Thursday, January 07, 2016

Hiking: Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda

Sejak lama saya penasaran dengan Taman Hutan Raya Ir H Djuanda atau lebih dikenal sebagai Tahura Djuanda. Sebagai penyuka hiking, sebenarnya tempat ini sudah lama menjadi incaran keluarga kami. Namun, karena waktunya selalu kurang pas dan terkadang kami tidak "siap" menghadapi kemacetan Tol Cipularang, akhirnya perjalanan ke sana sering kali tertunda. Dan, memanfaatkan waktu jeda sebelum dan sesudah anak-anak UAS kemarin, kami akhirnya berkunjung ke Tahura.
Lukisan? Nope! Ini salah satu sudut di Tahura
Pertama kali mengunjungi Tahura, kami sebenarnya tanpa persiapan untuk hiking. Saat itu, karena bukan menjadi tujuan utama, akhirnya kami hanya "survei". Meski begitu, karena Tahura sangat luas, dengan waktu yang terbatas pun kami bisa mengunjungi salah satu obyek wisata di kawasan tersebut.

Perjalanan ke Tahura siang itu kami jalani dengan santai karena belum masuk musim liburan. Jalan Dago yang biasanya padat, hari itu pun lancar. Tapi sayangnya, karena papan petunjuk yang mengarah ke Tahura tertutup rimbunnya pohon, belokan menuju Tahura pun terlewat. Alhasil kami harus memutar balik yang untungnya tidak terlalu jauh.
Pilihan obyek wisata
Pada perjalanan kedua, setelah anak-anak UAS, kami tidak menemui kesulitan kecuali kemacetan di sekitar Jembatan Pasopati karena sudah mulai masuk musim liburan. Perjalanan kedua ini kami membawa ibu yang, alhamdulillah, masih sehat dan kuat ikut hiking bersama kami. Dan, tentu saja, kami lebih siap dan bisa menelusur lebih jauh.

Tahura Djuanda adalah taman hutan raya pertama di Indonesia dan diresmikan Presiden Soeharto pada 14 Januari 1985. Awalnya, hutan ini lebih dikenal sebagai Hutan Lindung Gunung Pulosari yang berfungsi sebagai tangkapan air.
Wilujeng Sumping
Jalan setapak yang enak untuk jalan atau lari
Tangga
Merunut sejarah, sejak era kolonial, hutan ini sudah ditetapkan sebagai kawasan lindung. Salah satu yang dilindungi adalah mata air Dago, sumber air bagi Sungai Cikapundung yang membelah Kota Bandung.

Saat memasuki kawasan hutan seluas 590 hektar itu, saya akhirnya mengerti kenapa teman saya menjadikan Tahura sebagai salah satu tempat favoritnya untuk hiking. Jalanan yang bersih dan tertata rapi sangat enak untuk jalan. Bahkan di beberapa tempat, hari itu saya bertemu dengan para petugas yang sedang merapikan tanaman di pinggiran jalan setapak. Belum lagi obyek wisata di tempat ini. Satu hari tidak cukup untuk menelusurinya.
Jembatan
Hello, boys! :D

Sejauh ini, saya hanya bisa menyambangi Goa Jepang, Goa Belanda, dan ke penangkaran rusa. Letak obyek wisata yang terpisah-pisah dengan jarak yang lumayan menyulitkan kami yang membawa anak-anak. Apalagi kami dalam rangka hiking! Untuk yang enggak mau hiking, gampang! Di Tahura banyak sekali tukang ojek yang siap mengantar ke destinasi pilihan.

GOA JEPANG
Salah satu obyek wisata di Tahura adalah Goa Jepang. Kalau dari pintu gerbang Tahura, obyek wisata ini yang paling dekat. 

Goa Jepang ini adalah salah satu dari banyak Goa Jepang yang tersebar di Indonesia yang umumnya dibuat pada 1942 hingga 1945.
Goa Jepang
Saat pendudukan Jepang, Kota Bandung adalah markas salah satu dari 3 kantor besar (bunsho) di Pulau Jawa. Bandung juga menjadi tempat pemusatan terbesar tawanan perang mereka, baik tentara Hindia Belanda (KNIL) dan sekutunya maupun masyarakat sipil.

Pada masa itu, selain memanfaatkan goa buatan Belanda, Jepang juga menambahkan sejumlah goa di kawasan tersebut. Goa-goa buatan Jepang dipergunakan untuk keperluan penyimpanan amunisi, logistik, dan komunikasi radio pada masa perang.
Jalan Menuju Goa Jepang


Untuk menelusuri goa ini, kita memerlukan bantuan penerangan karena di dalam goa benar-benar gelap. Bawalah senter atau manfaatkan senter di handphone untuk memasuki setiap ruangan dalam goa. Kalau hanya mengandalkan sinar dari layar ponsel, bisa dipastikan tidak banyak membantu. Alternatif lain adalah menyewa senter ke orang-orang yang memang menyediakan jasa itu, cukup dengan membayar Rp 5.000.

Memasuki Goa Jepang, awalnya anak-anak panik. Gelap gulita. Bahkan dengan penerangan dari senter pun, pandangan kami terbatas. Goa Jepang ini masih sangat alami. Lantainya masih berupa tanah yang berbentuk gumpalan-gumpalan yang terbentuk akibat kondensasi (pendinginan). Hal ini agak menyulitkan untuk berjalan karena kalau tidak berhati-hati, kita bisa terjatuh. Akhirnya, untuk menyelusuri setiap lorong, kami saling bergandengan tangan.
Papan keterangan yang memuat sejarah dan denah goa
Menuju Cahaya
Konon, goa ini dibangun dengan menggunakan sistem kerja paksa. Akibatnya, tidak sedikit pribumi (romusa) yang sakit bahkan meninggal di tempat ini.

Saya dan Akira akhirnya hanya melintasi jalan utama karena dia ribut minta keluar. Sementara Nikki dan papanya menyusuri dan memasuki hampir setiap lorong: barak, tempat senjata, dan lain-lain. Dari luar, Goa Jepang ini menurut saya juga layak disebut benteng. Ruangan yang banyak, beberapa pintu yang saling terhubung, dan lubang-lubang angin terlihat di sepanjang bangunan.

Meski goa peninggalan zaman Jepang dan dibiarkan sealami mungkin, kondisi dalam goa cukup bersih sehingga membuat kita nyaman menelusurinya. Ditambah dengan lubang-lubang angin, udara di dalam goa menurut saya tidak terlalu pengap dan lembab. 

GOA BELANDA
Tujuan kami berikutnya adalah Goa Belanda. Kami mendatangi goa ini pada kunjungan yang kedua ke Tahura.
Di depan Goa Belanda

Karena goa ini terletak lumayan jauh dari Goa Jepang, Akira akhirnya minta naik kuda. Dan berakhirlah dia naik kuda dari Goa Jepang ke Goa Belanda dengan tarif Rp 30.000.

Goa Belanda dibangun pada 1906 sebagai terowongan penyadapan aliran Sungai Cikapundung untuk PLTA yang dibuat oleh BEM (Bandoengsche Electricitiet Maatschappij). Hal itu dilakukan karena Bandung telah berkembang sebagai kotapraja dengan penduduk mencapai 47.500 jiwa (bandingkan: Batavia 200.000 jiwa). Namun, karena sebab yang belum diketahui hingga sekarang, PLTA ini hanya berfungsi sebentar.
Keterangan soal Goa Belanda dan denah goa

Pemandangan yang kita temui sepanjang jalan menuju Goa Belanda
Akhirnya, pada 1918, tempat ini beralih fungsi untuk kepentingan militer dengan penambahan beberapa ruang di sayap kiri dan kanan terowongan utama.

Jelang Perang Dunia II, markas angkatan perang Hindia Belanda dan pusat komando militer tentara Sekutu ditempatkan di Bandung yang merupakan benteng pertahanan terakhir bagi Belanda.

Pada masa ini, Belanda memperluas goa dan mendirikan stasiun radio komunikasi sebagai pengganti Radio Malabar di Gunung Puntang yang berada di wilayah rawan dari serangan udara.
Goa Belanda
Pintu belakang
Di dalam goa ini juga terdapat ruang penyiksaan tawanan perang. Berbeda dengan lantai Goa Jepang yang berupa gumpalan tanah, di Goa Belanda lantai sudah disemen. Di lorong utama juga terdapat rel yang biasa digunakan untuk lori. 

Sepanjang perjalanan menuju Goa Belanda, kami disuguhi pemandangan yang keren banget. Kami akhirnya memutuskan beristirahat di sekitar Goa Belanda. Area ini cocok untuk beristirahat: lumayan teduh, ada fasilitas toilet dan mushola, juga penjual makanan khas Bandung. Bahkan di warung makannya kita bisa makan sambil menikmati pemandangan yang hijau.
Jalan menuju penangkaran rusa
Kakak... tunggu aku! :)
Di sini juga terdapat parkiran dan banyak tukang ojek mangkal. Kalau ingin melanjutkan perjalanan tetapi sudah kepayahan sementara destinasi pilihan masih jauh, bolehlah pakai para tukang ojek. Tanya tarifnya dan nego.

Untuk yang masih kuat dan berencana menuju air terjun atau penangkaran rusa, jalan paling pendek (pintas) adalah melewati Goa Belanda. Goa ini akan tembus ke belakang bukit dan lumayan menghemat waktu serta tenaga kalau kita hiking dan berencana meneruskan perjalanan. Hari itu kami pun bertemu rombongan pesepeda yang memilih jalur ini. Rombongan tersebut masuk dan menyusuri lorong utama dengan sepeda.
Oke, penangkaran rusa masih 400 meter lagi!
"Setengah" hiking... :p
Kami menyadari jalan tembusan ini setelah menyusuri jalanan di sepanjang sisi goa untuk menuju ke curug dan penangkaran rusa. Namun, karena kami membawa anak-anak dan orang tua, akhirnya kami hanya sampai setengah perjalanan dan memutuskan untuk pulang karena saat itu pun sudah sore.

Seperti teman saya bilang, Tahura memang asyik untuk hiking. Dan dari dua perjalanan ke Tahura, tempat ini kami masukkan dalam list tempat hiking favorit. :) Masih banyak obyek wisata yang belum kami jelajahi. Sudah pasti kami akan kembali lagi ke sini... dengan destinasi lainnya. Total hari itu, kami bertiga (saya, suami, dan Nikki) hiking sejauh 9 kilometer. *rekor baru*


Tentang Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda:
  • Terletak di kawasan Dago Pakar, Bandung.
  • Terdapat 3 pintu masuk: pintu utama Dago Pakar, pintu di PLN Ciburial, dan Pintu Maribaya.
  • Tiket masuk:
    Wisatawan domestik: Rp 11.000
    Wisatawan mancanegara: Rp 76.000
  • Sepanjang jalan banyak penjual makanan dan minuman, jadi tidak usah takut kehabisan bekal. Makanan yang dijual rata-rata makanan khas Bandung, seperti colenak, juga ketan dan jagung bakar, mi instan, dan air nira.
  • Goa Belanda adalah salah satu jalan pintas yang tembus ke belakang bukit serta cocok untuk meneruskan perjalanan menuju penangkaran rusa dan beberapa air terjun (curug) atau kawasan Maribaya
  • Untuk yang mau menggunakan ojek, tanya tarifnya dan negolah.
  • Di sekitar Goa Belanda terdapat toilet, mushola, dan warung makan. Kalau yang mau beristirahat, manfaatkan fasilitas ini.
  • Tidak ada salahnya bawa senter atau alat penerangan lain untuk menelusur goa. Senter yang disewakan di sekitar kawasan ini rata-rata hanya menimbulkan cahaya remang.

Tulisan terkait kegiatan outdoor:

3 comments:

Lidya said...

aku mencium kesegran dah kesejukan mbak. AKu belum pernahke sana tapi pascal udah

Rahmi Sukma said...

Retmaaaaa...... lama gak blogwalking. Apa kabar?
Bagus yaaaa Tahura. Aku ke sana terakhir tahun 2005.... hihihihi...

retma w said...

Halooo... mbak. Alhamdulillah baik. Tahura? Bagus banget. :D Lama gak saling kunjung kita.