Thursday, January 21, 2016

Museum Geologi: Berkelana dengan "Mesin Waktu"...

Suatu siang yang panas di Kota Bandung.
Setiap kali ke "Kota Kembang", sebenarnya saya ingin mengajak anak-anak mengunjungi MUSEUM GEOLOGI BANDUNG, salah satu tempat wisata terkenal di kota itu. Namun, beberapa kali kami gagal karena kami datang di waktu yang tidak tepat dan museum tutup.
T-rex
Akhirnya, seusai UAS kemarin, kami berkesempatan mengunjungi museum tersebut. Sinar matahari yang siang itu terasa terik tidak menyurutkan kami untuk datang ke destinasi yang telah lama berada dalam list wajib kunjung.

Kami membeli tiket di loket yang berada di samping pintu masuk. Murah! Anak-anak hanya membayar Rp 2.000, sementara saya dan suami masing-masing Rp 3.000. Untuk ukuran sekelas Museum Geologi Bandung yang di dalamnya ternyata keren banget, tiket segitu terhitung amat sangat murah. 
Museum Geologi Bandung
Ayo Kita Bertualang... :)
Panduan Lokasi Museum
Melewati pintu utama, kami langsung disambut kerangka stegodon jenis Elephas. Baiklah, sepertinya kita akan melewati "mesin waktu" dan kembali ke zaman purba. Anak-anak mulai ribut membandingkan Museum Geologi dengan film Night at the Museum. Duh, kayaknya mereka kebanyakan nonton film sehingga mereka langsung membayangkan semua yang ada di museum ini bisa bergerak di malam hari dan bakalan seru. :p

Tapi, jangan salah. Museum Geologi yang tahun ini berumur 88 tahun itu, tahun lalu juga pernah menyelenggarakan program Night at the Museum. Seru? Sepertinya begitu. Dan kalau program itu ada lagi, mungkin saya akan mencobanya (dengan catatan hari itu libur). 
Elephas 
Tyrannosaurus Rex aka T-rex
Oh, My!
Kami langsung berhenti di depan kerangka gajah purba (Elephas hysudrindicus). Fosil gajah dari tepi Bengawan Solo ini adalah koleksi terbaru Museum Geologi Bandung. Fosil gajah ini diangkat dari tanah lempung di tepi Bengawan Solo pada tahun 2009. Ini adalah temuan paling spektakuler Museum Geologi karena fosilnya ditemukan hampir 90 persen atau yang terlengkap sejak penelitian dan ekskavasi fosil tahun 1850-an!

Gajah purba dari Desa Sunggun, Kecamatan Kradenan, Blora, Jawa Tengah, itu berasal dari masa 250.000-200.000 tahun lalu. Dibandingkan T-rex, gajah ini jauh lebih kecil dan lebih muda.
Stromatolit
Batu gamping
Telur Segnosaurus
Perjalanan berlanjut ke pintu sebelah kanan. Dan kemudian kami berhadapan dengan "artis" utama museum ini. Replika dinosaurus jenis Tyrannosaurus Rex atau T-Rex dari Amerika Utara. Saya sendiri pun lebih mengenal Museum Geologi Bandung karena kerangka ini. Bahkan, saat mengajak anak-anak ke museum ini, saya pun hanya bisa bilang bahwa di museum bakal ditemukan kerangka T-Rex. Dan ternyata, hari itu kami tidak hanya "bertemu" T-rex, tetapi juga menemukan banyak hal dan "petualangan" menarik di museum ini.

Saya suka museum ini! Bersih, modern, dan interaktif. Para petugasnya pun dengan ramah menyapa kami, beberapa bahkan menawarkan bantuan untuk memberikan penjelasan.
"Sejarah" manusia
Family Tree
Nikki, yang di sekolahnya mulai belajar soal sejarah manusia, seneng banget di sini. Dia bahkan ke sana kemari sendiri, membaca keterangan yang ada di setiap benda. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Stromatolit. Stromatolit dianggap sebagai fosil tertua karena merupakan tanda awal kehidupan. Stromatolit adalah struktur sedimen silikaan/karbonatan yang dibentuk oleh mikro-organisme, terutama ganggang biru-hijau.

Di bagian ini kami menemukan banyak "fosil" binatang purba dan manusia.

GEOLOGI INDONESIA
Kami beranjak ke pintu sebelah kiri yang di atasnya tertulis: Geologi Indonesia. Untuk yang satu ini, saya punya ketertarikan pribadi karena kampung halaman saya adalah salah satu situs geologi terkenal di Indonesia. Hampir semua mahasiswa Geologi dan geolog pasti mengenal dengan baik Karangsambung, kawah Candradimuka bagi para pencinta geologi dan ahli geologi.


Begitu masuk ke ruangan itu, saya cuma bisa bilang: Wow! Tiruan bumi berada di tengah ruangan dan satu bagiannya menampakkan lapisan bumi. Sementara di sebelah kirinya ada layar besar yang menayangkan film dokumentasi tentang planet-planet yang berada di Galaksi Bimasakti, juga peristiwa apa saja yang terjadi dan memengaruhi bumi.

Kami melihat batuan-batuan cantik berwarna-warni yang biasanya ada di perut bumi. Kristal aneka rupa bentuk dan warna. Amethyst, azurite, citrine, quartz, dan batuan indah lainnya.
Ngobrol tentang alam semesta... :p

Di sini juga ada pemaparan aneka batuan, beberapa di antaranya berasal dari kampung halaman saya. Karst Gombong, juga kompleks melange di Karangsambung. Tempat-tempat ini akan saya ceritakan kapan-kapan dalam postingan terpisah. :) Selain itu, saya juga menemukan pemaparan tentang Pantai Tanjung Layar di Sawarna, Banten. Ternyata batuan di Pantai Tanjung Layar di antaranya berasal dari Formasi Cimapag, batuan yang terendapkan dari arus keruh yang terjadi antara 22,5 juta dan 17 juta tahun lalu.

Tempat ini keren. Anak-anak bisa melihat dan membaca jenis batuan lewat layar sentuh. Setiap provinsi dipetakan dengan detail. Kita bisa memilih ingin membaca soal provinsi mana saja.
Aneka batuan yang cantik
Kristal Ametis
Nah, kita mau cari informasi apa?
Buat saya pribadi, yang menarik adalah informasi soal Toba dan Tambora. Di situ disebutkan, Toba adalah danau kaldera terbesar di dunia. Letusan Gunung Toba 75.000 tahun lalu merupakan letusan terbesar di dunia dalam 2 juta tahun terakhir. (Dan kemudian saya ingat tayangan di salah satu Channel soal dahsyatnya letusan Toba ini).

Sementara letusan Tambora pada 1815 adalah letusan terdahsyat sepanjang sejarah umat manusia. Letusannya terdengar hingga 2.600 kilometer dan menewaskan 117.000 orang. Setahun kemudian, di belahan bumi utara bahkan tidak terjadi musim panas karena sinar matahari tertutup abu letusan Gunung Tambora. WOW! Tidak heran, peristiwa ini akhirnya disebut sebagai "Pompeii dari Timur".

Kami naik ke lantai 2. 
Masih terkait dengan Gunung Tambora, di lantai ini kami menemukan banyak informasi menarik soal letusan dahsyatnya. Salah satunya: relasi menarik antara letusan Gunung Tambora dan kekalahan Napoleon Bonaparte di Waterloo, sebuah dataran rendah di kawasan Belgia.
Ayo ke lantai 2!
Yang ada di lantai 2... :)
18 Juni 1815. "Perang 100 Hari" yang telah disiapkan Napoleon gagal karena satu hal yang tak pernah diduganya: cuaca buruk! Kereta penghela meriam Napoleon terjebak lumpur karena tanah masih diselimuti salju.

Yang tak banyak diketahui orang adalah adanya kaitan cuaca buruk di Waterloo dengan sebuah fenomena alam yang terjadi jauh dari Eropa. Apalagi kalau bukan letusan Tambora! Seorang pakar geologi dalam pertemuan ilmiah di Inggris mengatakan, letusan Gunung Tambora telah berdampak besar terhadap tatanan iklim dunia kala itu, termasuk Waterloo pada tahun 1815.
Simulator Gempa
Barang-barang dari mineral dalam bumi
Di lantai 2 ini juga tersedia alat Simulator Gempa. Seorang petugas menawari kami untuk mencoba alat tersebut. Karena maksimal untuk 3 orang, akhirnya suami dan anak-anak saja yang mencobanya. Dengan alat ini kita bisa merasakan gempa hingga 5-6 skala Richter. Saat kita bergoyang karena "gempa", layar di depan kita juga akan menunjukkan apa yang terjadi di sekitar dan lingkungan kita dengan gempa skala tertentu.

Selain itu, kita juga bisa menemukan logam apa saja yang ada di permukaan dan perut bumi dan apa kegunaannya untuk kehidupan umat manusia. Belerang, emas, perak, lempung, dan seterusnya. 
Kami cukup lama berada di museum karena banyak hal yang sangat sayang jika dilewatkan. Misalnya plakat di atas. Saya sempat bengong membacanya. Arie Frederick Lasut, gugur demi dokumen-dokumen geologi dan pertambangan pada masa revolusi. Saya tidak bisa membayangkan jika dokumen-dokumen berharga itu tidak bisa diselamatkan dan lenyap begitu saja karena pasti butuh penelitian yang sangat panjang.

Secara keseluruhan, kami sangat puas berada di museum ini. Keren! Kalaupun ada yang kurang, mungkin adalah prasarana toilet. Saya berharap toilet diperbarui agar lebih modern karena di bangunan tua, agak gimana... gitu kalau ke toilet. :p


Real Museums are places where Time is Transformed into Space. ~Orhan Pamuk


MUSEUM GEOLOGI BANDUNG

  • Alamat: JL Diponegoro No 57 Bandung, Jawa Barat
  • Jam Operasional
    Senin-Kamis: 08.00-16.00
    Sabtu-Minggu: 08.00-14.00
    Jumat dan Libur Nasional: TUTUP
  • Tiket:
    Pelajar/Mahasiswa: Rp 2.000
    Umum: Rp 3.000

1 comment:

Lidya Fitrian said...

pensaran sama simulator gempanya. Jadi inget film2 yang pakai mesin waktu