakukan karena Bandung telah berkembang sebagai kotapraja dengan penduduk mencapai 47.500 jiwa (bandingkan: Batavia 200.000 jiwa). Namun, karena sebab yang belum diketahui hingga sekarang, PLTA ini hanya berfungsi sebentar.
Keterangan soal Goa Belanda dan denah goa

Pemandangan yang kita temui sepanjang jalan menuju Goa Belanda
Akhirnya, pada 1918, tempat ini beralih fungsi untuk kepentingan militer dengan penambahan beberapa ruang di sayap kiri dan kanan terowongan utama.

Jelang Perang Dunia II, markas angkatan perang Hindia Belanda dan pusat komando militer tentara Sekutu ditempatkan di Bandung yang merupakan benteng pertahanan terakhir bagi Belanda.

Pada masa ini, Belanda memperluas goa dan mendirikan stasiun radio komunikasi sebagai pengganti Radio Malabar di Gunung Puntang yang berada di wilayah rawan dari serangan udara.
Goa Belanda
Pintu belakang
Di dalam goa ini juga terdapat ruang penyiksaan tawanan perang. Berbeda dengan lantai Goa Jepang yang berupa gumpalan tanah, di Goa Belanda lantai sudah disemen. Di lorong utama juga terdapat rel yang biasa digunakan untuk lori. 

Sepanjang perjalanan menuju Goa Belanda, kami disuguhi pemandangan yang keren banget. Kami akhirnya memutuskan beristirahat di sekitar Goa Belanda. Area ini cocok untuk beristirahat: lumayan teduh, ada fasilitas toilet dan mushola, juga penjual makanan khas Bandung. Bahkan di warung makannya kita bisa makan sambil menikmati pemandangan yang hijau.
Jalan menuju penangkaran rusa
Kakak... tunggu aku! :)
Di sini juga terdapat parkiran dan banyak tukang ojek mangkal. Kalau ingin melanjutkan perjalanan tetapi sudah kepayahan sementara destinasi pilihan masih jauh, bolehlah pakai para tukang ojek. Tanya tarifnya dan nego.

Untuk yang masih kuat dan berencana menuju air terjun atau penangkaran rusa, jalan paling pendek (pintas) adalah melewati Goa Belanda. Goa ini akan tembus ke belakang bukit dan lumayan menghemat waktu serta tenaga kalau kita hiking dan berencana meneruskan perjalanan. Hari itu kami pun bertemu rombongan pesepeda yang memilih jalur ini. Rombongan tersebut masuk dan menyusuri lorong utama dengan sepeda.
Oke, penangkaran rusa masih 400 meter lagi!
"Setengah" hiking... :p
Kami menyadari jalan tembusan ini setelah menyusuri jalanan di sepanjang sisi goa untuk menuju ke curug dan penangkaran rusa. Namun, karena kami membawa anak-anak dan orang tua, akhirnya kami hanya sampai setengah perjalanan dan memutuskan untuk pulang karena saat itu pun sudah sore.

Seperti teman saya bilang, Tahura memang asyik untuk hiking. Dan dari dua perjalanan ke Tahura, tempat ini kami masukkan dalam list tempat hiking favorit. :) Masih banyak obyek wisata yang belum kami jelajahi. Sudah pasti kami akan kembali lagi ke sini... dengan destinasi lainnya. Total hari itu, kami bertiga (saya, suami, dan Nikki) hiking sejauh 9 kilometer. *rekor baru*


Tentang Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda:
  • Terletak di kawasan Dago Pakar, Bandung.
  • Terdapat 3 pintu masuk: pintu utama Dago Pakar, pintu di PLN Ciburial, dan Pintu Maribaya.
  • Tiket masuk:
    Wisatawan domestik: Rp 11.000
    Wisatawan mancanegara: Rp 76.000
  • Sepanjang jalan banyak penjual makanan dan minuman, jadi tidak usah takut kehabisan bekal. Makanan yang dijual rata-rata makanan khas Bandung, seperti colenak, juga ketan dan jagung bakar, mi instan, dan air nira.
  • Goa Belanda adalah salah satu jalan pintas yang tembus ke belakang bukit serta cocok untuk meneruskan perjalanan menuju penangkaran rusa dan beberapa air terjun (curug) atau kawasan Maribaya
  • Untuk yang mau menggunakan ojek, tanya tarifnya dan negolah.
  • Di sekitar Goa Belanda terdapat toilet, mushola, dan warung makan. Kalau yang mau beristirahat, manfaatkan fasilitas ini.
  • Tidak ada salahnya bawa senter atau alat penerangan lain untuk menelusur goa. Senter yang disewakan di sekitar kawasan ini rata-rata hanya menimbulkan cahaya remang.

Tulisan terkait kegiatan outdoor: