Thursday, February 11, 2016

Mencecap Malam di Parijs van Java

Malam yang baru turun di Parijs van Java. Hampir sesorean Kota Bandung diguyur hujan. Dan saat hari menggelap, gerimis masih juga awet dengan diselingi sesekali angin kencang.
Bandros! Salah satu unggulan terbaru Kota Bandung... 
Kami berdua, saya dan suami, meninggalkan penginapan dan menyusuri jalanan dengan berjalan kaki. Meski gerimis, ini satu-satunya hal yang memungkinkan untuk menuju salah satu kawasan terkenal di kota itu: Braga. Kami memilih berjalan kaki karena kalau menggunakan mobil sudah bisa dipastikan waktu akan lebih banyak terbuang di jalan.

Anak-anak kami tinggal di kamar bersama ibu yang kebetulan ikut kami ke Bandung. Jadilah malam itu saya berduaan dengan suami menyusuri trotoar, menyeberangi rel, melewati taman, dan keluar-masuk beberapa tempat di kawasan Jalan Braga.
Jalan Braga
Braga: vintage!
Well, meski cuma berdua, nyatanya saya dan suami merasa enggak tega kalau harus masuk tempat makan yang kelihatannya menyenangkan tanpa membawa krucils. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati malam, berhenti untuk makan Bakso Ceker dengan porsi satu mangkok berdua (cieeeeee....), dan berakhir di Wiki Koffie.

Beberapa bulan belakangan kami memang sering ke Bandung, baik ke kota maupun kabupaten. Tidak, tidak... kami tidak belanja. Atau menagih uang kos karena kami bukan juragan kos, apalagi menemui pendukung karena kami pun tidak mencalonkan diri menjadi wali kota (siapa eluuu...?!). Kegiatan kami masih tetap terfokus ke alam: camping atau hiking. Mungkin sesekali ke kota untuk mencari makan, tapi tidak jarang saya dan anak-anak "cuma" menyemangati Pak Suami ikut event lari. :p
Wiki Koffie
Kursi yang penuh, menyisihkan kami berdua di pojokan! ihikz.
Kopi Gayo!
Braga di waktu malam. Ramai anak-anak muda nongkrong, bangunan tua peninggalan Hindia Belanda yang kelihatan lebih anggun saat malam, tempat makan yang penuh sesak dengan mobil pelat B! :D

Saya dan suami berjalan menyusuri trotoar. Mengagumi trotoar yang jauh lebih rapi ketimbang trotoar Jakarta, dengan penanda bagi tunanetra yang juga rapi dan jelas. Sesekali kami berhenti dan duduk di kursi taman yang berada di pojokan jalan. Ngobrol tentang kota, tentang anak-anak.
Morning!
a gloomy day
Saat memutuskan ke Wiki Koffie, sebenarnya kami pengen nongkrong lama. Sayangnya, semua kursi penuh dan tidak ada tanda-tanda bakal ada yang beranjak. Akhirnya kami memesan kopi untuk dibawa pulang. Sambil menunggu pesanan siap, kami duduk sambil menikmati popcorn yang memang selalu diberikan kepada pengunjung saat menunggu pesanan. Saya suka interior Wiki Koffie. Untuk suasana, mungkin kalau agak sepi bakal lebih enak karena malam itu bagi saya amat sangat ramai.

Menenteng kopi, merunut kembali jalan ke penginapan. Saya dan suami akhirnya menikmati kopi di bangku taman depan kafe hotel. Meski gerimis sudah menghilang, ternyata angin tetap kencang. Akhirnya kami memutuskan masuk kembali. What a day! Jujurly... ehm, pergi berdua saja bareng suami ketika sudah punya anak-anak bisa dihitung dengan jari. :D Jadi bagi saya, menikmati malam di Bandung berdua saja itu termasuk dalam daftar peristiwa yang jarang terjadi.
Suka kolamnya!
Yang habis berenang
Pagi hari, mendung masih menggantung. Dari jendela kamar saya melihat Bandung Tour on Bus aka Bandros melintas. Rombongan yang berada di atasnya sepertinya cukup gembira. Dan saya iri... karena saya belum pernah naik Bandros. :( 

Meski emaknya males bangun, ternyata anak-anak tetap bersemangat nyemplung ke kolam renang. Salah satu hal yang menjadi pertimbangan kami saat memutuskan untuk menginap di satu hotel biasanya adalah: kolam renang! Untungnya kolam renang Grand Royal Panghegar, tempat kami menginap, ada air hangatnya. Jadi emak yang satu ini hanya nyemplung dan berendam di kolam air hangat sementara anak-anak dan bapaknya main ke sana-sini. :p

Saya akan jarang sekali me-review hotel, kecuali mungkin kolam renangnya. ;) Kenapa? Pertama, setiap kali ke luar kota, di mana ada jaringan hotel kantor, pasti saya akan lebih sering menginap di hotel itu (mari manfaatkan diskon karyawan). Apalagi kalau ke luar kota dalam rangka dinas luar kota. Sudah hampir bisa dipastikan saya bakal ditempatkan di jaringan hotel kantor.

Kedua, kalau saya datang ke daerah yang agak terpencil, rasanya tidak adil me-review sebuah hotel. Hahaha. Setiap kali ditugaskan ke daerah di luar Jawa, teman saya yang mengurus akomodasi selalu bilang: "Mbak, ini hotel terbaik di daerah itu ya. Pokoknya itu hotel yang terbaik." Dan kadang kala, apa yang saya temui? Jreng-jreng... hotel tersebut lebih mirip losmen, hotel melati, atau mirip kontrakan meski bersih, rapi, dan ber-AC.

Dua alasan itu akan membuat saya susah untuk jujur melakukan review. Makanya, kalau soal hotel, paling-paling saya akan menyebut sesekali karena saya menghargai setiap penginapan tempat saya menginap. ;)

My definition of a Good Hotel is a Place I'd stay at ~ Robert de Niro

No comments: